Esra Nelvi Siagian
Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kata Berfrekuensi Tinggi dalam Pembelajaran BIPA Pemula Esra Nelvi Siagian
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2320

Abstract

Vocabulary plays an important role in foreign language learning, but teachers are often confused about what vocabulary should be taught or targeted so that learners can communicate well according to their level. This study aims to produce a list of the most frequently used vocabulary, knows as High Frequency Words-HFW, in Beginner Indonesian as Foreign Language (ILF) level. The results of this research will be great used for IFL students, teachers, writers, and observers, as well as parties related to IFL. The use of HFW in foreign language learning is proven to have positive effects, such as increasing learning motivation, increasing self-confidence to produce one's own sentences, helping to understand texts, and using repeated words that will make the vocabulary familiar to learners. This qualitative research used corpus of BIPA books for the beginner level based on the level one and two IFL Competency Standards according to the regulation of education ministry Number 27 of 2017 then processed using the AntCont application. The results showed that 1) HFW for IFL is different from Indonesian HFW in general; 2) the form of word classes taught varies; and 3) limited of affix used.  AbstrakKosakata memegang peranan penting dalam pembelajaran bahasa asing, tetapi pengajar sering bingung menentukan kosakata apa saja yang harus diajarkan atau dijadikan target agar pemelajar dapat berkomunikasi dengan baik sesuai dengan tingkatannya. Penelitian ini bertujuan menghasilkan daftar kosakata yang paling sering digunakan, High Frequency Words-HFW, pada pembelajaran BIPA pemula. Hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi para pemelajar, pengajar, penulis, dan pengamat BIPA, serta pihak-pihak yang berkaitan dengan kebipaan. Pemanfaatan HFW dalam pembelajaran bahasa asing terbukti memberi efek positif, seperti meningkatkan motivasi belajar, meningkatkan rasa percaya diri untuk memproduksi kalimat sendiri, membantu memahami teks, dan pemanfaatan kata berulang-ulang akan membuat kosakata tersebut familiar bagi pemelajar. Penelitian kualitatif ini menggunakan korpus data buku-buku BIPA untuk level pemula dengan berbasis Standar Kompetensi Lulusan BIPA level satu dan dua sesuai Permendikbud Nomor 27 Tahun 2017 kemudian diolah menggunakan aplikasi AntCont. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) HFW bahasa Indonesia untuk pemelajar BIPA berbeda dengan HFW bahasa Indonesia secara umum; 2) bentuk kelas kata yang diajarkan bervariasi; dan 3) bentuk imbuhan yang digunakan terbatas
DEKONSTRUKSI DERRIDA PADA CERITA PENDEK ULOS SORPI KARYA ROSE LUMBANTORUAN (Deconstruction of Derrida in the Short Story of Ulos Sorpi by Rose Lumbantoruan) Esra Nelvi Siagian
SAWERIGADING Vol 26, No 2 (2020): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v26i2.750

Abstract

Recently time, short stories using regional languages are not easy to find. Seeing this phenomenon, Saut Poltak Tambunan, a novelist who has produced dozens of Indonesian-language novels since the 1980s, began writing novels and encouraged people to write stories in the Batak language. These novels or stories usually raise the phenomenon of the lives of Batakness, who still uphold the Batak philosophy of life, namely dalihan natolu. Using descriptive methods, Jacques used Derrida's theory to deconstruct the short story of Ulos Sorpi written by Rose Lumbantoruan with editor Saut Poltak Tambunan. This story starts with Rosita’s story, whichis not married even though she is already quite mature. The main character in this story is believed to have a hangalan, so that it always fails at the marriage level; things about hangalan are still trusted in the Batakcommunity. The writer very well describes the problem raised because the writer understands the Batak culture and existing cultural phenomena. However, the reader of this short story needs knowledge of the philosophy oflife embraced by the Batak community to understand this story; thus, the author's message can be conveyed. Deconstruction carried out in the short story Ulos Sorpi teaches new concepts and values. AbstrakCerpen dengan menggunakan bahasa daerah saat ini sangat sulit ditemukan. Melihat fenomena itu, Saut Poltak Tambunan, seorang novelis yang telah menghasilkan puluhan novel berbahasa Indonesia sejaktahun 1980an mulai menulis novel-novel dan menggiatkan orang-orang untuk menulis cerita-cerita berbahasa Batak. Novel atau cerita-cerita tersebut biasanya mengangkat fenomena kehidupan masyarakatBatak yang masih menjunjung teguh falsafah hidup Batak, yaitu dalihan na tolu. Dengan menggunakan metode deskriptif, teori Jacques Derrida diaplikasikan untuk mendekonstruksi cerita pendek Ulos Sorpiyang ditulis oleh Rose Lumbantoruan dengan editor Saut Poltak Tambunan. Cerita ini dimulai dari kisah Rosita yang belum menikah padahal usianya sudah cukup dewasa. Sang tokoh utama dalam cerita ini diyakini memiliki hangalan sehingga selalu gagal ke jenjang pernikahan. Hal tentang hangalan masih dipercaya dalam masyarakat Batak. Penulis dengan sangat baik mendeskripsikan masalah yang diangkat, karena penulis memahami konteks budaya Batak dan fenomena-fenomena budaya yang ada. Akan tetapi, pembaca cerpen ini membutuhkan pengetahuan tentang falsafah hidup yang dianut masyarakat Batak agar dapat memahami cerita ini dan pesan penulis dapat tersampaikan. Dekonstruksi yang dilakukan padacerpen ulos sorpi mengajarkan konsep dan nilai baru.