Recently time, short stories using regional languages are not easy to find. Seeing this phenomenon, Saut Poltak Tambunan, a novelist who has produced dozens of Indonesian-language novels since the 1980s, began writing novels and encouraged people to write stories in the Batak language. These novels or stories usually raise the phenomenon of the lives of Batakness, who still uphold the Batak philosophy of life, namely dalihan natolu. Using descriptive methods, Jacques used Derrida's theory to deconstruct the short story of Ulos Sorpi written by Rose Lumbantoruan with editor Saut Poltak Tambunan. This story starts with Rosita’s story, whichis not married even though she is already quite mature. The main character in this story is believed to have a hangalan, so that it always fails at the marriage level; things about hangalan are still trusted in the Batakcommunity. The writer very well describes the problem raised because the writer understands the Batak culture and existing cultural phenomena. However, the reader of this short story needs knowledge of the philosophy oflife embraced by the Batak community to understand this story; thus, the author's message can be conveyed. Deconstruction carried out in the short story Ulos Sorpi teaches new concepts and values. AbstrakCerpen dengan menggunakan bahasa daerah saat ini sangat sulit ditemukan. Melihat fenomena itu, Saut Poltak Tambunan, seorang novelis yang telah menghasilkan puluhan novel berbahasa Indonesia sejaktahun 1980an mulai menulis novel-novel dan menggiatkan orang-orang untuk menulis cerita-cerita berbahasa Batak. Novel atau cerita-cerita tersebut biasanya mengangkat fenomena kehidupan masyarakatBatak yang masih menjunjung teguh falsafah hidup Batak, yaitu dalihan na tolu. Dengan menggunakan metode deskriptif, teori Jacques Derrida diaplikasikan untuk mendekonstruksi cerita pendek Ulos Sorpiyang ditulis oleh Rose Lumbantoruan dengan editor Saut Poltak Tambunan. Cerita ini dimulai dari kisah Rosita yang belum menikah padahal usianya sudah cukup dewasa. Sang tokoh utama dalam cerita ini diyakini memiliki hangalan sehingga selalu gagal ke jenjang pernikahan. Hal tentang hangalan masih dipercaya dalam masyarakat Batak. Penulis dengan sangat baik mendeskripsikan masalah yang diangkat, karena penulis memahami konteks budaya Batak dan fenomena-fenomena budaya yang ada. Akan tetapi, pembaca cerpen ini membutuhkan pengetahuan tentang falsafah hidup yang dianut masyarakat Batak agar dapat memahami cerita ini dan pesan penulis dapat tersampaikan. Dekonstruksi yang dilakukan padacerpen ulos sorpi mengajarkan konsep dan nilai baru.
Copyrights © 2020