p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Sawerigading
Murmahyati Murmahyati
Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEKHASAN PEMBENTUKAN KATA DALAM CERPEN JODOH KARYA A. A. NAVIS (The Uniqueness of Word-Formation in the Short Story Jodoh by A.A. Navis) Murmahyati Murmahyati; Amriani H
SAWERIGADING Vol 25, No 2 (2019): Sawerigading, Edisi Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v25i2.594

Abstract

AbstractThis research aims to describe the uniqueness of word-formation used in the short story Jodoh by A. A. Navis, in particular, the absorption of affixes and utilization of certain affixes. The method used is a descriptive qualitative with a stylistic approach. The data used in this research are short story Jodoh which is, contained in a collection of short story Jodoh by A. A. Navis published in 1999 by Gramedia. The data collected by library study and analyzed by a descriptive qualitative method. The results showed that many aspects of wordformation use the absorption of affixes (meng, ber, -an, and -kan), absorption of reduplication words, utilization of affixes (se, meng-i (-kan), di-i, and ter-), and the use of basic forms of the Minangkabau language.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kekhasan pembentukan kata yang digunakan dalam cerpen Jodoh karya A. A. Navis, khususnya pelesapan afiks dan pemanfaatan afiks tertentu. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah cerpen Jodoh yang dimuat dalam kumpulan cerpen Jodoh karya A. A. Navis yang diterbitkan tahun 1999 oleh Gramedia. Teknik pengumpulan data melalui studi pustaka dan dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek pembentukan kata banyak menggunakan bentuk pelesapan afiks (meng-, ber-, -an, dan –kan), pelesapan bentuk ulang, pemanfaatan afiks (se-, meng-i (-kan), di-i, dan ter-), dan pemanfaatan bentuk dasar bahasa Minangkabau.
FUNGSI PELAKU VLADIMIR PROOP DALAM CERITA RAKYAT TORAJA SADOQDONGNA (Vladimir Propp›s Dramatis Personae Functions in Torajan Oral Literature Sadoqdongna) Murmahyati Murmahyati; Amriani H
SAWERIGADING Vol 28, No 2 (2022): SAWERIGADING, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v28i2.1073

Abstract

AbstractThe story of Sadoqdongna is one of the Torajan folk tales that need to be preserved. Many values can be taken from the functions of the dramatis personae or actors who play a role in the story. The method used is descriptive method with structuralism analysis developed by Vladimir Propp which examines the function of dramatis personae, schemes, story patterns, and how to identify personae. The purpose of this writing is expected to provide an overview of the functions of the dramatis personae in the Sadoqdongna story. The functions of dramatis personae found in the Sadoqdongna story are eleven functions and eight circles of action. The eleven functions involve one pattern, namely Sadoqdongna, a young man who aspires to marry a beautiful princess. Because of this dream, Sadoqdongna dared to leave his hometown. He kept trying until the end of the story Sadoqdongna got what he wanted.Keywords: Vladimir Proop, function of dramatis personae, Torajan Oral Literature AbstrakCerita Sadoqdongna merupakan salah satu cerita rakyat Toraja yang perlu dilestarikan. Banyak nilai-nilai yang dapat dipetik manfaatnya melalui fungsi-fungsi para tokoh atau pelaku yang berperan di dalam cerita.  Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan analisis struturalisme yang dikembangkan oleh Vladimir Propp yang mengkaji tentang fungsi pelaku, skema, pola cerita, dan cara pengenalan pelaku. Tujuan penulisan ini diharapkan dapat memberi gambaran tentang fungsi-fungsi pelaku dalam cerita Sadoqdongna. Fungsi pelaku yang ditemukan dalam cerita   Sadoqdongna ini adalah sebelas fungsi dan delapan lingkaran aksi. Sebelas fungsi tersebut melibatkan satu pola yaitu Sadoqdongna seorang pemuda yang bercita-cita memperistrikan  seorang puteri raja yang cantik jelita. Karena cita-citanya ini sehingga Sadoqdongna berani meninggalkan kampung halamannya. Dia terus berusaha sampai pada akhir cerita Sadoqdongna mendapatkan apa yang diinginkannya.Kata kunci: Vladimir Proop, Fungsi Pelaku, Cerita Rakyat Toraja