Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Otentisitas Risalah Kenabian (Pluralisme dan Kemanusiaan) Arif Nuh Safri
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2012)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v13i1.728

Abstract

Understanding of the prophetic message is still the focal point should be constructed to achieve the level of human civilization. However, the authenticity of the prophetic message, it is a challenge in the pattern of diversity of individuals and communities, so it is not one that is still a lot to do with the pattern of diversity as opposed to the mission that was built by the Prophet Muhammad in his time. Through this article, the author tries to understand and offers the authenticity of Muhammad's prophetic treatise, to build religious harmony as well as religious inklusifisme.
Radikalisme Agama Penghambat Kemajuan Peradaban Arif Nuh Safri
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 2 (2013)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v14i2.756

Abstract

Exclusivism in religion is one factor that is closely related to the emergence  of religious radicalism or violence. Exclusivity is also of course a poor indicator of human civilization caused by social empathy is still thin. Thus, it is clear that such a religious pattern is built with an exclusive insight anyway. Through this article, the author would like to express that violence in any form is a major obstacle in achieving an advanced civilization, or at least reach back civilization achieved by the Prophet as a carrier Muhammmad treatise. In addition, this article also emphasizes that Islam is not a religion that teaches violence exclusively.
The Shemale Pesantren of Mon-Thurs Yogyakarta: An Existential Medium of Expression for Transsexual Muslims: [Pesantren Waria Senin-Kamis Al-Fatah Yogyakarta: Sebuah Media Eksistensi Ekspresi Keberagamaan Waria] Arif Nuh Safri
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 2 (2014)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v15i2.776

Abstract

Religion certainly is present in every human being, because it is an natural tendency. The presence of God in every human being is a necessity. Nevertheless, religious expression and Godliness will always vary. The concept of religiosity and Godliness will differ between the chaplain, students, scholars, with criminals, thieves, pickpockets, prostitutes and transvestites. Each one is identical to the role and experience of its own. Therefore, awareness of the differences in the identification of religion and God, should make man more flexibility to appreciate other people's religiosity and Godliness, although others are emerging from marginal groups, or the offender is considered a sin, so that everyone is aware of and comfortable with undergoing road religion and the way the Lord each believed. Through this article, the author will present a descriptive pattern diversity ekspreif shemale Shemale on Mondays and Thursdays at Pesantren al-Fatah Yogyakarta. At least, the courage to hold these institutions, has become proof of the existence of transgender religious expression on the face of this earth, once negated that should not be considered pious people who claim to be religious and atheist.[Agama pasti hadir dalam diri setiap manusia, karena itu merupakan fitrah yang terbawa sejak lahir. Kehadiran Tuhan dalam diri setiap manusia adalah sebuah keniscayaan. Namun demikian, ekspresi keberagamaan dan kebertuhanan akan selalu berbeda-beda. Konsep keberagamaan dan kebertuhanan akan berbeda antara kiyai, santri, sarjana, dengan koruptor, pencuri, pencopet, pelacur dan waria. Masing-masing identik dengan peran dan pengalaman tersendiri. Oleh sebab itu, kesadaran akan perbedaan identifikasi agama dan Tuhan, seharusnya menjadikan manusia lebih leluasa untuk menghargai keberagamaan dan kebertuhanan orang lain, walaupun orang lain tersebut muncul dari kaum marginal, atau kaum yang dianggap pelaku dosa, sehingga setiap orang dengan sadar dan nyaman menjalani jalan agama dan jalan Tuhannya masing-masing yang diyakini. Melalui artikel ini, penulis akan memaparkan secara deskriptif pola  ekspreif keberagamaan waria di Pesantren Waria Senin Kamis al-Fatah  Yogyakarta. Setidaknya, keberanian mengadakan lembaga ini, sudah menjadi bukti eksistensi ekspresi keberagamaan waria di muka bumi ini, sekaligus menegasikan bahwa tidak harus orang yang dianggap saleh yang boleh beragama dan mengaku bertuhan.]
Reinterpretasi Makna Al-Islām dalam Al-Qur’an (Menuju Keagamaan yang Etis dan Dialogis) Arif Nuh Safri
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v17i1.1276

Abstract

Re-interpretation of the term al-islām in al-Qur’an is still very relevant today. Especially if it is associated with increasing extreme religious movement, which emphasizes the angry face of Islam, rather than the” friendly Islam”. At the same time, radical ideology that carries the motto ‘back to the Qur’an and Sunnah,’ often emphasizes the claim of truth and takfīr. Therefore, the authors noticed that one of the ways to erode the radical ideology is the re-interpretation of the meaning of al-islām in al-Qur’an. Many view considers that the interpretation of the term al-Islam is final and raw. Especially if linked with the traditions of the Prophet narrated by ‘Umar bin Khattab. Often interpretations al-Islam has always been associated with all forms of formal worship, and only associated with the teachings brought by Prophet Muhammad. In fact, of the hundreds of verses that speak of al-islam and various derivatives, there is no verse that is associated with formal worship such as prayer, fasting, zakat and hajj. The verses of al-islam always talk about spiritual values, nature, and all of Islam’s various predecessor prophets before Prophet Muhammad. Through this article, the author tries to give a new interpretation on the term al-Islam to create a more inclusive religious, ethical, and dialogic.[Interpretasi ulang atas term al-islām dalam al-Qur’an masih sangat relevan hingga saat ini. Khususnya jika dikaitkan dengan semakin meningkatnya pergerakan keagamaan ekstrim, yang lebih mengedepankan wajah Islam marah, daripada Islam ramah. Pada saat yang sama, ideology radikal yang membawa motto ‘kembali pada al-Qur’an dan Sunnah,’seringkali mengedepankan klaim kebenaran, atau meng-kafir-kan. Oleh sebab itu, penulis melihat bahwa salah satu cara untuk mengikisideologi radikal tersebut adalah dengan interpretasi ulang makna al-islam dalam al-Qur’an. Banyak pandangan menganggap bahwa interpretasi atas term al-islam sudah final dan baku. Apalagi jika dikaitkan dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin Khattab. Seringkali interpretasi al-islam selalu dikaitkan dengan segala bentuk ibadah formal, dan hanya dikaitkan dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Nyatanya, dari ratusan ayat yang berbicara tentang al-islam dan berbagai derivasinya, tidak ada ayat yang dikaitkan dengan ibadah formal seperti salat, puasa, zakat dan haji. Ayat-ayat tentang al-islam selalu berbicara tentang nilai-nilai spiritual, fitrah, dan ke-islam-an dari berbagai nabi-nabi pendahulu sebelum Nabi Muhammad. Melalui artikel ini, penulis mencoba untuk memberikan interpretasi baru atas term al-islam untuk menciptakan keagamaan yang lebih inklusif, etis, dan dialogis.]
Jilbab Sebagai Simbol Perjuangan Identitas (Studi atas Pemakaian Jilbab di Kalangan Waria D.I. Yogyakarta) Arif Nuh Safri
Musawa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 18 No. 1 (2019)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2019.181.19-33

Abstract

Waria (wanita pria) atau transgender adalah sebuah identitas gender lian di khalayak awam. Di samping dianggap sebagai sebuah keanehan, identitas ini pun dipersoalkan dan banyak diperdebatkan, hingga mendapat stigma negatif. Waria sendiri dituntut harus tetap eksis dan sanggup berjuang dalam kehidupan mereka. Hal ini disebabkan oleh pemahaman mereka sebagai waria bahwa, identitas mereka bukanlah sebuah kepura-puraan. Identitas mereka sebagai waria yang memiliki jiwa dan rasa perempuan, harus mendapatkan pengakuan dan perhatian yang sama dengan perempuan lainnya. Salah satu simbol yang melekat dengan perempuan yaitu jilbab, yang digunakan sebagai alat untuk membuktikan identitas mereka. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan pandangan masayarakat awam atas mereka. Sehingga permasalahan ini sangat menarik dan pantas untuk diteliti. Penelitian ini akan menjawab apa makna jilbab dan alasan waria menggunakan jilbab? Serta bagaimana pengaruh penggunaan jilbab bagi pengakuan identitas mereka di kehidupan sosial? Permasalahan tersebut akan dijawab lewat wawancara, dan observasi. Kemudian data yang didapat akan dianalisis dengan metode kualitatif, deskriptif-analisis dan pendekatan fenomenologi. Asumsi peneliti, bahwa penggunaan jilbab sebagai simbol perjuangan memberikan pengaruh positif pada waria secara khusus, setidaknya lebih mudah dalam menggunakan faslilitas umum atau publik. Pada akhirnya penggunaan jilbab dengan berbagai tujuan dan maknanya merupakan realitas kehidupan sosial keagamaan yang akan selalu dan terus berkembang.[Transgender is another gender identity for common people. Apart from being considered as a weird, this identity was also questioned and  debated and sometimes it leads in a negative stigma. However, for them, being transgender is not about pretense or deception. People need to recognize and respect them as people with the women soul. One symbol attached to women is hijab. It is used as a tool to prove their identity as women. This problem is very interesting to study in order to find the meaning of the hijab the reasons to use the hijab? How does the influence of using the veil to their social recognition? These problems will be answered through interviews and observations. Then the data obtained will be analyzed by qualitative methods, descriptive analysis and phenomenological approaches. The assumptions of researcher is that the use veil is a symbol of struggle and gives a positive influence on trasgender in particular, at least it is easier for them to use public or public facilities. Hence, the use of the veil is not only about religious symbol, but has various purposes and meaning.]
Inkonsistensi Pemikiran Nashir al-Din al-Bani: Analisis Kritis atas Kitab al-Ajwibah al-Nafi’ah ‘an Mas’alah Masjid al-Jami’ah Arif Nuh Safri
Jalsah : The Journal of Al-quran and As-sunnah Studies Vol. 1 No. 1 (2021): October
Publisher : Faculty of Ushuludin Institute of Al-Qur’an Science (IIQ) An Nur Yogyakarta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37252/jqs.v1i1.126

Abstract

The science of the criticism of the Prophet's hadith is likely to continue to develop. Starting from criticism of sanad, matan, ma'ani and others. From various aspects of hadith criticism, each character or expert has its own tendency. Muhammad al-Gazali, for example, is known as a person who focuses on matan criticism. Nusantara Hadith figure, Syuhudi Isma'il is known for his Ma'anil Hadith knowledge. On the other hand, a modern figure, Nasir al-Din al-Albani is known as a very productive person in producing works in the field of hadith. He is known as a person who is very focused on sanad criticism. In the context of science, the expertise of a character cannot be separated from sharp criticism. The criticism that gives rise to dialectic, so that science progresses. Through this article, the author tries to understand and analyze al-Albani's thoughts. Specifically in the book entitled al-Ajwibah al-Nafi'ah 'an Mas'alah Masjid al-Jami'ah. In this work, the author concludes that there is an inconsistency in al-Albani's thinking because it is often contradictory. Therefore, the author will describe the inconsistency of these thoughts.
MENCIPTAKAN PRINSIP MORAL MENUJU MASYARAKAT MADANI Safri, Arif Nuh
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap agama selalu identik dengan ritualnya masing-masing. Namun, secara keseluruhan ritual tersebut bertujuan untuk menghayati kehadiran Tuhan, serta menangani kehidupan sosial. Dalam Islam, semua jenis ritual yang dikenal sebagai lima rukun Islam, seperti dalam hadist dari nabi, mulai dari syahadat, sholat, puasa, zakat dan Haji. Namun, rukun Islam hanya dimaksudkan sebagai media bagi terciptanya hubungan antara individu dengan Tuhan, sehingga keluar dari aspek sosial yang dikenal dengan perbuatan baik. Dengan kata lain, semua jenis ritual keagamaan menjadi masuk akal dan tidak nyata. Di dalam AlQur'an sendiri, iman kepada Allah harus diwujudkan dalam bentuk ritual yang bertalian langsung dengan aspek kesalehan sosial. Melalui artikel ini, penulis mencoba menjelaskan konsep ritual, dalam hal ini rukun Islam yang lebih sosial, sehingga dengan penghargaan terhadap semua ritual, mungkin membuat pribadi menjadi humanis, dan pada gilirannya pribadi humanis akan menciptakan masyarakat humanis. Every religion is always identical to its respective rituals. But, the overall aim to live up to God's presence, as well as handle the social life. In Islam, all forms of ritual known as the five pillars of Islam, as in the hadith of the Prophet. Starting from the creed, pray, fasting, zakat and hajj. However, the pillars of Islam are only meant as the medium in individual relationships with God, so that escape from the social aspect known by the good deeds. In other words, all forms of religious ritual becomes absurd and unreal. In the Qur‟an itself, faith in God should be manifested in the form of ritual is directly proportional to social righteousness or piety. Through this article, the author will try to explain the concept of ritual, in this case the pillars of Islam are more social, so with appreciation towards all rituals, it is possible create humanist personal, and the humanist personal createng humanist society towards civil society.
REVITALISASI KEPEMIMPINAN PROFETIK Safri, Arif Nuh
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepemimpinan profetik pada peradaban modern ini, masih menjadi sesuatu yang urgen dan signifikan untuk dikaji dan kemudian diaplikasikan kembali. Keberhasilan Nabi Muhammad saw. dalam membangun peradaban dan transformasi sosial di semenanjung Arabia menjadi sebuah kegemilangan luar biasa, tidak hanya di mata kalangan orang-orang Islam, namun juga di mata kalangan orang-orang non muslim. Dalam artikel ini, penulis melihat setidaknya ada dua hal besar yang dilakukan oleh Rasul dalam membangun peradaban, yaitu peradaban iqra yang dimulai sejak wahyu pertama turun, dan dialektika agama yang dilakukan sejak di Madinah yang termaktub dalam Piagam Madinah. Selanjutnya, kedudukan manusia sebagai khalifah secara nilai sudah saatnya kembali menghayati dua aspek yang dibangun oleh Rasul 14 abad yang lalu. Sehingga tercipta khalifah atau wakil Tuhan yang bebas dari taklid buta dan mistik, serta mampu menghadapi realitas perubahan sosial dengan menciptakan peradaban dialogis dan dialektis. Prophetic leadership in modern civilization, is still something urgent and significant to be studied and than to be contextualized. Prophet Muhammad’s success in building civilization and social transformation in the Arabian Peninsula into an extraordinary glories, not only in the eyes of the muslims, but also in the eyes of the non-muslims. In this article, the writer saw at least two of the great things done by the apostle in building a civilization namely that iqra civilization first which started since the very first revelation, and religious dialectic which was rooted in Charter of Medina. Furthermore, the position of caliph in humans as it was time to re-live the values of the two aspects introduced by the apostle 14 centuries ago. So as to create caliphs or representatives of God that are free from blind obedience and mystique, and able to face the reality of social change by creating a communicative and dialectical culture.
Memahami Progresifitas Liberalif Penafsiran Muhammadiyah (Analisis Kritis Atas Pemikiran Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) Safri, Arif Nuh
Qaf: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 1 No 1 (2016): Qaf Jurnal Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir
Publisher : ojs.unsiq.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi dalam memahami agama dan keberagamaan akan terus berkembang sesuai perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan. Di samping itu, kebutuhan atas pemahaman ulang atas agama dan teks keagamaan menjadi sebuah keniscayaan. Karena agama diharapkan mampu menjawab segala tantangan social yang pasti akan selalu berkembang. Berdasar ata tuntutan inilah, serta kesadaran akan peran agama sebagai salah satu asas pembentuk peradaban manusia, maka jaringan muda Muhammadiyah atau dikenal dengan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) memberikan pemahaman keagamaan yang solutif, progresif dan agresif, serta liberalitas. Namun demikian, setiap ide baru, pasti akan menemukan kendala dan perlawanan. Hal ini pulalah yang dialami oleh JIMM yang mendapat kecaman dari golongan Muhammadiyah konservatif. Melalui artikel ini, penulis mencoba untuk memperkenalkan pemikiran progresif liberalitas tokoh muda Muhammadiyah tersebut, sekaligus juga menganalisisnya.