Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Penglipuran Tourism Village, Kubu Village, Bangli District, Bali In Maintaining Bali Local Wisdom Values I Wayan Wesna Astara; Nyoman Putu Budiartha; Putu Ayu Sriasih Wesna; I Ketut Selamet; I Kadek Merta Wijaya
Journal of Legal and Cultural Analytics Vol. 2 No. 3 (2023): August 2023
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/jlca.v2i3.5804

Abstract

Development of the Penglipuran tourism village based on Balinese local wisdom is a solution to the settlement of AYDs land cases in the Penglipuran Traditional Village in the legal and cultural context associated with Law Number 10 of 2009 concerning tourism-related to the issuance of Bali Province Regional Regulation No. 5 of 2020 regarding standards for the implementation of Balinese cultural tourism. Article 1, paragraph b, Tourism Village However, ideologically, culturally, and legally, there is a hidden potential for conflict. The problem of tourist villages can be solved using absorption methods from research results to provide solutions for managing tourist villages. The methods used in legal issues in the management of tourism villages include focus group discussions, mentoring, lectures on legal studies, dissecting cases related to tourism village institutions, and finding potential strategies for Balinese local wisdom to strengthen wisdom-based tourism villages
UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PENDAMPING PADA PENGATURAN CAIRAN PASIEN HEMODIALISIS REGULER DI UNIT HEMODIALISIS RSUD SANJIWANI GIANYAR Ni Wayan Sri Wardani; Dewa Gde Agung Budiyasa; I Ketut Selamet
WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wicaksana.7.1.2023.1-8

Abstract

Keseimbangan cairan merupakan faktor penting dalam perawatan pasien hemodialisis (HD), karena status hidrasi berkaitan dengan kualitas hidup pasien HD reguler. Pendamping pasien HD banyak yang belum memahami pentingnya menjaga keseimbangan cairan dan cara mengatur keseimbangan cairan pasien HD, maka program Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pendamping pasien HD dalam pengaturan keseimbangan cairan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien HD dan mengurangi angka rawat inap pasien HD. Kegiatan ini dilakukan di unit HD RSUD Sanjiwani Gianyar pada tanggal 11,13, dan 15 Oktober 2022 terhadap pendamping pasien HD yang turut serta mengantar pasien pada saat pasien menjalani HD. Metode yang digunakan adalah penyuluhan langsung dengan dialog interaktif, pemutaran video edukasi pada pendamping pasien HD, dan pembagian pamflet keseimbangan cairan pada pasien HD. Hal ini tentunya akan dapat mengurangi angka kejadian rawat inap pasien HD akibat kelebihan cairan, sehingga mengurangi biaya perawatan maupun biaya untuk mendampingi pasien, dan meningkatkan kemampuan pasien HD menafkahi keluarga. Jumlah mitra yang terlibat adalah 71 orang, yang merupakan pendamping pasien HD yang sebagian besar adalah perempuan yaitu 69% (49 orang) yang datang mengantar pasien HD reguler. Dari hasil pre-test pada pendamping pasien hemodialisis di Unit Hemodialisis RSUD Sanjiwani Gianyar, didapatkan rerata kemampuan menjawab tentang keseimbangan cairan pasien HD adalah 36.62. Setelah dilakukan pemberian materi tentang cairan pasien HD maka didapatkan rerata nilai post-test adalah 64,37, sehingga didapatkan rerata peningkatan kemampuan pendamping pasien HD pada pengaturan keseimbangan cairan adalah 79,58%. Hal ini telah mencapai target yaitu >75%.
PENGUATAN DESA ADAT MELALUI KEMANDIRIAN DAN PEMBERDAYAAN KRAMA DESA Luh Kade Datrini; I Made Suwitra; I Ketut Selamet
WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wicaksana.7.2.2023.54-60

Abstract

Lembaga Perkreditan Desa (LPD) secara kelembagaan perlu dikuatkan seiring dengan wacana penguatan desa adat dengan mengingat bahwa LPD sampai saat ini berjalan secara alami sehingga rentan untuk terjadi penyalahgunaan keuangannya terutama oleh “pengurusnya”. Upaya yang dilakukan adalah penguatan kelembagaan melalui pelatihan manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) dan akuntansi keuangan berbasis aplikasi, Focus Group Discussion (FGD), dan sosialisasi keberadaan “perarem LPD” untuk menjamin adanya kepastian hukum melalui penegasan hak dan kewajiban pengurus, pengawas, prajuru adat dan masyarakat hukum adat yang dikenal dengan “krama desa”. Tiap bidang kegiatan yang memerlukan aturan yang lebih khusus dari awig-awig yang ada agar awig-awig dapat dilaksanakan sesuai dengan asas kepatutan, yaitu: kepastian, keadilan dan kemanfaatan. LPD di tiap desa adat dilahirkan untuk menguatkan sistem perekonomian desa adat dalam upaya memandirikan dan pemberdayaan krama desanya. Kondisi ini menjadi sangat urgen dengan mengingat, bahwa beberapa LPD Desa Adat di masing-masing Kabupaten di Bali sudah kolaps, kondisi ini lebih disebabkan karena perbuatan menyimpang pengurus LPD. Juga upaya adaptasi sistem akuntansi keuangan LPD berbasis aplikasi dan manajemen SDM yang lebih modern. Metode yang digunakan disesuaikan dengan tahapan pelaksanaan kegiatan, yaitu sosialisasi rancangan pemikiran dalam paruman prajuru adat, pelatihan sistem akuntansi keuangan berbasis aplikasi, pelatihan menajemen LPD. Teknik pendekatan yang digunakan berupa pendekatan partisipatif dari pengurus dan karyawan LPD. Untuk sosialisasi awig-awig dan perarem dilakukan melalui paruman prajuru desa.
Strategi Pengembangan CSR LPD dalam Upaya Penguatan Implementasi Tri Hita Karana dan Kesejahteraan Masyarakat (Studi Pada LPD di Kecamatan Kintamani) Anak Agung Sri Purnami; I Ketut Selamet; Ketut Sudarmini
WACANA EKONOMI (Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Akuntansi) Vol. 18 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/we.18.2.1161.75-81

Abstract

LPD merupakan salah satu LKM milik Desa Pakraman yang menyediakan jasa keuangan kepada masyarakat setempat dengan berdasarkan filosofi Tri Hita Karana. Dalam perkembangannya, aset LPD terus tumbuh dan menjadi lembaga non bank yang asetnya terbesar di Provinsi Bali. Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan sosial setempat, keuntungan LPD juga diporsikan untuk dana sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR). Oleh karena itu penelitian ini memaparkan strategi pengembangan CSR LPD dalam upaya penguatan implementasi Tri Hita Karana dan Kesejahteraan Masyarakat, dengan studi pada LPD di Kecamatan Kintamani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) bentuk implementasi CSR LPD; (2) faktor-faktor internal dan eksternal LPD dalam implementasi CSR LPD untuk penguatan Tri Hita Karana; serta (3) strategi pengembangan CSR LPD untuk penguatan Tri Hita Karana dan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Kintamani. Populasi penelitian ini adalah seluruh LPD di Kecamatan Kintamani, dan sampel dipilih dengan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh responden sebanyak 143 orang. Data dikumpulkan melalui kuesioner, dan selanjutnya dianalisis dengan analisis SWOT. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh LPD, sebagian dialokasikan untuk dana sosial atau CSR. Selama ini pemanfaatan dana CSR LPD di Kecamatan Kintamani masih terbatas untuk kegiatan ritual di pura (unsur Parahyangan). Beberapa faktor internal yang merupakan kekuatan LPD di Kecamatan Kintamani yaitu: (1) jumlah dana pihak ketiga; (2) kebijakan penyaluran kredit LPD; dan (3) kualitas sumber daya manusia pengelola LPD. Sedangkan beberapa faktor internal yang teridentifikasi sebagai kelemahan LPD di Kecamatan Kintamani adalah: (1) kualitas pelayanan LPD; (2) dukungan promosi LPD; (3) kompetensi sumber daya manusia LPD; dan (4) komitmen dan kompetensi pengurus LPD. Beberapa faktor eksternal yang merupakan peluang LPD di Kecamatan Kintamani yaitu: (1) budaya/istiadat masyarakat setempat; (2) tingkat pendidikan masyarakat sekitar; (3) sikap masyarakat; dan (4) dukungan desa pakraman. Sedangkan beberapa faktor eksternal yang teridentifikasi sebagai ancaman LPD yaitu: (1) perkembangan teknologi informasi; dan (2) perkembangan jumlah lembaga keuangan. Strategi yang saat ini sesuai diterapkan pada LPD di Kecamatan Kintamani adalah strategi hold and maintain. Penerapan strategi ini adalah dengan melakukan penetrasi pasar dan pengembangan produk.
Analisis SWOT Dalam Pengembangan Agrowisata di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung Taman Sari; Ketut Selamet; Sri Purnami
WACANA EKONOMI (Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Akuntansi) Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/we.19.1.1575.1-9

Abstract

Abstract-Plaga Village, located in Petang Subdistrict, is the regency of Badung Regency, Bali Province which has the most potential to be developed as an agrotourism object compared to other regions. The purpose of this study is to find out: (1) internal and external factors that hinder the development of agro-tourism in Pelaga Village; (2) internal and external efforts that can be made to develop sustainable tourism villages in Pelaga Village; and (3) stakeholder perceptions regarding the development of sustainable tourism villages in Pelaga Village.This research uses a qualitative approach. The research location was chosen purposively, with the consideration that the tourism resources in Pelaga Village are diverse, besides that, the regional development priority is agriculture so that it is possible to develop eco-friendly agro-tourism and ecotourism. Respondents in this research are stakeholders related to tourism development in Pelaga Village. Data collected through observation, in-depth interviews, and literature study. The collected data were analyzed descriptively qualitatively and supplemented by analysis of survey data (quantitative) for interpretation of results. The results of the analysis show that the internal factors that inhibit the development of agro-tourism in the village of Plaga are about the continuity of production results due to natural factors and soil fertility due to continuous cropping patterns on the same product, so that soil nutrients become reduced for the same crop products. Whereas on the other hand the quality of agricultural products, especially Asparagus products, has superior quality (it has even received the best recognition in ASEAN). Another factor that the variation of agricultural products seems slow in its development is because farmers are still reluctant to learn and experiment with new plants.Other inhibiting factors are the unavailability of comfort and adequate sanitation. Internally and externally, efforts that can be made as a form of promotion and at the same time can absorb agricultural products with certainty include the development of relationships or business networks on a continuous basis both through travel agents, hotels and restaurants. The strategic position of the village of Plaga agro-tourism in the evening district is in the hold and maintain position. The appropriate intensive strategies implemented are (1) market penetration strategies; (2) Product development strategy. Keywords: Agrotourism; CBT; internal factor; eksternal factor; tourism village; Abstraksi-Desa Plaga yang terletak di Kecamatan Petang merupakan daerah handalan Kabupaten Badung Provinsi Bali yang paling berpotensi untuk dikembangkan menjadi obyek agrowisata dibandingkan dengan wilayah lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) faktor internal dan faktor eksternal yang menghambat pengembangan agrowisata di Desa Pelaga; (2) upaya internal maupun eksternal yang dapat dilakukan untuk pengembangan desa wisata berkelanjutan di Desa Pelaga; dan (3) persepsi stakeholders terkait tentang pengembangan desa wisata berkelanjutan di Desa Pelaga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive, dengan pertimbangan bahwa sumber daya pariwisata di Desa Pelaga beraneka ragam, selain itu, prioritas pengembangan wilayah adalah pertanian sehingga memungkinkan dikembangkan agrowisata dan ekowisata yang bersifat ramah lingkungan. Responden pada penlitian ini adalah stakeholders yang terkait dengan pengembangan pariwisata di Desa Pelaga. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan. Data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dan dilengkapi analisis data survei (kuantitatif) untuk interpretasi hasil. Hasil analisis menunjukan bahwa dari faktor internal yang menghambat perkembangan agrowisata di Desa Plaga adalah perihal Kontinyuitas hasil produksi yang diakibatkan faktor alam maupun kesuburan tanah yang akibat pola tanam yang terus menerus pada produk yang sama, sehingga unsur hara tanah menjadi berkurang untuk produk tanaman yang sama. Padahal disisi lain kualitas produk hasil pertanian khususnya produk Asparagus telah memiliki kualitas unggul (bahkan telah mendapat pengakuan terbaik di Asean). Faktor lain bahwa variasi produk pertanian terkesan lambat dalam perkembangannya disebabkan petani masih enggan untuk belajar dan melakukan percobaan terhadap tanaman baru. Faktor penghambat lainnya belum tersedianya kenyamanan dan kebersihan sanitasi yang memadai. Secara internal maupun eksternal upaya yang dapat dilakukan sebagai bentuk promosi dan sekaligus dapat menyerap hasil pertanian secara pasti antara lain pengembangan relasi atau jaringan usaha secara kontinyu baik melalui biro perjalanan wisata, hotel dan restoran. Posisi strategik agrowisata Desa Plaga Kecamatan petang berada pada posisi Hold and maintain. Strategi intensif yang tepat diterapkan yaitu (1) strategi penetrasi pasar; (2) Strategi pengembangan produk. Kata Kunci: Agrowisata; CBT; faktor internal; faktor eksternal; desa wisata
PENDAMPINGAN DESA WISATA SEMBILAN DESA MITRA KINTAMANI BARAT Wayan Wesna Astara; I Ketut Selamet; I Wayan Suky Luxiana
Jurnal Abdi Daya Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Abdi Daya Vol.3 No.1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jad.3.1.2023.6-14

Abstract

Desa wisata menjadi salah satu alternatif pengembangan kepariwisataan yang berkembang di Bali dalam satu dekade belakangan. Wisata pedesaan mengacu pada kegiatan wisata yang berlangsung di daerah non-perkotaan, biasanya di pedesaan atau kampung-kampung kecil. Kegiatan ini sering melibatkan aktivitas tinggal di wisma lokal atau homestay, atau berpartisipasi dalam kegiatan yang merupakan ciri khas budaya lokal, seperti bertani, kerajinan tangan, atau acara budaya. Awalnya, desa-desa tidak dirancang secara khusus untuk dikunjungi, tetapi kini banyak desa yang menyiapkan dirinya untuk menerima kunjungan wisatawan. Permukiman semacam ini disebut sebagai desa wisata. Desa binaan yang terdiri dari Desa Catur, Mengani, Batukaang, Belanga, Binyan, Belantih, Selulung, Daup, Pengejaran memiliki potensi berupa pemukiman tradisional dengan pola yang khas, yang terbuat dari kayu atau batu yang berada pada kondisi tanah yang terjal. Potensi lainnya adalah pemandangan yang indah dengan suhu tergolong sejuk serta kawasan perkebunan yang memiliki daya tarik sebagai agrowisata. Potensi kegiatan wisata yang dapat dilakukan pada lokasi antara lain trekking, mendaki, berkemah, dan bersepeda. Strategi dalam upaya pengembangan desa wisata antara lain : Meningkatkan promosi potensi yang dimiliki desa melalui media sosial, iklan, kerjasama dengan perusahaan pariwisata, pembuatan brosur, pembuatan website dan menggunakan media cetak. Meningkatkan infrastruktur penunjang wisata seperti perbaikan jalan akses, pemenuhan air, dan internet. Menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan wisata di desa wisata, seperti penginapan, restoran, dan fasilitas rekreasi. Melakukan kerjasama dengan stakeholder seperti LSM, Perusahaan Wisata, Asosiasi wisata untuk dapat secara bersama-sama mengembangkan desa wisata.
Pemberdayaan Masyarakat Penglipuran Berbasis Perjanjian Kerjasama Dengan Pemerintah Kabupaten Bangli I Wayan Wesna Astara; Johannes Ibrahim Kosasih; Putu Ayu Sriasih Wesna; Ketut Selamet
Community Service Journal of Law Vol. 4 No. 1 (2025): Community Service Journal of Law
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csjl.4.1.2025.13-22

Abstract

Penelitian hukum ini merupakan kajian tindak pengabdian di Desa Adat Penglipuran sebagai desa wisata yang fokus pada pemberdayaan masyarakat melalui analisis Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Pemerintah Kabupaten Bangli. Kajian menyoroti dampak ekonomi dari pembagian hasil pungutan (bruto) sebesar 60% untuk desa dan 40% untuk kabupaten, tingkat kesadaran hukum masyarakat adat saat proses perjanjian, peran tenaga ahli melalui Focus Group Discussion (FGD) dalam pendampingan, serta potensi verifikasi usaha wisata berbasis adat. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, FGD, dan telaah dokumen PKS. Hasil menunjukkan bahwa porsi pembagian saat ini berpotensi mengurangi kemandirian finansial desa, sehingga perlu direvisi menjadi 80–90% untuk desa. Kesadaran hukum prajuru dan warga masih terbatas, sehingga perlu penguatan literasi hukum. Selain itu, potensi ekonomi tambahan dari pengelolaan homestay, penyewaan pakaian adat, serta warung tradisional yang menjual pakaian, pernak-pernik, makanan, dan minuman khas desa menjadi sumber pendapatan penting bagi masyarakat. Penelitian merekomendasikan revisi PKS, peningkatan kapasitas hukum masyarakat adat, dan diversifikasi usaha pariwisata berbasis budaya sebagai strategi pemberdayaan masyarakat Desa Wisata Penglipuran.