Ignata Yuliati
STIKES Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

HUBUNGAN KEMAMPUAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI KEPERAWATAN DENGAN CARING MAHASISWA PROFESI NERS DI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WILAYAH SURABAYA : The Relationship Between Technological Skill Competency and Caring of Nursing Profession Students in Surabaya Region Ignata Yuliati; Marcellina Rasemi Widayanti
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 6 No. 2 (2020): JIKep | September 2020
Publisher : LPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.715 KB) | DOI: 10.33023/jikep.v6i2.642

Abstract

Technology is an integrated presence between science and machines. Information technology in nursing includes knowledge, attitudes and skills. These three things are needed by a health care profession in their daily work. The ability of nurses to use nursing technology is a form of caring. Nurse caring behavior is very important in fulfilling patient satisfaction, therefore students' understanding of technology as a form of caring in nursing needs to be instilled since the period of education. The purpose of this study was to identify the relationship between the technological skill competency in nursing and caring of nursing profession students. The research method used in this study is correlation analytic with cross sectional approach. Questionnaire was utilized to gather the needed data and information. The subjects of this study were 90 nursing students, total sampling was applied to gained participants. Respondents met the inclusion criteria, namely studying at STIKes in the Surabaya region, being willing to be respondents, and graduating a bachelor's degree in nursing, a maximum of one year before continuing to Ners profession student. The results showed that there was a significant relationship between the ability to use technology (medical devices) and caring of Ners professional students (p = 0.000; r = 0.630. There was a significant relationship between the ability to use technology (Information and Communication Technology) and caring (p = 0.000; r = 0.469). The ability to use technology makes nurses understand the patient as a whole or holistic human. If the nurse understands the patient completely then he will understand all aspects of the patient as a unique person, this will help patients to develop and accelerate the healing process. The ability of nurses to use technology is an expression of caring in nursing, where caring and technology are an integral part. Technology plays an important role in health care, technology is used to improve patient safety, save lives patient and support nurses in their job. Teaching caring from the time of education is very important because this is the first stage for nursing students to learn the value and meaning of the nursing profession.
PERSEPSI DOSEN TERHADAP INTERPROFESSIONAL EDUCATION (IPE) Ignata Yuliati
JPK : Jurnal Penelitian Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2014): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54040/jpk.v4i1.130

Abstract

Dosen sebagai fasilitator dalam proses pendidikan memiliki peran yang sangatpenting dalam proses pembelajaran IPE. Sikap dan penerimaan mahasiswa terhadapprofesi lain maupun proses IPE dipengaruhi oleh pemahaman dosen dalam memfasilitasipelaksanaan IPE. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi dosen mengenaiinterprofessional education. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasipenelitian dosen tetap STIKES Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya yang memenuhikriteria inklusi yaitu sebanyak 20 responden. Instrument yang digunakan adalah kuisioneryang mengacu pada Interdisciplinary Education Perception Scale (IEPS). Berdasarkananalisis statistik didapatkan hasil persepsi dosen tentang IPE; Pada komponen buktibekerjasama memiliki nilai mean tertinggi yaitu 4,45; Persepsi kebutuhan untukbekerjasama memiliki nilai mean 4.20; Kompetensi dan otonomi memiliki nilai mean4.13; Pemahaman terhadap profesi lain memiliki nilai mean 3,39. Hasil tersebutmenunjukan bahwa rata-rata dosen memiliki persepsi yang baik terkait dengan IPE.Penerapan IPE dalam proses pembelajaran penting sehingga dapat meningkatkanpemahaman mahasiswa dalam fungsi kolaborasi sehingga pada akhirnya dapatmeningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
EFEKTIFITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG DAMPAK GADGET PADA KESEHATAN REMAJA DI SALAH SATU PAROKI SURABAYA Iriene Kusuma Wardhani; Ignata Yuliati
JPK : Jurnal Penelitian Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2021): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54040/jpk.v11i2.223

Abstract

Gadget merupakan salah satu bentuk dari perkembangan teknologi pada masa ini. Gadget membawa dampak positif dengan memberikan berbagai kemudahan, tetapi juga membawa dampak negative. Keadaan ini berpengaruh pada pola kehidupan manusia baik dari segi pola pikir maupun perilaku. Pada remaja, keterikatan pada gadget dapat menyebabkan remaja kurang peka terhadap lingkungan sekitarnya dan akan mengganggu dalam bersosialisasi. Remaja mempunyai sifat yang khas yaitu rasa ingin tahu, menyukai tantangan dan berani menanggung risiko tanpa mempetimbangkan dengan benar. Upaya untuk meningkatakan pengetahuan remaja tentang dampak positif dan dampak negative dalam penggunaan gadget perlu dilakukan agar remajaa mempunyai kesadaran daalam menggunakan gadget secara benar. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan tentang dampak gadget terhadap kesehatan remaja di salah satu paroki di kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental one-grup pra-post test design. Sampel penelitian ini adalah remaja dan warga usia dewasa di salah satu paroki di kota Surabaya yang memenuhi kriteria inklusi yang dipilih dengan teknik purposive sampling, jumlah responden 40 orang. Variabel bebas penelitian adalah pendidikan kesehatan dan variabel terikat adalah pengetahuan tentang dampak gadget terhadap kesehatan remaja. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner pengetahuan. Pada hasil penelitian, sesudah dilakukan pendidikan kesehatan didapatkan 20% responden memiliki pengetahuan sedang dan 80% responden memiliki pengetahuan tinggi. Hasil analisis Wilcoxon Signed Ranks menunjukan adanya pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan tentang dampak gadget terhadap kesehatan remaja (p= 0,001). Pendidikan kesehatan yang diberikan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga membuat responden dapat menyampaikan pendapat maupun bertanya tentang hal yang kurang dimengerti
Pelatihan Life Saving Skills: Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Resusitasi Jantung Paru pada Anggota PMR di SMAK St. Agnes Surabaya: Life Saving Skills Training: Improving Cardiopulmonary Resuscitation Knowledge and Skills for PMR Members at St. Agnes Catholic High School, Surabaya Irine Yunila Prastyawati Nila; Ignatius Heri Dwianto; Ignata Yuliati
J.Abdimas: Community Health Vol. 7 No. 1 (2026): J.Abdimas: Community Health - Mei 2026
Publisher : LPPM STIKES Guna Bangsa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30590/jach.v7n1.338

Abstract

Latar Belakang: Henti jantung dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, termasuk di lingkungan sekolah, sehingga diperlukan kesiapsiagaan penolong awam yang memiliki pengetahuan dan keterampilan resusitasi jantung paru (RJP). Berdasarkan hasil observasi, anggota Palang Merah Remaja (PMR) SMAK St. Agnes Surabaya belum pernah mendapatkan edukasi dan pelatihan RJP secara terstruktur. Tujuan: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan RJP pada anggota PMR. Metode: Kegiatan ini menggunakan pendekatan partisipatoris Participatory Rural Appraisal (PRA) yang dianalisis berdasarkan partisipatif, deskriptif, dan evaluatif dalam bentuk pre – post test. Kegiatan dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu edukasi daring menggunakan modul interaktif dan video disertai pre-test, serta pendampingan praktik RJP menggunakan manekin dengan evaluasi post-test dan lembar checklist keterampilan. Peserta berjumlah 30 siswa anggota PMR. Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan dengan kategori baik dimana terjadi peningkatan signifikan pada kategori baik pada aspek pengetahuan dari 23,33% menjadi 70% begitu pula pada aspek keterampilan dari 6,67% menjadi 36,67%, dimana hal ini menunjukkan hasil melampaui dari target yang ditentukan sebesar 20%. Selain itu, refleksi peserta menunjukkan tumbuhnya kepedulian, kesiapsiagaan, dan komitmen untuk bertindak sebagai penolong pertama. Kesimpulan: Kegiatan ini efektif meningkatkan kapasitas PMR dalam life saving skills dan membentuk sikap caring serta tanggung jawab kemanusiaan di lingkungan sekolah.