Articles
Spiritualitas Menurut Yohanes Calvin dan Implikasinya bagi Pendidikan Warga Gereja di Era New Normal
Agustina Pasang
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 1 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34307/peada.v1i2.19
Abstract: One of the spiritualities that is important to learn and understand is spirituality according to John Calvin, which emphasizes the importance of the principle regarding the relationship between humans and God. Deeper recognition gives an indication that a person’s relationship with God is getting closer and closer to God, which will have an impact on spiritual growth. However, the spiritual understanding that is widely discussed today does not always originate from the existence of God but also from the potential of the human self. The purpose of this paper is to understand spirituality according to Calvin so that it can be a reference for the education of church members in the new normal era. This research uses a descriptive research method with a literature review approach and field data collection at the Indonesian Evangelical Mission Alliance Church in Balikpapan. Spirituality according to Calvin, if properly understood can help church members to have a correct understanding of knowing God and realizing the importance of spiritual growth and can find the strength to continue to grow in a stronger spiritual life that is expressed in the attitude of each individual’s life. Abstrak: Salah satu spiritualitas yang penting untuk dipelajari dan dipahami adalah spiritualitas menurut Yohanes Calvin, menegaskan pentingnya relasi antara manusia dengan Allah. Pengenalan yang semakin dalam memberi indikasi semakin erat dan intimnya relasi seseorang dengan Allah yang berdampak pada pertumbuhan spiritualitas. Namun pemahaman spiritual yang ramai dibicarakan saat ini tidak selalu bertolak dari keberadaan Allah tetapi juga dari potensi diri manusia. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memahami spiritualitas menurut Calvin, supaya dapat menjadi acuan bagi pendidikan warga gereja di era new normal. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kajian literatur dan pengumpulan data lapangan di Gereja Persekutuan Misi Injili Indonesia (GPMII) Balikpapan. Spiritualitas menurut Calvin, jika dipahami secara benar dapat menolong warga gereja untuk memiliki pemahaman yang benar mengenai pengenalan akan Allah serta menyadari pentingnya pertumbuhan spiritualitas dan dapat menemukan kekuatan untuk terus bertumbuh dalam kehidupan spiritualitas yang lebih kokoh yang dinyatakan dalam sikap hidup tiap hari
Unsur-unsur Ibadah yang Alkitabiah dan Relevansinya bagi Ibadah Kristen Masa Kini
Agustina Pasang
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (346.641 KB)
|
DOI: 10.55884/thron.v1i1.10
Man was created not only as a physical being but also a spiritual being because he was created in the image and likeness of God so that it differs from all other creations and becomes the crown over all creation. The image and likeness of God is a quality that makes humans special in relation to God, so worship is an integral part and cannot be separated from human life. The times and technological advances have influenced human life, including the lives of churches and believers even the point of changing concepts in worship. The church has changed in many ways including in worship practices using new worship arrangements. True understanding of Christian worship began to diminish and even shifted, worship is no longer something importand and began to lose its main focus, lose transformational power, lose theological foundation and be anthropocentric and no longer see God as a subject as well as an object of worship but instead places humans as subjects of worship. The article is a literature review using reference books that contain a discussion about of worship and elements of biblical worship by applying descriptive methods. The conclusion, it should be understood that worship is an active response to God, not dependent on feelings but on acknowledgement of God’s majesty. Worship also binds horizontal relations in the sense that worship of God includes relationships with others. There are several elements in biblical worship including: prayer, praise and preaching in addition to other elements.Abstrak Manusia diciptakan bukan hanya sebagai mahkluk jasmani tetapi juga makhluk spiritual dan mulia karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sehingga berbeda dengan semua ciptaan lain dan menjadi mahkota atas seluruh ciptaan. Gambar dan rupa Allah adalah suatu kualitas yang menjadikan manusia istimewa secara khusus dalam hubungannya dengan Allah sehingga ibadah adalah bagian integral dari hidup manusia dan tidak dapat dipisahkan dari hidup manusia. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi ikut mempengaruhi kehidupan manusia termasuk kehidupan gereja dan orang percaya, bahkan sampai kepada perubahan konsep dalam beribadah. Gereja telah berubah dalam banyak cara termasuk dalam praktik-praktik ibadah dengan menggunakan tata ibadah yang baru. Pemahaman yang benar mengenai ibadah Kristen mulai berkurang bahkan bergeser, ibadah bukan lagi sesuatu yang penting dan mulai kehilangan fokus yang utama, kehilangan kuasa transformasional, kehilangan landasan teologis sehingga bersifat antrhoposentris dan tidak lagi melihat Allah sebagai subyek sekaligus obyek ibadah, melainkan menempatkan manusia sebagai subyek ibadah. Artikel ini merupakan kajian literatur atau kajian pustaka dengan menggunakan buku-buku referensi yang memuat bahasan mengenai ibadah dan unsur-unsur ibadah yang Alkitabiah. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan menerapkan metode deskriptif. Kesimpulan, hendaknya dipahami bahwa ibadah adalah respons yang aktif kepada Allah, tidak bergantung pada perasaan tetapi pada pengakuan akan keagungan Allah. Ibadah juga mengikat relasi horisontal dalam pengertian bahwa ibadah kepada Allah juga mencakup relasi dengan sesama. Ada beberapa unsur dalam ibadah yang Alkitabiah, antara lain: Pujian, Doa dan Khotbah di samping unsur yang lain.
Ekologi Penciptaan dalam Kejadian 1-3 sebagai Landasan Evaluasi Kritis terhadap Perilaku Ekologis Para Teolog Reformed Indonesia Masa Kini
Agustina Pasang
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51730/ed.v3i1.2
Ecological (environmental) problems are the responsibility of all human beings, both personal and group, including the responsibilities of all religions or beliefs. Even so, it must be admitted that the topic of ecology and all its problems are lacking or not or even not getting attention as they should. Ecological topics tend to be distinguished, not or lacked attention by both churches and Christian theologians and reform theologians in particular with indications of a lack of Christian literature that addresses topics concerning ecology. There is no or lack of studies (seminars, lectures) on ecology both in the church environment, Christian institutions and theological colleges, besides that there is a misunderstanding which feels that ecology does not touch or come into contact with theology. This understanding appears in behavior that is not or less responsible for the environment (not friendly to the environment), for example by littering, spitting carelessly and so on. Permasalahan ekologis (lingkungan) merupakan tanggung jawab semua manusia baik bersifat pribadi maupun kelompok, termasuk di dalamnya tanggung jawab semua agama atau aliran kepercayaan. Meskipun demikian harus diakui bahwa topik ekologi dan semua permasalahannya kurang atau belum atau bahkan tidak mendapat perhatian sebagaimana seharusnya. Topik ekologi cenderung dianaktirikan, tidak atau kurang mendapat perhatian baik oleh gereja-gereja maupun para teolog Kristen dan teolog reform pada khususnya dengan indikasi kurangnya literatur-literatur Kristen yang membahas topik mengenai ekologi. Tidak ada atau kurangnya kajian-kajian (seminar, ceramah) mengenai ekologi baik di lingkungan gereja, lembaga-lembaga Kristen dan Sekolah Tinggi Teologi, selain itu adanya salah pengertian (misunderstanding) yang merasa bahwa ekologi tidak bersinggungan atau bersentuhan dengan teologi. Pemahaman ini nampak dalam perilaku yang tidak atau kurang bertanggung jawab terhadap lingkungan (tidak ramah terhadap lingkungan), misalnya dengan membuang sampah sembarangan, meludah sembarangan dan lain sebagainya.
Kajian Teologis terhadap Pengaruh Postmodernisme dalam Gereja
Agustina Pasang
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46929/graciadeo.v4i1.107
The emergence of the era of Postmodernism marked the end of the modern era and at the same time rejected all modern thought because it was considered old-fashioned and incompatible with today’s developments. The spirit of the era of Postmodernism is marked by progress in all areas of human life, both technology, science, as well as philosophy, theology, and religion. The purpose of this paper is to understand the theological study of Postmodernism and its impact on the church. This research uses a descriptive research method with a literature review approach, namely finding facts with the right interpretation of various literature and the results of research needed in writing the existing topic from various literature and the results of research needed in writing the spelling of exciting topic. Conclusion: Postmodernism poses a serious threat to the church because it adheres to the principle that truth is subjective and determined by individuals which is a person’s personal right, there is no absolute and final truth because everything is relative, meaning that the Word of God is no longer absolute truth and Jesus is not the only truth, only Saviour. This means that Postmodernism is contrary to the Bible which is a source of teaching for Christianity. AbstrakLahirnya era Postmodernisme menandai berakhirnya era modern sekaligus menolak semua pemikiran modern karena dianggap kolot dan tidak sesuai dengan perkembangan masa sekarang. Semangat era Postmodernisme ditandai dengan adanya kemajuan di segala bidang kehidupan manusia, baik teknologi, ilmu pengetahuan, juga dalam filsafat, theologi dan agama. Tujuan penulisan ini adalah untuk memahami kajian teologis terhadap Postmodernisme dan pengaruhnya bagi gereja. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kajian literature yakni pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat dari berbagai literatur dan hasil dari suatu penelitian yang diperlukan dalam penulisan topik yang ada. Kesimpulan: Postmodernisme menjadi ancaman serius bagi gereja karena berpegang pada prinsip bahwa kebenaran bersifat subjektif dan ditentukan oleh individu yang merupakan hak azasi pribadi seseorang, tidak ada kebenaran mutlak dan final karena semuanya relatif, itu berarti Firman Allah bukan lagi kebenaran mutlak dan Yesus bukan satu-satunya Juruselamat. Artinya Postmodernisme bertolak belakang dengan Alkitab yang menjadi sumber pengajaran bagi Kekristenan.
Tanggapan Etika Kristen terhadap Terorisme
Agustina Pasang
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 4, No 2 (2019): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2019
Publisher : STTI Harvest Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (392.14 KB)
|
DOI: 10.52104/harvester.v4i2.15
The problems that occur in various cities in Indonesia are not only caused by public dissatisfaction with the economic, political, social, cultural and so on, because often the problems spread to most sensitive problems to SARA (ethnic, religious, racial and intergroup). If the problems arise only because of economic problems it certainly will not have an impact on the burning of churches or acts of anarchist actions that discredit certain ethnic or religious groups that lead to the crime of terror or terrorism. The article is a literature review using reference books that contain a discussion about terror and terrorism in the Christian ethical perspective by applying descriptive methods. The conclusion is that the church and believers need to be aware of and increase their social sensitivity and concern about the problems that surround them that it is part of the Christian faith.Abstrak: Persoalan-persoalan yang terjadi di berbagai kota di Indonesia ternyata bukan saja disebabkan oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap soal ekonomi, sosial, politik, budaya dan sebagainya, karena seringkali persoalan itu justru merembet ke masalah yang paling sensitif yakni SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan). Artikel ini merupakan kajian literatur atau kajian pustaka dengan menggunakan buku-buku referensi yang memuat bahasan mengenai teror, teroris dan terorisme dalam pandangan etika Kristen dengan menerapkan metode deskriptif. Kesimpulannya, Gereja dan orang percaya perlu menyadari dan meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosialnya akan masalah-masalah yang ada di sekitarnya, bahwa masalah adalah bagian dari iman Kristen. Itu sebabnya gereja perlu mengadakan seminar yang membahas teror, teroris dan terorisme secara utuh sehingga jemaat memiliki pemahaman yang benar mengenai hal ini. Demikian halnya dalam khotbah dan pembinaan jemaat mau tidak mau menyinggung masalah-masalah teroris secara terbuka. Di samping itu perlu bersikap bijaksana dalam menyikapi masalah terorisme.
Predestinasi menurut John Calvin
Agustina Pasang
Jurnal Missio Cristo Vol. 2 No. 1 (2019): Jurnal Missio-Cristo April 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (318.817 KB)
|
DOI: 10.58456/jmc.v2i1.5
Abstract: Calvin was not the first and only person who have preceded the doctrine of predestination, because in his writings he used much of Augustine’s argument to explain the problem of predestination. If predestination is often identified with Calvin it is because he provides a more comprehensive and complete explanation of this doctrine. Predestination is totally God’s deed that by His omniscience, He choose some people to be saved, not because of their good deeds. It talks about God’s ultimate decree about the salvation. In other word, predestination is God’s eternal deed, that by His sovereignty choosing some people to get the grace of salvation, by not counting their merits nor good deeds and some people had been decided to be punished because of their sins.
Membaca Ulang Kejadian 3 dalam Bingkai Tafsir Poskolonial sebagai Respons terhadap Kerusakan Ekologi
Agustina Pasang;
Shendy Carolina Lumintang
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v4i2.59
This article aims to reveal the response according to the postcolonial interpretation of Genesis 3 to ecological oppression. This study used a qualitative research approach with content analysis method. Based on this study method a response was found that the postcolonial interpretation views crises or various ecological problems as a total human failure, not the result of sin. Human failure in question is an error in managing and being responsible for nature. This is of course a common concern that sin is not the root cause of human actions, but only a mistake manifested in the destruction of nature.
Teologi Injili di Era Postmodernisme
Agustina Pasang
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2: Desember 2020
Publisher : REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The spirit of the Postmodern era is marked by progress in all areas of human life, both technology, science as well as in philosophy, theology and religion. Particulary in the world of theology, the influence of Postmodernism has had a devastating effect on the lives of both believers and the church. This article is a literature review using a reference book that contains discussion of theology, evangelicalism and the Postmodern era by applying descriptive methods. In conclusion, a healthy and consistent theology is a theology that is centered on God and its orientation is from God by God and for God as Paul says in Romans 11:36. Abstrak Semangat era Postmodernisme ditandai dengan adanya kemajuan di segala bidang kehidupan manusia, baik teknologi, ilmu pengetahuan, juga dalam filsafat, teologi dan agama. Secara khusus dalam dunia teologi, pengaruh pemikiran Postmodernisme membawa dampak yang sangat buruk dalam kehidupan orang percaya maupun gereja. Artikel ini merupakan kajian literatur atau kajian pustaka dengan menggunakan buku-buku referensi yang memuat bahasan mengenai teologi, injili, era postmodernisme dengan menerapkan metode deskriptif. Kesimpulannya, Teologi yang sehat dan konsisten adalah teologi yang berpusat pada Allah dan orientasinya adalah dari allah Oleh Allah dan untuk Allah seperti yang dikatakan Paulus dalam Roma 11:36 Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.
Makna kata “Sepadan” dalam Kejadian 2:18 sebagai Pedoman bagi Relasi Suami-Istri dalam Keluarga Kristen
Agustina Pasang;
Ronald Samuel Wuisan
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 1: Desember 2022
Publisher : STT Iman Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47543/efata.v9i1.81
Issues around men and women, husband and wife, are not something new because it has occurred since the fall of man into sin, as explained in Genesis 3; that is why it is important to understand the meaning of the word commensurate so that both men and woman, husband or the wife can place herself in carrying out her duties and functions in accordance with the mandate given by God. This study aims to find the meaning of “comparable” in Genesis 2:18 as a guide for conjugal relations in Christian families. In reviewing this topic, the research method used is qualitative research with a literature study approach and exegesis of the text of Genesis 2:18. Conclusion: being “equal” does not only depend on one particular person but requires the role of all aspects in it both as a husband (male), woman (wife) and children, so that it becomes a fully integrated family, especially in the context of a Christian family. AbstrakPersoalan di seputar laki-laki dan perempuan, suami dan istri bukanlah sesuatu yang baru karena telah terjadi sejak kejatuhan manusia dalam dosa sebagaimana dijelaskan dalam Kejadian 3, itu sebabnya penting untuk memahami arti kata sepadan sehingga baik laki-laki atau perempuan, baik suami atau istri dapat menempatkan diri dalam menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan amanat yang diberikan Tuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan makna kata “sepadan” dalam Kejadian 2:18 sebagai pedoman bagi relasi suami-istri dalam keluarga Kristen. Dalam mengkaji topik ini metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literature dan terhadap teks Kejadian 2:18 dengan pendekatan eksegese dan eksposisi. Kesimpulan: menjadi “Sepadan” tidak hanya bergantung pada satu pribadi tertentu saja melainkan memerlukan peranan dari semua aspek yang ada di dalamnya baik sebagai seorang suami (laki-laki), perempuan (istri) dan anak-anak, sehingga menjadi satu keluarga yang utuh secara khusus dalam konteks sebagai keluarga Kristen.
THE PROGRESSIVE METHOD – GENETICS: A Model in the Tasks of Old Testament Theology
Pasang, Agustina;
Wirawan, Sutay;
Sinaga, Linda Irene;
Simamora, Ronny Ronald
QUAERENS: Journal of Theology and Christianity Studies Vol 5 No 1 (2023): QUAERENS: Journal of Theology and Christianity Studies
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46362/quaerens.v5i1.168
The purpose of this article is to discover the use of the progressive-genetic method in the task of Old Testament Theology. This method is understood as the exposition or explanation of God’s Revelation as presented by the Bible, more specifically in the sense that Devine Revelation is centered on some covenant made by God with Noah, Abraham, Moses, and through Christ which all shows the organic existence of the Bible and biblical anatomy. In conclusion, in carrying out the task of Old Testament Theology, genetically progressive methodology can be used as a model in addition to other methodologies, which reveal God’s ever-evolving Revelation as revealed in the Bible that God gave or revealed to certain people named specifically by God self.