Samekto Wibowo Samekto Wibowo
Unknown Affiliation

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Motor Nerve Conduction Velocity Features of Leprosy Patients in Sardjito Central General Hospital, Yogyakartal) Samekto Wibowo Samekto Wibowo
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 19, No 01 (1987)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.39 KB)

Abstract

Telah diketahui infeksi Mycobacterium leprae dapat menimbulkan gejala neuropati. Kecepatan Hantar Saraf Tepi (KHST) dapat menunjukkan level neuropati. Pada penelitian ini pemeriksaan KHST motorik dikerjakan pada sejumlah penderita lepra yang berobat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito, Yogyakarta. Gambaran KHST motoriknya menunjukkan terdapatnya gejala neuropad. Saraf yang terkena lehih berm nampaknya adalah n. radialis, n. peroneus dan n. tibialis. Di camping cara-cara lain, pemeriksaan elektromiografi kiranya dapat bermanfaat untuk memantau penyembuhan gejala neuropati. Key Words: leprosy — neuropathy — motor latency — nerve conduction velocity — electromyography
Farmakologi Klinik Suatu Introduksi Samekto Wibowo Samekto Wibowo
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 7, No 02 (1975)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.927 KB)

Abstract

Perkembangan keadaan memerlukan bidang pengetahuan Baru yakni: farmakologi klinik. Hal yang perlu diperhatikan ialah fungsi, organisasi dan keperluan-keperluannya. Hanya saja, sebelum putusan ke arah pembinaan farmakologi klinik haruslah didapat persesuaian dalam hal kebutuhannya, baik bagi rumah sakit maupun bagi fakultas kedokteran.Fungsi harus dijelaskan dulu, fungsi akademik dalam fakultas kedokteran dan fungsi service dalam rumah sakit. Adanya laboratorium farmakologi klinik dan service klinik akan banyak menghemat tenaga dan alat yang akan diperlukan oleh sebuah rumah sakit. Daripada tiap departemen rumah sakit membuat laboratorium sendiri-sendiri, akan lebih baik ada laboratorium sentral farmakologi klinik. Dan harus diingat, bahwa nanti mencakup pula status administratif, perencanaan staf tehnicus dan professionil, ruang kantor dan laboratorium serta fasilitas rumah sakit termasuk out-patient dan tentu saja dana (Wardell, 1974).Melihat kondisi kebutuhan yang sama, nampaknya Indonesia sudah harus mulai berfikir ke arah itu. Jalan awal yang paling sederhana ialah memberikan pelajaran farmakologi klinik pada mahasiswa. Dari sini perkembangan lebih lanjut farmakologi klinik akan dibina.
Pengobatan Asthma Bronchiale Dan Pemakaian Corticosteroid Samekto Wibowo Samekto Wibowo
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 6, No 03 (1974)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.978 KB)

Abstract

Survai mengenai tempat perkembang-biakan nyamuk Aedes aegypti di Daerah Istimewa Yogyakarta telah dilakukan oleh Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada pada tgl. 27 Maret sampai dengan 30 April 1973.Dari hasil survai ternyata bahwa nyamuk Aedes aegypti lebih banyak bersarang di kota daripada di pedesaan. Hampir 100% dari desa atau kampung di mana terdapat penderita suspect D. H. F. terbukti positip Aedes aegypti. Nyamuk ini kebanyakan berkembang biak dalam tempayan (di dalam rumah lebih banyak daripada di luar rumah) dan hanya sedikit di pot-pot bunga ataupun di lobang-/obang pohon; jadi tidak seperti sifat aselinya.Dengan laporan di atas ini diharapkan agar penanggulangan penyakit D. H. F., khususnya pemberantasan vektor Aedes aegypti dapat berhasil dengan memuaskan.
Penicillin Dalam Pengobatan Infeksi Meningococci Samekto Wibowo Samekto Wibowo
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 6, No 02 (1974)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.279 KB)

Abstract

Banyak obat yang dipakai dalam pengobatan infeksi meningococci, di antaranya ialah penicillin. Obat pilihan bukan saja harus mempunyai effektivitas terhadap microorganismenya, juga harus mempunyai kemampuan masuk dalam cairan cerebrospinal. Inflamasi meninges memperbesar pemasukan obat ke dalam cairan itu.Banyak obat masuk dalam golongan penicillin, tapi semuanya termasuk golongan yang sukar menembus barrier darah-otak. Amoxycillin, suatu preparat penicillin semisynthetis yang baru, mempunyai kemampuan masukdalam cairan cerebrospinal yang lebih besar. lagi bila diberikan secara infus intraveneus yang lambat. Percobaan telah dilakukan pada anjing. Seandainya hal itu juga berlaku pada manusia, tentulah akan sangat menggembirakan.