Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PROSES ISLAMISASI DAN PERCATURAN POLITIK UMAT ISLAM DI INDONESIA Ahmad Sugiri
Al Qalam Vol 11 No 59 (1996): Maret - April 1996
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1258.978 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v11i59.630

Abstract

Proses Islamisasi dan Percaturan Politik Umat Islam di Indonesia
POLA KEPEMIMPINAN KYAI DALAM TUBUH NAHDATUL ULAMA (NU) Ahmad Sugiri
Al Qalam Vol 13 No 68 (1997): November - Desember 1997
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.584 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v13i68.503

Abstract

Pola Kepemimpinan Kyai dalam Tubuh Nahdatul Ulama (NU)
Teori-Teori Dasar Pemikiran Modern dalam Islam di Indonesia Ahmad Sugiri
Al-Fath Vol 2 No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v2i1.3205

Abstract

Dalam Pandangan Harun Nasution Bangsa Indonesia tidak lagi memandang bahwa kajian agama atau pemikiran-pemikiran keagamaan kajian utama, dan tidak dipandang penting lagi, hal ini baginya membuat bangsa Indonesia terutama umat Islam menjadi bangsa materialistis dan hanya membangun karakter bangsa dengan pola pemikiran intelektual. Keberhasilan Harun yang paling spektakuler adalah tegaknya "tradisi intelektual" di kalangan mahasiswa, hal ini dapat disaksikan hasilnya kini, dimana hampir seluruh cendekiawan muslim lulusan IAIN yang sekarang tampil merupakan hasil didikan Harun baik langsung maupun tidak langsung. Tulisan ini menelaah bagaimana Harun Nasution memaknai Islam sebagai objek kajian keilmuan, teori-teori apa sajakah yang dibangun dalam merombak struktur pemikiran yang dipetakan sebagai agrasi keagamaan" di atas, serta bagaimana relevansi teori-teori tersebut dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer.
Sosiologi Agama Dalam Perspektif Sejarah Ahmad Sugiri
Tsaqofah Vol 6 No 01 (2008): June 2008
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v6i01.3455

Abstract

Kajian terhadap masyarakat dan kehidupannya adalah yang menarik, dan dalam kajian keilmuannya bermuara pada ilmu-ilmu sosial, atau sosiologi. Dan seiring berkembangnya masyarakat, dan agama, maka muncul pula ilmu yang mengkaji terhadap masyarakat dan selanjutnya munculnya kajian sosiologi agama. Sosiologi Agama bagian dari sosiologi umum yang tujuanya mempelajari masyarakat agama secara sosiologis untuk mendapatkan penjelasan -penjelasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan demi kepentingan masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnya. Aliran-aliran yang terdapat dalam sosiologi agama antara lain: Aliran klasik, aliran positivisme, aliran teori konflik dan aliran fungsionalisme. Kata Kunci : Sosiologi Agama, dan Aliran-aliran sosiologi
Praktik Sistem Khilafah dalam Lintasan Sejarah Islam Ahmad Sugiri
Tsaqofah Vol 17 No 2 (2019): December 2019
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v17i2.2571

Abstract

Sampai saat ini, negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, memperlihatkan citra keragaman dalam memilih dan mempraktekkan bentuk-bentuk pemerintahan dan sistem kenegaraan. Sebagian memilih dan mempraktekkan sistem monarki atau kerajaan, sebagian lainnya memilih dan mempraktekkan sistem Republik. Keragaman bentuk kenegaraan dan pengalaman politik “negara-negara Islam” tersebut disebabkan selain bersumber dari perkembangan pemikiran dan perbedaan pendapat di kalangan para pemikir politik Muslim tentang hubungan antara din dan dawlah dalam masa modern, harus diakui juga banyak dipengaruhi oleh tingkat kedalaman pengaruh Barat atas wilayah Muslim tertentu. Dalam sejarah, umat Islam pernah memunculkan sedikitnya tiga buah teori kenegaraan yang kemudian dipraktekkan oleh mereka. Pertama, mengacu kepada teori tentang khilafah yang timbul dari realitas sejarah, segera sesudah Nabi s.a.w. wafat. Kedua, bertolak dari teori imamah yang terutama berkembang di lingkungan kaum Syi‟ah. Dan ketiga, dapat pula berkembang dari teori imarah. Ketiga istilah dalam diskursus politik Islam tersebut, pada prinsipnya terkandung pengertian yang boleh dikatakan sama, yaitu menyangkut pemerintahan yang meliputi kepentingan-kepentingan sekuler maupun keagamaan. Teori khilafah bertolak dari dasar pemikiran tentang keharusan dibentuknya lembaga kekuasaan yang mewarisi, menggantikan dan meneruskan tradisi yang telah dijalankan Rasulullah s.a.w. sistem ini kemudian diyakini oleh sebagian umat Islam sebagai suatu lembaga yang mengganti fungsi pembuat hukum, melaksanakan undang-undang berdasarkan hukum Islam, karenanya diklaim sebagai sebuah alternatif yang paling ideal untuk dipraktekkan. Hanya dengan cara itulah umat Islam dapat menyelesaikan berbagai persoalan atau ketimpangan yang melilit kehidupan umat di negeri ini. Dalam teori negara modern, sedikitnya dapat dikemukakan tiga varian. Pertama, teori yang melihat negara, semata-mata sebagai wadah internasional yang netral dan instrumental. Negara adalah wadah dimana semua kepentingan masyarakat mendapat perhatian yang layak, yang berkompeten memperjuangkan hak-hak masyarakat yaitu individu-idividu yang mewakili kepentingan-kepentingan kelompok dalam masyarakat. Kedua, dalam kenyataannya, hanya segolongan tertentu dalam masyarakat saja yang dominan yang menguasai instrumen negara untuk kepentingan golongan tertentu. Ketiga, dalam masyarakat kapitalis umpamanya, negara hanyalah wadah eksekutif yang menyelenggarakan kepentingan kaum borjuis. Kecuali ada kelompok-kelompok dalam masyarakat yang terus beroposisi dan mendesak negara untuk mempertimbangkan kepentingan rakyat banyak. Maka negara akan berkembang menjadi arena kepentingan berbagai golongan
Peran Moeffreni Moe’min Dalam Pertempuran Front Timur Jakarta Tahun 1945-1949 yeni yeni; Ahmad Sugiri; Muhamad Shoheh
Tsaqofah Vol 16 No 1 (2018): June 2018
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v16i1.3197

Abstract

In the year of 1945-1949 Jakarta occupied by the Netherdlands. In occupation and the colonialism happen resistance by Jakarta community lead by scholars, youth, and bureaucrats. From among bureaucrats is Moeffreni Moe’min who is a military man. Struggle is Moefrreni Moe’min among them do sudden attack to East Front Jakarta at the date of 6 June 1946. During the Dutch period, Moeffreni Moe’min join fighters East Front Jakarta to defend the territory Jakarta; establish boundaries so that the Allies don’t expand the area; established intelligence forces to protect the people of Jakarta from sadistic acts carried out by NICA; embrace the army to defend independence; and fighting in the back line to seize allied weapons
Kiprah Ulama Banten dalam Pentas Politik Nasional Ahmad Sugiri
Tsaqofah Vol 11 No 1 (2013): June 2013
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v11i1.3401

Abstract

Fenomena ulama terjun dalam politik praktis, telah mengundang kontroversi dan perdebatan, baik dikalangan internal mereka sendiri, maupun dikalangan ilmuan dan pengamat.