Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Efektivitas dolomit teraktivasi yang diperkaya dengan bakteri pelarut fosfat sebagai pengganti kiserit pada bibit kakao The effectiveness of activated dolomite enriched by phosphate solubilizing bacteria as kieserite substitute on cocoa seedling Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 80, No 1: Juni 2012
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.178 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i1.40

Abstract

Abstract Magnesium (Mg) deficiency is commonly found in acid soils with high weathering intensity as widely present in tropical and sub-tropical regions, or those developed from low Mg-content parent materials. To overcome Mg deficiency, dolomite is often used to replace kieserite although the former is less reactive than the later. An activation technology by heating up to 800oC, followed by sulfic acid addition, then enriched by phosphate solubilizing bacteria is prospective to improve Mg solubility in soils. This research was aimed to enhance dolomite reactivity and to determine the effectiveness of activated dolomite enriched by phosphate solubilizing bacteria as Mg nutrient sources substituting kieserite on cocoa seedling growth. The results indicate that total and solubility in water of MgO from the prototype of activated dolomite were 26.7 and 9.2%, respectively. Using cocoa seedling as test plant, the use of activated dolomite enriched by using 109 cfu of Pseudomonas sp. at 3.85 g/seedling and combined with 100% dosages of NPK fertilizers showed the best vegetative growth and total dry mass of seedlings was significantly higher than that of 100% NPK-Mg kieserite standard dosage Abstrak Defisiensi Mg umumnya ditemukan pada tanah masam dengan tingkat pelapukan tinggi yang banyak terdapat di daerah tropik, subtropik, dan tanah yang terbentuk dari bahan induk miskin Mg. Untuk mengatasi defisiensi Mg, dolomit sering digunakan sebagai pengganti kiserit walaupun sifatnya kurang reaktif jika dibandingkan kiserit. Teknologi aktivasi dengan pemanasan mencapai 800oC, dilanjutkan dengan penambahan asam sulfat serta pengkayaan dengan bakteri pelarut fosfat diharapkan dapat meningkatkan kelarutan Mg di dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan reaktivitas dolomit serta menetapkan efektivitas dolomit teraktivasi yang diperkaya dengan bakteri pelarut fosfat sebagai sumber hara Mg pengganti kieserit pada bibit kakao. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini mengindikasikan bahwa kadar MgO total dan kelarutan dalam air pada dolomit teraktivasi masing-masing 26,7 dan 9,2%. Dengan menggunakan bibit kakao sebagai tanaman uji, aplikasi 3,85 g dolomit teraktivasi yang diperkaya dengan 109 cfu Pseudomonas sp./bibit yang dikombinasikan dengan 100% dosis pupuk NPK menunjukkan pertumbuhan vegetatif paling baik dan total bobot kering bibit kakao yang secara nyata lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemberian 100% dosis standar NPK-Mg kiserit. 
The potential use of bio-activated potassium-bearing mineral from East Java for K fertilizer Potensi mineral pembawa kalium asal Jawa Timur yang dibio-aktivasi sebagai pupuk K Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 80, No 2: Desember 2012
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.584 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i2.33

Abstract

AbstractPotassium (K) is an essential macro-nutrient for crops to support their development, especially in the early stage of growth. Potassium is found in soils and K-bearing minerals but mainly in an unavailable form. The development of an efficient technique in improvement of K solubilization of K-bearing minerals was very strategic to reduce imported conventional K fertilizers, mainly muriate of potash (MOP). The so-called Bio-Kalium (Bio-K) product was constructed by using locally available K-bearing mineral from East Java. The objective of this research was to determine the efficiency and rational dosage of bio-activation K-bearing mineral in comparison with K conventional fertilizer on the growth of cocoa and oil palm seedlings in greenhouse experiment. The strong technical alkaline solution was used to activate K-bearing mineral. The results showed that the application of 4.2 g/cocoa seedling or 6.4 g/oil palm seedling of bio-activated K bearing mineral containing 108 cfu/gram of Burkholderia vietnamiensis Zeo3 strain (Bio-K)  significantly increased of height, leaf number, and stem diameter of the four and six-month-old cocoa and oil palm seedlings respectively.Abstrak Kalium (K) merupakan unsur hara makro esensial yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman khususnya pada tahap awal perkembangannya. Kalium terdapat di dalam tanah dan mineral pembawa K, tetapi pada umumnya dalam bentuk yang tidak tersedia. Teknik pengembangan untuk meningkatkan kelarutan K dari mineral pembawa K yang efisien sangat strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk K import, khususnya muriate of potash (MOP). Pupuk Bio-Kalium (Bio-K) dikembangkan dengan menggunakan mineral pembawa K lokal yang terdapat di Jawa Timur. Tujuan penelitian ini untuk menetapkan efisiensi dan dosis rasional dari mineral pembawa K yang di aktivasi dan diperkaya dengan bakteri (bio-aktivasi) dibandingkan dengan pupuk K konvensional terhadap pertumbuhan bibit kakao dan kelapa sawit di rumah kaca. Larutan  basa kuat teknis digunakan untuk meng-aktivasi mineral pembawa K. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa aplikasi mineral pembawa K yang diaktivasi dan mengandung 108 cfu/g Burkholderia vietnamiensis strain Zeo3 (Bio-K) sebanyak 4,2 g/bibit kakao atau 6,4 g/bibit kelapa sawit dapat meningkatkan masing-masing tinggi, jumlah daun, dan diameter batang bibit kakao umur empat bulan dan kelapa sawit umur enam bulan secara signifikan.
The potential use of bio-activated potassium-bearing mineral from East Java for K fertilizer Potensi mineral pembawa kalium asal Jawa Timur yang dibio-aktivasi sebagai pupuk K Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
Menara Perkebunan Vol. 80 No. 2: 80 (2), 2012
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i2.33

Abstract

AbstractPotassium (K) is an essential macro-nutrient for crops to support their development, especially in the early stage of growth. Potassium is found in soils and K-bearing minerals but mainly in an unavailable form. The development of an efficient technique in improvement of K solubilization of K-bearing minerals was very strategic to reduce imported conventional K fertilizers, mainly muriate of potash (MOP). The so-called Bio-Kalium (Bio-K) product was constructed by using locally available K-bearing mineral from East Java. The objective of this research was to determine the efficiency and rational dosage of bio-activation K-bearing mineral in comparison with K conventional fertilizer on the growth of cocoa and oil palm seedlings in greenhouse experiment. The strong technical alkaline solution was used to activate K-bearing mineral. The results showed that the application of 4.2 g/cocoa seedling or 6.4 g/oil palm seedling of bio-activated K bearing mineral containing 108 cfu/gram of Burkholderia vietnamiensis Zeo3 strain (Bio-K)  significantly increased of height, leaf number, and stem diameter of the four and six-month-old cocoa and oil palm seedlings respectively.Abstrak Kalium (K) merupakan unsur hara makro esensial yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman khususnya pada tahap awal perkembangannya. Kalium terdapat di dalam tanah dan mineral pembawa K, tetapi pada umumnya dalam bentuk yang tidak tersedia. Teknik pengembangan untuk meningkatkan kelarutan K dari mineral pembawa K yang efisien sangat strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk K import, khususnya muriate of potash (MOP). Pupuk Bio-Kalium (Bio-K) dikembangkan dengan menggunakan mineral pembawa K lokal yang terdapat di Jawa Timur. Tujuan penelitian ini untuk menetapkan efisiensi dan dosis rasional dari mineral pembawa K yang di aktivasi dan diperkaya dengan bakteri (bio-aktivasi) dibandingkan dengan pupuk K konvensional terhadap pertumbuhan bibit kakao dan kelapa sawit di rumah kaca. Larutan  basa kuat teknis digunakan untuk meng-aktivasi mineral pembawa K. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa aplikasi mineral pembawa K yang diaktivasi dan mengandung 108 cfu/g Burkholderia vietnamiensis strain Zeo3 (Bio-K) sebanyak 4,2 g/bibit kakao atau 6,4 g/bibit kelapa sawit dapat meningkatkan masing-masing tinggi, jumlah daun, dan diameter batang bibit kakao umur empat bulan dan kelapa sawit umur enam bulan secara signifikan.
Penetapan penambatan N 2 Rhizobacterium secara kuantitatif dengan teknik isotop 15 N Quantitative assessment of N 2 fixing Rhizobacterium using isotope 15 N technique Laksmita Prima SANTI
Menara Perkebunan Vol. 81 No. 2: 81 (2), 2013
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v81i2.35

Abstract

AbstractAbility to quantify the amounts of N 2 fixed in agri-cultural land is critical to manage the N cycle for optimalfood and plantation crop production. Isotope and relatednuclear technique such as 15 N isotope dilution technique hasplayed a significant role in nutrient management analysis forquantification of biological N 2 fixation. The largest pool of Nin the environment is atmospheric N 2 and it has a constantnatural abundance of 0.3663 % atom15 N. 15 N is a stableisotope of N and used as a unique tracer to evaluate thepotential of N 2 fixing bacteria, especially symbiotic and non-symbiotic Rhizobacterium. A field experiment has beeninitiated at IBRIEC to assess the N 2 fixing capacity ofrhizobacterium isolated from sandy textured soil at CentralKalimantan and evaluate the potential of bacteria N 2 fixingon corn (Zea mays). Field experiment has been conducted atCiomas Research Station, IBRIEC-Bogor for four months.The field experiment has been organized according to themethod of Randomized Complete Blocks Design with sixtreatments and three replicates. The results of this studysuggested that the method was reliable for estimation of %Ndfa as well as quantitative analysis of the amount of N fixedfrom the atmosphare. The proportion of N 2 uptake derivedfrom the atmophere was estimated as 32% of the whole plantbasis which was equivalent to approximately 4.8 kg N/ha.The inoculation of Rhizobacterium increased dry matter ofcorn leaves, roots, and grains significantly.AbstrakKemampuan penetapan jumlah N 2 yang dapat ditambatpada lahan pertanian merupakan suatu hal yang penting untukmengatur siklus N sebagai upaya mencapai tingkat produk-tivitas yang optimal di tanaman pangan dan perkebunan.Teknik isotop atau yang berhubungan dengan teknologinuklir seperti isotop 15 N memiliki peran signifikan di dalammanagemen kebun berbasis nutrisi untuk mengkuantifikasipenambatan N 2 secara biologi. Cadangan N terbesar di dalamlingkungan adalah N 2 atmosfer. Cadangan ini memilikikelimpahan alami yang stabil pada 0,3663 % atom 15 N. 15 Nmerupakan isotop yang stabil dan digunakan sebagai pelacakyang bersifat spesifik untuk mengevaluasi bakteri penambatN 2 potensial, khususnya bakteri di daerah perakaran, baikyang bersifat simbiotik ataupun non simbiotik. Penelitianterkait dengan uraian di atas telah dilakukan di BalaiPenelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dengan tujuan untuk menetapkan kemampuan menambatnitrogen dari Rhizobacterium yang diisolasi dari tanahtekstur berpasir asal Kalimantan Tengah serta mengevaluasipotensi bakteri dalam menambat N 2 pada tanaman jagung(Zea mays). Percobaan lapang dilakukan di Kebun PercobaanCiomas, BPBPI selama empat bulan. Kegiatan di lapangdidesain dalam Rancangan Acak Kelompok dengan enamperlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkanbahwa metode isotop 15 N dapat diaplikasikan untuk mem-perkirakan persentase N 2 yang ditambat dari atmosfer (Ndfa).Proporsi N yang diambil dari atmosfer diperkirakan sebesar32% dari seluruh bagian tanaman jagung yang setara dengan4,8 kg N/ha. Perlakuan inokulasi dengan Rhizobacteriummeningkatkan bobot kering daun, akar, dan pipilan jagungsecara signifikan.
Efektivitas dolomit teraktivasi yang diperkaya dengan bakteri pelarut fosfat sebagai pengganti kiserit pada bibit kakao The effectiveness of activated dolomite enriched by phosphate solubilizing bacteria as kieserite substitute on cocoa seedling Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
Menara Perkebunan Vol. 80 No. 1: 80 (1), 2012
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i1.40

Abstract

Abstract Magnesium (Mg) deficiency is commonly found in acid soils with high weathering intensity as widely present in tropical and sub-tropical regions, or those developed from low Mg-content parent materials. To overcome Mg deficiency, dolomite is often used to replace kieserite although the former is less reactive than the later. An activation technology by heating up to 800oC, followed by sulfic acid addition, then enriched by phosphate solubilizing bacteria is prospective to improve Mg solubility in soils. This research was aimed to enhance dolomite reactivity and to determine the effectiveness of activated dolomite enriched by phosphate solubilizing bacteria as Mg nutrient sources substituting kieserite on cocoa seedling growth. The results indicate that total and solubility in water of MgO from the prototype of activated dolomite were 26.7 and 9.2%, respectively. Using cocoa seedling as test plant, the use of activated dolomite enriched by using 109 cfu of Pseudomonas sp. at 3.85 g/seedling and combined with 100% dosages of NPK fertilizers showed the best vegetative growth and total dry mass of seedlings was significantly higher than that of 100% NPK-Mg kieserite standard dosage Abstrak Defisiensi Mg umumnya ditemukan pada tanah masam dengan tingkat pelapukan tinggi yang banyak terdapat di daerah tropik, subtropik, dan tanah yang terbentuk dari bahan induk miskin Mg. Untuk mengatasi defisiensi Mg, dolomit sering digunakan sebagai pengganti kiserit walaupun sifatnya kurang reaktif jika dibandingkan kiserit. Teknologi aktivasi dengan pemanasan mencapai 800oC, dilanjutkan dengan penambahan asam sulfat serta pengkayaan dengan bakteri pelarut fosfat diharapkan dapat meningkatkan kelarutan Mg di dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan reaktivitas dolomit serta menetapkan efektivitas dolomit teraktivasi yang diperkaya dengan bakteri pelarut fosfat sebagai sumber hara Mg pengganti kieserit pada bibit kakao. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini mengindikasikan bahwa kadar MgO total dan kelarutan dalam air pada dolomit teraktivasi masing-masing 26,7 dan 9,2%. Dengan menggunakan bibit kakao sebagai tanaman uji, aplikasi 3,85 g dolomit teraktivasi yang diperkaya dengan 109 cfu Pseudomonas sp./bibit yang dikombinasikan dengan 100% dosis pupuk NPK menunjukkan pertumbuhan vegetatif paling baik dan total bobot kering bibit kakao yang secara nyata lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemberian 100% dosis standar NPK-Mg kiserit. 
Uji potensi Burkholderia cenocepacia strain KTG sebagai bahan aktif pembenah hayati pada tanah tekstur berpasir di Kalimantan Tengah The potential test of Burkholderia cenocepacia KTG strain as an active ingredient of bio-ameliorant in sandy-textured soil at Central Kalimantan Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
Menara Perkebunan Vol. 81 No. 1: 81 (1), 2013
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v81i1.52

Abstract

AbstractOil palm plantation at Central Kalimantan hasbeen expanded to those areas with sandy-textured soil.This type of soil has limiting factors for plant growth, i.e.unstable soil aggregation and weak organic complexbond that restrain root development and yield. However,efforts to solve this problem are very limited. Theresearch aimed to develop technology to improve theinteractions for promoting a stable soil aggregate ofsandy-textured soil. The use of exopolysaccharideproducing bacteria as a soil bio-ameliorant to mediatesandy soil micro aggregate formation by bio-augmenta-tion technique has become an accepted practice. A highlypotential endophytic bacterium for exopolysaccharidesproduction was isolated from a sandy soil located atKotawaringin Barat-Central Kalimantan. The bacteriumwas identified as Burkholderia cenocepacia KTG strain.The field experiment has been organized according to themethod of randomized complete blocks design with seventreatments of fertilizer in combination with bio-ameliorant and replicated three times. Fertilizer and bio-ameliorant application has been done in November 2009- November 2011. Field trial was evaluated based on theproduction of mature oil palm during January 2010-December 2011 periods. The data obtained indicate thatapplication of bio-ameliorant combined with reduceddosage of N-P-K 16-4-25 was not significantly differentto that of full dosage of N-P-K 16-4-25 treatment.AbstrakPengembangan perkebunan kelapa sawit diKalimantan Tengah telah masuk ke wilayah dengan tanahtekstur berpasir. Jenis tanah ini memiliki faktor pembatasbagi pertumbuhan tanaman seperti ketidakstabilan agregattanah serta ikatan organik kompleks yang lemah,sehingga perkembangan akar tanaman akan mengalamihambatan dan pada akhirnya produktivitas menjadi suboptimal. Bagaimanapun juga, upaya untuk memecahkanmasalah tersebut masih sangat terbatas. Penelitian inibertujuan mengembangkan teknologi untuk meningkat-kan kemantapan agregat tanah tekstur berpasir. Pem-bentukan mikro agregasi tanah dengan memanfaatkanbakteri penghasil eksopolisakarida sebagai pembenahhayati melalui teknik bioaugmentasi merupakan teknologiyang dapat diterapkan secara praktis di lapang. Bakteriendofitik penghasil eksopolisakarida potensial telah ber-hasil diisolasi dari tanah tekstur berpasir, di daerahKotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Bakteri ini di-identifikasi sebagai Burkholderia cenocepacia strainKTG. Tujuh perlakuan yang diuji merupakan kombinasipupuk dan pembenah tanah hayati dengan tiga ulangan.Aplikasi pupuk dan pembenah tanah hayati ini dilakukanselama periode Nopember 2009 - Nopember 2011.Evaluasi dilakukan atas dasar tingkat produktivitaskelapa sawit yang sudah berproduksi selama 16 tahunselama periode Januari 2010 - Desember 2011. Data yangdiperoleh menunjukkan bahwa dosis pembenah tanahyang diuji yang dikom-binasikan dengan penurunan dosispupuk N-P-K 16-4-25 tidak berbeda nyata denganperlakuan penggunaan dosis penuh pupuk N-P-K 16-4-25.
Karakteristik gugus fungsional eksopolisakarida Burkholderia cenocepacia strain KTG dalam tiga kelas tekstur tanah The characteristic of exopolysaccharide functional group of Burkholderia cenocepacia strain KTG in three soil texture classes Laksmita Prima SANTI
Menara Perkebunan Vol. 79 No. 2: 79 (2), 2011
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v79i2.57

Abstract

Abstract This research was carried out to investigate the characteristics of exopolysaccharide functional groups of Burkholderia cenocepacia strain KTG originated from three different soil texture classes. This bacterium was isolated from rhizosphere of oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) and has a highly potential exopolysaccharides production (4.3- 5.8 mg/mL) promoting soil aggregate formation. Fouriertransformed infrared spectroscopy (FTIR) was used for obtaining vibrational spectra of the exopolysaccharide. The bacterium was cultured in ATCC no.4 medium with a different source of carbon i.e. 2% (w/v) of sucrose, glucose, manitol, lactose, and 4-hydroxy-phenyl acetic acid as carbon sources respectively for initial characterization and then soil suspension of clay, sandy loam, and loamy sand. Analysis of the FTIR spectrum of the exopolysaccharide B. cenocepacia KTG strain both contain similar source of carbon in liquid ATCC no.14 medium and soil solution after 72 hours incubation showed intensive bands in the range of 3403-3400 cm-1 and 1651-1636 cm-1 corresponding to the stretching band of O-H (hydroxyl) and C=O (carbonyl) of exopolysaccharide. In the region 1135-993 cm-1 , exopolysaccharide of B. cenocepacia KTG strain exhibited the characteristic absorption at 1126 cm-1 corresponding to the existence of α and β configurationsAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik gugus fungsional eksopolisakarida Burkholderia cenocepacia strain KTG di dalam tiga kelas tekstur tanah yang berbeda. Bakteri ini diisolasi dari rizosfer kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) dan memiliki potensi menghasilkan eksopolisakarida dalam jumlah tinggi (4,3-5,8 mg/mL) untuk membentuk agregat tanah. Fourier-transformed infrared spectroscopy (FTIR) digunakan untuk memperoleh gambaran spektra dari eksopolisakarida. Sebagai tahap awal karakterisasi gugus fungsional, bakteri ditumbuhkan di dalam medium ATCC no.14 dengan 2 % (b/v) sumber karbon berbeda yaitu: sukrosa, glukosa, manitol, laktosa, dan 4- hydroxyphenyl acetic acid dan diuji pula dalam larutan bahan tanah berliat, lempung berpasir, dan pasir berlempung. Hasil analisis dengan spektrum menunjukkan bahwa di dalam medium ATCC no.14 dengan jenis karbon berbeda ataupun di dalam larutan tanah setelah inkubasi 72 jam terlihat penyerapan pita yang intensif pada bilangan gelombang 3403-3400 cm-1 dan 1651-1636 cm-1 yang menandakan gugus hidroksil dan karbonil. Pada wilayah bilangan gelombang 1135-992.9 cm-1 , eksopolisakarida B. cenocepacia strain KTG menunjukkan penyerapan spesifik pada bilangan gelombang 1126 cm-1 yang menandakan konfigurasi ikatan α dan β.
Pemanfaatan bio-char sebagai pembawa mikroba untuk pemantap agregat tanah Ultisol dari Taman Bogo-Lampung The use of bio-char as bacterial carrier for aggregate stabilization in Ultisol Soil from Taman Bogo-Lampung Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
Menara Perkebunan Vol. 78 No. 2: 78 (2), 2010
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v78i2.64

Abstract

Abstract A series of research was carried out with the objective to meet the challenge and determine the direction and strategy required for overcoming highly weathered Ultisol soil that impact to low productivity. Selected ameliorating materials, i.e. bio-char, compost, and peat were examined their physical characteristics to determine the best combination of them as bioameliorant carrier materials for aggregate stability bacteria.  Bio-char was found to be the most suitable carrier material as it has highest total pore spaces and available water content.  Microbial population obtained from the granular forms of bioameliorant was 107 CFU/gram of the sample until 12 months life time periods. Best vegetative growth performance of maize Bisma var. in Ultisol soil of Experiment Station (KP) Taman Bogo was shown by the application of 100% standard dosage of NPK conventional fertilizers in combination with the addition of 4.2 g/plant of bioameliorant. Yield of dry grain of maize was higher (+15.7 %) by application of 100 % standard dosage and  2.1g bioameliorant/plant (112 kg/ha) than that obtained by standard dosage of conventional fertilizer.  Abstrak Satu rangkaian kegiatan penelitian telah dilakukan untuk menjawab tantangan, arah dan strategi dari berbagai aspek yang terkait erat dengan masalah pelapukan lanjut dan berdampak pada rendahnya produktivitas tanah Ultisol.  Beberapa bahan terpilih seperti arang pirolisis (bio-char), kompos, dan gambut dianalisis secara fisik untuk menetapkan kombinasi terbaik sebagai bahan pembawa bioamelioran dengan bahan aktif bakteri pemantap agregat.  Bio-char memiliki keunggulan dalam hal total ruang pori dan  kapasitas air tersedia yang lebih tinggi.  Sampai dengan 12 bulan masa simpan, populasi bakteri pada bioamelioran granul dengan bahan pembawa bio-char berjumlah 107 CFU/gram contoh. Pertumbuhan terbaik tanaman jagung varietas Bisma pada tanah Ultisol diperoleh dari perlakuan 100 % pupuk NPK tunggal yang dikombinasikan dengan   4,2 g bioamelioran/tanaman. Sementara itu, perlakuan 100 % dosis pupuk NPK tunggal yang dikombinasikan dengan 2,1 g bioamelioran/tanaman (112 kg/ha) menghasilkan bobot pipilan kering jagung yang lebih tinggi (+15,7 %) apabila dibandingkan dengan perlakuan 100% dosis pupuk NPK tunggal saja. 
Pengaruh pemberian inokulan Burkholderia cenocepacia dan bahan organik terhadap sifat fisik tanah berpasir Effect of the inoculation of Burkholderia cenocepacia and organic materials on physical properties of a sandy soil Laksmita Prima SANTI; . SUDARSONO; Didiek Hadjar GOENADI; Kukuh MURTILAKSONO; Dwi Andreas SANTOSA
Menara Perkebunan Vol. 78 No. 1: 78 (1), 2010
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v78i1.74

Abstract

AbstractSoil aggregation is a dynamic and very important factor for the development of agricultural soil functions. Unstable soil aggregation in a sandy soil type is a limiting factor for plant growth. The aim of this study was to investigate theinfluence of a exopolysaccharide-producing bacterium and organic material on some physical properties of a sandy soil. A highly potential bacterium for exopolysaccharides production, i.e Burkholderia cenocepacia, was isolated froma sandy soil located at Kotawaringin Barat, Central Kalimantan. The isolated bacterium is capable on improving aggregate’s stability of a soil with about 60% sand fraction [medium sand fraction (MSF)]. Interaction between available water and electric conductivity with aggregate stability index has significant correlation in medium sand fraction inoculated by 109 CFU of B. cenocepacia suspension, i.e. r = 0.806* and r=0.966**, respectively. Organic materials and its combination with the addition of 108 CFU B. cenocepacia suspension treatments could increase the aggregate stability index but have no effects on bulk density and total pore space values in an artificial condition of medium sand fraction. AbstrakAgregasi tanah bersifat dinamis dan merupakan faktor penting untuk pengembangan fungsi tanah pertanian. Ketidakstabilan agregat tanah pada jenis tanah berpasir merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan tanaman.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eksopolisakarida bakteri dan bahan organik terhadap beberapa sifat fisik bahan tanah berpasir. Satu bakteri potensial penghasil eksopolisakarida yaitu Burkholderia cenocepacia telah berhasil diisolasi dari bahan tanah berpasir asal Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Bakteri ini dapat meningkatkan kemantapan agregat bahan tanah dengan kandungan fraksi pasir sekitar 60% [fraksi pasir sedang (FPS)]. Hubungan antara air tersedia dan konduktivitas elektrik terhadap indeks kemantapan agregat sangat nyata pada bahan tanah FPS yang diinokulasi dengan 109 CFU suspensi B. cenocepacia masing-masing r = 0,806* dan = 0,966**. Perlakuan bahan organik dan kombinasinya dengan penambahan 109CFU suspensi B. cenocepacia dapat meningkatkan indeks kemantapan agregat tetapi tidak mempengaruhi nilai kerapatan lindak dan total ruang pori di dalam fraksi pasir sedang.
Peningkatan kemantapan agregat tanah mineral oleh bakteri penghasil eksopolisakarida Aggregate stability improvement of mineral soil by exopolysaccharide-producing bacteria Laksmita Prima SANTI; Ai DARIAH; Didiek Hadjar GOENADI
Menara Perkebunan Vol. 76 No. 2: 76 (2), 2008
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v76i2.85

Abstract

Summary Pseudomonas fluorescens PG7II.1, Flavobacterium sp. PG7II.2, and  Pseudomonas diminuta PG7II.9 have a potential to produce exopolysaccharide which help the  formation and stabilization of soil aggregate. These bacteria have been isolated from the rhizosphere of Saccharum officinarum.  Exopolysaccharide production in ATCC 14 liquid medium with sucrose was higher than that obtained from glucose, lactose, and 4-hydroxyphenil acetic acid       (4-HAA) as a carbon sources. Producing of exopolysaccharide from these bacteria were 8.04 (P. fluorescens PG7II.1), 2.0 (Flavo-bacterium sp. PG7II.2) and 1.82 mg/mL (P. diminuta PG7II.9). Aggregate Stability Index (ASI) of mineral soil material was 114 when inoculated by these isolates after 60 days incubation period at ambient temperature. The ASI value of inoculated mineral soil material significantly different with uninoculated. The optimum of bacterial suspension to increase aggregate stability of mineral soil material was 12.5% (v/w) consisted of 109 CFU per mL.  Ringkasan          Pseudomonas fluorescens PG7II.1, Flavobacterium sp. PG7II.2, dan Pseudomonas diminuta PG7II.9, memiliki potensi dalam menghasilkan eksopolisakarida untuk pem-bentukan dan kemantapan agregat tanah. Ketiga bakteri tersebut diisolasi dari rhizosfer Saccharum officinarum. Sukrosa merupakan sumber karbon terbaik untuk produksi eksopolisakarida di dalam medium cair ATCC 14 apabila dibandingkan dengan glukosa, laktosa, dan 4-hydroxyphenil acetic acid  (4-HAA). Eksopolisakarida yang dihasilkan dari ketiga bakteri tersebut masing-masing 8,04 (P. fluorescens PG7II.1); 2,0 (Flavobacterium sp. PG7II.2) dan 1,82 mg/mL (P. diminuta PG7II.9). Inokulasi ketiga isolat tersebut ke dalam bahan tanah mineral memberikan indeks stabilitas agregat (ASI) sebesar 114 setelah 60 hari inkubasi pada suhu ruang. Nilai indeks ini berbeda secara nyata apabila dibandingkan dengan bahan tanah mineral tanpa inokulan. Jumlah suspensi bakteri yang diperlukan untuk meningkatkan nilai indeks stabilitas agregat di dalam bahan tanah mineral secara optimum ialah 12,5% (v/b), dengan jumlah populasi bakteri 109 CFU   per mL.