Yulita Fitriana
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BUDAYA PESISIR DALAM CERITA BATU BELAH BATU BERTANGKUP: KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA (Coastal Culture as Reflected in Folktale Batu Belah Batu Bertangkup: an Antropological Literature Analysis) Yulita Fitriana
Salingka Vol 13, No 2 (2016): Salingka, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.012 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v13i2.131

Abstract

AbstractThe folklore “Batu Belah” exists in several regions in Indonesia, even in the Archipelago. Thefolklore “Batu Belah” retold by BM Syamsuddin in his Batu Belah Batu Bertangkup (1983)originated from the Kepulauan Riau Province. As an archipelago stroy, the story exists in thecoastal culture. Therefore, the issues to be discussed in this paper are what elements of coastalculture that contained in the story BBBB. The research aims to identify and to explain theelements of coastal culture in the story. This study applies anthropological theory of literaturethat considers literature as a cultural heritage that includes the patterns of a society presentedthrough aesthetic symbols. The research method used is a qualitative method. Analysis of thedata presented descriptively. The data obtained through library research. From this research,it is known that in folklore “Batu Belah”, there are elements of the coastal culture, such as (1)the people’s livelihood of the maritime sector; (2) local wisdom respected to marine, and (3)culture that is open to the outside elements. AbstrakCerita “Batu Belah” terdapat di beberapa daerah di Indonesia, bahkan di Nusantara. Cerita “BatuBelah” yang diceritakan kembali oleh BM Syamsuddin dalam bukunyaBatu Belah Batu Bertangkup(1983) (BBBB) berasal dari Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai cerita dari daerah kepulauan, didalam cerita tersebut terkandung budaya pesisir. Oleh karena itu, permasalahan yang hendak dibahasdi dalam tulisan ini adalah apa sajakah unsur-unsur budaya pesisir yang ada di dalam cerita BBBB.Adapun tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menjelaskan unsur-unsur budaya pesisiryang ada di dalam cerita itu. Penelitian ini menggunakan teori antropologi sastra yang menganggapsastra sebagai warisan budaya yang memuat pola-pola kehidupan masyarakat yang disajikan melaluisimbol-simbol yang estetis. Metode penelitian yang dipergunakan adalah metode kualitatif. Analisisdata disajikan secara deskriptif. Adapun data didapat melalui studi pustaka. Dari hasil penelitiantersebut diketahui bahwa di dalam cerita rakyat “Batu Belah” terdapat unsur-unsur budaya pesisir,seperti (1) matapencaharian masyarakat dari sektor kelautan; (2) kearifan lokal yang berkenaandengan kelautan, dan (3) kebudayaan yang terbuka bagi unsur luar.
ANALISIS WACANA TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL SLOGAN PADA DEMONTRASI RUU KPK Raja Saleh; Yulita Fitriana; Arpina Pina
Kelasa Vol 17, No 1 (2022): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v17i1.291

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui makna tekstual yang meliputi kohesi leksikal dan gramatikal slogan pada demonstrasi tentang RUU KPK, (2) mengetahui makna kontekstual slogan pada demonstrasi tentang RUU KPK. Penelitian ini menggunakan metode deskripstif kualitatif. Data penelitian ini berupa bahasa tulis, yaitu slogan-slogan mahasiswa pada demonstrasi tentang RUU KPK yang dikumpulkan melalui teknik dokumentasi. Sumber data berasal dari slogan pada demonstrasi tentang RUU KPK yang ditulis pada karton atau kain-kain rentang yang berjumlah 15 data. Teknik analisis data mengacu pada teori analisis wacana yang dikemukakan oleh Sara Mills. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) analisis tekstual slogan pada demonstrasi tentang RUU KPK yaitu (a) kohesi gramatikal meliputi: pengacuan, pelepasan, dan perangkaian; (b) kohesi leksikal meliputi: repetisi, sinonimi, antonimi, kolokasi, hiponimi, dan ekuipalensi (2) analisis kontekstual slogan tentang RUU KPK ditemukan konteks situasi dan budaya dengan menerapkan prinsip penafsiran personal, lokasional, temporal, analogi, dan inferensi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat cara baru kaum milenial dalam menyampaikan pendapat atau aspirasi, yaitu dengan cara yang lebih puitis, lucu, dan menggelitik, tetapi tetap sarat kritik.