Claim Missing Document
Check
Articles

Positioning Madrasah dalam Penguatan Pendidikan Karakter Fery Diantoro
Al-Hayat: Journal of Islamic Education Vol 2 No 1 (2018): Al-Hayat: Journal of Islamic Education
Publisher : Al-Hayat Al-Istiqomah Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.661 KB)

Abstract

Character education is one solution to the problems of morality, character and other deviant behavior that is happening in this country. Strengthening character education becomes something important that must be supported by all components ranging from educational institutions, families and communities. In order to support the reinforcement, the president also issued a regulation on strengthening character education. Madrasah that become one of the formal educational institutions are also required to carry out the strengthening of character education as mandated. The positioning of madrasah should also be appropriate in the organization of strengthening character education, as it will impact on community appraisal. Positioning madrasah in organizing character education reinforcement is carried out through intra-curricular, ko-curriculer and extracurricular programs and positioning madrasah in addressing school admission days, madrasah can take the five day entry option with a system integrating the madrasah system with the pesantren system or taking six day entry options by strengthening the three curricular programs , with programs that show off that can be directly seen and felt the benefits by the community.Pendidikan karakter menjadi salah satu solusi atas permasalahan moral, akhlak dan perilaku menyimpang lainnya yang sedang terjadi di Negara ini. Penguatan pendidikan karakter menjadi sesuatu yang penting yang mesti didukung oleh seluruh komponen mulai dari lembaga pendidikan, keluarga dan masyarakat. Dalam rangka mendukung penguatan tersebut presiden juga mengeluarkan Peraturan tentang penguatan pendidikan karakter. Madrasah yang menjadi salah satu lembaga pendidikan formal dituntut juga mampu melaksanakan penguatan pendidikan karakter sebagaimana yang telah diamanatkan. Positioning madrasah juga harus tepat dalam penyelenggaraan penguatan pendidikan karakter, karena akan berdampak pada penilaian masyarakat. Positioning madrasah dalam menyelenggarakan penguatan pendidikan karakter dilakukan melalui program intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler dan positioning madrasah dalam menyikapi hari masuk sekolah, madrasah dapat mengambil opsi hari masuk lima dengan sitem mengintegrasikan sistem madrasah dengan sistem pesantren atau mengambil opsi masuk enam dengan penguatan di ketiga program kurikuler, dengan program-program yang show off yang bisa langsung dilihat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
EDUCATION AUTONOMY IN THE DISRUPTION ERA: CONSTRUCTION OF SCHOOL BASED MANAGEMENT IMPLEMENTATION IN MADRASAH Fery Diantoro
Kodifikasia Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v16i1.4709

Abstract

Besarnya peluang kemandirian yang diberikan pemerintah kepada satuan pendidikan melalui otonomi dan desentralisasi pendidikan yang ditambah juga dengan perkembangan zaman di era revolusi industry 4.0 menjadi sebuah tantangan dan tuntutan yang harus dipenuhi. Disrupsi yang terjadi pada semua aspek termasuk pendidikan mengharuskan pengelola pendidikan banyak melakukan penyesuaian terutama dalam aspek manajemen. Artikel ini adalah penelitian lapangan (field research) yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan datanya melalui interview, observasi dan dokumentasi. Fokus terletak pada bagaimana kontruksi otonomi pendidikan dan keberhasilannya di MIN 1 Trenggalek di era disrupsi, dengan tujuan untuk mengetahui dan menganalisis kontruksi otonomi pendidikan di MIN 1 Tenggalek dan keberhasilannya dalam melaksanakan kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah di era disrupsi. Temuan yang diperoleh bahwa otonomi pendidikan yang dikonstruk pada MIN 1 Trenggalek dengan membangun kesiapan antara pemerintah dan satuan pendidikan atas pembagian tugas (job discriptions), penggunaan kesempatan wewenang yang dilakukan oleh Kepala Madrasah untuk mengorganisir program pendidikan, pemberdayaan madrasah dengan memanfaatkan sumberdaya (SDM dan SDA) yang ada di madrasah. Keberhasilannya diantaranya, MIN 1 Trenggalek memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas, sebagai ciri khas serta keberhasilan pada program pendidikan dan program-program pengembangan lainnya yang menunjukkan peningkatan mutu yang dihasilkan. [The magnitude of the opportunities for independence provided by the government to education units through education autonomy and decentralization coupled with the times in the era of the industrial revolution 4.0 is a challenge and demands that must be met. The disruption in many aspects, including education, requires education managers to make many adjustments, especially in the management aspect. This article is field research that uses a qualitative approach by collecting data through interviews, observation, and documentation. The focus lies on how the construction of educational autonomy and its success in MIN 1 Trenggalek in the era of disruption, to know and analyze educational autonomy at MIN 1 Tenggalek and its success in implementing School-Based Management policies in the era of disruption. The findings show that educational autonomy is constructed at MIN 1 Trenggalek by building readiness between the government and education units for job descriptions, using authority by the head of the madrasah to organize educational programs, empowering madrasah by utilizing resources in the madrasah. Its successes include MIN 1 Trenggalek has a clear vision, mission, and objectives, as a characteristic and success in educational programs and other development programs that show the quality improvement produced.]
KEBIJAKAN PENERAPAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI PONDOK PESANTREN Nadya Al Fitria; Fery Diantoro
Jurnal Ijtihad Vol 6, No 1 (2022): FEBRUARI
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/multikultural.v6i1.13741

Abstract

 Multikultural terbesar di dunia adalah Indonesia, multikultural pendidikan memberikan kesempatan kepada siswa tanpa membedakan jenis kelamin, etnis, ras, atau karakterstik lainnya. Pendidikan multikultural di pondok pesantren dibutuhkan supaya para santri dapat menghargai perbedaan diantara mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kebijakan penerapan nilai-nilai pendidikan multikultural di pondok pesantren, mengetahui analisis kebijakan penanaman nilai-nilai pendidikan multikultural di pondok pesantren. Metode penelitian menggunakan studi literatur yaitu kegiatan metode pengumpulan data pustaka, membaca, mencatat, dan mengelola penelitian dari sumbernya secara deskriptif analisis yaitu metode yang memaparkan sistematis materi pembahasan diberbagai sumber yang dianalisis dengan teliti untuk memperoleh hasil sebagai kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan : 1) kebijakan yang digunakan di pondok pesantren adalah menanamkan nilai-nilai pancasila, menjunjung tinggi pluralisme, demokrasi, dan mencetak santri yang ber-Islam moderat; 2) pada penanaman nilai-nilai pendidikan multikultural di pondok pesantren perlu melakukan beberapa kegiatan yaitu kegiatan pembelajaran formal disekolah, kegiatan pengembangan diri dan kegiatan pembiasaan diri; 3) nilai-nilai pendidikan multikultural di pondok pesantren yaitu penanaman nilai demokrasi yang saling menghargai, nilai tolerasi yang saling menghormati, nilai keadilan sosial, kesetaraan, dan nilai kebersamaan yang saling tolong menolong.Kata Kunci: Analisis Kebijakan, Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural, Pondok Pesantren The largest multicultural in the world is Indonesia, multicultural education provides opportunities to students without distinguishing gender, ethnicity, race, or other characteristics. Multicultural education in boarding schools is needed so that students can appreciate the differences between them. The purpose of this study is to know the policy of applying multicultural educational values in boarding schools, knowing the analysis of policies on the cultivation of multicultural educational values in boarding schools. Research methods using literature studies are the activities of methods of collecting library data, reading, recording, and managing research from its source descriptive analysis, which is a method that systematically describes discussion materials in various sources that are carefully analyzed to obtain results as conclusions. The results of this study show: 1) the policies used in pesantren huts are to instill the values of Pancasila, uphold pluralism, democracy, and print santri that are moderateLy Islamic; 2) in the cultivation of multicultural educational values in boarding schools need to do several activities, namely formal learning activities in school, self-development activities and self-habituation activities; 3) The values of multicultural education in boarding schools are the cultivation of democratic values that respect each other, the value of mutual respect, the value of social justice, equality, and the value of mutual help.Keywords: Policy Analysis, Multicultural Education Values, Islamic Boarding Schools.
Manajemen Peserta Didik dalam Pembinaan Perilaku Keberagamaan Fery Diantoro
Cendekia: Kependidikan dan Kemasyarakatan Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.162 KB) | DOI: 10.21154/cendekia.v16i2.1207

Abstract

Religious behavior becomes an important point that is very fundamental to be owned by every student, because this is closely related to the attitudes and behaviors that will be demonstrated by students in their daily life. Therefore, the schools should be able to present good behavior and religious attitudes to students. Religious behavior coaching is the process of behavior formation, morality and character for students to stock the present and future life. Behavior coaching of students into the work domain of the student management. The school must manage the students well to create students that are in accordance with what has been expected and aspired. In this study using a descriptive qualitative approach, describe the student management in the religious behavior coaching in MTs Al-Burhan Watulimo. With the findings consists of students' orientation activities, the worship habituation, reading Al-Qur'an, scientific and Islamic studies, and guidance of discipline and character.يصبح السلوك الديني نقطة مهمة جدا أن تكون مملوكة من قبل كل المتعلم، لأن هذا يرتبط ارتباطا وثيقا المواقف والسلوكيات التي سيتم إثباتها من قبل المتعلمين في حياتهم اليومية. لذلك، ينبغي أن تكون المدرسة قادرة على تقديم السلوك الجيد والمواقف الدينية للمتعلمين. توجيه السلوك الديني هو عملية تشكيل السلوك والأخلاق والطابع للمتعلمين لتخزن الحياة الحالية والمستقبلية. توجيه سلوك المتعلمين في مجال عمل إدارة المتعلمين. يجب على المدرسة إدارة المتعلمين بشكل جيد لخلق المتعلمين التي تتوافق مع ما كان متوقعا وتطلعا. في هذه الدراسة استخدم المنهج الوصفي النوعي، وصف إدارة المتعلمين في السلوك الديني في المدرسة الثناوية "البرهان" واتوليمو. مع النتائج التى تتكون من أنشطة توجيه المتعلمين، والعبادة التعود، وتعزيز قراءة القرآن، ودراسة علمية والإسلامية، وكذلك تدريب الانضباط والأخلاق.
Analisis Pendidikan Karakter Siswa Terhadap Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Wahyu Lutfi Ansori; Vernanda Ayu Pramesti; Fery Diantoro
Journal of Education and Religious Studies Vol. 1 No. 02 (2021): AGUSTUS
Publisher : Academia Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57060/jers.v1i02.14

Abstract

The purpose of this study was to determine the application of problem-based learning models (Problem Based Learning) to students' creative thinking abilities. Character Education is a must because education does not only make students smart. And in scientific research using library research (library research). Literature study is a type of research conducted with a researcher by collecting data from books, journals, articles and certain writings. In addition, it is also based on our observations about the development of online learning in Indonesia. The author uses descriptive-qualitative research methods. Qualitative research method is a research that is intended to describe and analyze phenomena, events, social activities, attitudes, beliefs, perceptions, thoughts of people individually or in groups. To overcome the problem of character education, it is necessary to have special attention from teachers and parents of students regarding how to talk, how to dress, student discipline, and how to get along with friends and the surrounding environment. "The problem of character education so far has existed in every education unit needs to be immediately studied. , and alternative solutions are sought, and they need to be developed in a more operational manner so that they can be implemented in schools easily. "The findings of this study are that there are three problems with character education of students, namely discipline problems, courtesy problems and student enthusiasm problems. The supporting factor of the cultivation of character education is the support of school activities. The inhibiting factor of this research is the lack of supervision in the cultivation of character education activities.
Evaluasi Sekolah dan Madrasah Melalui Sistem Akreditasi dalam Kebijakan Pendidikan di Indonesia Puspa Yuli Astuti; Fery Diantoro
At-Tarbawi: Jurnal Kajian Kependidikan Islam Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.93 KB) | DOI: 10.22515/attarbawi.v6i2.4282

Abstract

Improving the quality of schools/madrasahs is carried out by means of guidance by the Education Quality Assurance Institution. After conducting quality development, it is necessary to carry out an evaluation using an accreditation system that has been regulated in education policy in Indonesia.  Evaluation of schools/madrasahs is very important because it will have an impact on the quality of education and subsequent education policy makers.  Therefore, this paper specifically aims to describe the evaluation of schools/madrasahs through the accreditation system.  The method used in this paper uses a qualitative research obtained from the literature study.  While the theory used in this paper is descriptive analysis. Regarding the results obtained from this paper is a description of the mechanism of the accreditation system in evaluating schools/madrasas as a form of improving the quality of schools/madrasas.  Assessment and evaluation activities are carried out based on predetermined criteria and refer to the National Education Standards.  The accuracy of the results of the evaluation of schools/madrasahs has contributed to the government as an effort to improve the quality of education and the determination of further education policies.
Sistem Pendidikan Nasional di Pondok Pesantren Nurresa Fi Sabil Resya; Fery Diantoro
Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan Islam Vol 19 No 2 (2021): Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : IAIN PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.353 KB) | DOI: 10.35905/alishlah.v19i2.2134

Abstract

Many teenagers do not continue school or drop out of school because of a lack of awareness of the importance of education, even though in the national education system one of the latest educational programs in the country is "Compulsory Learning for 12 Years", namely 6 years of Elementary School (SD), 3 years of Junior High School (SMP), and High School (SMA). This article tries to explain the importance of national education in facing the challenges of globalization and preparing the competitiveness of a nation that fears God Almighty. The method used is library research (library research). The theory used is descriptive analysis. The results of the study show that national education based on Pancasila, aims to increase devotion to God Almighty, intelligence and skills, enhance character, strengthen personality, and strengthen the spirit of nationalism and love for the homeland, in order to grow development humans who can build themselves. and jointly responsible for the development of the nation. Islamic boarding schools are genuine Indonesia. National education should be oriented towards pesantren education by inculcating open and tolerant human relations. Whereas the content of Article 3 of the National Education System Law is to develop capabilities and shape character and Islamic boarding schools have been implementing them for a long time. Through the Islamic boarding school which is a traditional educational institution that forms independence, discipline, responsibility, and moral reference as well as forming character education which is the basic capital in Islamic life in society and the state and achieves a complete human being to the students.
Tinjauan Histori Terhadap Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional Izza Lutfiyana; Ridwan Ardianto; Fery Diantoro
At- Ta'lim : Jurnal Pendidikan Vol 7 No 2 (2021): June
Publisher : LP3M Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/attalim.v7i2.535

Abstract

Abstrak : Kebijakan pendidikan islam yang selama ini telah menjadi boomerang bagi berbagai kalangan yang mayoritas islam. Problematika ataupun konflik yang telah ada adalah berawal dari kurangnya perhatian pemerintah mengenai pendidikan islam. Perlunya mengkaji ulang terkait pendidikan agama terkhususnya pendidikan agama islam terhadap sistem pendidikan nasional yang telah diresmikan dalam undang-undang. Pada masa orde lama telah dikeluarkan mengenai pendidikan agama dalam pendidikan nasional namun isi dalam kandungan ayat di UU seakan tidak mengakui bahwa pendidikan agama merupakan salah satu hal yang penting dan banyak kalangan yang mengkritisi hal ini karena bertolak belakang dengan pancasila sila pertama. Mengenai kedudukan pendidikan agama sebagai mata peajaran, lembaga, dan sebagai nilai. Pada masa orde baru dikaji kembali mengenai UU sistem pendidikan nasional dalam pembahasan pendidikan agama. Pada masa orde baru lebih terfokuskan mengenai masalah lembaga pendidikan agama yang belum diakui secara hokum atau tertulis. Hal yang menjadi probematika adalah jenis atau bentuk dari lembaga pendidikan agama, jika pendidikan agama islam itu MI, MTS, MA belum ditentukan dalam UU Sisdiknas. Dari dua periode atau masa orde lama dan juga baru kekuatan pendidikan agama terkhusus islam memang sangat lemah dimata hokum. Namun, pasca reformasi beda halnya kedudukan pendidikan agama (islam) jauh lebih menonjol. Hal itu dikarenakan masa reformasi pemerintah memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan agama dalam sistem pendidikan nasional. Terbukti dikeluarkannya UU No. 20 Tahun 2003. Dalam makalah ini penulis tidak menggunakan metode tetapi, berdasarkan sejarah pendidikan
SOSIALISASI PARENTING DALAM MEMBANGUN KEHARMONISAN ORANG TUA DAN ANAK DI DESA GADINGKULON KECAMATAN DAU KABUPATEN MALANG Diantoro, Fery; Eliza Oktavizzuhro
InEJ: Indonesian Engagement Journal Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/inej.v5i1.2285

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk pemberdayaan dengan memberikan fasilitasi kepada karang tarunana BG Generations Dusun Bugis Desa Bekare yang telah memiliki program lama yang belum terealisisi yaitu program jimpitan. Pengabdian dengan metode ABCD dapat meyakinkan kembali bahwa BG Generaitons dapat merealisasikan program jimpitan dan dapat menggugah semangat masyarakat untuk mendukung kegiatan tersebut. Kegiatan dalam pengebdian ini didasarkan pada metode penemuan apresiatif (appreciative inquiry) yang terdiri dari discovery, dream, design, dan destiny. Inti dari pengabdian ini adalah mendesain untuk merealisasikan program jimpitan, maka dilakukanlah kegiatan sosialisasi yang memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait pentingnya program jimpitan dan memberikan pendampingan atau fasilitasi dengan berpartisipasi dalam penyusunan pengelola, pengumpulan dan pemasangan kaleng sebagai sarana pengumpulan dana jimpitan dan mendampingi menyiapkan pembukuan. Respon masyarakat sangat positif terhadap program jimpitan. This community service program aims to empower by providing facilitation to the BG Generations, which has an old program that has not been realized, namely the jimpitan program. The service with the ABCD method can reassure that BG Generaitons can realize the jimpitan program and can inspire the community to support these activities. This devotion activity is based on the appreciative inquiry method which consists of discovery, dream, design, and destiny. The essence of this service is to design to realize the jimpitan program, then socialization activities are carried out that provide knowledge to the community regarding the importance of the jimpitan program and provide assistance or facilitation by participating in the arrangement of managers, collecting and installing cans as a means of collecting funds and assisting in preparing bookkeeping. The community response was very positive to the jimpitan program.
IMPLEMENTASI TRI PUSAT PENDIDIKAN DALAM RANGKA MENJAGA STABILITAS PROSES PENDIDIKAN PADA MASA PANDEMI COVID-19 Herdiana, Lusia; Komariyadi, Luthfi Nuzul; Diantoro, Fery
AL-FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/al-fikrah.v5i1.84

Abstract

Pendidikan memiliki peran penting dalam menjadikan setiap individu untuk menjadipribadi yang baik sesuai dengan nilai dan norma yang di tetapkan. Di era pandemic COVID-19ini terjadi penurunan kualitas pendidikan di berbagai bidang dan tingkatan karena banyaknyakendala permasalahan. Salah satu solusi untuk menjaga stabilitas proses pendidikan saat iniadalah dengan menerpakan sinergitas dari tripusat pendidikan yang meliputi lingkungankeluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Ada beberapa kompetensi tersendiriyang harus dimiliki pada masing-masing unsur lingkungan pendidikan. artikel ini akanmembahas mengenai sinergitas tripusat pendidikan dalam rangka menjaga stabilisasipendidikan pada masa pandemic COVID-19.