Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sifat Fisikokimia Tepung Surimi Ikan Bandeng (Chanos-Chanos) dengan Penambahan Dryoprotectant berbeda S Malle; A B Tawali; M M Tahir; M Bilang
Jurnal Ilmiah Inovasi Vol 19 No 3 (2019): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jii.v19i3.1682

Abstract

Produksi bandeng di Sulawesi Selatan cukup tinggi dan pengolahan surimi bandeng telah banyak dilakukan untuk menghasilkan produk agar-agar ikan. Umumnya, surimi harus disimpan dalam kondisi beku. Oleh karena itu diperlukan suatu teknologi dalam pengolahan produk ikan yang mudah dalam masalah penyimpanan dan efisien dalam hal distribusi. Salah satu yang bisa dilakukan adalah bagaimana mengolahnya menjadi bubuk surimi. Bubuk surimi bandeng memiliki peluang besar untuk dikembangkan untuk diversifikasi produk perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisikokimia ikan surimi bandeng dengan penambahan berbagai jenis dryprotectan (2% karagenan, 4% sukrosa + 2% karagenan, 4% sorbitol + 2% karagenan, 6% trehalosa + 2% karagenan) dengan pengeringan vakum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung surimi bandeng mengandung kadar air 7,22 - 7,91%; protein 57,06 - 61,9%; lemak 9,62 - 10,88%; kadar abu 1,35 - 1,48% ; hasil serbuk surimi 13,3 - 14,65%; Kadar WHC 6,42 - 14,64 mL/g ; kisaran pH 6,37 - 6,75; keputihan 61,51 - 72,35. Penambahan Trehalose 6% + 2% karagenan sebagai dryoprotectant memiliki sifat fisikokimia yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
DAYA TERIMA DAN KANDUNGAN ZAT GIZI FORMULA TEPUNG TEMPE DENGAN PENAMBAHAN SEMI REFINED CARRAGEENAN DAN BUBUK KAKAO Februadi Bastian; E Ishak; A B Tawali; M Bilang
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.558 KB)

Abstract

Tempe merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia yang berasal dari kedelai. Tempe memiliki nilai gizi dan daya cerna yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedelai. Produk turunan tempe masih sangat kurang, karena selama ini tempe langsung dikonsumsi dalam bentuk gorengan atau direbus. Penelitian ini dilakukan untuk membuat produk turunan tempe yaitu formula tepung tempe, kemudian dianalisis daya terimanya yang  meliputi rasa, aroma, dan tekstur; serta kandungan gizi. Penelitian ini terbagi atas dua tahap, pada tahap pertama akan ditentukan berapa persen penambahan semi refine carragenan (SRC) untuk meningkatkan kestabilan larutan formula tepung tempe. Pada tahap kedua, akan dilihat penerimaan panelis terhadap formula tepung tempe dengan penambahan bubuk kakao. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental rancangan acak lengkap faktorial dengan 2 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan penambahan SRC 4% (b/b) atau 1 g dari berat formula tepung tempe 25 g merupakan penambahan SRC terbaik dengan tingkat kestabilan larutan sebesar 71%. Penambahan bubuk kakao terbaik yaitu dengan penambahan 9% (b/b). Produk formula tepung tempe ini memiliki kandungan gizi protein 21,7%; lemak 13,65%; serat 5,18%; air 3,02%; abu 6,44%; dan karbohidrat 50,18%.