Brury Eko Saputra
Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

“Kata Orang, Siapakah Anak Manusia Itu? ... Tetapi Apa Katamu?” Gosip, Identitas Yesus dan Kategorisasi Diri Komunitas Murid Yesus Brury Eko Saputra
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 6, No 2 (2022): April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v6i2.614

Abstract

Abstract. This article attempted to read Matthew 16:13-20 in light of the Social-Scientific Approach by employing both the Gossip Theory and Self-Categorization Theory. It claimed that the author of the first Gospel emphasizes Jesus’ identity as a prototype leader of their community over the identity bestowed by the crowd through gossip. By using the Gossip Theory, this section showed that gossips circulated among the crowd have identified Jesus as a messianic prophet.  On the other hand, applying the Self-Categorization Theory proved that Jesus’ concern is on his identity – as Messiah, Son of the Living God – revealed by the Father to his disciples.  Finally, it was concluded that the author of the first Gospel stresses Jesus’ identity as a prototype leader of his community over the identity constructed by the gossipers.Abstrak. Artikel ini berupaya membaca Matius 16:13-20 berdasarkan Pendekatan Ilmu Sosial dengan menerapkan Teori Gosip dan Teori Kategori Diri. Klaim artikel ini adalah penulis Injil Matius menekankan identitas Yesus sebagai pemimpin prototipe dalam komunitas mereka daripada identitas yang diberikan oleh orang banyak melalui gosip. Dengan menerapkan Teori Gosip, artikel ini menunjukkan bahwa gossip yang beredar di kalangan orang banyak mengidentifikasi Yesus sebagai nabi mesianik. Penggunaan Teori Kategorisasi Diri membuktikan bahwa Yesus menaruh perhatian terhadap identitas-Nya – sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup – sebagaimana dinyatakan oleh Bapa kepada para murid. Kesimpulannya adalah bahwa penulis Injil Matius menekankan identitas Yesus sebagai pemimpin prototipe dalam komunitas-Nya daripada identitas yang terbentuk oleh gosip.
RESENSI BUKU : CONFLICT MANAGEMENT AND THE APOSTLE PAUL BRURY EKO SAPUTRA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 7, No 2 (2019): SEPTEMBER 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v7i2.97

Abstract

Buku ini merupakan kumpulan paper mahasiswa Doctor of Ministry (D.Min) dalam mata kuliah Conflict Management yang diampu oleh Scot McKnigt di Northern Seminary (halaman xi). Ada total sembilan paper dalam buku ini. Menariknya, setiap paper ditulis oleh dua orang, sehingga memperkaya ulasan setiap topik dalam tiap paper. Sebelum menyajikan setiap paper di dalamnya, editor buku ini (Greg Mamula) memberikan sebuah bab pendahuluan untuk memperkenalkan topik ini. Bab pendahuluan dengan judul An Introduction to Modern Conflict Management memperkenalkan beberapa pendekatan modern yang sering digunakan dalam penyelesaian konflik gereja. Beberapa pendekatan tersebut ialah pendekatan Fisher dan Ury (halaman xvxvi), A Conversational Perspective (halaman xvi-xviii), Family System Approach (halaman xviii-xx), dan Reconciliation Approach (halaman xx-xxi). Tujuan bab ini adalah untuk menunjukkan bahwa meskipun ada banyak pendekatan yang dapat digunakan dalam menangani konflik gereja, kembali ke Alkitab untuk menemukan prinsip-prinsip penting dalam penyelesaian konflik adalah hal yang sangat krusial (halaman xxiv).
REVIEW BUKU : PAUL, A VERY BRIEF HISTORY BRURY EKO SAPUTRA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 2 (2018): SEPTEMBER 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v6i2.81

Abstract

Buku singkat ini adalah sebuah pengantar terhadap tokoh dan pemikiran, serta pengaruh Paulus yang sangat baik. Buku ini tidak hanya mengulang materi yang dapat ditemukan di buku-buku pengantar singkat lain sebelumnya. Keunggulan buku ini adalah pada kesederhaan bahasa dan topik yang sangat sangat aktual, serta interaksi dengan perkembangan dengan kesarjanaan Paulus hingga masa kini. Penggunaan pendekatan sosiologis dalam buku ini pada satu sisi berhasil memberikan panorama Paulus yang sangat relevan untuk pembaca masa kini, namun pada sisi lainnya tidak memberikan ruang untuk pengantar bagi perkembangan Paulus di bidang lain (e.g. pendekatan tekstual: intertextuality, new literary, epistolary approach; dan pendekatan lain)–tentunya untuk buku seukuran ini, hal seperti ini sangatlah wajar. Secara umum, buku ini sangat baik dibaca oleh setiap orang Kristen dan terutama mahasiswa teologi tingkat awal yang berusaha mengenal Paulus, serta karya tentangnya.
RESENSI BUKU : BASIC OF VERBAL ASPECT IN BIBLICAL GREEK BRURY EKO SAPUTRA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v6i1.73

Abstract

Pada dasarnya buku karya Campbell ini disusun dalam dua bagian besar: pertama, dari bab pertama hingga kelima, Campbell berusaha memaparkan teori Verbal Aspect; kedua, dari bab keenam hingga kesepuluh, ia menjabarkan manfaat dari teori Verbal Aspect bagi studi Perjanjian Baru. Bagian pertama lebih bersifat teoritis, sedangkan bagian kedua bersifat praktis.
SALIB DAN DEFINISI KEMBALI MONOTEISME YAHUDI DALAM PEMIKIRAN RASUL PAULUS BRURY EKO SAPUTRA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 7, No 2 (2019): SEPTEMBER 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v7i2.94

Abstract

Abstraksi: Artikel ini berusaha menelusuri pengaruh peristiwa penyaliban Yesus Kristus terhadap cara Paulus membaca Kitab Suci dan tradisinya. Tulisan ini mengungkapkan bahwa salib memiliki peranan yang sangat penting dalam mendefinisikan kembali konsep monoteisme serta ramifikasinya dalam pemikiran Paulus. Dalam melakukannya, tulisan ini akan melakukan eksplorasi terhadap monoteisme Yahudi di periode tersebut dan kemudian menyajikan definisi kembali versi Paulus.  Kata-kata Kunci: Shema, Perjanjian dan Pemilihan, Definisi Kembali, Teologi Paulus
YESUS SAHABAT PEMUNGUT CUKAI DAN ORANG BERDOSA BRURY EKO SAPUTRA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 2 (2018): SEPTEMBER 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v6i2.78

Abstract

Abstrak: Penelitian terdahulu terhadap Lukas 7:34 sangat fokus pada elemen struktural, teologis dan etis dari teks tersebut. Seiring dengan berkembangnya penelitian terhadap tema persahabatan, secara umum di dunia Greco-Roman dan, dan khususnya dalam kekristenan mula-mula, artikel ini berusaha mencoba membaca Lukas 7:34 dalam konteks tersebut.  Kata Kunci: Tradisi Persahabatan, Persahabatan Greco-Roman, Persahabatan Yahudi, Persahabatan Perjanjian Baru
RESENSI BUKU : A NEW TESTAMENT THEOLOGY BRURY EKO SAPUTRA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 7, No 1 (2019): MARET 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v7i1.90

Abstract

Buku ini bukan dengan tidak sengaja dinamai dengan A New Testament Theology. Menurut Blomberg, ia tidak memilih judul The New Testament Theology karena ada banyak tema yang pontesial menjadi pusat bagi Teologi Perjanjian Baru (p. 11). Meskipun demikian, ia meyakini bahwa tema penggenapan (fulfilment) dapat menjelaskan kesatuan dan pesan utama dari setiap kitab di dalam Perjanjian Baru (cf. pp. 10-11). Di dalam menuliskan bukunya ini, Blomberg memanfaatkan setiap kekuatan dari semua pendekatan utama (historical description, redemptive history, worldview or story, canonical, theological-construction) dalam menulis Teologi Perjanjian Baru (pp. 6-7). Kendatipun demikian, Blomberg mengakui bahwa modelnya lebih dekat dengan pendekatan redemptive-historical (p.7). Berhubungan dengan struktur, Blomberg berusaha menelusuri tema penggenapan dalam teks Perjanjian Baru secara kronologis (p. 9).
PENDEKATAN SISTEM KELUARGA TERHADAP KONFLIK DI DALAM GEREJA DAN RETORIKA PAULUS DALAM SURAT FILEMON BRURY EKO SAPUTRA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 7, No 2 (2019): SEPTEMBER 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v7i2.96

Abstract

Abstraksi: Artikel ini berusaha membaca retorika Paulus dalam suratnya kepada Filemon dalam terang Pendekatan Sistem Keluarga terhadap konflik. Penulis akan mengidentifikasi elemen rumah tangga (household), baik secara kultural maupun tekstual, dalam surat Filemon. Setelah itu, penulis akan menelaah penggunaan retorika Paulus dalam relasinya dengan Pendekatan Sistem Keluarga terhadap konflik.  Kata-kata Kunci: Konflik gereja, Paulus dan Konflik, Kekristenan Mula-mula dan Konflik
RESENSI BUKU : BIBLICAL AUTHORITY AFTER BABEL : RETRIEVING THE SOLAS IN THE SPIRIT OF MERE PROTESTANT CHRISTIANITY BRURY EKO SAPUTRA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2017): SEPTEMBER 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i2.61

Abstract

Buku dengan lima bab ini lahir dari kuliah yang diberikan oleh Kevin J. Vanhoozer di Moore College, Australia, pada tahun 2015 – dengan judul “Mere Protestant Christianity: Why Singing Sola Renews and Reforms Biblical Interpretation” (p. xi). Pada bagian preface dan pendahuluan Vanhoozer memberikan penjelasan tentang judul ―Biblical Authority After Babel‖ yang diberikan kepada bukunya. Menurutnya, judul tersebut mengingatkan setiap pembaca bahwa (bagi sebagian orang) Reformasi juga menghasilkan banyak kebingungan dan dampak negatif lainnya, sama seperti pasca peristiwa runtuhnya menara Babel (pp. x, 1-4). Dengan mengutip beberapa ahli, Vanhoozer mencatatkan beberapa dampak negatif dan kebingungan yang dihasilkan oleh Reformasi: Reformasi menumbuhkan semangat sekularisme (Ernst Troeltsch dan Brad Gregory), Reformasi memberikan ruang bagi subyektifisme/individualisme di dalam hal menafsirkan Kitab Suci (H. Richard Niebuhr dan Alister McGrath), Reformasi mendorong perkembangan skeptisisme (Richard Popkin), dan Reformasi menyebabkan perpecahan antar gereja (Hans Boersma dan peter Lethart) (pp. 4-25).