Vincent Kalvin Wenno
Institut Agama Kristen Negeri Ambon

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Kurios

Memahami Penyembuhan Orang Buta dalam Yohanes 9:1-40 dengan Pendekatan Poskolonial Vincent Kalvin Wenno
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 5, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v5i2.114

Abstract

One of the important efforts in the postcolonial approach to biblical interpretation of the Bible is the emergence of other voices which so far have been marginalized due to the dominance of the structure or, and of a nation. The study is used in biblical texts, to see how domination takes place in text and interpretation, by seeing hegemonic power in a structure of society. The other voices to be raised in this article are the voices of persons with disabilities, especially in the text of John 9: 1-40. The text describes a long narrative about the miracle of healing a child who was born blind, who at the same time became a figure, who dared to voice his existence and identity, in the midst of fierce dialogue with Jews and Pharisees. In this narrative there is an attempt to read and interpret the text of John 9: 1-40 using the postcolonial approach. Abstrak Salah satu upaya penting dalam pendekatan postkolonial pada penafsiran Alkitab adalah memunculkan suara liyan yang selama ini termarjinalisasi akibat dominasi struktur atau, dan dari suatu bangsa. Studi tersebut digunakan ke dalam teks-teks Alkitab, untuk melihat bagaimana dominasi itu terjadi di dalam teks dan penafsiran, dengan cara melihat kuasa yang hegemonik dalam suatu struktur masyarakat tersebut. Suara liyan yang hendak dimunculkan di dalam artikel ini adalah suara dari para penyandang disabilitas terutama di dalam teks Yohanes 9:1-40. Teks tersebut mendeskripsikan narasi panjang tentang mukjizat penyembuhan anak yang terlahir buta, yang sekaligus menjadi tokoh, yang berani menyuarakan keberadaan dan identitasnya, di tengah dialog yang sengit dengan orang Yahudi dan Farisi. Dalam narasi inilah ada upaya untuk membaca dan menafsirkan teks Yohanes 9:1-40 dengan menggunakan pendekatan postkolonial.
Keluarga dan Pendidikan Karakter: Menggali Implikasi Nilai-nilai Hausetafel dalam Efesus 6:1-9 Febby Nancy Patty; Vincent Kalvin Wenno; Fiona Anggraini Toisuta
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i2.155

Abstract

The moral crisis in Christian families due to globalization has resulted in the loss of the function of the Christian family in society. This results in the shift in family values to be replaced by individualist, consumerist, and hedonistic values. This article describes the concept of family (hausetafel) in the letters of Ephesians and Colossians. The author uses a historical socio interpretation, to search for and find the meaning of the two epistles. The results of the interpretation show that the two epistles are very rich related to family and moral values (character). The meaning cannot be separated from its socio-historical and cultural context. Some of the values contained include the revelation of Christ in and through the family, love as the basis for binding family members, the family as a basis for character education, equality relations. The family image becomes a model for church life. Abstrak Krisis moral yang terjadi di tengah keluarga Kristen akibat globalisasi, mengakibatkan hilangnya fungsi keluarga Kristen di tengah masyarakat. Hal tersebut mengakibatkan bergesernya nilai-nilai keluarga digantikan dengan nilai-nilai individualis, konsumerisme, hedonistik. Artikel ini memuat tentang konsep keluarga (hausetafel) dalam surat Efesus 6:1-9. Penulis menggunakan penafsiran sosio historis, untuk mencari dan menemukan makna atau nilai kekeluargaan menurut pemikiran Paulus. Hasil penafsiran menunjukkan bahwa penguatan nilai-nilai keluarga tidak lepas dari konteks sosio-historis dan kulturalnya yang yang didominasi oleh pola-pola relasi kekuasaan yakni patron-klien yang ber-dampak pada kehidupan persekutuan umat. Sehingga perlu adanya penguatan moral dan karakter yang berdasar pada nilai-nilai kekeluargaan. Beberapa nilai haustafel yang menonjol dalam perikop ini yakni nilai kebenaran, kasih dan ketaatan, penghormatan, nilai persaudaraan, bersikap adil dan hidup setara yang selanjutnya menjadi model bagi kehidupan gereja maupun kekristenan.