Harls Evan R. Siahaan
Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Memaknai Pentakostalisme dalam Maksud Politis Lukas: Analisis Kisah Para Rasul 1:6-8 Harls Evan R. Siahaan
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2018): Oktober 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v3i1.178

Abstract

Abstract. The theology of Pentecostal is often assumed as a mere theology which related to the spiritual life, so that thinking about involvement in secular’s life is absolutely a worldliness. Pentecostalisme isn’t designed to obtain a mere spiritual implication, but also a study which arranged in a political situation with author’s political aims. The method used in this article is an analytical text on The Acts 1:6-8, and Pentecostalism descriptive, both philosophical and tehologically. The result of this analysis found that Pentecostalism keyword is a personal dynamization to a bigger political dynamization, such a nationality.Abstrak. Teologi Pentakosta seringkali dianggap sebagai sebuah teologi yang hanya berkaitan dengan kehidupan dunia roh, sehingga memikirkan keterlibatan dalam dunia profan adalah sebuah keduniawian. Pentakostalisme tidak disusun untuk sekadar memperoleh implikasi rohani, melainkan juga sebuah risalah yang disusun dalam suasana politis dengan maksud-maksud politis dari penulis. Metode dalam penelitian ini adalah analisis teks pada Kisah Para Rasul 1:6-8, dan deskripsi Pentakostalisme, baik secara teologis maupun filosofis. Hasil dari pembahasan menemukan bahwa Pentakostalisme sebagai sebuah dinamisasi personal untuk mengalami perubahan yang lebih besar dalam ranah politik, yaitu nasionalisme.
Partisipasi Sosial-Politik sebagai Praktik Hospitalitas Kaum Pentakostal Fransiskus Irwan Widjaja; Harls Evan R. Siahaan; Octavianus Nathanael
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 6, No 1 (2021): Oktober 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v6i1.633

Abstract

Abstract. The involvement of the church in social life outside the church is something that continues to struggle from time to time; the church, on the one hand, felt compelled to be involved in all aspects of life; on the other, it felt sufficient to focus on the spiritual dimension of life. Meanwhile, participation in the social domain is often articulated with religious mission activities that wish to win souls and increase the number of church members. This article aimed to present a theological reflection framework on hospitality in a Pentecostal perspective, as a spirituality that drives the participatory philosophy of Pentecostals in the public sphere, both socially and politically. The method used is descriptive analysis, with a literature study approach. The result is that the hospitality attitude of the early church in the Acts constructs a Pentecostal reflection of the participation of Pentecostals in the public sphere.Abstrak. Keterlibatan gereja dalam kehidupan sosial di luar gereja merupakan hal yang terus mengalami pergumulan dari waktu ke waktu; gereja di satu sisi merasa harus terlibat dalam seluruh aspek kehidupan, di sisi lain merasa cukup untuk memfokuskan pada dimensi kehidupan rohani. Sementara itu, partisipasi pada domain sosial tidak jarang diartikulasikan dengan kegiatan misi gerejawi yang ingin memenangkan jiwa dan menambahkan jumlah anggota gereja. Artikel ini bertujuan menyajikan sebuah kerangka refleksi teologis tentang hospitalitas dalam perspektif Pentakostal, sebagai spirtualitas yang menggerakkan sikap partisipatif kaum Pentakostal pada ruang publik, baik secara sosial dan politik. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, dengan pendekatan studi literatur. Hasilnya, sikap hospitalitas jemaat mula-mula pada narasi Kisah Para Rasul mengonstruksi sebuah perenungan Pentakostal mengenai partisipasi kaum Pentakostal pada ruang publik.
Menggagas Hospitalitas Pentakostal: Membaca Ulang Kisah Para Rasul 2:44-47 di Masa Pandemi Johannis Siahaya; Harls Evan R. Siahaan
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 2 (2021): April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v5i2.504

Abstract

Abstract. The Covid-19 pandemic demands serious handling and response, not only at the level of regulation which resulted in a policy of breaking the chain of spreading the deadly virus in the social order, but also stimulating the church's attitude in alleviating the suffering of the people affected. This article is a study of Pentecostal reflective on the text of Acts 2:44-47, which was aimed to produce a theological attitude about caring for others in order to alleviate the suffering of the people, to the wider community outside the church, who are affected by the pandemic. This research was conducted by a qualitative approach with descriptive, analysis-interpretative, and comparative-argumentation methods, to gain new understanding of the text being studied. In conclusion, the rereading of Acts 2:47 proposed the hospitality of the Pentascostals, which not only show Christian kindness, but also a liturgical praxis.Abstrak. Peristiwa pandemi Covid-19 menuntut penanganan dan respons yang serius, bukan hanya pada tataran regulasi yang membuahkan kebijakan memutus mata rantai penyebaran virus mematikan tersebut pada tatanan sosial, namun juga menstimulasi sikap gereja dalam meringankan penderitaan umat yang terdampak. Artikel ini merupakan sebuah kajian reflektif kaum Pentakostal atas teks Kisah Para Rasul 2:44-47, yang bertujuan untuk menghasilkan sikap teologis tentang kepedulian terhadap sesama dalam rangka meringankan penderitaan umat, hingga masyarakat luas di luar gereja, yang terdampak pandemi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, analisis-interpretatif, serta argumentasi-komparatif, untuk  mendapatkan pemahaman baru dari teks yang dikaji. Kesimpulannya, pembacaan ulang Kisah Para Rasul 2:44-47 menggagas sikap hospitalitas kaum Pentaskostal, yang bukan hanya sekadar menunjukkan kebaikan Kristen, namun juga tindakan liturgis.
Praktik Bahasa Roh dalam Ruang Publik: Sebuah Gagasan Membangun Kecerdasan Emosional Harls Evan R. Siahaan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 4, No 1: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.068 KB) | DOI: 10.53547/diegesis.v4i1.94

Abstract

The understanding of speaking in tongues as self-edifying is, actually, not only to be practised in the context of communal worship in the church but also can be undertaken in the context of social and secular life. In life relating socially and responding to life, situations require the ability to act in emotional maturity. This study aims to show the functions and benefits of speaking in tongues that can be practised for edifying spiritual maturity. By using the descriptive method of interpretive analysis on 1 Corinthians 14:4, it is found that the use of the Greek word oikodomeo in the text can be interpreted to edify oneself positively, through thinking and acting in maturity. In conclusion, speaking in tongues can be practised to edify emotion intelligently, so that believers can respond the life situations in an elegant and proportionate way. AbstrakPemahaman bahasa roh untuk membangun diri sendiri sejatinya tidak monoton dipraktikkan da-lam konteks ibadah komunal di gereja semata, melainkan dapat dilakukan juga dalam konteks kehidupan sosial dan sekuler. Dalam berelasi secara sosial dan menyikapi situasi kehidupan dibutuhkan kemampuan bertindak yang dewasa secara emosional. Kajian ini bertujuan untuk menunjukkan fungsi dan manfaat bahasa roh yang dapat dipraktikan dalam rangka membangun kedewasaan rohani seseorang. Dengan menggunakan metode deskriptif analisis interpretatif atas teks 1 Korintus 14:4, didapatkan bahwa penggunaan kata oikodomeo dalam teks tersebut dapat diartikan membangun diri secara positif, melalui kedewasaan berpikir dan bertindak. Kesimpu-lannya, praktik bahasa roh dapat digunakan seseorang untuk membangun emosionalnya secara cerdas, agar dapat menyikapi situasi kehidupan secara elegan dan proporsional.
Hospitalitas sebagai Laku Hidup Menggereja dalam Bingkai Moderasi Beragama di Indonesia Harls Evan R. Siahaan; Munatar Kause
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 2 No 2 (2022): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.761 KB) | DOI: 10.54170/dp.v2i2.146

Abstract

Religious life has experienced an anxious level of disruption in the last two decades, where there has been an escalation of violence that has led to murders and even sadism in the name of religion. Responding to a situation stimulated by religious fundamentalism and radicalism, the Indonesian government, through the Ministry of Religion, initiated an inclusive religious model that can accept and respect differences; the product is called religious moderation. This article is qualitative research that aims to offer the praxis of religious moderation through modeling early church life behavior. By using a descriptive analysis method based on a literature review, this study shows that the hospitality of the early church, as disseminated by Amos Yong and Amy G. Oden, was an act of religious moderation in church life amidst the socio-political disruptions at that time. We conclude that hospitality can become a doctrine that embodies church life which expresses the practice of religious moderation in Indonesia. Kehidupan beragama mengalami tingkat disrupsi yang mengkhawatirkan dalam dua dasawarsa terakhir, di mana terjadi eskalasi kekerasan yang mengarah kepada pembunuhuan hingga kesadisan dengan mengatasnamakan agama. Merespons situasi yang distimulasi oleh fundamentalisme dan radikalisme beragama, pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, menginisiasi sebuah pola beragama yang inklusif, yang dapat menerima dan menghargai perbedaan; produk itu dinamai moderasi beragama. Artikel ini adalah sebuah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk menawarkan praksis moderasi beragama melalui permodelan laku hidup gereja perdana. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif yang berbasis pada kajian literatur, penelitian ini memperlihatkan hospitalitas gereja perdana, seperti yang ditunjukkan oleh Amos Yong dan Amy G. Oden, merupakan sebuah laku moderasi beragama dalam hidup menggereja di tengah disrupsi sosial-politik saat itu. Kami menyimpulkan bahwa hospitalitas dapat menjadi doktrin yang mengejawantah hidup menggereja yang mengekspresikan laku moderasi beragama di Indonesia.