Johannis Siahaya
Sekolah Tinggi Agama Kristen Teruna Bhakti, Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kepemimpinan Kristen dalam Pluralitas Indonesia Johannis Siahaya
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 1, No 1 (2018): Agustus 2018
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.155 KB) | DOI: 10.47131/jtb.v1i1.8

Abstract

Leadership is an activity that involves the leaders of where, when, and what he does. In many areas, leadership is a crucial activity advance and retreat of an organization or institution. The same thing happened with the Christian leadership, which is an activity Christian leaders wherever located. In the context of Indonesia's leadership in plural, it takes a complete leader and integrity. A visionary leader, biblical means to have the basics of leadership according to the Bible, which is the word of God which is the handle of a Christian leader. Abstrak Kepemimpinan merupakan suatu kegiatan yang melibatkan para pemimpin dimana, kapan, dan apa yang dikerjakannya. Dalam berbagai bidang, kepemimpinan adalah suatu kegiatan yang sangat menentukan maju dan mundurnya sebuah organisasi atau lembaga. Hal yang sama juga terjadi dengan kepemimpinan Kristen, yang adalah sebuah kegiatan para pemimpin Kristen dimanapun berada. Dalam konteks kepemimpinan di Indonesia yang pluralis, maka dibutuhkan seorang pemimpin yang lengkap dan berintegritas. Seorang pemimpin yang visoner, alkitabiah artinya memiliki dasar-dasar kepemimpinan yang sesuai dengan Alkitab, yang adalah firman Tuhan yang adalah pegangan seorang pemimpin Kristen.
Menggagas Hospitalitas Pentakostal: Membaca Ulang Kisah Para Rasul 2:44-47 di Masa Pandemi Johannis Siahaya; Harls Evan R. Siahaan
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 2 (2021): April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v5i2.504

Abstract

Abstract. The Covid-19 pandemic demands serious handling and response, not only at the level of regulation which resulted in a policy of breaking the chain of spreading the deadly virus in the social order, but also stimulating the church's attitude in alleviating the suffering of the people affected. This article is a study of Pentecostal reflective on the text of Acts 2:44-47, which was aimed to produce a theological attitude about caring for others in order to alleviate the suffering of the people, to the wider community outside the church, who are affected by the pandemic. This research was conducted by a qualitative approach with descriptive, analysis-interpretative, and comparative-argumentation methods, to gain new understanding of the text being studied. In conclusion, the rereading of Acts 2:47 proposed the hospitality of the Pentascostals, which not only show Christian kindness, but also a liturgical praxis.Abstrak. Peristiwa pandemi Covid-19 menuntut penanganan dan respons yang serius, bukan hanya pada tataran regulasi yang membuahkan kebijakan memutus mata rantai penyebaran virus mematikan tersebut pada tatanan sosial, namun juga menstimulasi sikap gereja dalam meringankan penderitaan umat yang terdampak. Artikel ini merupakan sebuah kajian reflektif kaum Pentakostal atas teks Kisah Para Rasul 2:44-47, yang bertujuan untuk menghasilkan sikap teologis tentang kepedulian terhadap sesama dalam rangka meringankan penderitaan umat, hingga masyarakat luas di luar gereja, yang terdampak pandemi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, analisis-interpretatif, serta argumentasi-komparatif, untuk  mendapatkan pemahaman baru dari teks yang dikaji. Kesimpulannya, pembacaan ulang Kisah Para Rasul 2:44-47 menggagas sikap hospitalitas kaum Pentaskostal, yang bukan hanya sekadar menunjukkan kebaikan Kristen, namun juga tindakan liturgis.
Rekonstruksi Teologi Moderasi Beragama: Telaah Hermeneutis atas Narasi Perjumpaan Yesus dengan Perempuan Samaria dalam Yohanes 4:1-42 Johannis Siahaya; Nunuk Rinukti; Munatar Kause
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i2.473

Abstract

This study aims to reconstruct a theology of religious moderation by exploring the narrative of Jesus' encounter with the Samaritan woman in John 4:1-42. The discourse of religious moderation in Indonesia is often dominated by sociological and political approaches, while its biblical foundation remains underdeveloped. Using a hermeneutical method with narrative criticism and socio-rhetorical analysis, this research finds that Jesus' encounter transcends ethnic, gender, and theological boundaries through hospitality, equal dialogue, and recognition of the other's dignity. The findings affirm that this narrative provides a theological basis for religious moderation rooted in respect for humanity and openness to differences. This reconstruction is relevant to Indonesia's pluralistic context.   Abstrak Penelitian ini bertujuan merekonstruksi teologi moderasi beragama dengan menggali narasi perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria dalam Yohanes 4:1-42. Wacana moderasi beragama di Indonesia kerap didominasi oleh pendekatan sosiologis dan politis, sementara fondasi biblikalnya belum tergali secara optimal. Melalui metode hermeneutis dengan pendekatan kritik naratif dan analisis sosio-retoris, penelitian ini menemukan bahwa perjumpaan Yesus menembus batas etnis, gender, dan teologis melalui hospitalitas, dialog setara, serta pengakuan martabat liyan. Hasil penelitian menegaskan bahwa narasi tersebut menyediakan dasar teologis bagi moderasi beragama yang berakar pada penghargaan terhadap kemanusiaan dan keterbukaan terhadap perbedaan. Rekonstruksi ini relevan dalam konteks kemajemukan di Indonesia
Dari "aku" ke "kita" yang terfragmentasi: Studi fenomenologi tentang krisis solidaritas komunal dalam gereja urban di era hiperindividualisme digital Johannis Siahaya; Arnold Luther Dias
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1256

Abstract

This article examines the crisis of communal solidarity in Indonesian urban churches during the era of digital hyper-individualism through a phenomenological lens. Drawing on Charles Taylor's theoretical framework of "expressive individualism" and Robert Putnam's concept of "social capital," this research examines how digital technology and the culture of individualism have reshaped the dynamics of ecclesial communion. Through a comprehensive literature analysis, this study finds that the fragmentation of church communities is not only a sociological phenomenon but also a profound theological crisis. The results show that while digital technology offers new opportunities for connectedness, it also fosters "networked individualism," which weakens traditional communal bonds within the church. This article proposes a reconstruction of ecclesiological understanding that integrates contemporary digital challenges with fundamental theological principles of koinonia.   Abstrak Artikel ini menganalisis fenomena krisis solidaritas komunal dalam gereja-gereja urban Indonesia di era hiperindividualisme digital melalui pendekatan fenomenologi. Dengan menggunakan kerangka teoretis dari Charles Taylor tentang "expressive individualism" dan konsep "social capital" dari Robert Putnam, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana teknologi digital dan budaya individualisme telah mengubah dinamika persekutuan gerejawi. Melalui analisis literatur komprehensif, studi ini menemukan bahwa fragmentasi komunitas gereja tidak hanya merupakan fenomena sosiologis tetapi juga krisis teologis yang mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun teknologi digital menawarkan peluang baru untuk keterhubungan, ia juga menciptakan "networked individualism" yang melemahkan ikatan komunal tradisional dalam gereja. Artikel ini mengusulkan rekonstruksi pemahaman eklesiologi yang mengintegrasikan tantangan digital kontemporer dengan prinsip-prinsip teologis fundamental tentang koinonia.