Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN ASTAXANTHIN TERHADAP MORFOLOGI DAN MOTILITAS SPERMATOZOA MENCIT JANTAN DEWASA (Mus musculus) YANG DIBERIKAN PELATIHAN FISIK BERLEBIH Kardi; Iwan Desimal
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 5 No. 4 (2019): Desember 2019
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelatihan fisik berlebih dapat menyebabkan timbulnya stress oksidatif, dimana stress oksidatif merupakan faktor utama penyebab infertilitas pada pria. Stress oksidatif ini disebabkan oleh adanya peningkatan ROS (Reactive Oxygen Spesies) yang akan mengakibatkan terjadinya aglutinasi sperma sehingga dapat mempengaruhi morfologi dan motilitas sperma. Produksi ROS dapat meningkat pada pria yang sering melakukan pelatihan fisik berlebih dan berada di lingkungan dengan polusi tinggi.Astaxanthin sebagai antioksidan memegang peranan yang sangat penting sebagai protektor spermatozoa terhadap ROS. Pemberian Astaxanthin diharapkan dapat mengatasi stress oksidatif yang dapat menimbulkan infertilitas pada pria. Dalam hal ini peneliti menggunakan pelatihan fisik berlebih sebagai oksidan yang dapat memicu terjadinya stress oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Astaxanthin terhadap morfologi dan motilitas spermatozoa yang diberi pelatihan fisik berlebih. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan posttest only control group design. Sampel dalam penelitian ini adalah mencit jantan dewasa (Mus musculus) dengan kriteria : sehat, berat badan 20-22 gram, dan umur 2-3 bulan. Secara random, 33 ekor mencit dibagi 3 kelompok yaitu 11 ekor mencit kelompok kontrol, 11 ekor mencit kelompok perlakuan 1 yang diberi pelatihan fisik berlebih dan injeksi aquades 0,2 ml, 11 ekor mencit kelompok perlakuan 2 yang diberi pelatihan fisik berlebih dan Astaxanthin 0,01 mg yang dilarutkan dalam 0,5 ml aquades steril secara oral selama 35 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan motilitas spermatozoa mencit secara bermakna (P<0,05) pada kelompok perlakuan 2 setelah pemberian glutathion, dimana rerata motilitas spermatozoa kelompok kontrol adalah 33,90±8,66, rerata motilitas kelompok perlakuan I adalah 20,45±3,23, dan rerata motilitas kelompok perlakuan II adalah 24,63±5,22. Sedangkan rerata morfologi sperma normal pada kelompok kontrol adalah 52,36±6,29, rerata morfologi kelompok perlakuan I adalah 40,63±6,45, dan rerata morfologi kelompok perlakuan II adalah 50,18±4,37. Analisis kemaknaan dengan uji One Way Anova menunjukkan bahwa nilai F = 12,77 dan nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata morfologi spermatozoa pada ketiga kelompok sesudah diberikan perlakuan berbeda bermakna (p<0,05). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian Astaxantin pada mencit jantan dewasa yang diberi pelatihan fisik berlebih dapat meningkatkan morfologi dan motilitas spermatozoa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai dasar penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh astaxantin terhadap fungsi organ reproduksi lainnya seperti fungsi sel leydig dan kadar hormon testosteron serta sebagai dasar untuk meneliti pengaruh pemberian astaxantin terhadap motilitas spermatozoa manusia.
POSISI DAN LAMA KERJA SERTA UMUR DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PEKERJA PEMECAH BATU KALI DI BANTARAN SUNGAI MENINTING WILAYAH KERJA PUSKESMAS GUNUNG SARI TAHUN 2018 Alpian; Kardi
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 5 No. 1 (2019): Maret 2019
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lama kerja sambil memukul batu yang dilakukan rata-rata lebih dari 2 jam sekali duduk, dari diselingi dengan berdiri sebentar, sangat berpeluang untuk terjadinya Nyeri Punggung Bawah nyeri punggung bawah pada pekerja pemecah batu kali. Keluhan pertama biasanya dirasakan pada usia 35 tahun dan tingkat keluhan akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Hal ini terjadi karena pada umur Sangat bahaya, kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun, sehingga resiko terjadi keluhan.Hasil wawancara dan observasi awal yang dilakukan terhadap terdapat 30 orang pemecah batu, di sekitar bantaran sungai kali meninting, 28 pekerja pemecah batu mengalami nyeri punggung bawahdan2 orang tidak mengalami nyeri punggung bawah”Hubungan posisi dan lama kerja serta umur dengan keluhan nyeri punggung bawah pekerja pemecah batu kali di bantaran sungai kali meninting wilayah kerja puskesmas gunung sari Tahun 2018”. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik bersifat pendekatan cross sectional, jumlah populasi 47 pekerja pemecah batu di ambil dengan teknik sampel jenuh. Data penelitian diperoleh dari data primer dan data sekunder. Tehnik analisis univariat, bivariate (kooefisien kontingensi ).Berdasarkan hasil uji kooefisien kontingensi diperoleh nilai p = 0,024 dan OR = 2,120. Ada hubungan yang bermakna antara Posisi Kerja dengan keluhan Nyeri Punggung Bawah dengan Uji kooefisien kontingensi diperoleh nilai p = 0,002 dan OR = 4,847. Ada hubungan yang bermakna antara Umur dengan keluhan Nyeri Punggung Bawah dengan kooefisien kontingensi diperoleh nilai p = 0,001 dan OR = 9,947 hubungan antara variabel independent dengan variabel dependent adalah signifikan. Ada Hubungan Posisi Dan Lama Kerja Serta Umur Dengan Keluhan Nyeri Punggung Bawah Pekerja Pemecah Batu Di Bantaran Sungai Kali Meninting Wilayah Kerja Puskesmas Gunungsari Tahun 2018. Disarankan kepala Puskesmas Gunungsari dan pimpinan perusahaan pemecah batu mengkoordinasi jam kerja yang normal 8 jam perhari jika melebihi 8 jam kerja perhari karena sangat berisiko terjadinya Nyeri Punggung Bawah.
PEMBERIAN GLUTATHION PADA MENCIT JANTAN DEWASA YANG TERPAPAR ASAP ROKOK DAPAT MENINGKATKAN MOTILITAS PROGRESIF SPERMATOZOA Kardi
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 2 (2016): Juni 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radikal bebas yang terdapat pada asap rokok dapat menyebabkan timbulnya stress oksidatif, dimana stress oksidatif merupakan faktor utama penyebab infertilitas pada pria. Stress oksidatif ini disebabkan oleh adanya peningkatan ROS (Reactive Oxygen Spesies) yang akan mengakibatkan terjadinya aglutinasi sperma sehingga dapat menurunkan motilitas sperma. Produksi ROS dapat meningkat pada pria dengan kebiasaan merokok dan berada di lingkungan dengan polusi tinggi. Glutathion sebagai antioksidan memegang perananyang sangat penting sebagai protektor spermatozoa terhadap ROS. Pemberian glutathion diharapkan dapat mengatasi stress oksidatif yang dapat menimbulkan infertilitas pada pria. Dalam hal ini peneliti menggunakan asap rokok sebagai oksidan yang dapat memicu terjadinya stress oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh glutathion terhadap motilitas spermatozoa yang diberi paparan asap rokok.Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakanposttest only control group design.Sampel dalam penelitian ini adalah mencit jantan dewasa Strain Balb/C dengan kriteria : sehat, berat badan 20-22 gram, dan umur 2-3 bulan. Secara random, 33 ekor mencit dibagi 3 kelompok yaitu 11 ekor mencit kelompok kontrol, 11 ekor mencit kelompok perlakuan 1 yang diberi paparan asap rokok dan injeksi aquades 0,2 ml, 11 ekor mencit kelompok perlakuan 2 yang diberi paparan asap rokok dan injeksi glutathione 3,7 mg yang dilarutkan dalam 0,2 ml aquades steril secara intraperitoneal selama 35 hari.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan motilitas spermatozoa mencit secara bermakna (P<0,05) pada kelompok perlakuan 2 setelah pemberian glutathion, dimana rerata motilitas spermatozoa kelompok kontrol adalah 64,27±6,94, rerata motilitas spermatozoa kelompok perlakuan 1 adalah 46,09±11,50 dan rerata motilitas spermatozoa kelompok perlakuan 2 adalah 57,00±4,12.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian glutathion pada mencit jantan dewasa yang terpapar asap rokok dapat meningkatkanmotilitas progresif spermatozoa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai dasar penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh glutathion terhadap fungsi organ reproduksi lainnya seperti fungsi sel leydig dan kadar hormon testosteron serta sebagai dasar untuk meneliti pengaruh pemberian glutathion terhadap motilitas spermatozoa manusia.