Pelatihan fisik berlebih dapat menyebabkan timbulnya stress oksidatif, dimana stress oksidatif merupakan faktor utama penyebab infertilitas pada pria. Stress oksidatif ini disebabkan oleh adanya peningkatan ROS (Reactive Oxygen Spesies) yang akan mengakibatkan terjadinya aglutinasi sperma sehingga dapat mempengaruhi morfologi dan motilitas sperma. Produksi ROS dapat meningkat pada pria yang sering melakukan pelatihan fisik berlebih dan berada di lingkungan dengan polusi tinggi.Astaxanthin sebagai antioksidan memegang peranan yang sangat penting sebagai protektor spermatozoa terhadap ROS. Pemberian Astaxanthin diharapkan dapat mengatasi stress oksidatif yang dapat menimbulkan infertilitas pada pria. Dalam hal ini peneliti menggunakan pelatihan fisik berlebih sebagai oksidan yang dapat memicu terjadinya stress oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Astaxanthin terhadap morfologi dan motilitas spermatozoa yang diberi pelatihan fisik berlebih. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan posttest only control group design. Sampel dalam penelitian ini adalah mencit jantan dewasa (Mus musculus) dengan kriteria : sehat, berat badan 20-22 gram, dan umur 2-3 bulan. Secara random, 33 ekor mencit dibagi 3 kelompok yaitu 11 ekor mencit kelompok kontrol, 11 ekor mencit kelompok perlakuan 1 yang diberi pelatihan fisik berlebih dan injeksi aquades 0,2 ml, 11 ekor mencit kelompok perlakuan 2 yang diberi pelatihan fisik berlebih dan Astaxanthin 0,01 mg yang dilarutkan dalam 0,5 ml aquades steril secara oral selama 35 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan motilitas spermatozoa mencit secara bermakna (P<0,05) pada kelompok perlakuan 2 setelah pemberian glutathion, dimana rerata motilitas spermatozoa kelompok kontrol adalah 33,90±8,66, rerata motilitas kelompok perlakuan I adalah 20,45±3,23, dan rerata motilitas kelompok perlakuan II adalah 24,63±5,22. Sedangkan rerata morfologi sperma normal pada kelompok kontrol adalah 52,36±6,29, rerata morfologi kelompok perlakuan I adalah 40,63±6,45, dan rerata morfologi kelompok perlakuan II adalah 50,18±4,37. Analisis kemaknaan dengan uji One Way Anova menunjukkan bahwa nilai F = 12,77 dan nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata morfologi spermatozoa pada ketiga kelompok sesudah diberikan perlakuan berbeda bermakna (p<0,05). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian Astaxantin pada mencit jantan dewasa yang diberi pelatihan fisik berlebih dapat meningkatkan morfologi dan motilitas spermatozoa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai dasar penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh astaxantin terhadap fungsi organ reproduksi lainnya seperti fungsi sel leydig dan kadar hormon testosteron serta sebagai dasar untuk meneliti pengaruh pemberian astaxantin terhadap motilitas spermatozoa manusia.
Copyrights © 2019