Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PENGEMBANGAN GEDUNG PDAM GIRI MENANG Teddy Hartawan
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 5 No. 3 (2019): September 2019
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan PDAM Giri Menang yang sebelumnya dikenal dengan nama PDAM Kabupaten Lombok Barat lalu menjadi PDAM Giri Menang Mataram diawali dengan pembagunan Sistem Penyediaan Air Bersih di Kota Mataram pada tahun 1973 oleh Direktorat Teknik Penyehatan Departemen Pekerjaan Umum yang dibiayai dari APBN dan Buyers Credit dari Australia. Berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jendral Cipta Karya Departemen PU No : 2/9/KPTS/CK/76 tanggal 20 Desember 1976 dibentuk Badan Pengelola Air Minum (BPAM) dengan jangkauan pelayanan untuk Kecamatan Cakranegara, diperluas tahun 1978/1979 untuk Kecamatan Mataram dan Kecamatan Ampenan tahun 1979/1980. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Cipta Karya Dept. PU No. 37/9/KPTS/CK/1981 tanggal 1 April 1981 BPAM Mataram berubah menjadi BPAM Lombok Barat. Untuk Mengantisipasi rencana penyerahan aset yang dikelola oleh PDAM kepada Pemerintah Daerah tahun 1980 Bupati Lombok Barat bersama DPRD Tk. II Lombok Barat menetapkan PERDA Nomor 6 tentang pendirian PDAM Kabupaten Lombok Barat. Baru pada tahun 1986 sarana prasarana serta fasilitas air bersih dikelola oleh BPAM resmi seluruhnya diserahkan oleh Menteri PU kepada Bupati Lombok Barat melaui SK Gubernur NTB Nomor 166/KPTS/1986 tanggal 26 April 1986. Pada tahun 1988 Perda Nomor 6 tahun 1980 dirubah dan disempurnakan dengan Perda Nomor 1 Tahun 1988 tentang pendirian PDAM Kabupaten Lombok Barat. Berdasrkan UU Nomor 4 tahun 1993 tanggal 26 Juli 1993 tentang pembentukan Kota Mataram, tonggak sejarah awal berpisahnya Kabupaten Lombok Barat dengan Kota Mataram sekaligus konsekuensi pembagian aset. Menyadari dan berpedoman pada Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1993, disepakati kepemilikan PDAM secara bersama oleh kedua Pemerintahan dengan ditandatanganinya Surat Keputusan Bersama Bupati Lombok Barat dan Walikota Mataram Nomor 45 Taun 1998/3/KPPS/1998 dengan promosi pembagian 65% untuk Kabupaten Lombok Barat dan 35% untuk Kota Mataram. Sejarah akan mencatat PDAM Menang Mataram yang pertama di Indonesia dimiliki oleh dua Pemerintahan. Kemudian berdasarkan Perda Kabupaten Lombok Barat Nomor 4 Tahun 2012 nama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Menang Mataram berubah nama menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Giri Menang. Perencanaan pengembangan gedung kantor PDAM Giri Menang merupakan sebuah langkah untuk mengkaji kondisi bangunan gedung kantor PDAM Giri Menang dalam rangka pengembangan gedung kantor PDAM Giri Menang untuk antisipasi perkembangan 5 tahun ke depan. Maksud dari Perencanaan Pengembangan Gedung Kantor PDAM Giri Menang ini yaitu untuk meningkatkan kemampuan pemerintah PDAM Giri Menang dalam melaksanakan pembangunan daerah melalui peningkatan pelayanan terhadap masyarakat dan konsumen pada khususnya. Tujuan Pekerjaan mengkaji kelayakan bangunan Gedung Kantor PDAM Giri Menang yang ada untuk 5 tahun ke depan dan perencanaan pengembangannya. Desain pengembangan bangunan gedung PDAM Giri Menang mempertimbangkan beberapa aspek yaitu : 1). Aspek arsitektural yang meliputi perancangan tapak, tata ruang dan building performance. 2). Aspek struktural yang meliputi system struktur dan bahan pelingkup struktur serta 3).Aspek utilitas yang meliputi semua system utilitas pendukung fungsi bangunan.
KAJIAN UPAYA PELESTARIAN BANGUNAN BERSEJARAH DI KOTA TUA AMPENAN DITINJAU DARI ELEMEN PEMBENTUK KARAKTER BANGUNAN Eliza Ruwaidah; Teddy Hartawan
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 4 No. 4 (2018): Desember 2018
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini tentang kajian upaya pelestarianbangunan bersejarah di kawasan Kota Tua Ampenan ditinjau dari elemen pembentuk karakter bangunan merupakan rangkaian dari penelitian sebelumnya tentang pemetaan dan identifikasi bangunan bersejarah di Kota Tua Ampenan yang telah mendapatkan pendanaan dari dana hibah penelitian pdp Dikti tahun 2017. Beberapa kegiatan pemerintah daerah telah dilakukan dalam upaya menghidupkan kembali kawasan Kota Tua Ampenan ini. Dalam kajian ini akan dilihat pula apakah kegiatan pengembangan fisik maupun perencanaan kawasan pada lokus Kota Tua Ampenan ini sudah meliputi pelestarian bangunan bersejarah sebagai tindak lanjut penetapan Kawasan Kota Tua Ampenan sebagai kawasan cagar budaya. Penelitian ini bertujuan melakukan pembahasan tentang kegiatan pelestarian bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua Ampenanditinjau dari elemen pembentuk karakter bangunan, di Mataram, Nusa Tenggara Barat.Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode analisis kualitatif.Metode pendekatan menggunakan deskriptif analisis (pemaparan kondisi), dan metode evaluatif, dan metode development. Metode analisis kualitatif ini dilakukan dengan cara observasi lapangan dan wawancara. Metode deskriptif analisis dilakukan dengan pendekatan historis dan observasi di lapangan tentang elemen pembentuk karakter ruang yang ada saat ini. Metode analisis kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell 1998).Bogdan dan Taylor mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Moleong 2007). Metode ini dilakukan dengan cara observasi lapangan dan wawancara. Diharapkan dari penelitian ini dapat memberi arahan mengenai perubahan yang telah terjadi dan yang seharusnya dilakukan terhadap elemen pembentuk karakter bangunan dalamupayapelestarian bangunan bersejarah di Kawasan Kota Tua Ampenanserta kegiatan atau program yang berhubungan dengan pelestarian bangunan bersejarah di Kota Tua Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
PEMETAAN DAN IDENTIFIKASI BANGUNAN BERSEJARAH DI KOTA TUA AMPENAN MATARAM NUSA TENGGARA BARAT Teddy Hartawan; Eliza Ruwaidah
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 4 No. 1 (2018): Maret 2018
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang pemetaan dan identifikasi bangunan bersejarah di Kota Tua Ampenan diawali dari pemikiran bahwa Kota Tua Ampenan adalah salah satu kawasan cagar budaya yang merupakan kota tuanya Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Beberapa penelitian terdahulu yang telah dilakukan di kawasan ini lebih menekankan pada kawasan dan lingkungan binaannya sebagai kawasan cagar budaya. Belum ada penelitian yang menekankan pada bangunan bersejarah di kawasan ini sebagai objek arsitektur yang dianggap penting oleh peneliti sebagai objek utama dari kawasan cagar budaya tersebut. Penelitian ini bertujuan melakukan pemetaan bangunan bersejarah di Kota Tua Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat dan mengidentifikasikan kondisi bangunan bersejarah saat ini untuk mengklasifikasikan bangunan mana yang dapat dilakukan preservasi dan konservasi baik itu berupa restorasi, renovasi, rehabilitasi, rekonstruksi maupun adaptasi di Kawasan Kota Tua Ampenan Mataram, Nusa Tenggara Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi antara metode deskriptif kualitatif dan metode kuantitatif. Pada akhir rangkaian penelitian ini nantinya diharapkan muncul tipologi bangunan bersejarah di Kawasan Kota Tua Ampenan yang dapat diuraikan dan dicari benang merahnya dengan bangunan bersejarah di Kawasan Tua lainnya di Indonesia. Diharapkan dari penelitian ini dapat menjadi dasar untuk menghasilkan suatu dokumen teknis yang dapat dijadikan panduan untuk menentukan kebijakan mengenai preservasi dan konservasi bangunan bersejarah di Kawasan Kota Tua Ampenan Mataram, Nusa Tenggara Barat.
KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS TERHADAP PENATAAN RUANG DI KAWASAN STRATEGIS PROVINSI (KSP) SENGGIGI TIGA GILI Teddy Hartawan; Eliza Ruwaidah
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 3 (2017): September 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Senggigi Tiga Gili terdiri dari 2 (dua) wilayah Kabupaten yaitu Kabupaten Lombok Barat ,Kabupaten Lombok Utara. Kawasan Senggigi Tiga Gili dengan sektor unggulan pariwisata, industri dan perikanan diharapkan dapat menunjang pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB secara menyeluruh sehingga dibutuhkan regulasi dari aspek perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang untuk menunjang berbagai kegiatan infrastruktur serta kegiatan sektoral lainnya dalam rangka perwujudan ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Sebagai sebuah dokumen perencanaan yang menyangkut aspek keruangan, maka diperlukan pertimbangan lingkungan hidup yang berkelanjutan agar proses danmanfaat dapat terlaksana secara optimal dan lestari. KLHS atau Strategic Environmental Assessement (SEA) merupakan suatu rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif serta pendekatan strategis jangka panjang pengelolaan lingkungan menujupembangunan berkelanjutan. KLHS wajib dilaksanakan untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah serta Kebijakan, Rencana dan/atau Program (KRP). KLHS wajib diintegrasikan kedalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) beserta rencana rincinya baik di tingkat Nasional, Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Dalam hal ini termasuk memaduserasikan KRP yang berpotensi menimbulkan dampak atau resiko lingkungan hidup, fungsi daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup di suatu wilayah. Berdasarkan hasil kajian pengawasan mutu pelaksanaan kegiatan KLHS, disimpulkan: 1)Sebanyak 8 sub-kegiatan (31%dari total kegiatan) telah tercakup sepenuhnya, terutama pada kegiatan yang sifatnya pengindetifikasian dan inventarisir. 2) Sebanyak 14 sub-kegiatan (54% dari total kegiatan) telah tercakup sebagian besar, terutama pada kajiankajian mengenai isu-isu pembangunan. Meskipun demikian, diperlukan penyempurnaan dengan memperkaya referensi kajian dan analisis mengenai efek-efek KRP terhadap lingkungan. 3)Hanya 2 subkegiatan (8% dari total kegiatan) yang tercakup sebagian kecil, yaitu pada sub-kegiatan mengonsultasikan dan menyepakati substansi rekomendasi bersama SKPD dan mengintegrasikan kesepakatan substansi rekomendasi ke RTR KSP bersama Tim Penyusun RTR KSP. Nilai ini diberikan mengingat proses penyusunan RTR KSP telah rampung dan telah diperdakan. 4)Hanya 2 sub-kegiatan (8% dari total kegiatan) yang tidak tercakup sama sekali, yaitu pada sub-kegiatan yang berkaitan dengan penyampaian rancangan RTR KSP kepada Gubernur dan Bupati serta dokumentasinya. Hal ini disebabkan karena proses ini telah berakhir dan pada saat itu proses KLHS belum dilaksanakan.
TIPOLOGI RUANG RUMAH ABDI DALEMDI KAMPUNG KEMLAYAN SURAKARTA Teddy Hartawan
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 1 No. 3 (2015): Desember 2015
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan merumuskan tipologi ruang pada rumah abdi dalem di kampung Kemlayan Surakarta beserta faktor yangmempengaruhinya yang dikategorikan pada 2 kelompok rumah abdi dalem berdasarkan kepemilikannya saat ini yang terdiri dari 2 kelompok yaitu 1). Rumah abdi dalem milik keturunan dan 2). Rumah abdi dalem milik bukan keturunan.Objek penelitian ini adalah rumah abdi dalem di kampung Kemlayan yang berjumlah 16 rumah dengan subyek penelitian adalah pemakai kegiatan di dalam rumah dan keturunan langsung abdi dalem Kraton Surakarta. Pengumpulan data dilakukan pada seluruh objek rumah abdi dalem melalui pengukuran rumah beserta ruang-ruangnya dan melakukan penggambaran kembali data yang meliputi siteplan, denah, tampak dan potongan ruang pada rumah sebagai bahan analisis tipologi. Penelitian ini menggunakan metode rasionalistik dalam menggali pemikiran atas konsep-konsep ruang rumah sebagai bagian dari kajian arsitektur yang tidak saja dipahami oleh pengamat, tetapi juga oleh penghuni/ pengguna ruangnya melalui pemahaman atas konsep dan bentuk ruang yang dilatarbelakangi oleh faktor lingkungannya.Perkampungan tradisional Jawa merupakan perluasan dari pusat kekuasaan yang diperuntukkan bagi masyarakat yang mengabdi pada Raja. Kampung Kemlayan sebagai salah satu kampung tradisional di Jawa merupakan kampung yang dihuni oleh masyarakat pekerja seni atau mlaya dan karawitan yang mengabdi pada Kraton Surakarta sebagai pusat kerajaan dan pemerintah. Kekayaan kebudayaan dan tradisi kehidupan Jawa serta kedekatan dengan kraton Surakarta mempengaruhi kekayaan wujud lingkungan fisiknya.Hasil penelitian menunjukan bahwa kedua kelompok rumah abdi dalem tersebut dipengaruhi oleh fungsi kawasan yang mempengaruhi bentuk, luas dan fungsi ruang pada rumah. Tipologi ruang pada rumah abdi dalem terdapat dua komposisi berdasarkan pendopo dan dalem, tiga komposisi berdasarkan gandok yang dipengaruhi perkembangan kawasan sekitarnya.