Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

POTENTIAL OF ASHITABA LEAF FLOUR Angelica keiskei AS A PHYSIOTHOTIC SOURCE IN FEED ON PHYSICAL QUALITY OF MALE QUAIL MEAT (Coturnix coturnix japonica) FINAL PHASE (FINISHER) Dina Oktaviana; Supriadi; Maratun Jannah
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 6 No. 2 (2020): Juni 2020
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Physical quality of good quail meat requires feed that has good quality and quantity. One source or feed material that can be used as a source of phytobiotics is Ashitaba leaf. As a source of phytobiotics Ashitaba (Angelica keiskei) is a multi-functional plant because it is rich of vitamins, minerals, amino acids, mineral elements and many active substances. The purpose of this study was to determine the physical quality of final phase (finisher) male quail (Coturnix coturnix japonica) meat which are given additional feed ingredients in its ration in the form of Ashitaba Angelica keskei leaf flour. This study used 5 different types of feed treatments with 4 replications so that 20 male quails were distributed in 20 cage unit experiments. Five kinds of treatment were P0 = 98% basal feed, 2% filler, 0% Ashitaba leaf flour, P1 = 98% basal feed, 1.5% filler, 0.5% Ashitaba leaf flour, P2 = 98% basal feed, 1 % filler, 1% Ashitaba leaf flour, P3 = 98% basal feed, 0.5% filler, 1.5% Ashitaba leaf flour, P4 = 98% basal feed, 0% filler, 2% Ashitaba leaf flour, parameters in quality physical meat includes pH testing, water holding capacity and cooking losses. All data obtained were statistically analyzed with a complete randomized design test in the same direction and variance of the Annova via SPSS and if there were differences further tested by Duncan's test. Based on statistical analysis shows that the pH value, water holding capacity and cooking losses are not significantly different or non-significant meaning, giving Ashitaba leaf flour in male quail feed up to 2% level has not significantly affected the physical quality of meat.
PREVALENSI HYMENOLEPIASIS PADA TIKUS (Rattus sp) DI PASAR PAOK MOTONG KABUPATEN LOMBOK TIMUR Dean Adekatariano; Supriadi; Alfiana Laili Dwi Agustin
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 9 No. 2 (2022): Juni 2022
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tikus merupakan mamalia yang mempunyai daya adaptasi yang baik oleh karena itu tikus tersebar luas di seluruh belahan dunia terutama di Indonesia. Jumlah hewan anggota kelompok ini sangat melimpah dan kehidupan mereka sangat berasosiasi dengan manusia dalam aktivitas mencari pakan ataupun tempat bersarang. Cestoda dari jenis Hymenolepis pada umumnya membutuhkan host perantara seperti insekta, fleas dan cockroaches untuk perkembangannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi cacing Hymenolepis pada tikus yang ditangkap di kawasan pasar. Paok Motong Kabutpaten Lombok Timur Penelitian ini merupakan penelitian epidemiologi deskriptif dengan rancangan survei observasional. Epidemiologi deskriptif berbasis perhitungan (descriptive studies basedonrates). Sampel tikus yang didapatkan dilakukan preparsi (eutanasi) dengan tehnik Cervical Dislocation. Setelah di eutanasi organ pencernaan yang sudah diambil kemudian diincisi mulai dari intestine sampai rectum. Hasil yang didapat dari 20 yang ditangkap di Pasar Paok Motong Kab. Lombok Timur ditemukan 2 sampel positif telur cacing Hymenolepis.sp dan cacing dewasa 18 sampel Hymenolepis. Sp
IDENTIFIKASI KANDUNGAN TANIN DAN SAPONIN PADA HIJAUAN PAKAN TERNAK KERBAU DI DESA LOPOK KECAMATAN LOPOK KABUPATEN SUMBAWA Dandi Fibryansah; Mashur; Supriadi; Novariana SulsiaIsta’in Ningtyas
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 9 No. 3 (2022): September 2022
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerbau merupakan ternak ruminansia yang tidak terlepas dari gangguan berbagai penyakit yang dapat menghambat peningkatan produktivitasnya. Gangguan penyakit tersebut dapat berupa infeksi bakteri, virus, cendawan maupun agen parasitik seperti cacing. Untuk mengurangi kejadian penyakit cacing dan mengurangi biaya pengobatan ternak dapat menggunakan hijauan pakan ternak yang mengandung senyawa metabolit sekunder, yaitu tanin dan saponin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan tanin dan saponin pada daun ubi kayu, daun pisang kepok dan daun katuk yang digunakan sebagai hijauan pakan ternak kerbau di Desa Lopok Kecamatan Lopok, Kabupaten Sumbawa. Sebanyak masing-masing 50 mg ekstrak hijauan dianalisis menggunakan metode spektrofotometri Ultra Violet-Visible Spectroscopy untuk menentukan kadar tanin dan saponin yang dikandungnya. Hasil penelitian menunjukkan kadar tanin daun ubi kayu 1,77% dan saponin 1,17%; kadar tanin daun pisang kepok 1,48% dan kadar saponin 2,34% dan kadar tanin daun katuk 3,44% dan kadar saponin 2,92%. Kesimpulannya ketiga jenis hijauan pakan ternak kerbau tersebut mengandung tannin dan saponin yang berbeda-beda.
PREVALENSI NEMATODIASIS GASTROINTESTINAL PADA KUDA CIDOMO DI DUSUN GILI TRAWANGAN DESA GILI INDAH KABUPATEN LOMBOK UTARA Pasrul Rosidi; Supriadi; Mashur
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 9 No. 3 (2022): September 2022
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kuda merupakan salah satu golongan ternak di masyarakat dengan populasi yang tidak terlalu tinggi. Keberadaan kuda saat ini lebih berperan sebagai alat transportasi, olahraga dan rekreasi. Eksistensi peran kuda bagi kehidupan manusia dapat dipengaruhi oleh pakan, nutrisi, sanitasi dan infeksi agen penyakit, salah satunya cacing nematoda. Cacing nematode merupakan salah satu kelompok cacing yang yang berdistribusi luas pada kuda cidomo diantaranya dapat menyebabkan anemia, rambut rontok, terlihat kusam, dan nafsu makan menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi nematoda gastrointestinal pada kuda cidomo di Dusun Gili Trawangan di Desa Gili Indah Kabupaten Lombok Utara. Sebanyak 15 sampel feses kuda cidomo telah dikoleksi selama bulan Mei 2022 dengan metode purposif. Seluruh sampel telah diperiksa di Laboratorium dengan menggunakan metode natif dan pengapungan. Hasil pemeriksaan sampel menunjukkan terdapat 7 sampel positf mengandung telur cacing nematoda. Berdasarkan hasil identifikasi lebih lanjut diperoleh bahwa jenis telur cacing yang ditemukan adalah : Strongyiloides sp 33%, Trichostrongylus sp 20%, sehingga total nilai prevalensi keseluruhan cacing yang ditemukan adalah sebesar 53%. Perlu dilakukan Tindakan pencegahan dan pengobatan kuda cidomo di Gili Trawangan untuk meminimalisir prevalensi cacing nematoda di daerah ini.