Stephanus Huwae
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENDEKATAN ARSITEKTUR TERAPEUTIK TERHADAP RUANG PEMULIHAN KECEMASAN DI KAMAL, JAKARTA BARAT Felix Nathaniel Toliu; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16862

Abstract

Anxiety has become a problem that everyone has, and one of the reasons people worry is because they are recovering in a hospital. According to data 75%-85% of people will feel anxious before and after surgery. This Anxiety Healing Space project aims to reduce the level of anxiety felt by hospital patients and their families and the community around the site. Not only reducing anxiety levels, this project also aims to educate the public about the dangers and how to deal with anxiety through palliative education and geriatric education. The design of this project takes a therapeutic architecture system by utilizing architecture as a healing or recovery tool for the users of this project. Utilizing the shape grammar method to achieve a therapeutic architecture. From this method, several important points emerge, namely: spatial experience, building form, and connection with nature. The application of the method to building design is reflected in the following ways: (1) green space is the best place for recovery, (2) the arch-dominated form of the building prioritizes the comfort of the user's vision, (3) the application of natural roofs made of green plants, (4) utilizing nature as a barrier between spaces, and (5) utilizing natural light for lighting at several points to save energy. Keywords: Healing for anxiety; therapeutic architecture AbstrakKecemasan sudah menjadi masalah yang dimiliki setiap orang, dan salah satu alasan orang cemas karena berada dalam pemulihan di rumah sakit. Menurut data 75%-85% orang akan merasa cemas sebelum dan sesudah operasi. Proyek Ruang Pemulihan Kecemasan ini bertujuan untuk mengurangi tingkat kecemasan yang di rasakan pasien rumah sakit maupun keluarga dari pasien serta masyarakat sekitar tapak. Bukan hanya mengurangi tingkat kecemasan, proyek ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya dan cara mengatasi kecemasan melalui edukasi paliatif dan edukasi geriatri. Perancangan proyek ini mengambil konsep therapeutic architecture dengan memanfaatkan arsitektur sebagai alat penyembuhan atau pemulihan bagi pengguna proyek ini. Memanfaatkan metode shape grammar untuk mencapai arsitektur yang therapeutik. Dari metode tersebut muncul beberapa poin penting, yaitu: pengalaman ruang, bentuk bangunan, dan keterkaitan dengan alam. Penerapan metode terhadap desain bangunan terpancar dalam beberapa hal sebagai berikut: (1) ruang hijau menjadi tempat pemulihan tebaik, (2) bentuk bangunan yang didominasi lengkungan mengutamakan kenyamanan penglihatan pengguna, (3) penerapan atap-atap natural dari tanaman hijau, (4) pemanfaatkan alam sebagai pembatan antar ruang, serta (5) pemanfaatkan cahaya alami untuk penerangan di beberapa titik untuk menghemat energi.
PENERAPAN PERPUSTAKAAN INTERAKTIF TERHADAP GENERASI MILENIAL INDONESIA William Winata; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4466

Abstract

Reading is an observational process that is utilized to acquire  informations in media literatures. Millennials in Indonesia are stultified of the collected literatures that they cease to pursue reading activities. It is known that Indonesia is placed 1/69 with low reading interest. This is supported by the data that only 1 / 1,000 people actually enjoy reading. But the growing media of digital books did not generate an increase in interests. So what is the architectural response that will be able to provide stimulis for users to spark an interest in reading. Interactive and easing programs are needed to assist information necessities among millennials. Sharing informations does have have to rely on mere literature exclusively, multimedia approaches and occuring discussions between visitors can also be equally effective. The design that is located in the Pesing area, Daan Mogot, West Jakarta will apply Cellular Automata (CA) based design methods as a representation of the growth and development of digital books. Abstrak Membaca merupakan sebuah proses mengamati untuk mendapatkan sebuah informasi baik dalam media literasi. Kalangan milenial Indonesia sangat bosan dan jenuh dengan kumpulan literasi-literasi sehingga mereka malas membaca. Seperti diketahui, Indonesia mendapati peringkat 1/69 dengan minat baca rendah. Hal ini diperkuat dengan 1/1.000 orang yang sangat suka membaca. Walaupun media buku digital semakin berkembang tidak membuat mereka semangat untuk membaca. Oleh karena itu bagaimana solusi dari arsitektur yang dapat memberi stimulan bagi para kalangan milenial supaya meningkatkan semangat membaca. Pendekatan melalui program yang interaktif serta menenangkan sangat dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan informasi para kalangan milenial. Tidak hanya berfokus pada sebuah literasi belaka, namun kebutuhan informasi bisa dengan pendekatan multimedia, maupun bisa saling berdiskusi antar pengunjung untuk bisa saling berbagi informasi. Lokasi perancangan yang terletak di kawasan Pesing, Daan Mogot, Jakarta Barat ini juga menggunakan pendekatan metode desain berbasis Cellular Automata (CA) sebagai representasi dari pertumbuhan dan perkembangan buku digital.
BENGKEL MOTOR CUSTOM Felix Halim; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4386

Abstract

A motor custom is a motorcycle that is made/modified based on buyer needs, user, or a particular individual’s specification. Motorcycle originally functioned as a means of transportation from one point to another, yet it has now evolved into a new kind of lifestyle. This phenomenon emerged as an impact of changes in the society’s pattern of needs, going from basic needs into leisure needs. The milenial generation’s basic needs were mostly fulfilled; therefore, according to The Maslow Theory, the generation is now in the next stage which is psychological needs. Creative economy has become the backbone of Indonesia’s economy. The government’s support towards creative industries through Bekraf is a positive sign to provide a space for motorcycle enthusiasts to produce motor custom les in Indonesia. To start a workshop business, they need network, tools, and a place. Economic incubator can help start-ups to open Motor Custom Workshop by providing their need. Sharing tools offer start-ups with equipment that they can use together, helping start-ups to start their business without having to spend a lot of capital buying their own equipment. Motor Custom Workshop is located in Kemang, where motorcycle communities are often found on the streets, on their Sunmori. This phenomenon is recorded and incorporated into design by using Pattern Language method, which is able to strengthen the link between program and the surroundings. From the phenomena and theories reviewed, it can be concluded that Motor Custom Workshop for Milenials is a potential business venture. Motor Custom Workshop offers opportunity for motorcycle enthusiasts hoping to delve in this business to gain experience in assembling and modifying motorcycles with available rental tools. Motor Custom Workshop is expected to promote Indonesia’s creative industry, bring out innovative products, educate the public about automotif, and increase the appeal of local product.AbstrakMotor Custom adalah motor yang dibuat/ diubah sesuai dengan kebutuhan pembeli, pengguna, atau sepesifikasi individu tertentu. Perubahan fungsi motor yang semula merupakan alat transportasi dari satu titik ke titik lain, sekarang bertambah menjadi suatu gaya hidup/lifestyle. Fenomena ini muncul sebagai imbas perubahan pola kebutuhan masyarakat dari basic needs menjadi leisure needs. Generasi Milenial basic needs sudah terpenuhi, maka generasi Milenial  menurut Teori Maslow berada di tingkat selanjutnya yaitu di tahap psychological needs. Ekonomi kreatif menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Dukungan pemerintah akan industri-industri kreatif melalui Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) merupakan tanda positif untuk membuat wadah pembuatan motor custom di Indonesia. Untuk memulai usaha bengkel mereka membutuhkan network, tools, dan wadah/ tempat. Bengkel Motor Custom dapat membantu start-up untuk membuka Bengkel Motor Custom dengan cara memberikan kebutuhan mereka. Sharing tools dapat meringankan dalam memulai usaha bengkel mereka, dikarenakan usaha yang mereka jalankan memiliki tools yang digunakan secara bersama-sama dengan start-up lainnya. Bengkel Motor Custom berada di daerah Kemang, dimana fenomena motor riding bersama sering ditemukan ketika Sunday Morning Ride. Fenomena tersebut direkam dan dituangkan ke dalam desain menggunakan metode Pattern Language, yang dapat membuat keterkaitan antara program dengan lingkungan menjadi kuat. Dari fenomena dan  teori yang telah dikaji dapat dilihat bahwa peluang Bengkel Motor Custom untuk Milenial cukup sesuai. Bengkel Motor Custom dapat memberikan pengalaman merakit dan memodifikasi motornya juga dapat dilakukan sendiri dengan memakai tools yang direntalkan. Tujuan dari hadirnya Bengkel Motor Custom untuk memajukan industri kreatif Indonesia, mampu memunculkan produk yang inovatif, serta dapat mengedukasi masyarakat luas tentang otomotif dan meningkatkan daya tarik akan produk lokal.
TIPOLOGI HUNIAN UNTUK GENERASI MUDA DI PLUIT, JAKARTA UTARA Jason Halim Saputra; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16864

Abstract

Population growth is something experienced by many countries, including Indonesia.  Population growth results in higher demand for new housing.  This inversely proportional to the decreasing availability of land for new residential development.  In big cities like Jakarta with a density of 10 million people, land for the construction of new housing is increasingly difficult, causing changes in the typology of urban dwellings.The "Urban Housing for Young Generation" project  aimed the younger generation to provide them with affordable housing, and also according to their more flexible characteristics.  An ideal residential building requires life support facilities, so facilities such as retail and recreation are also provided to meet the needs of residents. This project located on Jalan Pluit Permai, Penjaringan Subdistrict, North Jakarta, which is in a densely populated zone, has high mobility, and also has an existing life support facilities. Idea of the project puts forward the characteristics of flexibility because the target market is the younger generation who has flexible behavior by using functional methods in its design.  In addition, Post-Pandemic situation also addressed as current issue in design;  So the way humans carry out their activities has slightly changed.  These two become the basic reference used to design the concept of this building. Keywords:  Urban Housing;  young generation characteristics; and post-pandemic situation.  AbstrakPertumbuhan penduduk merupakan suatu hal yang dialami oleh banyak negara, termasuk dengan negara Indonesia. Pertumbuhan penduduk mengakibatkan permintaan akan hunian baru yang lebih tinggi. Hal ini berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan untuk pembangunan hunian baru yang semakin berkurang. Di kota besar seperti halnya di Jakarta dengan kepadatan 10 juta jiwa, lahan untuk pembangunan hunian baru ini semakin sulit sehingga menyebabkan perubahan tipologi hunian kota. Proyek "Hunian Kota untuk Generasi Muda" ini ditujukan kepada generasi muda dengan tujuan untuk memberikan mereka hunian dengan harga terjangkau, dan juga sesuai dengan karakteristik mereka yang lebih fleksibel. Sebuah bangunan hunian yang ideal memerlukan fasilitas pendukung kehidupan, sehingga pada proyek ini disediakan pula fasilitas seperti retail maupun rekreasi untuk memenuhi kebutuhan penghuni. Proyek ini berlokasi di Jalan Pluit Permai, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara yang berada di area zona padat kependudukan, memiliki mobilitas yang tinggi serta memiliki sarana pendukung kehidupan. Proyek ini mengedepankan karakteristik fleksibilitas karena target pasarnya adalah generasi muda yang memiliki perilaku fleksibel dengan menggunakan metode fungsional dalam perancangannya. Selain itu, saat ini kita sedang mengalami yang namanya situasi Post-Pandemic yang berkelanjutan,  sehingga cara manusia melakukan aktivitasnya mengalami sedikit perubahan. Kedua hal tersebut menjadi acuan dasar yang digunakan untuk merancang konsep bangunan ini.
RUANG KERJA BERSAMA DENGAN REPARASI OTOMOTIF Aditya Jovianto; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4380

Abstract

Today's working age is mostly millennial generations who like workplaces that are not impressed as a closed / confined place. Workplaces that can enable them to be productive but still be able to communicate with others, build relationships with others and collaborate with each other. Therefore now they prefer to work in places like fast food cafes or restaurants. But actually the places is not suitable to be a place to work because many people with different interests gather there such as chatting with friends, eating / drinking, working, or even watching a spectacle that is hot. The type of project decided to be designed is a building with office functions with a Co-Working Space to meet the needs of the millennial generation, develop and popularize the type of workplace Co-Working Space especially in Jakarta. After conducting research and data searching, it was found that the North Jakarta area had the least number of Co-Working Space. Then the Sungai Bambu urban village was chosen, with Tanjung Priok sub-district with a site size of 7450m2. The method used is using the pattern method, where the program looks at the pattern of the surrounding neighborhood building near the automotive office area, each of which has its own warehouse. Therefore the program in this project includes joint workspaces, rental offices, workshops, warehouses, and additional program foodcourt. The pattern is also used to get a form of mass composition, where the right and left areas of the site are buildings that have elongated grid shapes, namely warehouse and shop. AbstrakUsia kerja sekarang ini kebanyakan adalah generasi milenial yang menyukai tempat kerja dengan kriteria yang tidak terkesan sebagai tempat tertutup/terkurung. Tempat kerja yang dapat memungkinkan mereka untuk bisa produktif namun tetap bisa berkomunikasi dengan orang lain, membangun relasi dengan orang lain dan berkolaborasi antara satu sama lain. Generasi milenial lebih menyukai untuk bekerja di tempat-tempat seperti cafe atau restoran cepat saji. Namun sebenarnya tempat tersebut tidak cocok menjadi tempat untuk bekerja karena banyak orang dengan kepentingan berbeda berkumpul disana seperti berbincang dengan teman, makan/minum, bekerja, atau bahkan menyaksikan sebuah tontonan yang sedang hangat. Jenis proyek yang diputuskan untuk didesain adalah bangunan dengan fungsi kantor dengan ruang kerja bersama (Co-Working Space) untuk memenuhi kebutuhan generasi milenial serta mengembangkan dan mempopulerkan jenis tempat kerja Co-Working Space terutama di Jakarta. Setelah dilakukan penelitian dan pencarian data, didapati bahwa daerah Jakarta Utara memiliki paling sedikit Co-Working Space. Kemudian dipilihlah daerah kelurahan Sungai Bambu, kecamatan Tanjung Priok dengan luas tapak sebesar 7450m2. Metode yang digunakan adalah menggunakan metode pola, dimana program melihat pola bangunan lingkungan sekitar dekat dengan kawasan perkantoran otomotif yang masing – masing kebanyakan memilki gudang sendiri. Oleh karena itu program dalam proyek ini meliputi ruang kerja bersama, kantor sewa, bengkel, gudang, dan program tambahan food court. Pola juga digunakan untuk mendapatkan bentuk gubahan massa, dimana area kanan dan kiri tapak merupakan bangunan yang memilki bentuk grid yang memanjang yaitu gudang dan ruko. 
PERUBAHAN UNTUK HUNIAN VERTIKAL UNTUK PERUBAHAN GAYA HIDUP PASCA PANDEMI Antomy Chandra; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16904

Abstract

With the emergence of the COVID-19 pandemic in 2020, people are forced to avoid direct contact activities due to pandemic rules not to avoid direct contact with each individual. This makes people carry out their daily activities remotely through electronic devices using the internet. After carrying out remote activities for almost 2 years, people are starting to get used to remote activities and feel more comfortable in carrying out important daily activities because of the benefits of doing online activities that don't need to take a lot of time (no traffic jams, travel costs). , etc.) which makes it possible for the implementation of these remote activities to be carried out in the long term after this pandemic is over or subsided. With the change in the function of the house as a place to work, go to school, and shelter, important activities such as work/study can be disrupted because these activities become a distraction for each other, therefore adaptation is also needed to the arrangement of the home space (vertical) and the program so that activities in homes do not interfere with each other and important activities that are carried out remotely (work/study) are not disturbed and the results of the quality of the activities are decreasing which is to adapt to new lifestyle changes that lead to digital and long-distance contacts in the future to avoid distraction from these activities that interfere with their productivity and quality. Keywords:  COVID-19 pandemic; distraction;  lifestyle changes; productivity. AbstrakDengan munculnya pandemi COVID-19 pada tahun 2020 ,masyarakat terpaksa untuk menghindari aktivitas secara kontak langsung karena aturan pandemi untuk tidak menghindari kontak langgsung terhadap masing-masing individu. Hal tersebut membuat masyarakat melakukan aktivitas keseharianya secara jarak jauh melalui perangkat elektronik degan menggunakan internet . Setelah berlangsungnya kegiatan secara jarak jauh selama hampir 2 tahun, maka masyarakatpun mulai terbiasa dengan kegiatan secara jarak jauh dan merasa lebih nyaman dalam melakukan kegiatan penting sehari – harinya karena manfaat berkegiatan secara online yang tidak perlu memakan waktu banyak ( tidak ada kemacetan jalan, ongkos berpergian, dll)  yang hal ini memungkinkan untuk penerapan kegiatan secara jarak jauh tersebut dilakukan secara jangka panjang setelah pandemi ini selesai atau meredah. Dengan perubahan fungsi rumah sebagai tempat bekerja, bersekolah, dan hunian maka kegiatan penting seperti bekerja/belajar bisa terganggu karena kegiatan tersebut manjadi distraksi bagi satu-sama lainnya, oleh maka itu dibutuhkan juga adaptasi terhadap  penyusunan ruang rumah(vertikal) dan programnya agar kegiatan dalam rumah saling tidak mengganggu satu sama lainnya dan kegiatan penting yang dilakukan secara jarak jauh (bekerja/belajar) tidak terganggu dan hasil kualitas kegiatannya pun makin berkurang dimana untuk menyesuaikan dengan perubahan gaya hidup yang baru yang mengarah ke arah digital dan kontak jarak jauh kedepannya untuk mengindari distraski terhadap kegiatan tersebut yang mengganggu produktivitas dan kualitas nya.
SARANA KETERAMPILAN SENI DIGITAL Giovani Onawa; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4430

Abstract

The high level of urbanization is also dominated by the millennial generation which enables the creation of positive contributions in the form of development and a rapidly developing creative economy. Because with creative millennial characteristics, interconnection and confidence, they lead to the development of the era into a creative industry. Therefore,  architecture can accommodate their skill and its activities by providing a facility that aims not only as a place of creativity but as a place to provide interactions for one another. Abstrak Tingginya urbanisasi juga persaingan lapangan kerja yang ketat oleh generasi milenial membuat mereka sangat sulit kerja. Keterbatasan softskill sebagai kunci utama yang membuat mereka harus terpaku dengan menjadi seorang pegawai. Keterampilan merupakan kunci penting untuk bisa dimiliki oleh milenial sebagai altenatif permasalahan tersebut. Keterampjlan juga merupakan aspek yang mampu menciptakan kontribusi positif berupa pembangunan dan perekonomian kreatif yang berkembang pesat. Karena dengan karakteristik milenial yang kreatif, saling terhubung dan percaya diri mengarahkan perkembangan jaman menjadi industri kreatif. Oleh karena itu bagaimana arsitektur dapat mewadahi aktivitas –aktivitas keterampilan mereka itu dengan memberikan sebuah fasilitas atau sarana yg bertujuan tidak hanya sebagai wadah kerativitas tetapi sebagai wadah untuk memberikan interaksi kepada orang lain.
PENERAPAN KONSEP BANGUNAN NOL SAMPAH PADA DESAIN FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH DI MUARA ANGKE Alvin Pranata; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12349

Abstract

One of the ecological problems in Indonesia is waste. In dealing with these problems, adequate processing facilities are needed, as well as human awareness to reduce waste. Waste processing can be done by recycling it into useful goods, converting waste into a source of electrical energy, or into organic fertilizer by implementing a zero waste or "zerowaste" system. Buildings are needed that can carry out these processes and provide education to the public about the importance of reducing or processing waste. Architecture contributes to preparing and designing buildings that will be used. Methods are needed to create waste processing facilities by taking into account the environment and the area where the site is located. The pragmatic approach is used as the basis for positioning the building in solving the ecological problems of waste. The application of contextual methods is needed to shape activities in the project by taking into account the site conditions and the environment where the project is located. This building design visualization concept uses high-tech architectural concepts to show the utility of waste processing, waste processing systems, the use of recycled materials that are lightweight, sturdy, effective and efficient. The success of this project can be achieved through (1) waste treatment with zero waste system; (2) activities formed in the project; (3) flexible, effective and efficient space requirements and relationships; (4) accessibility and circulation. It is hoped that this project can overcome the ecological problems of waste without producing other waste, provide education to the community about the importance of reducing and processing waste and make this project a center of activity to meet the needs of the community. Keywords: Contextual Method; Pragmatic Approach; Recycling; Waste Treatment Facilities; Zerowaste SystemAbstrakSalah satu permasalahan ekologis di Indonesia adalah sampah. Dalam menghadapi permasalahan tersebut, diperlukan fasilitas pengolahan yang memadai, serta kesadaran manusia untuk mengurangi sampah. Pengolahan sampah dapat dilakukan dengan mendaur ulang menjadi barang berguna, merubah sampah menjadi sumber energi listrik, atau menjadi pupuk organik dengan menerapkan sistem nol sampah atau “zerowaste”. Diperlukan bangunan yang dapat menjalankan proses – proses tersebut dan memberikan edukasi terhadap masyarakat tentang pentingnya mengurangi dan mengolah sampah. Arsitektur berkontribusi untuk mempersiapkan, merencanakan dan merancang bangunan yang akan digunakan. Diperlukan metode – metode untuk menciptakan fasilitas pengolahan sampah dengan memperhatikan lingkungan dan kawasan lokasi tapak. Pendekatan pragmatik digunakan sebagai dasar untuk memposisikan bangunan dalam menyelesaikan permasalahan ekologis sampah. Penerapan metode kontekstual diperlukan untuk membentuk aktivitas dalam proyek dengan memperhatikan kondisi tapak dan lingkungan lokasi proyek berada. Konsep visualisasi desain bangunan ini menggunakan konsep arsitektur teknologi tinggi untuk memperlihatkan utilitas pengolahan sampah, sistem pengolahan sampah, penggunaan material hasil daur ulang yang ringan, kokoh, efektif dan efisien. Keberhasilan proyek ini dapat dicapai melalui (1) pengolahan sampan dengan sistem nol sampah; (2) aktivitas yang terbentuk didalam proyek; (3) kebutuhan dan hubungan ruang yang fleksibel, efektif dan efisien; (4) aksesibilitas dan sirkulasi. Diharapkan proyek ini dapat mengatasi permasalahan ekologis sampah tanpa menghasilkan sampah lain, memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya mengurangi dan mengolah sampah serta menjadikan proyek ini sebagai salah satu pusat aktivitas untuk pemenuh kebutuhan masyarakat. 
REVOLUSI PASAR INDUK GEDEBAGE DENGAN PERANCANGAN RUANG KREATIF PUBLIK DALAM MEMAJUKAN PASAR TRADISIONAL SEBAGAI PUSAT GAYA HIDUP SEIRING PERKEMBANGAN ZAMAN Alexander Nikolas Tanata Harleeputra; Stephanus Huwae; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21914

Abstract

The Gedebage Main Market in Bandung has experienced degradation both physically and in the number of visitors or traders as time goes by. Various lifestyle changes can be felt, has been adjusted to the convenience obtained. It was recorded that in 2018, there are 1.000 trading rooms available at the Gedebage Main Market, only 500 were filled and it’s continued to reduce (Palau, E. 2021). Among the 500 inhabited trading rooms, there are still groceries and similar stalls in the traditional market cluster. In fact, with its status as a main market, it has a very important role for daily people’s need in Bandung. Physically, the existing buildings area have decreased, inculding the lack of management awareness. Therefore, a complete revolution is needed considering the potential on the surrounding area, such as Bandung whom famous for its fashion products. By using the theory of Organic Architecture to design creative public spaces as a solution in revolutionizing the Gedebage Main Market and making it as a “center of public lifestyle”. The method that used is qualitative and descriptive Thus, the “Neo-Gedebage” revolution became effective and efficient, resulting in traditional market that became a space that communities can carry out their daily activities. The results of Organic Architecture in the form of the “Neo-Gedebage” Market are able to distribute visitors according to the various lifestyle. Keywords: Lifestyle; Public Creative Hub; Revolution; Traditional Market Abstrak Pasar Induk Gedebage di Kota Bandung telah mengalami penurunan baik secara fisik maupun jumlah pengunjung ataupun pedagang seiring perkembangan zaman. Berbagai perubahan gaya hidup dapat dirasakan, menyesuaikan dengan kemudahan yang didapatkan. Tercatat pada tahun 2018 dari 1.000 ruang dagang yang tersedia pada Pasar Induk Gedebage, hanya 500-600 ruang dagang yang terisi dan terus menurun (Palau, E. 2021). Diantara 500 ruang dagang yang terhuni, masih terdapat kios basah dan sejenis dalam rumpun pasar tradisional. Padahal dengan statusnya sebagai pasar induk membuat peranannya sangat penting terhadap kehidupan masyarakat di Kota Bandung. Secara fisik, bangunan eksisting kawasan sudah mengalami penurunan termasuk kurangnya kepedulian pengelola. Oleh karena itu, diperlukan adanya revolusi menyeluruh mengingat potensi yang ada, seperti Kota Bandung sebagai kota yang terkenal dengan hasil fashion. Dengan menggunakan teori Arsitektur Organik untuk merancang ruang kreatif publik, menjadi solusi dalam merevolusi Pasar Induk Gedebage dan menjadikannya sebagai “pusat gaya hidup masyarakat”. Sehingga metode yang digunakan merupakan metode kualitatif dan deskriptif. Dengan demikian, Revolusi Pasar Induk Gedebage menjadi efektif dan tepat guna, menghasilkan pasar tradisional yang tidak hanya menjadi pusat kegiatan transaksional saja, namun juga menjadi wadah masyarakat dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Hasil Arsitektur Organik dalam bentuk Pasar “Neo-Gedebage” mampu mendistribusikan pengunjung sesuai dengan gaya hidup masing-masing masyarakat.
KEBERADAAN PASAR TRADISIONAL SINDANG, KOJA SEBAGAI WADAH RUANG PUBLIK BAGI MASYARAKAT SEKITARNYA Alvin Tandy Harison; Stephanus Huwae; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22021

Abstract

which plays an important role as a facility for Koja District. However, the condition continues to experience degradation, causing a decrease in public interest in visiting. The location of Sindang Market which is close to flats and dense settlements as well as the existence of an environmental road on the side of Sindang Market creates a slum and closed impression which becomes a problem but can be a potential to develop Sindang Market. The locality approach is carried out with the aim of being able to consider the condition of the community and the surrounding environment as well as its influence on the re-design process of Sindang Market. The application of the concept of Javanese traditional buildings into a design concept in order to maintain the values ​​of the surrounding community and the application of connectivity between spaces. The collection of primary data and secondary data in the form of physical and non-physical data with qualitative methods. Sindang Market is expected to become a comfortable public space container and can maximize its function as a market and public space so that it can become an economic center and also become a center for the activities of the surrounding community with the aim of being able to revive Sindang Market. The re-design process with a locality approach is carried out so that Sindang Market can become an appropriate market for the surrounding community to support urban and surrounding space activities. Keywords: Degradation; Sindang Market; Public Space Abstrak Pasar Sindang merupakan salah satu pasar tradisional di Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Indonesia, yang memegang peran penting sebagai fasilitas bagi Kecamatan Koja. Namun kondisinya yang terus mengalami degradasi, menyebabkan menurunnya minat masyarakat berkunjung. Letak Pasar Sindang yang dekat dengan rusunawa dan pemukiman padat serta keberadaan jalan lingkungan pada sisi Pasar Sindang menciptakan kesan kumuh dan tertutup menjadi suatu permasalahan namun dapat menjadi potensi untuk mengembangkan Pasar Sindang. Pendekatan lokalitas dilakukan bertujuan untuk dapat mempertimbangkan kondisi masyarakat dan lingkungan sekitarnya serta pengaruhnya terhadap proses re-desain Pasar Sindang. Penerapan konsep bangunan adat Jawa menjadi konsep desain agar mempertahankan nilai – nilai masyarakat sekitar serta penerapan keterhubungan antar ruang. Pengumpulan data primer dan data sekunder berupa data fisik dan nonfisik dengan metode kualitatif. Pasar Sindang diharapkan dapat menjadi sebuah wadah ruang publik yang nyaman serta dapat memaksimalkan fungsinya sebagai pasar dan ruang publik sehingga dapat menjadi suatu pusat perekonomian dan juga menjadi pusat terjadinya aktivitas masyarakat sekitar dengan tujuan untuk dapat menghidupkan kembali Pasar Sindang. Proses re-desain dengan pendekatan lokalitas dilakukan agar Pasar Sindang dapat menjadi pasar yang tepat guna bagi masyarakat sekitar sehingga dapat menjadi mendukung aktivitas ruang kota dan sekitarnya.