Stephanus Huwae
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PEMBARUAN KAWASAN PAJAK IKAN LAMA WILAYAH KESAWAN MEDAN BARAT Gerardo Valentino Wijaya; Stephanus Huwae; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22029

Abstract

The area in the old city of Medan often cannot be claimed as an economic driver, even though at its time it was a source of economy and tourism. The fish market area (Pajak Ikan Lama) in Medan is one of the areas in the old city of Medan which is experiencing physical and social degradation. This can be seen from the many old buildings that have been abandoned and only become piles of garbage, lots of irregular traders, as well as being a dead area at night because there are no more community activities that make the area prone to crime. It is necessary to update the composition of the building and add other functions to revive the Pajak Ikan Lama Area and it is hoped that it can become a comfortable public space container and maximise its function as a market and public space. Urban acupuncture is one of the design methods used to find problem points and their relationship to the surrounding environment. The method used is to look for data related to the existing condition of the Pajak Ikan Lama Area and also to look for potentials that can be proposed so that the Pajak Ikan Lama Area can become a public space that can fulfil its function as a market, other commercial activities, and public space to the fullest. Keywords: Pajak Ikan Lama; Revitalisation; Public Area Abstrak Kawasan di kota tua Medan seringkali tidak dapat diklaim sebagai penggerak perekonomian walaupun pada masanya merupakan sumber perekonomian dan pariwisata. Kawasan pasar ikan (Pajak Ikan Lama) Medan merupakan salah satu kawasan di kota tua Medan yang mengalami degradasi secara fisik maupun sosial. Hal ini dapat dilihat dari banyak bangunan tua yang sudah ditinggalkan dan hanya menjadi tempat tumpukan sampah, banyak pedagang-pedagang yang tidak beraturan, serta menjadi kawasan mati pada malam hari akibat sudah tidak ada aktivitas masyarakat yang menjadikan kawasan tersebut rawan kejahatan. Perlu adanya pembaruan komposisi bangunan serta penambahan fungsi untuk menghidupkan kembali Pajak Ikan lama dan diharapkan dapat menjadi sebuah wadah ruang publik yang nyaman serta memaksimalkan fungsinya sebagai pasar dan ruang publik. Urban acupuncture menjadi salah satu metode desain yang dilakukan untuk menemukan titik permasalahan dan hubungannya pada lingkungan sekitar. Metode yang dilakukan adalah dengan mencari data terkait kondisi eksisting Pajak Ikan Lama dan potensi yang dapat diusulkan sehingga Pajak Ikan Lama dapat menjadi sebuah ruang publik yang dapat memenuhi fungsinya sebagai pasar, akitivitas komersial, serta ruang publik secara maksimal.
REVITALISASI AREA POLDER TAWANG SEBAGAI UPAYA MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG Madeline Venda Adhitya; Stephanus Huwae; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22037

Abstract

The Old Town of Semarang, which is nicknamed Little Netherland, is a relic area of ​​the Dutch colonial era where in ancient times it was the center of government, offices and trade with its location surrounded by canals. This area has architectural values ​​of cultural heritage, but the management of the Dutch colonial buildings around Tawang station is still largely unused, damaged, and abandoned. The Tawang Polder area in the Old Town area of ​​Semarang, Indonesia, is one of the parts that is experiencing degradation, because a series of Cultural Conservation buildings on Jalan Merak are not maintained and have not been revitalized, become an area prone to waterlogging, and is also known as a gloomy area (red light). /Prostitution). Therefore, the Tawang polder area deserves to be revitalized using the urban acupuncture method. The goal is to help repair and revive the Semarang Old Town Area. Community development is used as the basis for the concept of designing using the Urban Acupuncture method. In the process of searching for data, it is done by tracing, especially for physical data. Community Development theory is expected to find patterns and spatial arrangements that can accommodate culinary tourism. The results achieved can find spaces with large dimensions that are able to accommodate various patterns of activity and participation from flood disasters. Architectural results using the Community Development theory are able to improve the regional economy while maintaining the cultural heritage of the Old City of Semarang. Keywords : Cultural heritage; Semarang Old Town; Tawang Polder; Revitalization Abstrak Kota Lama Semarang yang mendapat julukan Little Netherland merupakan kawasan peninggalan masa pemerintahan kolonial Belanda dimana zaman dahulu merupakan kawasan pusat pemerintahan, perkantoran dan perdagangan dengan lokasinya dikelilingi kanal-kanal. Kawasan ini memiliki nilai arsitektur cagar budaya, namun tata kelola bangunan kolonial Belanda di sekitar stasiun Tawang masih banyak yang tidak dimanfaatkan, rusak, dan terbengkalai. Area Polder Tawang pada Kawasan Kota Lama Semarang, Indonesia, menjadi salah satu bagian yang mengalami degradasi, karena sederet bangunan Cagar Budaya di Jalan Merak yang tidak terawat dan belum di Revitalisasi, menjadi area rawan tergenang air, dan juga terkenal sebagai area suram (red light/Prostitusi). Oleh karena itu, pada area polder tawang ini layak diRevitalisasi dengan metode urban acupuncture. Tujuannya untuk membantu memperbaiki dan menghidupkan kembali Kawasan Kota Lama Semarang. Community development dijadikan sebagai basis konsep dalam merancang yang menggunakan metode Urban Acupuncture. Dalam proses pencarian data dilakukan dengan cara tracing khususnya untuk data-data fisik. Teori Community Development diharapkan dapat menemukan pola dan penataan ruang yang mampu menampung wisata kuliner. Hasil yang dicapai dapat menemukan ruang-ruang dengan dimensi besar yang mampu menampung berbagai macam pola aktivitas dan perantisipasi dari bencana banjir. Hasil Arsitektur menggunakan teori Community Development mampu meningkatkan perekonomian kawasan sekaligus mempertahankan warisan budaya Kota Lama Semarang.
PENERAPAN FEMINISME ARSITEKTUR DALAM PERANCANGAN TEMPAT PEMBERDAYAAN TERHADAP PENGEMBANGAN IBU MUDA Nabella Khowili; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24219

Abstract

Child marriage is a form of marriage that occurs when children marry before reaching the age of 18. In Indonesia, the prevalence of child marriage is quite high, ranking seventh highest in the world. Child marriage has negative consequences, particularly for girls, hindering their development. Besides the role of the government and other relevant stakeholders in addressing this issue, architecture also plays an important role. Therefore, a building has been designed to provide educational facilities for young mothers who have entered into early marriages and come from lower-middle-class backgrounds. This building aims to serve as a space for education, community, and self-development for young mothers. The objective of this design is to create a building that can accommodate the needs of young mothers, especially those with lower-middle-class economic status in Jakarta. This research adopts a quantitative-qualitative approach, collecting data through interviews with relevant parties and conducting site surveys to gather field data. Literature review from various sources such as books, journals, theses, and other reading materials is used as a guide in planning for problem-solving. The outcome of this design ultimately presents an object that addresses the impact of child marriage on young mothers who have entered into early marriages and come from lower-middle-class backgrounds. The design method, based on empathetic architecture and Feminism Architecture concept, provides a solution to address this global issue. Keywords: early-age marriage; education; self-development; young mother Abstrak Pernikahan dini adalah bentuk pernikahan yang terjadi saat anak-anak menikah sebelum mencapai usia 18 tahun. Di Indonesia, kasus pernikahan dini cukup tinggi dan menempati peringkat ke-7 tertinggi di dunia. Pernikahan dini memiliki dampak negatif yang merugikan terutama bagi perempuan, menghambat perkembangan mereka. Selain peran pemerintah dan pihak terkait lainnya dalam mengatasi masalah ini, arsitektur juga memiliki peran penting. Oleh karena itu, dirancanglah sebuah bangunan untuk memfasilitasi tempat edukasi bagi ibu muda yang menikah dini dan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Bangunan ini bertujuan untuk menjadi wadah yang menyediakan pendidikan, komunitas, dan pengembangan diri bagi ibu muda tersebut. Tujuan perancangan ini adalah menciptakan sebuah bangunan yang dapat memenuhi kebutuhan para ibu muda, terutama mereka yang berada dalam kategori ekonomi menengah ke bawah di kota Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif-kualitatif dengan mengumpulkan data melalui wawancara dengan pihak terkait dan melakukan survei lokasi untuk memperoleh data lapangan. Studi literatur dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, skripsi, dan bahan bacaan lainnya digunakan sebagai panduan dalam merencanakan penyelesaian masalah. Hasil dari perancangan ini akhirnya menghasilkan sebuah objek yang bertujuan untuk mengatasi dampak pernikahan dini terhadap ibu muda yang menikah dini dan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Metode perancangan yang didasarkan pada arsitektur empati dengan konsep Feminism Architecture menjadi solusi dalam menghadapi salah satu isu global ini.
PENERAPAN KONSEP PLUG IN CITY DALAM PENATAAN PKL DI PUSAT BISNIS PURI INDAH, KEMBANGAN Vincent Marthanegara; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24220

Abstract

Street vendors in Jakarta who violate city regulations often feel sad because they live in difficult and stressful conditions. They must face various risks, including threats from criminals and the authorities. In addition, street vendors who violate urban order often experience minimal and irregular income. They do not have the same benefits and social rights as other regular workers and are often discriminated against and treated harshly by people who do not understand their situation. The harsh working conditions also took a toll on the physical and mental health of street vendors. They often have to work in extreme weather conditions, dirty and unhealthy environments, and don't have enough rest time. As a result, they are more susceptible to disease and stress that threaten their health and quality of life. The Plug-in City concept approach is a design method for buildings that aims to create buildings that are more sustainable and environmentally friendly by utilizing technology, innovation, and more modern design principles and with the hope of increasing energy efficiency, maximizing land use, reducing environmental impact, creating comfortable and open public spaces. The street vendor facilities are divided into three zones, namely the culinary zone, fashion zone and creative play in the form of a floating installation, while the relaxation facilities offer activities to overcome physical and mental fatigue, such as; City-view, Jogging Track and Meditation Garden. Keywords: plug-in city; recreation; relaxation; street vendors; violation Abstrak Pedagang Kaki Lima di Jakarta yang melanggar peraturan kota seringkali miris karena hidup dalam kondisi sulit dan penuh tekanan. Mereka harus menghadapi berbagai risiko, termasuk ancaman dari penjahat dan pihak berwenang. Selain itu, pedagang kaki lima yang melanggar tatanan kota seringkali mengalami pendapatan yang minim dan tidak teratur. mereka tidak memiliki tunjangan dan hak sosial yang sama dengan pekerja tetap lainnya dan seringkali didiskriminasi dan diperlakukan dengan kasar oleh orang-orang yang tidak memahami situasi mereka. Kondisi kerja yang keras juga berdampak pada kesehatan fisik dan mental PKL. Mereka seringkali harus bekerja dalam kondisi cuaca ekstrim, lingkungan kotor dan tidak sehat, serta tidak memiliki waktu istirahat yang cukup. Akibatnya, mereka lebih rentan terhadap penyakit dan stres yang mengancam kesehatan dan kualitas hidup mereka. Pendekatan konsep Plug-in City adalah salah satu metode desain pada bangunan yang bertujuan untuk menciptakan bangunan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan teknologi, inovasi, dan prinsip-prinsip desain yang lebih modern serta dengan harapan dapat meningkatkan efisiensi energi, memaksimalkan pemanfaatan lahan, mengurangi dampak lingkungan, menciptakan ruang publik yang nyaman dan terbuka. Sarana Pedagang Kaki Lima dibagi menjadi tiga zona yaitu zona kuliner, zona busana dan creative play yang berupa instalasi melayang, sedangkan adanya fasilitas relaksasi menawarkan aktivitas untuk mengatasi kelelahan fisik dan mental, seperti; City-view, Jogging Track dan Meditation Garden.
METODE WALDORF PEDAGOGY DALAM TAHAP PENDEKATAN DESAIN WADAH PENGEMBANGAN KETERAMPILAN ANAK PEMULUNG Adi Chandra; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24221

Abstract

The phenomenon of children working on the streets is a global phenomenon. The number of working children as scavengers in Jakarta, according to BPS in 2022, recorded 289 children with an average age of 6 to 18 years. North Jakarta, Cilincing District, is the largest contributor, with 48 percent. The main factor in child development that is not fulfilled educationally, spiritually, physically, or socially is the economic condition of the family. Insufficient economic problems require that parents include their children to work and make children a medium to earn money for survival. Children living in poverty are often trapped in a situation full of suffering and a bleak future and think that education is no longer important to them. this will continue to happen, and will continue to experience social inequality. This study aims to provide the right solution to breaking the cycle of poverty through empathetic architecture and the Waldorf pedagogy approach that puts forward three aspects of the user that are interrelated between children, parents, and nature. Therefore a concept is produced that can accommodate and provide practical skills training with the abilities they have and are interested in and develop children to the stage of the world of work so they can earn a decent living with the talents they have in the future. Keywords: Child Labor, Scavengers, Skills, Waldorf Pedagogy Abstrak Fenomena anak-anak bekerja di jalanan merupakan suatu gejala global. Tercatat Jumlah anak pekerja sebagai pemulung di Jakarta menurut BPS pada tahun 2022 terdapat 289  anak dengan rata-rata usia 6 sampai 18 tahun. Jakarta Utara, Kecamatan Cilincing merupakan penyumbang terbesar dengan angka 48 persen. Faktor utama perkembangan anak yang tidak terpenuhi secara edukasi, rohani, jasmani maupun sosial yaitu kondisi ekonomi keluarga. Permasalahan ekonomi yang tidak mencukupi mengharuskan mereka para orang tua mengikutsertakan anak untuk bekerja dan menjadikan anak sebagai media untuk mencari uang demi keberlangsungan hidup. Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan sering kali terperangkap dalam situasi penuh penderitaan serta masa depan yang suram dan mengganggap pendidikan tidak lagi penting bagi mereka. hal tersebut akan terus terjadi dan akan terus mengalami ketimpangan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi tepat dalam memutuskan mata rantai lingkaran kemiskinan mereka melalui arsitektur yang berempati dan pendekatan metode waldorf pedagogy yang mengedepankan ketiga aspek user yang saling berkaitan antara anak, orang tua, dan alam. Maka dari itu dihasilkan konsep yang dapat mewadahi serta memberikan sebuah pelatihan keterampilan praktis dengan kemampuan yang mereka miliki dan minati serta mengembangkan para anak-anak ketahap dunia kerja dan agar dapat memperoleh penghidupan yang layak dengan kemampuan bakat yang mereka miliki dimasa mendatang.