Denny Husin
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

“UNZOO”: TAMAN SATWA DI KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR Jessie Tineshia Ng; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12417

Abstract

Extensive deforestation in Kalimantan caused by mining, mining is often abandoned when it is no longer useful. This causes animals to lose their natural habitat. It also affects the surrounding population. One of the affected species is the Bornean Orangutan (Pongo pygmaeus), which is in decline and threatened with extinction. Bornean Orangutan (Pongo pygmaeus) is only scattered in several points on the island of Borneo. If humans continuously destroy their habitat, the remaining places for orangutans and other animals are only in the protected areas. Therefore, this project aims to turn the ex-mining land into a protected animal park for orangutans and other animals. The existing type of animals are in prison (cage) and use as a show or object on display, not as a habitat for the animal. Using experimental architectural methods that focus on site transformation, the Immersion landscape elevates the concept of “unzoo” to offer a better environment for animals in the future. Animal parks are a public place to get education about animals (fauna), plants (flora), and ecosystems (environment) through direct interaction in the created habitats. By applying the concept of Unzoo and Immersion Landscape, we create an animal park not only for the benefit of humans but resembles the habitat of orangutans and other animals. Visitors can feel and get knowledge in the original habitat of these animals without being directly in their natural habitat. Keywords: animals park; habitat; Immersion Landscape; unzoo.AbstrakFenomena meluasnya deforestasi di Kalimantan yang dijadikan lahan pertambangan, masalahnya lahan pertambang sering kali ditinggal begitu saja jika sudah tidak menghasilkan. Masalah ini membuat satwa kehilangan rumah (habitat), selain itu juga mempengaruhi populasi satwa-satwa yang tinggal didalamnya. Salah satu spesies satwa yang terdampak adalah orang utan Borneo (Pongo pygmaeus), tidak hanya berkurang tetapi terancam punah. Spesies orang utan Borneo (Pongo pygmaeus) ini hanya tersebar dibeberapa titik pulau Borneo. Tempat tersisa bagi orang utan dan satwa lainnya hanya di area yang dilindungi jika habitatnya terus-menerus dirusak manusia. Tujuan proyek ini ingin mengembalikan lahan bekas pertambang menjadi taman satwa yang dilindungi (habitat buatan) untuk orang utan dan satwa lainnya. Tipe taman satwa eksisting kerap memperlakukan satwa seperti berada di dalam penjara (kandang) dan menjadikannya sebuah pertunjukan atau benda yang dipamerkan, bukan selayaknya sebagai habitat dari satwa itu sendiri. Menggunakan metode arsitektur eksperimental yang berfokus pada transformasi tapak, Immesion landscape mengangkat konsep unzoo untuk menawarkan lingkungan yang lebih baik untuk satwa di masa depan. Menjadikan taman satwa tempat publik untuk mendapatkan edukasi tentang satwa (fauna), tumbuhan (flora), dan ekosistem (lingkungan) melalui interaksi dengan secara lansung di habitat yang diciptakan. Dengan menerapkan konsep Unzoo dan Immersion Landscape membuat taman satwa bukanlah sekedar untuk kepentingan manusia tetapi menyerupai habitat orang utan dan satwa lainnya. Pengunjung dapat merasakan dan mendapatkan edukasi dihabitat asli satwa tersebut tanpa secara lansung berada di habitat aslinya.  
PENINGKATAN KUALITAS SEKTOR INFORMAL SEBAGAI STRATEGI MODIFIKASI POLA PERILAKU WARGA DI KELURAHAN MANGGA BESAR Neilsen Yonata; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8524

Abstract

The phenomenon chosen is the Mangga Besar which adapts to the differences in the city, namely stress due to a significant increase in population. Mangga Besar sub-district d is one of the biggest culinary places in Jakarta, therefore visitors who come to this place to find food and also look for places of entertainment because of the causes that cause problems in this village. Among other things, there is an informal improvement sector that sells street vendors and also illegal parking lots that cause congestion. Therefore the issue in this region has the characteristics of the informal sector that affects daily activities in the Mangga Besar The purpose of the research works to address informality with the system to improve one's human behaviour by using the method of urbanism that looks at developments in which cities in Jakarta affect one's behaviour. Hypothetically added that an integrated system will change one's human behaviour, eliminate illegal parking, and the informality that exists in large mangoes. The language used is to present a system consisting of a cycle system that can be reused then can be reused and add a belt system to change human behaviour. In this way, the Project benefits needed to provide benefits to the scale of the region are expected to increase comfort in terms of transportation, welfare, and improve human efficiency with the system. The results that can be obtained from this project are giving users access from the sub-district to public transportation, having a living room that can be used to sell, having access to third place, increasing the social balance for this sub district. Keywords:  Human behavior; Culinary; Diversity; Third placeAbstrakFenomena yang diangkat dalam studi adalah proses adaptasi Kelurahan Mangga Besar dari permasalahan yang ada di kota terkait stress karena peningkatan jumlah penduduk secara signifikan. Kelurahan Mangga Besar merupakan salah satu tempat kuliner terbesar yang ada di Jakarta oleh sebab itu banyak pengunjung yang datang ke tempat ini untuk mencari makan dan juga mencari tempat hiburan. Kepopuleran kawasan Mangga Besar menyebabkan timbulnya masalah pada kelurahan ini. Salah satunya adalah  peningkatan  sektor  informal berupa pedagang kaki lima dan juga tempat parkir ilegal yang mengakibatkan kemacetan. Kawasan Mangga Besar memiliki karakteristik berupa sektor informal yang mempengaruhi aktivitas keseharian di Kelurahan Mangga Besar. Tujuan studi berfungsi untuk menyikapi informalitas dengan sistem agar mempengaruhi human behaviour seseorang  dengan menggunakan metode pendekatan urbanism yang dimana melihat dari perkembangan di suatu kota yaitu Jakarta yang mempengaruhi perilaku seseorang. Secara hipotesa dengan menambahkan sistem terintegrasi akan merubah human behaviour seseorang, menghilangkan parkiran ilegal, dan mengatur informalitas yang ada di Mangga Besar. Langkah yang digunakan yaitu menghadirkan sistem berupa cycle sistem yang dapat di reuse kembali dan menambahkan sistem belt untuk mempengaruhi human behaviour. Dengan cara ini didapatkan bahwa manfaat proyek ini berfokus untuk memberikan manfaat terhadap skala wilayah yang diharapkan dapat meningkatkan kemudahan dalam segi transportasi, kesejahteraan, serta mempengaruhi kebiasaan manusia dengan sistem. Hasil yang di dapat pada proyek ini adalah menghadirkan akses bagi user dari kelurahan ke transportasi umum, mempunyai living space yang dapat digunakan untuk berjualan, memiliki sarana hiburan berupa tempat third place, meningkatkan keseimbangan sosial bagi kelurahan ini.
ZERO FOOD WASTE: PASAR HIJAU TRADISIONAL DI GROGOL, JAKARTA BARAT Felia Alexandra Linoh; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12419

Abstract

Food waste is one of the ecological issues that have a detrimental effect on big cities like Jakarta. Food waste that decomposes in landfills releases methane that can be harmful to ozone layers. The problem is that Indonesia’s food waste management is poorly handled; in fact, Indonesia is the world’s second-largest food waster. Indonesian cities waste contains approximately 55 – 60% organic matter. One of the biggest sectors that generate food waste is food retailers such as the marketplace. The solution for handling the food waste issues in this sector is to create a closed cycle food waste in architecture system within a building. Therefore, this project attempts to apply a closed-cycle food waste method by adding another relevant program into the marketplace to achieve green architecture with zero food waste. Keywords:  architecture; green; system.Abstrak Fenomena sampah makanan adalah salah satu isu ekologi yang merugikan di kota kota besar seperti Jakarta. Sampah makanan yang menumpuk di TPA (tempat pembungan akhir) dapat menghasilkan gas metana yang dapat merusak lapisan ozon. Masalahnya, pengelolaan sampah makanan di Indonesia masih buruk, nyatanya Indonesia adalah negara ke-2 penyumbang sampah makanan terbesar. Sampah kota di Indonesia rata-rata masih mengandung 55 sampai 60% bahan organik. Salah satu sektor penyumbang terbesar sampah makanan adalah sektor pangan seperti pasar. Untuk menangani isu sampah makanan dalam sektor tersebut, diperlukan suatu sistem dalam arsitektur berupa siklus dalam satu bangunan yang tertutup. Oleh karena itu, proyek ini berusaha menerapkan metode siklus penanganan sampah makanan yang tertutup dengan menambahkan program-program lain yang relevan ke dalam pasar tradisional sehingga dapat mencapai arsitektur hijau dengan zero food waste.
PROGRAM ARSITEKTUR SEBAGAI PEMBENTUK TEMPAT KETIGA DI PASAR BARU Denzel Suptan; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8468

Abstract

The phenomenon of the need to complement the daily activities of urban communities in an area need to be responded to in a design strategy that can resolve various kinds of conflicts. This is happening in Jakarta where there were still problems with the lack of public space facilities that not reach the residential area. The issue that the region has its characteristics that also raises a variety of activities in addition to daily routine activities in the form of a variety of entertainment activities, commerce, and even some activities accommodate various events. The purpose of this study is to raise public space as a unifying space or transition from routine home (first place) and work (second place). Cross, trans, and dis programming methods are used by not eliminating or changing things that are already characteristic of the region, by studying activities that might be reactivated and then simulated, hypothetically Pasar Baru can play a role in realizing physical identity as the old city to continue to live and be sustainable. The step used is to insert certain events in an empty slot in a year with the program insertion method. The findings are that program events can continue to be connected at all times through embedded programs. The results of this third place project show that architecture can contribute to the development of the program. Keywords:  Program; Third Place; Transition AbstrakFenomena kebutuhan akan pelengkap aktivitas keseharian masyarakat kota di suatu daerah perlu untuk direspon ke dalam strategi desain yang dapat menyelesaikan berbagai macam konflik. Hal tersebut tentunya terjadi di kota Jakarta yang masih terdapat masalah minimnya fasilitas ruang publik dan kurang menjangkau area permukiman. Isu bahwa wilayah memiliki karakteristiknya sendiri yang juga memunculkan berbagai aktivitas selain kegiatan rutinitas sehari-hari berupa ragam kegiatan hiburan, niaga, bahkan ada kegiatan yang menampung berbagai event/acara-acara menjadi latar belakang studi. Tujuan penelitian ini adalah mengangkat ruang publik sebagai ruang pemersatu atau transisi dari rutinitas rumah (first place) dan pekerjaan (second place). Metode programming cross, trans, dan dis digunakan dengan tidak menghilangkan atau mengubah secara total berbagai hal yang sudah menjadi karakteristik dari kawasan, dengan cara mempelajari aktivitas-aktivitas yang mungkin bisa diaktifkan kembali lalu disimulasikan. Secara hipotesis Pasar Baru dapat berperan kembali mewujudkan identitas fisik sebagai kota lama agar dapat terus hidup dan berkesinambungan. Langkah yang digunakan yaitu menyisipkan event tertentu pada celah yang kosong dengan metode penyisipan program. Temuannya berupa event program dapat terus terhubung di setiap waktu melalui program-program yang disisipkan. Hasil proyek tempat ketiga ini menunjukkan bahwa arsitektur dapat turut serta berkontribusi dalam mengupayakan pengembangan program.
PENERAPAN ARSITEKTUR NARATIF PADA MUSEUM DE GROTE POSTWEG DI KOTA BANDUNG Nizar Firdaus Usman; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16899

Abstract

The Anyer-Panarukan post road was a monumental colonial project with the aim of connecting areas on the northern coast of Java Island whose the benefits can still be felt today. The phenomenon that occurs along with the times is the erosion of the community’s collective memory about the origin of the post road. This is caused by the socio-cultural changes by the people along the road which which have slowly shifted the function and image of the post road. In adition, the existence of toll roads also makes it no longer the only choice for people to travel. The purpose of the project “De Grote Postweg: Sequential Narrative Space of The Great Post Road” is to retell the history of the origins of these monumental project, reflections, dan resolutions towards the future, through historical tourism, in the midst of massive changes and along the northern coast of the Island of Java. The choice of the city of Bandung as the location of the museum is based on the historical narrative of the city which intersects with the construction of the road at that time. The method used in designing this museum is narrative architecture in the typology of museum exhibition space. The project begins with grouping the historical time span of the road which is divided into 5 permanent exhibition space zones based on time sequence, which are then narrated in the form of spatial space with different keywords according to their respective historical narratives. The result of rethinking the typology of museum exhibition space with narrative architecture is an exhibition space that is organized according to the chronological historical events that is educative, attractve, and inclusive. Keywords:  history; museum; narative; tourism; typology AbstrakJalan raya pos Anyer-Panarukan merupakan proyek monumental zaman kolonial dengan tujuan untuk menghubungkan daerah-daerah di pesisir Utara Pulau Jawa yang manfaatnya masih dapat dirasakan hingga masa kini. Fenomena yang terjadi seiring dengan perkembangan zaman adalah terkikisnya memori kolektif masyarakat tentang asal usul jalan raya pos tersebut. Hal ini disebabkan oleh perubahan sosial-budaya masyarakat di sepanjang jalan raya tersebut yang turut menggeser fungsi dan citra jalan raya secara perlahan. Selain itu, adanya jalan tol juga menjadikannya bukan lagi satu-satunya sebagai pilihan orang untuk bepergian. Tujuan dari proyek “Museum De Grote Postweg: Ruang Narasi Berurutan Jalan Raya Pos Besar” di Kota Bandung adalah menceritakan kembali sejarah terbentuknya proyek monumental tersebut, refleksi, dan resolusi menuju masa depan melalui pariwisata sejarah di tengah masifnya perubahan di sepanjang pantai Utara Pulau Jawa. Pemilihan Kota Bandung sebagai lokasi museum tidak lepas dari narasi sejarah Kota Bandung yang saling bersinggungan dengan pembangunan jalan raya pos pada saat itu. Metode yang digunakan pada perancangan museum ini adalah arsitektur naratif pada tipologi ruang pamer museum. Perancangan dimulai dengan pengelompokan rentang waktu sejarah jalan rata pos yang dibagi menjadi 5 zona ruang pamer tetap berdasarkan urutan waktu, yang kemudian dinarasikan dalam bentuk ruang spasial dengan kata kunci yang berbeda sesuai narasi sejarahnya masing-masing. Hasil dari memikirkan kembali tipologi ruang pamer museum dengan arsitektur naratif adalah ruang pamer yang tersusun berdasarkan urutan waktu kejadian sejarah yang edukatif, atraktif, dan inklusif.
RING OF LIFE : SEBUAH STRATEGI PENYELAMATAN TERUMBU KARANG Fransisca Angeline Joham; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12414

Abstract

Samalona Island in Makassar is one of the famous tourist destinations and is home to its residents, most of whom work as fishermen. Samalona Island experienced an abrasion phenomenon which causes its shape and area to change from year to year so that the island is rumored to be sinking. The cause of abrasion on Samalona Island is the damage to the coral cover around the island which is a natural wave barrier. Damage to coral reefs is caused by irresponsible human activities, such as fishing using bombs and dangerous chemicals, reclamation that causes sea water to be polluted, and earth's temperature rise. Therefore, it is necessary to build a coral reef research and restoration center on Samalona Island. Ring of Life aims to improve the quality of coral cover to good status, identify sources of water pollution, attract tourists to be more concerned with the condition of coral reefs, and prevent the sinking of Samalona Island. This project uses a hybrid symbiosis method that brings together two different elements, namely humans and the sea, evolutionary engineering restoration, and water research. This project consists of research, restoration, tourism, management, and service programs that are outlined in a futuristic building style. Keywords:  architecture; coral reefs; research; restoration; ring of life; sea. AbstrakPulau Samalona  di Makassar merupakan salah satu destinasi wisata yang terkenal dan merupakan rumah bagi penghuninya yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Pulau Samalona mengalami fenomena abrasi yang menyebabkan bentuk dan luasaannya berubah-ubah dari tahun ke tahun sehingga pulau ini diisukan akan tenggelam. Penyebab terjadinya abrasi pada Pulau Samalona adalah masalah rusaknya tutupan karang di sekitar pulau yang  merupakan penahan ombak alami. Rusaknya terumbu karang disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti menangkap ikan menggunakan bom dan bahan kimia berbahaya, reklamasi yang menyebabkan air laut tercemar,dan meningkatnya suhu bumi. Oleh sebab itu, perlu dibangun pusat penelitian dan restorasi terumbu karang di Pulau Samalona. Ring of Life bertujuan untuk untuk meningkatkan kualitas tutupan karang menjadi status baik, mengidentifikasi sumber pencemaran air, menarik minat wisatawan untuk lebih peduli dengan kondisi terumbu karang, dan mencegah tenggelamnya Pulau Samalona. Proyek ini menggunakan metode simbiosis hibrid yang menyatukan dua elemen berbeda yaitu manusia dan laut, restorasi rekayasa evolusi, dan penelitian air. Proyek ini terdiri dari program penelitian, restorasi, wisata, pengelola, dan servis yang dituangkan dalam gaya bangunan futuristik.
SUPORTIF DESAIN PADA KLINIK REHABILITASI MENTAL DI JAKARTA Jovan Adrio; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16872

Abstract

The saturation level of the COVID-19 pandemic is increasing. Limitation of activities has been carried out five times for approximately a year. The problem is that community productivity reduces with the level of depression increased 69% of the Indonesian population experiencing psychological problems, of which 72% are women and 28% are men. This study aimed to reduce the effects of depression during the pandemic and post-pandemic. The method used in this research is literature study, secondary data collection, case studies from several projects and other research. Mental health disorders cause by limited space for movement, boredom in learning, psychological trauma due to loss of loved ones, and social anxiety. The steps taken in the research are to identify mental health problems that occur in Indonesia, develop a frame of mind, and formulate hypotheses based on literature and case studies.The results of this study are to build clinics and supporting facilities to reduce depression levels by designing facilities for consultations for sufferers and psychologists or psychiatrists, supporting facilities in the form of parks as recreation areas, meditation areas, and support units. There is. These facilities can help patients to overcome the mental illness they are experiencing. Keywords : pandemic; healing; depression; typology; psychology AbstrakTingkat kejenuhan pandemi COVID-19 semakin meningkat. Pembatasan kegiatan yang telah dilakukan sebanyak 5 kali selama kurang lebih selama 1 tahun. Masalahnya produktivitas masyarakat berkurang serta meningkatnya tingkat depresi dengan 69% penduduk Indonesia mengalami masalah psikologis diantaranya 72% adalah wanita dan 28% adalah pria. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengurangi efek depresi pada saat pandemi dan pascapandemi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi literatur, pengambilan data sekunder, studi kasus dari beberapa proyek dan penelitian lainnya. Gangguan kesehatan mental disebabkan oleh terbatasnya ruang gerak, kejenuhan belajar, trauma psikologis akibat hilangnya orang tersayang, dan kecemasan sosial. Langkah yang diambil dalam penelitian adalah mengidentifikasi masalah kesehatan mental yang terjadi di Indonesia, menyusun kerangka berpikir, dan merumuskan hipotesa berdasarkan studi literatur dan kasus. Hasil dari penelitian ini adalah membangun klinik dan fasilitas penunjang untuk mengurangi tingkat depresi dengan merancang fasilitas untuk konsultasi bagi para penderita dan psikolog atau psikiater, fasilitas penunjang berupa taman sebagai area rekreasi, area meditasi, serta unit pendukung. Terdapat. Dengan fasilitas tersebut dapat membantu pasien untuk mengatasi penyakit mental yang dialaminya.
HABITAT KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN PUSAT JAJANAN SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOENERGI Bobby Febrian; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12480

Abstract

The Covid-19 phenomenon makes humans stimulates their relationship with ecosystems, thereby accelerating ecological awareness, that there are other entities must be considered besides humans. Anthropocentrism is the understanding that humans are the most powerful species than other creatures, the discussed one anthropocentrism activity are about the massive development of business areas in the middle of Jakarta. The purpose of this project is to evaluate massive development by adding development policies that pay attention to spaces for creatures other than humans, namely animals and plants. This kind of thinking is called ecosophy, which means wise in ecological living. Hypothetically, the green open space applied to the design can be used as a habitat for living things and can also be used as a power plant using biogas and biocathode processes. Biogas is natural gas that is processed anaerobically or without oxygen, the raw material comes from food scraps contained in the food court program in the form of organic material substrates. Biocathode is the process of absorbing electrons that produced by microbes from photosynthesis process that uses electrodes to absorb electrons. Both processes produce energy that comes from nature or known as bioenergy, which is used to generate electricity on an environmental scale. Therefore, the project focuses on design that is not only sustainable but also regenerating the surrounding environment. The results about the project are to present a building with an ecosophy thinking that puts forward ecological policies in designing, it has a mutualistic relationship in the form of a biodiversity habitat that supplies organic material substrates to be used by humans to obtain electricity generated from bioenergy. Keywords:  anthropocentricism; bioenergy; biogas; biocathode; ecosophy.AbstrakFenomena Covid-19 membuat manusia merefleksikan kembali hubungannya dengan ekosistem sehingga mempercepat kesadaran ekologis, bahwa ada entitas lain yang harus diperhatikan selain manusia. Antroposentrisme adalah paham bahwa manusia adalah spesies paling berkuasa daripada makhluk lainnya, kegiatan antroposentrisme yang di angkat adalah pembangunan masif kawasan-kawasan bisnis ditengah kota Jakarta. Tujuan proyek ini bertujuan mengevaluasi pembangunan masif dengan menambahkan kebijakan pembangunan yang memperhatikan ruang untuk makhluk selain manusia yaitu hewan dan tumbuhan. Pemikiran seperti ini disebut dengan ecosophy, yang berarti bijak dalam kehidupan ekologis. Secara hipotesa ruang terbuka hijau yang diterapkan pada perancangan dapat dimanfaatkan sebagai habitat makhluk hidup dan dapat dimanfaatkan juga sebagai pembangkit listrik menggunakan proses biogas dan biokatoda. Biogas adalah gas alam yang terproses secara anaerobik atau tanpa oksigen, bahan bakunya berasal dari sisa makanan yang terdapat pada program pusat jajanan dalam bentuk substrat bahan organik. Biokatoda adalah proses penyerapan elektron yang dihasilkan mikroba dari hasil fotosintesis yang menggunakan alat elektroda untuk menyerap elektron. Kedua proses tersebut menghasilan energi yang berasal dari alam atau disebut dengan bioenergi, yang digunakan sebagai pembangkit listrik untuk skala lingkungan. Dengan cara ini didapatkan bahwa proyek ini berfokus kepada perancangan yang bukan hanya berkelanjutan tetapi juga memperbarui lingkungan sekitarnya. Hasil yang di dapat pada proyek ini adalah menghadirkan sebuah bangunan dengan pemahaman ecosophy yang mengedepankan kebijakan ekologis dalam merancang, mempunyai hubungan mutualisme dalam bentuk habitat keanekaragaman hayati yang menyuplai substrat bahan organik untuk dapat dimanfaatkan oleh manusia mendapatkan listrik yang dihasilkan dari bioenergi. 
KONSEP DESAIN RUANG KERJA SETELAH PANDEMI COVID-19 Paulus Cahyadi Hwanggara; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16908

Abstract

The phenomenon of the Covid-19 pandemic affects the decline in productivity and work efficiency throughout the world and also in Indonesia. This decrease in productivity caused by changes in habits is one of the problems related to the use of buildings, systems or office units that adapt to the pandemic needed to be shown to prepare for an adaptation. With the aim of creating new workspace design concepts after the pandemic, typological methods related to distance, ergonomics and architectural psychology related to personal, social, and public spaces. As well as case studies to develop the relationship between typology and architectural psychology. The result is an office design with open workspaces, recreation rooms, and sports facilities where these spaces provide flexibility which has become a new need for work during a pandemic. Keywords:  covid-19; health; pandemic; productivity; Office AbstrakFenomena pandemi Covid-19 mempengaruhi penurunan produktivitas dan efisiensi kerja di seluruh dunia dan juga di indonesia. Penurunan produktivitas ini disebabkan oleh perubahan kebiasaan merupakan salah satu masalah terkait penggunaan bangunan, sistem atau unit kantor yang menyesuaikan pandemi diperlukan yang ditunjukkan untuk menyiapkan sebuah  adaptasi. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan konsep desain ruang kerja baru setelah pandemi. Metode tipologi terkait jarak, ergonomik dan psikologi arsitektur terkait ruang personal, sosial, dan publik digunakan sebagai pendekatan desain. Studi kasus digunakan untuk mengembangkan relasi antara tipologi dengan psikologi arsitektur. Hasil studi adalah sebuah desain kantor dengan ruang open workspace,  ruang rekreasi, dan fasilitas olahraga dimana ruang tersebut memberikan sebuah fleksibilitas yang menjadi kebutuhan baru dalam bekerja disaat dan sesudah pandemi.
ARSITEKTUR LANSEKAP SEBAGAI KONSEP FASILITAS OLAH RAGA HIJAU KEMAYORAN Vincent Damayanto; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8526

Abstract

The phenomenon of people living in the Kemayoran area is a modern society with various routines and activities as well as high mobility. The habit of this activity changes their psychology, especially people who live in dense areas. Kemayoran is a dense area of housing both vertical housing and horizontal housing, this has an impact on the behavior of people who live around this area. The issue in this area is that the inhabitants of the area are filled with people who are actively working and have the habit of living alone and not socializing. The problem that occurs in this area is the function of the communal place that has been prepared can not meet the needs of residents and the absence of open space as a meeting point between residents of vertical homes with horizontal residents. As a response to issues that occur in this region, the purpose of forming this project is to become an area attractor that can change the behavior of the surrounding community. The step used is to create an architecture as a modifier of human psychology where the selection of building materials, shapes, and circulation of buildings is formed so that it can influence the user's psychology. As well as combining elements of architecture with nature  to hide the existence of buildings from a very crowded environment. Keywords:  density;  landscape; psychologyAbstrakFenomena penduduk yang tinggal disekitar kawasan Kemayoran merupakan masyarakat modern dengan berbagai rutinitas dan aktivitas serta mobilitas yang tinggi. Kebiasaan aktivitas ini mengubah psikologi mereka terutama masyarakat yang tinggal di area yang padat. Kemayoran merupakan kawasan yang didominasi oleh hunian baik hunian vertikal maupun hunian horizontal. Hal ini berdampak terhadap tingkah perilaku masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan ini. Isu pada kawasan ini adalah penduduk kawasan dipenuhi olah masyarakat yang aktif bekerja dan mempunyai kebiasaan untuk hidup menyendiri dan tidak bersosialisasi. Masalah yang terjadi pada kawasan ini adalahnya fungsi tempat komunal yang sudah disiapkan tidak dapat memenuhi kebutuhan penghuni serta tidak adanya ruang terbuka sebagai titik temu antara penghuni hunian vertikal dengan penghuni hunian horizontal. Sebagai sebuah respon terhadap isu yang terjadi pada kawasan ini maka  tujuan dari pembentukan proyek ini adalah menjadi sebuah attractor kawasan yang dapat mengubah perilaku masyarakat sekitar. Langkah yang digunakan yaitu membuat sebuah karya dan program arsitektur sebagai pengubah psikologi manusia dimana pemilihan bahan bangunan, bentuk serta sirkulasi bangunan dibentuk agar dapat mempengaruhi psikologi pengguna. Serta menggabungkan unsur arsitektur dengan alam dapat menyembunyikan keberadaan bangunan dari lingkungan yang sudah sangat padat.