Denny Husin
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KONSEP RUMAH SUSUN MIKRO DI KAMPUNG TANAH MERAH, JAKARTA UTARA Hendry Vincent Wijaya; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22214

Abstract

There are many urbanisation phenomenon in Indonesia, especially in Jakarta, that create issues of population density which have led to the emergence of large-scale settlements in big cities in the form of ‘kampung’. The aim of this project is to provide a solution to the problem of overcrowding and alternative settlements in the village in the form of micro- architecture. Kampung Tanah Merah, Koja, North Jakarta was chosen, because it has a population density, one of the highest in Jakarta. The qualitative method used by the author in this study, by observing the daily phenomena of residents. Urban acupuncture is used as a design method in this study by looking at the daily lives and behavior of local residents. Urban acupuncture methods use small-scale interventions to transform a larger urban context. The results of this study are in the form of micro housings, and other village supporting facilities. Micro housings are used by using modular units with container materials. In addition to the fulfillment of housing, the building will also be equipped with fulfillment for work and recreation, through facilities such as promenade, open space, warteg corner area and UMKM stalls. From this program, the building can support the village community to support life, work, and recreation so that the 'life, work, and fun' aspects are fulfilled in the village area. This project can answer the problems that exist in the area, so it is hoped that it can revive Kampung Tanah Merah and its surroundings. Keywords: housing; tanah merah village; micro; flats Abstrak Fenomena urbanisasi banyak terjadi di Indonesia, terutama di Jakarta, membuat isu kepadatan penduduk yang menyebabkan munculnya permasalahan pemukiman kumuh di kota-kota besar dalam wujud perkampungan. Tujuan dari proyek ini adalah untuk memberikan alternatif solusi terhadap masalah kepadatan penduduk dan pemukiman kumuh di kampung dalam bentuk mikro arsitektur. Kampung Tanah Merah, Koja, Jakarta Utara dipilih, karena memiliki tingkat kepadatan penduduk, salah satu yang tertinggi di Jakarta. Metode kualitatif digunakan penulis dalam penelitian ini, dengan mengamati fenomena keseharian warga. Urban acupuncture dipakai sebagai metode perancangan dalam penelitian ini dengan melihat keseharian dan perilaku warga sekitar. Metode urban acupuncture menggunakan intervensi skala kecil untuk mengubah konteks perkotaan yang lebih besar. Hasil pada penelitian ini adalah berupa hunian mikro, dan fasilitas penunjang kampung lainnya. Kebaruan hunian mikro yang dipakai menggunakan unit-unit modular dengan material peti kemas. Selain pemenuhan terhadap hunian, bangunan juga akan dilengkapi dengan pemenuhan akan pekerjaan, dan rekreasi, melalui fasilitas seperti promenade, open space, area warteg corner dan warung UMKM. Dari program tersebut, bangunan dapat mendukung masyarakat kampung untuk menunjang kehidupan, pekerjaan, dan rekreasi sehingga terpenuhinya aspek ‘life, work, n fun’ pada area kampung. Proyek ini dapat menjawab permasalahan yang ada pada kawasan, sehingga diharapkan dapat menghidupkan kembali Kampung Tanah Merah dan sekitarnya.
PENERAPAN DESAIN ARSITEKTUR EMPATI SEBAGAI UPAYA MEREDEFINISI REHABILITASI PECANDU NARKOBA Richard Giovanni; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24292

Abstract

Drug use is not entirely negative, what is dangerous about drugs is uncontrolled use, and one of the consequences is addiction, but not all addicts want to continue to use drugs. This project is a place for drug addicts who desire to recover regardless of their addiction, empathy is essential. If you look at the current condition of rehabilitation, not all can access rehabilitation facilities because the price is high so that not a few end up in prison. Inside rehabilitation feel like they are being punished and isolated because of the programs and physical facilities they provide, not much different from being in prison. This project tries to solve this by design with understanding addicts need to recover, not locking them up but preparing them to return to society and aftercare. But in reality, rehabilitation is only effective if the addict wants to quit, so this project used dis-programming content by combining drug rehabilitation and regulation, which looks contradictory but makes it easier to monitor drug use and its distribution. Applying the concept of a different form of panopticon with dispersed and natural surveillance so it doesn't create feelings of pressure, transparency but still has privacy. Located in West Jakarta, so as not to alienate drug addicts and make this building a new community vessel for recovering addicts, watching over others and engaging in activities to socialize with the community again. Keywords: addiction;  community; dis-program; empathic ; panopticons Abstrak Penggunaan narkoba tidak sepenuhnya negatif, yang berbahaya dari narkoba yaitu penyebaran dan pemakaian tidak terkontrol salah satu akibatnya adalah adiksi, namun tidak semua pecandu narkoba ingin terus ketergantungan. Proyek ini menjadi tempat bagi pecandu narkoba yang ingin sembuh terlepas dari adiksinya, empati menjadi faktor penting. Jika dilihat pada kondisi rehabilitasi yang ada saat ini, tidak semua dapat mengakses rehabilitasi karena harganya yang tinggi sehingga tidak sedikit yang berakhir di penjara, di dalam rehabilitasi pun akan merasa seperti dihukum dan terisolasi karena program dan juga fasilitas fisik yang tidak jauh berbeda dengan di penjara. Hal tersebut yang berusaha diselesaikan dengan desain yang dapat memahami kebutuhan pecandu tidak mengurung tetapi mempersiapkan mereka kembali ke masyarakat. Kenyataannya rehabilitasi hanya efektif jika pecandu sudah ingin berhenti, pada proyek ini konten dis-programming digunakan dengan menggabungkan rehabilitasi dan regulasi narkoba, terlihat bertolak belakang tetapi sebenarnya memudahkan pengawasan penggunaan narkoba dan penyebarannya. Mengusung konsep bentuk panopticons yang berbeda dengan pengawasan yang tersebar dan alami sehingga tidak memunculkan perasaan tertekan, transparansi tapi masih memiliki privasi. Terletak di Jakarta Barat, agar tidak mengasingkan para pecandu narkoba serta menjadikan bangunan ini untuk menjadi wadah komunitas baru bagi para pecandu yang sembuh mengawasi sesama dan terlibat aktivitas untuk bersosialisasi dengan masyarakat kembali.
PERANCANGAN GALERI TIDUR INTERAKTIF DI JAKARTA PUSAT Brianna Wijaya Utama; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24293

Abstract

In the last few decades, architecture has tended to be apathetic since aesthetics and function have been given more attention which has put the context of life aside. Architecture and empathy must go hand in hand so architects need to understand the spaces they design from the perspective of their users. Sleep disorders are problems in the quality and quantity of sleep that can cause stress and daytime sleepiness. Sleep disorders have a reciprocal relationship with mental health where sleep disorders can cause or be caused by mental illness. Since sleep disorder is a common thing in Indonesia, it leads to the normalization of sleep disorders which can cause a long-term negative impact on mental and physical health, lifestyle, work performance, social and economy. This design aims to provide a space that can increase awareness of sleep disorders as well as special therapy programs for sleep disorders through healing architecture. The benefit of this design is to provide a healing space for people with sleep disorders that focuses on the reception of the human senses on spatial quality. The design method used in this design is the everyday architectural method. The results of this design are interactive sleep gallery program, sleep-related research program, and special therapy programs for sleep disorders. Therapeutic programs are implemented so that people with sleep disorders can recover from sleep disorders in the long term by improving healthy lifestyle and creating good daily habits. Keywords: architecture; empathy; healing; mental; sleep Abstrak Beberapa dekade terakhir, arsitektur cenderung bersifat apatis karena estetika dan fungsi lebih diperhatikan yang membuat konteks kehidupan dikesampingkan. Arsitektur dan empati harus berjalan beriringan sehingga arsitek perlu memahami ruang yang mereka rancang dari perspektif penggunanya. Gangguan tidur adalah masalah dalam kualitas dan kuantitas tidur yang dapat menyebabkan stres dan kantuk di siang. Gangguan tidur memiliki hubungan timbal balik dengan kesehatan mental dimana gangguan tidur dapat menyebabkan atau disebabkan oleh penyakit mental. Umumnya gangguan tidur di Indonesia menyebabkan adanya normalisasi gangguan tidur yang dapat berdampak negatif secara jangka panjang pada kesehatan mental dan fisik, gaya hidup, performa bekerja, sosial, hingga ekonomi. Perancangan ini bertujuan untuk menyediakan ruang yang dapat meningkatkan kesadaran akan gangguan tidur serta program terapi khusus untuk gangguan tidur melalui healing architecture. Manfaat dari perancangan ini adalah untuk menyediakan ruang penyembuhan bagi penderita gangguan tidur yang berfokus pada resepsi indera manusia terhadap kualitas spasial. Metode perancangan yang digunakan dalam perancangan ini adalah metode arsitektur keseharian. Hasil dari perancancangan ini berupa program galeri tidur interaktif, program penelitian terkait tidur, serta program terapi khusus gangguan tidur. Program yang bersifat terapi diterapkan agar penderita gangguan tidur dapat memulihkan gangguan tidur secara jangka panjang dengan memperbaiki pola gaya hidup dan menciptakan kebiasaan sehari-hari yang baik.  
REVITALISASI ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI ARSITEKTUR Teresa Josephine; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24294

Abstract

The University of Indonesia (UI) is one of the favorite state universities where prospective students compete to be a part of the university. The university screens and selects students with potential and meet its standards. This makes student competition at UI quite tough which causes most of the students to experience stress symptoms that damage their mental health condition. UI, which is a leading state university, has caused many prospective students from other regions to migrate and get positions at this university. UI facilitates the needs of its overseas students with student dormitory facilities which are usually intended for middle to lower-middle-class overseas students. The phenomenon of the presence of overseas students in the UI area requires the presence of a proper hostel as an accommodation. The issue of research on dormitory design in this study is the high-stress resolution in students related to the daily space that is run. The purpose of this study is to offer a dormitory design that prioritizes design steps in the form of systems, programs, and types as well as units that prioritize the psychology of UI migrant students. The research method used is a qualitative method that includes psychological factors related to the formation of space in architecture. The findings from this study are that the existence of a dormitory as a space for students' daily activities has unfavorable conditions that trigger stress for UI overseas students caused by intense academic competition. Therefore, this design is based on architectural psychology standards while still considering affordable design outputs for dormitories. This is achieved by applying floor elevation, increasing the number of open spaces as communal, and focusing the design on one view orientation as a stress release. Keywords:  architecture; dormitory; psychology; revitalization; student Abstrak Universitas Indonesia (UI) merupakan salah satu universitas negeri favorit di mana para calon mahasiswanya berlomba-lomba untuk dapat menjadi salah satu bagian dari universitas tersebut. Universitas ini menyaring dan memilih para mahasiswa yang berpotensi dan memenuhi standarnya. Hal ini membuat persaingan mahasiswa pada UI  dapat dikatakan cukup berat yang menyebabkan sebagian besar mahasiswanya mengalami gejala stres yang merusak kondisi kesehatan mental mereka. UI yang menjadi universitas negeri unggulan menyebabkan banyaknya calon mahasiswa dari daerah lain untuk merantau dan mendapatkan posisi di dalam universitas ini. UI memfasilitasi kebutuhan mahasiswa perantaunya dengan fasilitas asrama mahasiswa yang biasanya diperuntukan bagi mahasiswa perantau menengah ke bawah. Fenomena kehadiran mahasiswa perantau di kawasan UI ini membutuhkan kehadiran asrama yang layak sebagai sebuah akomodasi. Isu penelitian desain asrama pada penelitian ini adalah penyelesaian stres yang tinggi pada mahasiswa terkait dengan ruang keseharian yang dijalankan. Tujuan penelitian ini menawarkan sebuah desain asrama yang memprioritaskan langkah-langkah desain berupa sistem, program, dan tipe serta unit yang mengedepankan psikologis mahasiswa perantau UI. Metode penelitian yang dipakai adalah metode kualitatif yang menyertakan faktor-faktor psikologis terkait dengan pembentukan ruang dalam arsitektur. Temuan dari penelitian ini adalah adanya asrama sebagai ruang berkegiatan sehari-hari mahasiswa memiliki kondisi yang kurang mendukung sehingga memicu munculnya stres para mahasiswa perantau UI yang disebabkan oleh persaingan akademik yang ketat. Oleh karena itu, perancangan ini didasarkan pada standar-standar psikologi arsitektur dengan tetap mempertimbangkan keluaran desain yang terjangkau bagi asrama. Hal ini dicapai dengan menerapkan permainan elevasi lantai, memperbanyak ruang-ruang terbuka sebagai komunal, dan memusatkan desain pada satu orientasi view sebagai stress release.