The increase in human population directly impacts the rise of housing needs, resulting in the expansion of human development to other parts of the planet. At some point, these developments might enter wildlife habitats and conservation areas which could cause harm to conservation efforts and the general livelihood of the people. This phenomenon can be expected to occur in the development of Indonesia’s New Capital in North Penajam Paser and Kutai Kartanegara, East Kalimantan, where one of Indonesia’s endemic and critically endangered species makes their home, the Bornean Orangutans. The idea of this experimental project of human-wildlife coexistence gives hope as dwellings for the ever-growing human population while learning to protect and connect with the Orangutans, which also doubles as an in-situ conservation facility in the sanctuary forest of Samboja Lestari. The design method used is bio-inspired by the Orangutans’ wisdom in the ways of the tropical rainforest. The design produces modular dwelling units for researchers, eco-tourist/volunteers, and students; configured to fulfill the spatial needs for both human and wildlife users. Keywords: Bornean Orangutans; Conservation; Inter-species Coexistence; Modular Dwellings; New Capital. AbstrakBertambahnya jumlah manusia berdampak pada penambahan kebutuhan tempat tinggal, sehingga terjadi ekspansi permukiman manusia ke seluruh penjuru Bumi. Pada satu titik, pembangunan tersebut dapat memasuki ranah habitat dan konservasi satwa liar yang dapat merugikan baik bagi upaya konservasi alam, maupun bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Fenomena tersebut dapat diprediksikan terjadi pada rencana pembangunan IKN (Ibu Kota Negara) Indonesia baru di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dimana salah satu spesies endemik terancam punah Indonesia berada, yaitu Orangutan Borneo.Usulan proyek eksperimental koeksistensi antar spesies ini diharapkan dapat menjadi dwelling bagi manusia yang kian berkembang untuk belajar melindungi dan memahami Orangutan, dimana proyek ini juga sebagai salah satu fasilitas pendukung upaya konservasi in situ di hutan lindung Samboja Lestari. Metode yang digunakan berupa bio-inspired dari cara hidup Orangutan yang lebih bijak dalam hidup di hutan hujan tropis. Hasil dari desain berupa unit-unit dwelling moduler bagi ilmuwan, eco-tourist/relawan lingkungan, dan pelajar; dikonfigurasikan agar dapat memenuhi kebutuhan ruang baik bagi manusia maupun satwa liar.