Claim Missing Document
Check
Articles

PENDEKATAN ARSITEKTUR DENGAN RETHINKING TYPOLOGY DAN DISPROGRAMMING DALAM MERANCANG PUSAT REHABILITASI KECANDUAN GAME Garry Gohtandry; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16974

Abstract

Addiction to online games in this era is increasing. Data shows that in 2017, according to Amsterdam-based marketing research institute Newzoo, there were 43.7 million gamers (56% of whom were male) in the country, spending a total of US$ 880 million. Indonesia has the largest number of game players in Southeast Asia, with an estimated prevalence of 6.1% of gamers experiencing addiction, so there are 2.7 million game players who may be addicted. The World Health Organization (WHO) officially states that online game addiction is a mental disorder, because it can cause sleep disorders that affect the body's metabolic system, often feel tired (fatigue syndrome), stiff neck and muscles, to Carpal Turner Syndrome. But playing online games also has many positive sides, such as players being trained between the right and left brain to work in a balanced way. Not only that, colorful game visuals and in-game movements provide high imagination so that the brain will continue to imagine. To be able to improve the mental health of online game addicts, a new type of rehabilitation facility is needed that is able to answer the needs and challenges of the times. Considering that addiction generally occurs because of neglecting to play online games for a long time as a child, it is proposed to add an elementary school function that introduces good information technology from an early age. Disprogramming strategy is used so that the rehabilitation function as the first function can contaminate the elementary school as the second function so that these two facilities can function more optimally. This facility is also equipped with a large open space to accommodate social activities as a supporting activity that can teach the importance of real socializing among others. It is hoped that the combination of rehabilitation functions, elementary schools and active open spaces can become a new typology of rehabilitation buildings that reduce the adverse effects of online addiction in society.  Keywords: game addiction;  online game; rehabilitation center AbstrakKecanduan game online di masa ini semakin meningkat. Data menunjukkan pada 2017, menurut lembaga riset pemasaran asal Amsterdam, Newzoo, ada 43,7 juta gamer (56% di antaranya laki-laki) di negeri ini, yang membelanjakan total US$ 880 juta. Indonesia memiliki Jumlah pemain game terbanyak di Asia Tenggara, dengan prakiraan prevalensi 6,1% pemain game mengalami kecanduan, maka terdapat 2,7 juta pemain game yang mungkin kecanduan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menyatakan bahwa kecanduan game online merupakan penyakit gangguan mental, karena dapat menyebabkan gangguan tidur sehingga mempengaruhi sistem metabolisme tubuhnya, sering merasa lelah (fatigue syndrome), kaku leher dan otot, hingga Karpal Turner Syndrome. Namun bermain game online juga memiliki banyak sisi positif seperti para pemain seperti dilatih antara otak kanan dan kiri untuk bekerja secara seimbang. Tidak hanya itu, visual game yang berwarna warni dan Gerakan dalam game memberikan imajinasi yang tinggi sehingga otak akan terus berimajinasi. Untuk dapat memperbaiki kesehatan mental pecandu game online, dibutuhkan sebuah tipe baru fasilitas rehabilitasi yang mampu menjawab kebutuhan dan tantangan zaman. Mengingat kecanduan pada umumnya terjadi karena adanya pembiaran bermain game online dalam durasi panjang semasa kecil, maka diusulkan untuk menambahkan fungsi sekolah dasar yang mengenalkan informasi teknologi yang baik sedari dini. Strategi Disprogramming digunakan agar fungsi rehabilitasi sebagai fungsi pertama dapat mengkontaminasi sekolah dasar sebagai fungsi kedua sehingga kedua fasilitas ini dapat berfungsi lebih maksimal. Fasilitas ini juga dilengkapi dengan ruang terbuka yang luas untuk mewadahi aktivitas bersosialisasi sebagai aktivitas pendukung yang dapat mengajarkan pentingnya bersosialisasi nyata diantara sesama. Diharapkan penggabungan fungsi rehabilitas, sekolah dasar dan ruang terbuka aktif dapat menjadi sebuah tipologi baru bangunan rehabilitasi yang mengurangi dampak buruk kecanduan online di masyarakat.
Wadah Seni Kolektif Senen Samuel Axel Widjaya; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8511

Abstract

A 3rd place acts as an vital place in our daily life, aside from home as the 1st place or workplace as the 2nd place. 3rd place is a neutral public space, often seen as an alternative for some people. Everyone is welcome to visit and to do lots of activities on it. A 3rd place doesn’t have a fixed form, it can be anything the community around it needs it to be.Kawasan Senen was known as the centre of trade and art since forever. It can be seen from its history that became the birthplace of some of the finest artists in Indonesia. When Taman Ismail Marzuki was built on November 10th, 1968, the value of art in Kawasan Senen began to fade. But as time goes by, the value of art in Kawasan Senen begins to rise again. This event can be seen by the rise of art activities around Kawasan Senen such as Wayang Orang Bharata Purwa show that runs every Saturday, the free traditional dance classes that were held by Museum Kebangkitan Nasional and the emergence of Komunitas Planet Senen (KOPS) that actively trying to reintroduce the value of art to the Senen community. Senen Collective Art Space project was built on the hope to become the 3rd place to the community as well as providing and strengthening the value of Kawasan Senen. Keyword: Art in Senen; Collective Art; Neutral Public Space; Third Place AbstrakThe 3rd place merupakan tempat penting yang dibutuhan masyarakat, selain dari rumah sebagai the 1st place maupun tempat kerjanya sebagai 2nd place. 3rd place adalah ruang publik yang netral, sebagai tempat alternatif. Setiap orang dapat berkunjung dan melakukan berbagai aktivitas. Sebuah 3rd place dapat memiliki bentuk yang beragam, namun nyaman untuk beraktivitas sesuai dengan kehidupan dan budaya masyarakatnya. Kawasan Senen sejak dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan dan kesenian yang cukup ramai. Hal ini dapat dilihat dari sejarah kawasannya yang menjadi tempat lahir beberapa seniman terkenal tanah air. Dibangunnya Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 10 November 1968 membuat  nilai seni di Kawasan Senen ini sempat luntur. Namun seiring waktu, nilai seni dari Kawasan Senen mulai kembali naik. Hal ini ditandai dengan beberapa aktivitas berunsur seni yang mulai dilaksanakan kembali di Kawasan ini seperti pertunjukan Wayang Orang Bharata Purwa yang rutin diadakan setiap hari Sabtu sampai kursus menari tradisional yang diadakan secara gratis oleh Museum Kebangkitan Nasional dan juga munculnya Komunitas Planet Senen (KOPS) yang kerap berusaha memperkenalkan unsur seni kepada masyarakat Senen. Proyek Wadah Seni Kolektif Senen ini bertujuan untuk menjadi wadah 3rd place bagi warga serta memfasilitasi dan memperkuat kembali unsur seni di Kawasan Senen ini.
VERTICAL FARMING SEBAGAI UPAYA KONSERVASI EKOLOGI BUMI Darren Ariel Yeremia; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12316

Abstract

Food has always been a staple need for humans.  And humans always have so many ways to keep producing food in larger quantities and better qualities with a lot of variety. The activity of producing food always has a strong connection to the ecosystem condition of where the human population resided. One of the most contributing elements to food production for the human population is the agricultural industry. As one of the most contributor to human food production, technological advancement in the agricultural industry has always been the main topic of researches related to food. But recently these advancements have affected the ecology. For example, the use of pesticide and other chemicals becomes pollution for rivers and lakes around farms. Conventional agriculture requires a lot of area to sustain human food needs. These areas are taken from many natural ecologies like rainforests or other bio-spheres, the damages done to nature will affect the natural food chain and eventually affects humanity itself. The use of vertical spaces of human cities can be used as an alternative to the ever expanding needs of space for the food industry. This concept is called “Vertical Farming”. this effort can be the solution for humans who now live mostly in cities to provide for their own, without damaging the ecology more. Ragunan Stack Farm : Producing Food From City for The City is an architectural effort to move food industry activities back to cities, using sustainable development approach and energies as an approach to go beyond ecology. Keywords : Agriculture; Beyond Ecology;  Consumption; Population;  Stack Farming; Vertical Farming AbstrakMakanan adalah kebutuhan pokok manusia. Manusia memiliki berbagai macam cara untuk terus menghasilkan makanan dengan jumlah yang semakin banyak dan kualitas yang bervariasi. Kegiatan untuk produksi makanan ini selalu memiliki koneksi yang erat dengan keadaan ekosistem dimana populasi manusia itu berada. Industri pertanian merupakan salah satu kontributor terbesar produksi makanan. Sebagai sumber utama bahan baku makanan manusia, kemajuan teknologi industri pertanian menjadi fokus utama riset pangan. Kemajuan ini banyak mempengaruhi ekologi. Penggunaan pestisida dan zat kimia dalam industri pertanian mengakibatkan polusi air bagi sungai dan danau di sekitar lahan pertanian. Pertanian konvensional membutuhkan area yang sangat luas untuk menopang kebutuhan pangan manusia. Dengan memanfaatkan ekosistem alami seperti hutan hujan dan jenis bio-sphere lainnya, rusaknya keadaan alam juga menghancurkan rantai makanan alami yang lambat laun akan mempengaruhi manusia itu sendiri. Pemanfaatan ruang-ruang vertikal kota dapat menjadi salah satu solusi alternatif dari industri makanan yang selalu harus bertumbuh. Konsep ini biasa disebut sebagai program “Vertical Farming”. Upaya ini dapat menjadi solusi bagi manusia yang sekarang banyak tinggal di kota untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus merusak keadaan ekologi lebih jauh lagi. Tani Tumpuk Ragunan; Produksi Makanan dari Kota Untuk Kota merupakan upaya desain secara arsitektural untuk mengembalikan kegiatan produksi makanan ke dalam kota dengan memanfaatkan tenaga-tenaga terbarukan sebagai bentuk pendekatan melampaui ekologi.
FASILITAS BELAJAR BISNIS DAN DESAIN TATA BUSANA DI TANAH ABANG Georgia Christin; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4438

Abstract

Recently e-commerce businesses in Indonesia are experiencing a significant increase in users. According to statistical data, one of the most popular product categories in e-commerce is the fashion sector. This dimension of the Millennial Generation was stepped into productive age, but it is very unfortunate, only 1 in 4 millennia wants to be involved in the company. This is related to the work system that is formed not in accordance with millennial characteristics that are free and prefer to do business. This project discusses how to enhance the role of the Millennial Generation to be able to enter the business world that has a large market opportunity. The goal is that millennials can be studied opened in the field of fashion and also prepared to do business in the fashion world through Business Learning Facilities & Fashion Design. Thus in the future the millennial generation can immediately jump in the fashion world. This design was placed in Tanah Abang and used the Pedagogy of Connecting Space method by Dr. Kenn Fisher. Learning facilities are designed according to the characteristics of the military who like to collaborate and discuss. AbstrakBelakangan ini bisnis e-commerce di Indonesia sedang menggalami kenaikan pengguna yang signifikan. Menurut data statistik salah satu kategori produk yang paling diminati dalam e-commerce adalah di bidang fashion. Dimasa ini Generasi Milenial menginjak usia produktif, tetapi yang sangat amat disayangkan bahwa, hanya 1 dari 4 milenial yang ingin terlibat dalam perusahaan. Hal ini dikarenakan sistem kerja yang terbentuk tidak cocok dengan karakteristik milenial yang bebas dan lebih suka berbisnis.  Proyek ini membahas bagaimana meningkatkan peran Generasi Milenial untuk dapat terjun ke dunia bisnis fashion yang mempunyai peluang pasar yang besar. Tujuannya agar milenial dapat belajar membuka bisnis sendiri di bidang fashion serta mempersiapkan kebutuhan berbisnis di dunia fashion melalui Fasilitas Belajar Bisnis & Desain Tata Busana.  Dengan demikian di masa depan generasi milenial dapat langsung terjun di dunia fashion. Perancangan ini berlokasi di Tanah Abang dan memakai metode Pedagogy Linking Space oleh Dr. Kenn Fisher. Fasilitas belajar ini di desain sesuai dengan karakteristik milenial yang suka berkolaborasi dan berdiskusi.
KETERTARIKAN MASYARAKAT PEGADUNGAN TERHADAP PENDALAMAN BAKAT BIDANG SENI SEBAGAI AKTIVITAS SEPULANG SEKOLAH Joshua Christian Chandra; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8578

Abstract

Pegadungan area, West Jakarta is a housing settlement. As a residential area, this area has several educational facilities (schools). But to be able to grow and develop, other facilities are needed such as the development of talent in certain fields that can be visited after school hours. Thus the activities of children after school can be contained positively. At this time the deepening of talent and skills in an academic and non-academic field is one of the important factors in children's development. Besides, Pegadungan Village also has people who are professionals as traders and employees. Where most of the offices in Jakarta are located in the center of the city that has very heavy traffic, the people who work as employees also need a place to take a break from the office world. Through questionnaire methods and theories from the book "The Rise of the Creative Class, Revisited" by Richard Florida, it is known that Pegadungan Village needs a place for refreshing and deepening talent in the arts as well as the development of SMEs. So that with the Project Architecture as The Third place with Development of Interest Activity is expected to be a container that produces creative products from people in Pegadungan Village. Keywords: After school Activity; After School life; Creative; Development of interest; RefreshingAbstrakKelurahan Pegadungan adalah kelurahan dengan zonasi perumahan. Sebagai suatu kawasan perumahan, kelurahan ini memiliki fasilitas pendidikan (sekolah) yang cukup banyak. Namun untuk dapat bertumbuh dan berkembang, diperlukan fasilitas lain seperti pendalaman bakat pada bidang tertentu yang dapat di kunjungi seusai jam sekolah agar aktivitas anak di luar jam sekolah dapat terwadahi dengan positif. Pada saat ini pendalaman bakat dan ketrampilan pada suatu bidang baik dalam akademis maupun non-akademis menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan anak. Selain itu, Sebagian penduduk merupakan orang-orang dengan profesi sebagai pedagang juga karyawan yang membutuhkan tempat untuk rehat sejenak dari dunia perkantoran. Melalui metode kuisioner dan teori dari buku “The Rise Of The Creative Class, Revisited” by Richard Florida diketahui bahwa Kelurahan Pegadungan membutuhkan tempat untuk refreshing dan pendalaman bakat pada bidang kesenian juga pengembangan UKM. Sehingga dengan adanya Project Third Place Architecture dengan mengangkat aktivitas pendalaman bakat pada suatu bidang diharapkan dapat menjadi wadah yang menghasilkan produk-produk kreatif dari penduduk di Kelurahan Pegadungan.
RUANG KEBUGARAN DI PLUIT Jonea Kane Darmanto; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6857

Abstract

Urban where life is full of busyness, forcing people to choose to do everything instantly. Problems that arise include the absence of a social life and lifestyle that does not support the quality of public health. According to a Zipjet Company survey, Jakarta is categorized as the most stressful city and has an impact on deteriorating health and quality of life. Open Architecture is an architectural proposal that discusses The Third place or an intermediate space that is expected to serve the needs of modern urban society. Pluit, North Jakarta one of the areas that has a third place character. The location directly adjacent to the first place and second place in PLuit is one of the reasons for site selection, so presenting a third place project here is expected to be a solution to the regional problem. Projects that provide a platform for the community to be able to come entertain themselves for a moment from the busyness or problems they face. Prioritizing sports programs with the intention of increasing interest in health, with the concept of wellness that is also adjusted to the needs of the surrounding community. So that this project becomes a place of fatigue that also supports the improvement of quality of life. With sports, an activity which in its development can be carried out as an entertaining and enjoyable activity, individuals between individuals can also meet and have the same motivation so that it can also create a community that further strengthens social life among surrounding communities. Abstrak Perkotaan dimana kehidupan di penuh kesibukan, memaksa masyarakat memilih untuk melakukan semua hal dengan instan. Permasalahan yang muncul antara lain adalah tidak adanya kehidupan bersosialisasi dan  pola hidup yang kurang mendukung kualitas kesehatan masyarakat. Menurut sebuah survey Perusahaan Zipjet (2017), Jakarta masuk dalam kategori kota paling stres dan berdampak pada kemerosotan kesehatan serta kualitas hidup. Open Architecture adalah sebuah proposal arsitektur yang membahasa mengenai The Third place atau ruang antara yang diharapkan mampu melayani kebutuhan masyarakat kota modern. Pluit, Jakarta Utara salah satu daerah yang memiliki karakter third place. Lokasi  yang berbatasan langsung dengan first place dan second place di PLuit ini menjadi salah satu alasan pemilihan tapak, Sehingga menghadirkan proyek third place disini diharapkan menjadi solusi permasalahan kawasan. Proyek yang memberi wadah bagi masyarakat untuk  bisa datang  menghibur diri sejenak dari kesibukan atau masalah yang di hadapinya. Mengutamakan program olahraga dengan maksud meningkatkan minat terhadap kesehatan, dengan konsep wellness yang di sesuaikan juga dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Sehingga proyek ini menjadi sebuah tempat pelepas penat yang sekaligus mendukung peningkatan kualitas hidup. Dengan adanya olahraga, sebuah kegiatan yang dalam perkembanganya dapat dilakukan sebagai kegiatan yang menghibur dan menyenangkan, individu antar individu juga dapat bertemu dan  memiliki motivasi yang sama sehingga dapat pula tercipta sebuah komunitas yang semakin mempererat kehidupan sosial antar masyarakat sekitar.
MUSEUM PINISI INDONESIA Calvin De Candra; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3949

Abstract

Indonesia sebagai negara maritim memiliki nilai budaya dan kearifan lokal yang sangat kental didalamnya, kegiatan maritim sendiri merupakan budaya penting yang membentuk Indonesia sejak dulu. Nilai dari budaya maritim tersebut menjadi nilai penting yang perlu di jaga dan di kembangkan yang memiliki potensi dalam perkembangan pariwisata di Indonesia. Kegiatan pariwisata sendiri sudah menjadi pemasukan devisa negara yang cukup siknifikan. Kebudayaan maritim sendiri memiliki nilai pariwisata, dengan tujuan untuk menjaga kebudayaan atau kearifan lokal masyarakan Indonesia dan menjadikan wisata yang bertemakan sejarah dan edukasi sekaligus menjadi daya tarik wisata baik wisatawan domestik maupun wisatawan asing. Museum Pinsi merupakan karya arsitektur yang bertujuan untuk memberikan wisata dengan perpaduan penyampaian teknologi dan koleksi sebagai sarananya. Nilai kebudayaan dalam bidang kelautan dan maritim dicerminkan dengan berbagai media seperi program kegiatan yang diadakan didalam museum, untuk memperdalam aspek tersebut pembentukkan fasad bangunan yang diambil dari filosofi pembuatan kapal itu sendiri yang dipadu dengan penggunaan material fibre cement yang membuat bangunan terlihat kuat, namun tetap memiliki nilai estetik yang terlihat.
KONSEP MIX PROGRAMMING DALAM PENCARIAN TIPOLOGI BARU DESAIN TERMINAL BLOK M Fitriandi Fitriandi; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16976

Abstract

Jakarta as the capital of the Unitary State of the Republic of Indonesia is the center of economy and government. The population of DKI Jakarta province continues to grow every year. One of the causes of population growth is urbanization. Population density also differs between the night population and the day population, where the day population is greater due to the presence of commuters. Human density, activity, and the high use of private vehicles cause the city of Jakarta to become one of the cities with the problem of high congestion in the world. As a step in overcoming congestion, the DKI Jakarta government has built a transportation system in the form of TransJakarta buses, MRT, and LRT to invite private vehicle users to switch to using public transportation. But it turns out that it is not optimal without the improvement of other supporting facilities such as transportation buildings. Driving comfort needs to be supported by building comfort that facilitates intermodal movement. Through the cross programming method Bernad Tschumi the author seeks to discover a new typology of the design of a terminal with Blok M Terminal as a case study. Blok M terminal which used to be just a place to transite will be made into a terminal that not only serves as a transit facility but also as a meeting point facility for transportation system users and the surrounding community. Keywords:  Transit; Cross Programming ; New Typology; Blok M Terminal AbstrakJakarta sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan pusat ekonomi dan pemerintahan. Jumlah penduduk Provinsi DKI Jakarta terus bertambah setiap tahunnya. Salah satu penyebab pertambahan penduduk adalah urbanisasi. Kepadatan penduduk juga berbeda antara penduduk malam dengan penduduk siang, dimana penduduk siang lebih besar akibat hadirnya para komuter. Kepadatan manusia, aktivitas, dan tingginya penggunaan kendaraan pribadi menyebabkan kota Jakarta menjadi salah satu kota dengan persoalan kemacetan tinggi dunia. Sebagai langkah dalam mengatasi kemacetan, pemerintah DKI Jakarta telah membangun sistem transportasi berupa bus TransJakarta, MRT, serta LRT guna mengajak pengguna kendaraan pribadi beralih menggunakan kendaraan umum. Namun ternyata hal tersebut belum optimal tanpa peningkatan fasilitas pendukung lainnya seperti bangunan transportasi. Kenyamanan berkendara perlu didukung dengan kenyamanan bangunan yang memfasilitasi perpindahan antar moda. Melalui metode cross programming Bernad Tschumi penulis berusaha untuk menemukan tipologi baru dari desain sebuah terminal dengan Terminal Blok M sebagai studi kasus. Terminal BLOK M yang dahulu hanya sebagai tempat untuk bertransit akan dibuat menjadi sebuah terminal yang tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas transit namun juga sebagai fasilitas titik temu bagi pengguna sistem transportasi dan masyarakat sekitar.
PENGGUNAAN KONSEP REDESAIN TERHADAP GELANGGANG REMAJA SEBAGAI TEMPAT KETIGA DI KAWASAN BULUNGAN, JAKARTA SELATAN I Dewa Nyoman Artha Wijaya; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8517

Abstract

Bulungan Area, South Jakarta is a very busy area that is always crowd with young people everyday. There are commercial buildings and schools which are a source of crowd in Bulungan area. At night, Beef Curry Rice at Junction (Gultik) become one of the strong characters who create crowds in Bulungan area. Bulungan Youth Arena (GRB) has the potential to become a Third Place, but the existing GRB’s design does not accommodate the requirement to become a third place for young people now. The layout of GRB’s public space makes an exclusive impression because GRB seems to accommodate only arts and sports youth activities. Redesign GRB needs to be done to become the Third Place that has the characteristics of the times and young people from different circle can interact comfortably. The use of the redesign concept is used with the aim of preserving the old memory of GRB, because GRB is a historic building as the first Youth Arena in Indonesia and has a strong relationship with the community that has existed since the 80s, the community is Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ). Performing arts activities, the existence of cafes, relocation of Beef Curry Rice at Junction (gultik) into the site will be inviting more people to come in . The existence of a grand ramp  make circulation be easier and interesting space experiences are expected to increase the interest of young people in exploring GRB.  Keywords:  Beef Curry Rice, Bulungan Youth Arena; Redesign AbstrakKawasan Bulungan, Jakarta Selatan merupakan kawasan yang sangat ramai dan dipenuhi oleh anak muda setiap harinya. Keberadaan bangunan-bangunan komersial dan sekolah menjadi sumber keramaian di kawasan Bulungan. Pada malam hari, pedagang Gulai Tikungan menjadi salah satu karakter kuat yang menjadi pemikat keramaian di kawasan ini dan kawasan ini dapat menjadi sebuah Third Place bagi masyarakat. Gelanggang Remaja Bulungan (GRB) memiliki potensi dijadikan sebuah Third Place, tetapi desain eksisting GRB kurang mewadahi kebutuhan untuk menjadi third place bagi anak-anak muda saat ini. Tata letak bangunan dan ruang publiknya membuat kesan ekslusif karena seolah hanya mewadahi aktivitas kelompok remaja tertentu di bidang seni dan olahraga. Redesain GRB perlu dilakukan agar sesuai sebagai Third Place yang memiliki ciri anak muda dari semua kalangan saat ini. Penggunaan konsep redesain digunakan dengan tujuan mempertahankan memori akan bangunan lama, karena GRB merupakan bangunan yang bersejarah sebagai Gelanggang Remaja pertama di Indonesia dan memiliki hubungan kuat dengan komunitas yang sudah ada sejak tahun 80an yakni Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ). Kegiatan pentas seni, keberadaan kafe, relokasi gulai tikungan (gultik) ke dalam tapak akan menjadi pemikat. Sirkulasi yang mudah dengan keberadaaan grand ramp serta pengalaman ruang menarik diharapkan dapat meningkatkan minat anak muda dalam mengeksplor tempat ini.
PROGRAM KOEKSISTENSI MANUSIA DENGAN ORANGUTAN BORNEO DI HUTAN LINDUNG SAMBOJA LESTARI, KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR Nadia Erica Hindrakusuma; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12321

Abstract

The increase in human population directly impacts the rise of housing needs, resulting in the expansion of human development to other parts of the planet. At some point, these developments might enter wildlife habitats and conservation areas which could cause harm to conservation efforts and the general livelihood of the people. This phenomenon can be expected to occur in the development of Indonesia’s New Capital in North Penajam Paser and Kutai Kartanegara, East Kalimantan, where one of Indonesia’s endemic and critically endangered species makes their home, the Bornean Orangutans. The idea of this experimental project of human-wildlife coexistence gives hope as dwellings for the ever-growing human population while learning to protect and connect with the Orangutans, which also doubles as an in-situ conservation facility in the sanctuary forest of Samboja Lestari. The design method used is bio-inspired by the Orangutans’ wisdom in the ways of the tropical rainforest. The design produces modular dwelling units for researchers, eco-tourist/volunteers, and students; configured to fulfill the spatial needs for both human and wildlife users. Keywords: Bornean Orangutans; Conservation; Inter-species Coexistence; Modular Dwellings; New Capital. AbstrakBertambahnya jumlah manusia berdampak pada penambahan kebutuhan tempat tinggal, sehingga terjadi ekspansi permukiman manusia ke seluruh penjuru Bumi. Pada satu titik, pembangunan tersebut dapat memasuki ranah habitat dan konservasi satwa liar yang dapat merugikan baik bagi upaya konservasi alam, maupun bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Fenomena tersebut dapat diprediksikan terjadi pada rencana pembangunan IKN (Ibu Kota Negara) Indonesia baru di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dimana salah satu spesies endemik terancam punah Indonesia berada, yaitu Orangutan Borneo.Usulan proyek eksperimental koeksistensi antar spesies ini diharapkan dapat menjadi dwelling bagi manusia yang kian berkembang untuk belajar melindungi dan memahami Orangutan, dimana proyek ini juga sebagai salah satu fasilitas pendukung upaya konservasi in situ di hutan lindung Samboja Lestari. Metode yang digunakan berupa bio-inspired dari cara hidup Orangutan yang lebih bijak dalam hidup di hutan hujan tropis. Hasil dari desain berupa unit-unit dwelling moduler bagi ilmuwan, eco-tourist/relawan lingkungan, dan pelajar; dikonfigurasikan agar dapat memenuhi kebutuhan ruang baik bagi manusia maupun satwa liar.