Vincent Vincent
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FASILITAS KEBUGARAN JASMANI DI KELURAHAN KALIDERES Vincent Vincent
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8539

Abstract

Human social life connected with the growth of the city itself, day now people in common are individualist so the idea of third place come up by sociologist Ray Oldenberg. According to Ray Oldenberg place divide into three, first place is a home, second place – workplace, and third place the place where you can relaxing, hangout, and socialize with the other. Third place have an important role to strengthen social relation, but third place day now is more focus on commercial activities, for example mall, café (Starbuck), bar or restaurant (Mcd) with the target market is upper middle class people so it create sense of ‘unwilling’ to lower middle class people to come to  the same place. This problem could cause social gap and third place no longer open for everyone (neutral). To answer this problem, writer designing SPA & Wellness Facility at Kalideres as third place for people in Kalideres region. This facility provide relaxation facility that can be enjoyed for free nor paid. The free facility consist of park, gymnastics area and shallow water pool for relaxation, this free facility is intended so the lower middle class people at Kalideres can enjoyed the third place facility. For the paid facility consist of gymnastics facility, hair treatment, pantry and SPA (massage, bath and pool).Keyword : Facility; Neutral; Relaxation; Third PlaceAbstrakKehidupan sosial manusia berhubungan dengan perkembangan kotanya, saat ini masyarakat pada umumnya bersifat individualis sehingga muncul isu mengenai third place yang diciptakan oleh Sosiolog Ray Oldenberg. Menurut Ray Oldenberg place dibagi menjadi tiga, yaitu first place yang merupakan rumah, second place -tempat bekerja, dan third place yang merupakan tempat untuk bersantai (hangout), berelaksasi dan bersosialisasi. Third place mempunyai peran yang penting untuk mempererat hubungan sosial, akan tetapi third place yang kita temui hari-hari ini di Jakarta lebih fokus kepada aktivitas komersial seperti mall, café (Starbuck), bar atau restoran (Mcd) dengan target marketnya adalah orang menengah ke atas sehingga menimbulkan rasa ‘segan’ bagi orang menengah ke bawah untuk datang ke tempat yang sama. Hal ini kemudian menciptakan kesenjangan sosial dan membuat third place tidak bisa dikunjungi semua orang. Untuk itu menjawab persoalan ini, penulis merancang Fasilitas Kebugaran Jasmani di Kalideres sebagai third place bagi masyarakat Kelurahan Kalideres. Fasilitas ini menyediakan fasilitas relaksasi yang dapat dinikmati secara tidak berbayar maupun berbayar. Fasilitas yang tidak berbayar meliputi area taman, area senam dan area relaksasi di kolam air dangkal, hal ini bertujuan agar orang menengah ke bawah di Kelurahan Kalideres juga dapat menikmati fasilitas third place. Untuk fasilitas yang berbayar terdiri dari fasilitas GYM, salon, pantry dan SPA (pijat, pemandian dan kolam renang).
PENERAPAN AKUPUNKTUR KOTA TERHADAP PEMULIHAN PASAR IKAN HEKSAGON MELALUI ARSITEKTUR KESEHARIAN Vincent Vincent; Ignatius Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21775

Abstract

Re-Unite Bahari is the title of an urban acupuncture architectural project that was carried out with the aim to restore the Hexagon Fish Market which was physically degraded. Borrowing the everydayness method formulated by Lefebvre and Crawford, the architecture in this project begins by observing the daily activities that occur in this fish market. This fish market was once a meeting point that triumphed during the VOC administration where every citizen from various backgrounds gathered to carry out their daily activities. Activities in this fish market then began to be hampered since the opening of a new fish auction hall on Jalan Pasar Ikan. This then triggered the degradation in the Hexagon Fish Market which continues to this day. The daily life of the market was stopped and the banal daily life of the urban nomads begins by living on the edge of the fish market building. The Hexagon Fish Market can then be defined as a third landscape according to Marco Casagrande's dissertation on urban acupuncture. The third landscape, as stated by Casagrande, is a natural place in urban areas that has great potentials to be reprogrammed as an agent to improve a stagnant urban area. Due to the condition of the Hexagon Fish Market which already reflects the character of a third landscape, this location was appointed as an urban acupuncture project. To answer the issue of urban acupuncture, the everydayness method was then developed by integrating the daily life of two timelines, namely the past which is characterized by the tradings of the market, and the present which is characterized by the banality of the urban nomads. The results of this project are intended to give new meaning through the everydayness reflected in the Re-Unite Bahari project which is carried out with a simple, small, and down-to-earth design idea. Keywords: down-to-earth; everydayness; market trade; urban nomads Abstrak Re-Unite Bahari merupakan judul proyek arsitektur urban acupuncture yang dilakukan dengan tujuan untuk memulihkan Pasar Ikan Heksagon yang sedang mengalami degradasi secara fisik. Dengan meminjam metode arsitektur keseharian dari Lefebvre dan Crawford, arsitektur di proyek ini dimulai dengan mengamati dahulu aktivitas keseharian yang terjadi di pasar ikan ini. Pasar ikan ini dahulunya merupakan titik temu yang berjaya di masa pemerintahan VOC di mana setiap warga dari berbagai kalangan berkumpul untuk menjalankan aktivitas keseharian. Aktivitas di pasar ikan ini kemudian mulai terhambat sejak dibukanya tempat pelelangan ikan baru di jalan Pasar Ikan. Hal ini kemudian memicu degradasi di Pasar Ikan Heksagon yang berlangsung hingga pada hari ini. Keseharian pasar dihentikan dan dimulailah keseharian banal yang dijalankan oleh warga nomaden dengan menetap di tepi bangunan pasar ikan. Jika ditinjau dari disertasi Marco Casagrande mengenai urban acupuncture, Pasar Ikan Heksagon dapat didefinisikan sebagai third landscape. Di mana third landscape menurut Casagrande merupakan sebuah tempat alami di perkotaan yang memiliki potensi besar untuk diprogramkan ulang sebagai agen untuk mengubah sebuah kawasan yang stagnant. Oleh karena kondisi Pasar Ikan Heksagon yang sudah mencerminkan karakter sebuah third landscape, maka lokasi ini diangkat sebagai proyek urban acupuncture. Untuk menjawab persoalan mengenai urban acupuncture, metode arsitektur keseharian kemudian dikembangkan dengan menggabungkan keseharian dari dua linimasa, yaitu masa lalu yang ditandai dengan keseharian niaga pasar, dan masa kini yang ditandai dengan keseharian banal dari warga nomaden. Hasil dari proyek ini ditujukan untuk memberikan makna baru melalui keseharian yang disatukan ke dalam proyek Re-Unite Bahari yang dijalankan dengan ide perancangan yang sederhana, kecil, dan membumi.