Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HIVE CITY : KONSERVASI DAN WISATA PADA KAWASAN KECAMATAN CILEUNGSI BOGOR Aldo Linardi; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12351

Abstract

Doomsday is a condition in which all the life of this world ends. Everything in this world is sure to end someday but this incident can happen much faster. Human neglect and greed in dealing with the surrounding ecology can accelerate the end of the world. This world is filled with various kinds of living things ranging in size from large to small, each creature has its own role and is related to one another. Currently 40% of the insect population is threatened with extinction and if the insects become extinct there will be a mass extinction of living things, this is called the Insect Doomsday. This can occur because insects play an important role in pollination, pest control, waste processing, and decomposers as well as a source of food in the ecosystem. This project uses the Biomimicry method which uses the geometric shape of the characteristics of the honeycomb. The resulting geometric shape becomes a metaphor for the insects to live in. The basic concept of this project is to create an open conservation that can increase the bee and butterfly population in the Cileungsi Area and become a place for insects that have lost their food sources due to changes in the function of the green area. Rapid action is needed to prevent the decline in insect populations in order to prevent the Insect Doomsday. The authors designed the project on the basis of Beyond Ecology. With conservation projects and insect tourism, it can increase insect populations and increase biodiversity by using horticulture that uses insects to develop its plants.  Keywords: Insect Doomsday; Conservation; Beyond Ecology Abstrak Kiamat adalah sebuah kondisi dimana seluruh kehidupan dunia ini berakhir. Segala sesuatu di dunia ini pasti suatu saat akan berakhir akan tetapi kejadian ini bisa terjadi jauh lebih cepat. Kelalaian dan ketamakan manusia dalam berhubungan dengan ekologi sekitar dapat mempercepat akhirnya dunia. Dunia ini diisi dengan berbagai macam makhluk hidup mulai dari ukuran besar sampai kecil, setiap makhluk mempunyai perannya masing-masing dan saling berkaitan. Saat ini 40% populasi serangga terancam punah dan jika serangga punah maka akan terjadi kepunahan masal makhluk hidup, inilah yang disebut dengan Kiamat Serangga. Hal tersebut dapat terjadi karena serangga memegang peran penting dalam penyerbukan, pengontrol hama, pengolah limbah, dan decomposer serta sumber makanan dalam ekosistem. Proyek ini menggunakan metode Biomimikri yang menggunakan bentuk geometri dari karakteristik sarang lebah. Bentuk Geometri yang dihasilkan menjadi metafora tempat tinggal para serangga. Konsep dasar dari proyek ini adalah menciptakan sebuah konservasi terbuka yang dapat menambah populasi serangga lebah dan kupu-kupu di Kawasan Cileungsi serta menjadi tempat bagi serangga yang kehilangan sumber makanan akibat perubahan fungsi kawasan hijau. Diperlukan aksi cepat dalam mencegah penurunan populasi serangga dalam mencegah Kiamat Serangga penulis merancang proyek dengan basis Beyond Ecology.  Dengan proyek konservasi dan wisata serangga dapat menambah populasi serangga serta menambah keanekaragaman hayati dengan hortikultura yang menggunakan serangga dalam mengembangkan tumbuhannya. 
PENDEKATAN KONSEP “MENYAMA BRAYA” RUANG BERSAMA INDONESIA KELURAHAN KENDRAN, BULELENG, BALI Maria Veronica Gandha; Irene Syona Darmady; Agustinus Sutanto
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/84z59171

Abstract

Pendekatan Arsitektur keseharian sering dilakukan sebagai pendekatan sebuah desain. Arsitektur keseharian pada perancangan 2 dimensi keruangan Ruang Bersama Indonesia memakai pendekatan konsep “Menyama Braya” yang merujuk pada kehidupan keseharian lokal masyarakat Kendran di Buleleng, Bali. Masyarakat Bali secara turun temurun telah memiliki penghayatan budaya keseharian yang kuat. Penghayatan budaya masyarakat Bali membangun keharmonisan sosial dan kebersamaan yang terintegrasi pada semua aspek kehidupan masyarakat Bali menjadi fokus pendekatan Ruang Bersama Indonesia di Kendran. Ruang Bersama Indonesia (RBI) yang digagas oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenP3A) mempunyai tujuan untuk mewujudkan kota – kota di Indonesia yang ramah anak dan perempuan. Tujuan dari RBI Kendran melalui ruang keseharian masyarakat kelurahan Kendran dengan pendekatan konsep “Menyama Braya” adalah untuk dapat mewujudkan ruang bersama yang mempunyai keharmonisan sosial dan kebersamaan baik antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam maupun manusia dengan Tuhan. Konsep “Menyama Braya” dipakai untuk mewujudkan perancangan ruang 2 dimensi di RBI Kendran yang dapat menampung kegiatan sosial, interaksi, edukasi, seni dan budaya yang sesuai dengan kriteria RBI dari KemenP3A. Pendekatan konsep ini dilakukan dengan metode survei, pengamatan aktivitas, pengamatan keruangan dan wawancara kepada semua unsur masyarakat dan aktivitas di Kelurahan Kendran pada waktu yang berbeda. Hasil analisis dari metode ini diharapkan dapat menghasilkan perancangan ruang 2 dimensi RBI yang ramah anak dan perempuan dapat diwujudkan sesuai dengan karakter keseharian dan kelokalan masyarakatnya yaitu “Menyama Braya”.