Felicia Setiawan
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PAVILIUN KEBUDAYAAN BETAWI Felicia Setiawan; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6767

Abstract

Most people are trapped by their monotonous activities, they tend to look for more practical entertainment through smart phones, the internet or television. That might  reduce  the real meaning of social interaction. The existence of public space itself is one of many factors that encourgage people to do social interaction. Therefore, as what the author has read in  a literature study, that third place able to be one of the bridges of social interaction. Third Place provides a catalyst space between home and work, making the third place a comfortable haven. Third Place is not a place of work or home, but a place to relax that can allow you to have a open community life. The selection of a cultural center as a third place because the cultural center can pour various expressions of human needs, dreams and desires. In addition, the location of the site is next to Taman Ismail Marzuki. Seeing that there are several programs that cannot be accommodated by Taman Ismail Marzuki and the need to reintroduce Betawi cultural values that are starting to fade in the present,  encouragge us to create programs that can support this. The design method used by this project is the dis-programming method, a program that is mutually contaminating with other programs, The location is close to the education center and cultural the center which drives both programs to support one another, here the writer combines programs in the cultural center with educational programs such as dance studios, music studios and libraries. AbstrakSebagian besar masyarakat terjebak dengan aktivitas mereka yang monoton, mereka cenderung mencari hiburan yang lebih praktis melalui ponsel pintar, internet atau televisi. Hal tersebut mengurangi esensi dari interaksi sosial yang seharusnya dilakukan. Keberadaan ruang publik sendiri merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong terjadinya interaksi sosial. Oleh karena itu penulis melakukan studi literatur, berdasarkan hasil studi penulis dapat menyimpulan bahwa third place dapat menjadi salah satu jembatan interaksi sosial. Third Place menyediakan ruang katalis antara rumah dan tempat kerja, menjadikan third place sebagai tempat singgah yang nyaman. Third Place bukanlah tempat kerja ataupun rumah, melainkan tempat bersantai yang dapat memungkinkan kehidupan komunitas yang terbuka. Pemilihan pusat kebudayaan sebagai third place dikarenakan pusat budaya dapat menuangkan berbagai ekspresi kebutuhan manusia, mimpi dan keinginan. Selain itu, lokasi tapak berada disebelah Taman Ismail Marzuki. Melihat ada beberapa program yang belum dapat diakomodir oleh Taman Ismail Marzuki dan perlunya pengenalan kembali akan nilai-nilai budaya betawi yang mulai pudar di zaman sekarang, mendorongnya diciptakan program – program yang dapat mendukung hal tersebut. Metode perancangan yang digunakan proyek ini adalah metode dis-programming, program yang sifatnya saling mengkontaminasi dengan program lainnya. Letak tapak yang dekat dengan pusat pendidikan dan pusat kebudayaan mendorong terjadinya program yang saling mendukung satu sama lain, disini penulis menggabungkan program yang ada di pusat kebudayaan dengan program pendidikan seperti studio tari, studio musik dan perpustakaan.
STASIUN RELAKSASI Felicia Setiawan; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10837

Abstract

Jakarta is a city that is included in the 150 most stressful cities in the world and Jakarta is in the 6th position as the most stressful city in the world. Stress has become an inherent issue in big cities and Jakarta is one of these cities. People in Indonesia, especially in Jakarta, still underestimate mental health. Because people who experience and feel stress do not have the right place to treat stress. So that the impact of untreated stress can have a negative impact on the individual and the people around. By providing a place to pay more attention to stress problems in Jakarta, it is hoped that people will no longer be taboo in consulting and treating stress problems experienced by someone. So that the relaxation station is a program that is offered to provide a healing process for people who are experiencing stress, especially in the city of Jakarta, so that people who undergo the healing process at this relaxation station are expected to achieve mental and physical relaxation and can reduce significant stress levels for their visitors. The use of the biophilic design method in this design is very important in healing to reduce stress levels in a person. Apart from using the biophilic design method, the concept of architecture and the sense is also used where this concept involves the human senses to participate in reducing stress mentally and psychologically. Keywords:  Biophilic Design; Healing; Relaxation; Stress AbstrakJakarta merupakan kota yang termasuk ke dalam 150 kota paling stress di dunia dan Jakarta berada di urutan ke 6 sebagai kota paling stress di dunia. Stress sudah menjadi sebuah isu yang melekat di perkotaan besar dan jakarta salah satu kota tersebut. Masyarakat di Indonesia khususnya di Jakarta ini masih memandang kesehatan mental secara sebelah mata. Karena orang-orang yang mengalami dan merasakan stress tidak memiliki wadah yang tepat untuk mengobati rasa stress tersebut. Sehingga dampak stres yang tidak diobati dapat berdampak buruk terhadap individu maupun orang-orang disekitarnya. Dengan memberikan wadah untuk lebih memperhatikan masalah stress di Jakarta ini, diharapkan orang-orang tidak lagi tabu dalam mengkonsultasikan dan mengobati masalah stress yang di alami seseorang. Sehingga stasiun relaksasi merupakan program yang ditawarkan untuk memberikan proses healing kepada orang-orang yang mengalami stress khususnya di kota Jakarta sehingga orang yang menjalani proses healing di stasiun relaksasi ini diharapkan akan mencapai relaksasi secara pikiran dan fisik dan dapat mengurangi tingat stress yang signifikan untuk para pengunjungnya. Penggunaan metode biophilic design pada perancangan ini sangat berperan penting dalam healing untuk menurunkan tingkat stress pada seseorang. Selain menggunakan metode biophilic design di gunakan juga konsep architecture and the sense dimana konsep ini melibatkan indra dari manusia untuk ikut dalam menurunkan stress secara mental dan psikologis.