Sidhi Wiguna Teh
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

MARINE AGRO-RESEARCH & EDUCATION CENTER Theodorus Margareth Milenia; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12485

Abstract

As a maritime country, most of Indonesia's territory is vast waters, with a sea territorial area wider than its land territory, namely the archipelago 2/3 of the territory in Indonesia is ocean and 1/3 is land. This makes Indonesia one of the countries that has great potential in the marine sector. Indonesia has a wealth of abundant marine natural resources. For several centuries, the centers of economic growth and civilization in the territory of Indonesia have had political and economic power based on marine resources. However, along with the large potential of the sea, various problems also arise, one of which is the problem of plastic waste in the ocean. Therefore, a solution is needed to reduce the accumulation of plastic waste in the sea and the need for optimal processing and utilization of marine resources so that Indonesia becomes a strong maritime country. The program in the Marine Life Agro- Research & Education Center (MAREC) focuses on research & seaweed cultivation for the manufacture of bio-degradable plastics and recreational education that aims to reduce the use of conventional plastics to prevent the accumulation of plastic waste in the sea and maintain marine ecosystem populations, while education The center is a tourist place that serves to attract visitors to the project. This project is integrated and is supporting the Oceanographic Research Center by the Indonesian Institute of Sciences. Keywords : Bio Degradable; Livelihoods; Maritime; Natural Resources; Plastic Waste; Processing; Research; Seaweed; Tourism; Water AbstrakSebagai negara maritim, sebagian besar wilayah Indonesia merupakan perairan yang luas, dengan daerah teritorial lautnya lebih luas daripada daerah teritorial daratnya, yaitu kepulauan 2/3 wilayah di Indonesia berupa lautan dan 1/3 nya berupa daratan. Hal ini menjadikan Indonesia salah satu negara yang memiliki potensi besar di bidang kelautan. Selama beberapa abad, pusat - pusat pertumbuhan ekonomi dan peradaban di wilayah Indonesia memiliki kekuatan politik dan ekonomi dengan berbasis sumber daya laut. Tetapi, seiring dengan besarnya potensi laut juga timbul berbagai permasalahan, salah satunya masalah sampah plastik yang terdapat di lautan. Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk mengurangi penumpukan limbah plastik di laut serta perlunya pengolahan dan pemanfaatan sumber daya laut secara optimal agar Indonesia menjadi negara maritim yang kuat. Program dalam Marine Life Agro-Research & Education Center (MAREC) berfokus pada kegiatan riset & budidaya rumput laut untuk pembuatan plastik bio degradable dan edukasi rekreatif yang bertujuan mengurangi penggunaan plastik konvensional untuk mencegah menumpuknya sampah plastik di laut dan menjaga populasi ekosistem laut, sedangkan education center merupakan tempat wisata yang berfungsi untuk menarik pengunjung ke proyek. Proyek ini terintegrasi dan bersifat supporting terhadap Pusat Penelitian Oseanografi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
FUNCTION: PEMBELAJARAN BERBASIS EKSPLORASI Harvanessa Aprilia; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4568

Abstract

Several studies stated that the learning style of the millennials dominates visually and kinesthetically, approaching group system or communities wherein millennials generally enjoy the interaction and sharing learning environments rather than reading books. This generation is described as a generation that is fast and practical, looking for fun, technology savvy but also categorized as a generation that is dependent on technology and has a short attention span. With the development of this instant society, not a few among the milenial that do not appreciate the process, instead they focus on directly jumping onto the final results, wherein the quality of a process does not only determines the quality of the final result but it actually triggers a sense of ownership and respect for what is being produced. Based on the results of the research that has taken place, a creative space is needed to provide the younger generation for devoting their creativity through the whole process. Makerspace contains self-made aspects that trigger ownership and sharing as well as experiments that are compatible with working and learning styles of millennials. Makerspace is a program that is considered not only suitable but also popular in the creative industry world and is very attractive to the generations of millennials in creativity aspects. Combining science, art, and aesthetics which will not only support the process of thinking in the world of education but as well as raise their moral values such as respect. It is essential to be able to appreciate every process that goes through as learning, both the process of work done personally and in groups.AbstrakDalam beberapa literatur menyatakan bahwa learning style generasi milenial lebih mendominasi secara visual dan kinestetik, mengarah kepada komunitas, sehingga umumnya mereka lebih menikmati interaksi dan sharing learning environment dari pada membaca buku.  Generasi ini dideskripsikan sebagai generasi yang serba cepat dan praktis dalam mencari kesenangan. Cerdas teknologi tetapi juga dikategorikan sebagai generasi yang tergantung pada teknologi, serta memiliki rentang perhatian yang pendek. Dengan perkembangan yang serba instan, tidak sedikit dari generasi milenial yang kurang menghargai proses dan hanya berfokus pada hasil akhir, padahal kualitas sebuah proses tidak hanya menentukan kualitas hasil akhir tapi juga memicu rasa kepemilikan dan rasa menghargai terhadap apa yang dihasilkan. Berdasarkan hasil studi yang telah berlangsung, maka dibutuhkan wadah dimana generasi muda dapat mencurahkan kreativitasnya melalui proses. Makerspace mengandung unsur self-made yang memicu rasa kepemilikan dan unsur sharing, serta experiment yang sesuai dengan working and learning style of millennials. Makerspace merupakan salah satu program yang dianggap bukan hanya cocok namun juga sedang popular didunia industri kreatif dan sangat menarik perhatian generasi milenial dalam aspek kreativitas.  Mengkombinasi antara ilmu pengetahuan, seni dan estetika tidak hanya akan mendukung proses berfikir dalam dunia pendidikan namun juga meningkatkan nilai-nilai moral seperti menghargai. Mampu menghargai setiap proses yang dilalui sebagai pembelajaran, baik proses pengerjaan yang dilakukan pribadi maupun kelompok.
WIYATA TAMAN REKREASI KESEHATAN Artaxerxes Christopher Lee; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DKI Jakarta as the capital of Indonesia, making Indonesia the most populous city which reaches 15.7 thousand inhabitants / km2, has the highest air safety in the world which reaches 194 Air Quality Indexes.  Air pollution resulting from ARI in the Jakarta area reached 1,817,579 cases in 2018. The problem is the need for a healthy management of life for the people of DKI Jakarta. City densities are the highest deceleration sites for many cities.  The third place is good for the health of the city masayarkat such as parks, recreation, sports, eating places.  Environmental Education to celebrate the Environment in order to establish an understanding of good and right planting, and planting that is most beneficial for the city, so that air pollution in DKI Jakarta can be reduced and produce healthy lungs for the people of DKI Jakarta. Menteng Subdistrict, Mentahan Ward, Central Jakarta Administration City, DKI Jakarta, Public transportation center is located in Menteng sub-district where this area can be an attraction for tourists, workers and other visitors who use public transportation. The highest disease in this district is ARI which is a problem in air pollution. The important thing in designing in Menteng District is traffic jam and motorcycle taxi or online taxis that park irregularly because there is no base camp in the public transportation point area. So that with the existence of a third place for the central point of public transportation is needed as an intermediary place for congestion and a place to gather with family, friends, and others. AbstrakDKI Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia, menjadikan kota terpadat di Indoneisa yang mencapai 15,7 ribu jiwa /km2, memiliki polusi udara tertinggi di dunia yang mencapai 194 Us Air Index Quality. Polusi udara yang tinggi mengakibatakan penyakit ISPA di kawasanan DKI Jakarta mencapai 1.817.579 kasus pada tahun 2018. Sehingga perlunya pengelolaan hidup yang sehat bagi masyarakat DKI Jakarta. Kepadatan kota yang tinggi mengakibatkan perlunya tempat ketiga bagi banyarakt kota. Tempat ketiga yang baik untuk kesehatan masayarkat kota seperti taman, rekreasi, olahraga, tempat makan. Edukasi lingkungan untuk mencintai lingkungan agar terjalinnya pengertian dalam penanaman yang baik dan benar, dan penanaman yang paling bermanfaat bagi kota, agar polusi udara di DKI Jakarta dapat berkurang dan menjadikannya paru-paru kota yang sehat bagi masyarakat DKI Jakarta. Kawasan Kecamatan Menteng, Keluarahan Menteng, Kota Adminitrasi Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Titik pusat transportasi umum berada di kecamatan Menteng yang dimana kawasan ini dapat menjadi daya Tarik bagi wisatawan, perkerja, dan pengunjung lainnya yang menggunakan transportasi umum. Penyakit di kecamatan ini paling tinggi adalah ISPA yang menjadi masalah dalam polusi udara. Hal yang penting dalam perancangan di Kecamatan Menteng adalah kemacetan dan ojek atau taksi online yang parkir tidak teratur karena tidak adanya penyediaan base camp pada area titik transportasi umum.  Sehingga dengan adanya tempat ketiga bagi kawasan titik pusat transportasi umum sangat di butuhkan sebagai tempat perantara kemacetan dan tempat berkumpul bersama keluarga, teman, dan lain-lain.
SARANA OLAHRAGA DAN PUJASERA “LOOP” Maria Carol; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10796

Abstract

The emerge of the new generations intensify the change of lifestyle and growth. This phenomenon can be seen from people’s awareness of health, especially in sport and food they’re consume. This is also catalysed by the world’s pandemic, Covid-19. On the other hand, there’re still inadequate facility and support (low supply), compared to people’s urge to participate in sport and healthy living (high demand), and also the fast foods’ or junk foods’ high supply. Therefore, spaces and facilities are needed to accommodate the people’s and the new generation’s urge for a better living ahead. Using hybrid method, two different system can be conjoined, developing a new system so that one can enjoy, appreciate, and their needs become accommodated. The union between the indoor & outdoor sport facility and the food area providing choices of healthy foods will become one-of-a-kind attraction to the visitors and users. Keywords: Facility, Food; Healthy Living; Generations; Sport  AbstrakMunculnya generasi baru memperkuat perkembangan dan pergeseran pola hidup. Fenomena ini dapat dilihat dari mulai meningkatnya kesadaran akan pentingnya cara hidup sehat, khususnya olahraga dan asupan makanan sehat. Hal ini kemudian dipercepat lagi perkembangannya dengan adanya pandemi Covid-19 ini. Namun fasilitas dan penunjang pola hidup seperti ini masih jauh lebih sedikit (low supply) dibanding dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam sektor olahraga (high demand) dan tingginya supply makanan cepat saji (high supply) yang kurang sehat yang dapat dilihat dari tingkat pengeluaran per kapita masyarakat terhadap makanan cepat saji. Oleh karena itu dibutuhkannya wadah dan fasilitas yang diharapkan dapat mengakomodasi pergeseran gaya hidup generasi kini maupun yang akan datang. Dengan menggunakan metode hybrid, wadah yang dibutuhkan dapat digabungkan sehingga menghasilkan suatu wadah yang baru yang kemudian dapat digunakan untuk menikmati, mengapresiasi, serta mewadahi kedua sektor tersebut. Kesatuan antara fasilitas olahraga baik dalam ruang maupun luar ruang dan area pujasera yang menyediakan makanan-makanan yang juga ikut mendukung pola hidup sehat, dapat menjadi daya tarik tersendiri dari bangunan bagi pengunjung dan pengguna.
PENDEKATAN KONSEP TOD DALAM DESAIN FASILITAS PUSAT TRANSPORTASI PUBLIK DAN RUANG KOMUNAL DI RAWA BUAYA Filip Julianus Sudjana; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12474

Abstract

The population circulation network is an important matter regarding the modes of transportation and mobility of the population owned by a city. If this network is bad, it will lead to decreased access for pedestrians, waste of motor vehicle fuel, and worsening of the level of air quality in the city. The Swamp Crocodile area is an area that has many modes of transportation. However, this mode of transportation is not well organized, creating congestion points in this area. The concept of Transit Oriented Development (TOD) was created as a solution for sustainable urban development in terms of transportation that focuses on circulation and accessibility. The TOD concept is very suitable to be applied to terminals in the city of Jakarta, which have criteria for using TOD-based terminals. This Transit Oriented Development (TOD) area will help people in the city of Jakarta, especially the Rawa Buaya area, West Jakarta to create a pedestrian-friendly mode of transportation that can connect areas in this area. The design method used is based on existing precedents and will take direct examples of user experiences from several successful transportation hubs. This design is expected to increase public interest in using public transportation and help reduce congestion in the city. Keywords: accessibility; transportation hub; transit oriented development; Rawa Buaya Abstrak Jaringan sirkulasi penduduk adalah hal penting yang menyangkut moda transportasi dan mobilitas penduduk yang dimiliki suatu kota. Bila jaringan ini buruk, akan menyebabkan menurunnya akses bagi pejalan kaki, pemborosan bahan bakar kendaraan bermotor, serta memburuknya tingkat kualitas udara dalam kota. Daerah Rawa Buaya merupakan daerah yang terdapat banyak moda transportasi. Tetapi, moda transportasi ini kurang tertata dengan baik sehingga menciptakan titik kemacetan pada kawasan ini. Konsep Transit Oriented Development (TOD) diciptakan sebagai salah satu solusi pembangunan kota yang sustainable dalam hal transportasi yang berfokus pada sirkulasi dan aksesibilitas. Konsep TOD ini sangatlah cocok untuk diterapkan untuk terminal yang ada di kota Jakarta, yang memiliki kriteria untuk menggunakan terminal berbasis TOD. Kawasan Transit Oriented Development (TOD) ini akan membantu masyarakat dalam kota Jakarta khususnya daerah Rawa Buaya, Jakarta Barat untuk menciptakan moda transportasi yang ramah pejalan kaki dan dapat menghubungkan wilayah-wilayah pada kawasan ini. Metode desain yang digunakan berdasarkan preseden yang sudah ada akan mengambil contoh langsung pengalaman pengguna dari beberapa pusat transportasi yang sudah berhasil. Perancangan desain pusat transportasi ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan transportasi umum dan membantu mengurangi kemacetan dalam kota.
FASILITAS TRANSIT RAWA BUAYA Cindy Herlim Santosa; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6841

Abstract

Jakarta is the second most populous city in the world with a population density of 10 million people in 2017. Density causes rapid development in the Jakarta area without any planning. The development that occurs makes the boundaries between office zoning located in the downtown area and residential zones located on the edge of the city. The zones formed have resulted in increased mobility that can be seen from vehicle ownership, transportation modes, and traffic congestion in Jakarta. Charles Montgomery in the book Happy City said that high congestion causes a decline in health that occurs due to stress for the community of public transportation modes. One way to reduce stress is to socialize according to Adhiatma and Christianto (2019). Third Place or social space becomes a solution for socializing for the public transportation community. The Third Place concept can be felt more by the public transportation community, where they can feel the difference between the housing zone and the office zone. The transit or transit place that is formed will be a social space that is used without differentiating social status. One of them is the transit facility located in Rawa Buaya. The Rawa Buaya transit facility is designed using qualitative data collection techniques and cross programming in design planning. The method used produces three main programs that emphasize service, entertainment and commercial functions, which shape social interaction, gathering space, and space for interaction between Rawa Buaya bus terminal communities. AbstrakJakarta merupakan kota kedua terpadat di dunia dengan kepadatan penduduk mencapai 10 juta jiwa pada tahun 2017. Kepadatan menimbulkan perkembangan yang cepat di wilayah Jakarta tanpa adanya perencanaan. Perkembangan yang terjadi membuat batasan antar zonasi perkantoran yang berada di daerah pusat kota dan zona hunian yang berada di pinggir kota. Zona yang terbentuk mengakibatkan peningkatan pergerakan mobilitas yang dapat dilihat dari kepemilikan kendaraan, pengguna moda transportasi, dan kemacetan yang terjadi di Jakarta. Charles Montgomery dalam buku Happy City mengatakan mengenai kemacetan yang tinggi menimbulkan penurunan kesehatan yang terjadi akibat stress bagi kaum komunitas moda transportasi umum. Salah satu cara mengurangi stress adalah dengan bersosialisasi menurut Adhiatma dan Christianto (2019). Third Place atau ruang sosial menjadi solusi untuk bersosialisasi bagi komunitas transportasi umum. Konsep Third Place dapat lebih dirasakan oleh komunitas transportasi umum, dimana mereka dapat merasakan perbedaan zona perumahan dengan zona perkantoran. Tempat transit atau tempat singgah yang terbentuk akan menjadi ruang sosial yang digunakan tanpa membedakan status sosial. Salah satunya fasilitas transit yang berada di Rawa Buaya. Fasilitas transit Rawa Buaya dirancang dengan menggunakan teknik pengumulan data kualitatif dan cross-programming dalam perencanaan perancangan. Metode yang digunakan menghasilkan tiga program utama yang menekankan pada fungsi pelayanan, hiburan, dan komersil, yang membentuk interaksi sosial, ruang berkumpul, dan ruang untuk berinteraksi antar komunitas terminal bus Rawa Buaya.
KANTOR EQUIPOISE: MENYEIMBANGKAN KEHIDUPAN BEKERJA DAN BERKELUARGA Judelia Kusuma Halim; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4437

Abstract

Millennials behavior is currently being shaped by the life cycle effect, in which they are setting out for the third stage of life with a focus on career improvement and starting a family. Equipoise Office is a space facilitating millenials in achieving and balancing those life goals. Equipoise Office is an office building, divided into two-towers by applying transprogramming in design to produce a new program that can be experienced by millennials. It is designed in a form that symbolizes parents and children as the main concept that reflects the mix of programs in it. The second skin is added as an element that aids in reducing heat and light that enters the building. Zone division is designed based on user analysis in accordance with the method used, intended to provide space experience to users and visitors efficiently with the embodiment of architecture in the form of light, shadow, material, color, texture, and shape of space. Abstrak Saat ini, perilaku generasi milenial dipengaruhi oleh life cycle effect, di mana mereka sedang memulai di tahap kehidupan ketiga dengan fokus meningkatkan karir serta memulai kehidupan berkeluarga. Kantor Equipoise merupakan sebuah wadah bagi mereka untuk dapat mencapai dan menyeimbangkan tujuan kehidupan tersebut. Kantor Equipoise merupakan sebuah kantor yang terbagi menjadi 2 tower dengan penerapan transprogramming dalam desain untuk menghasilkan sebuah program baru yang dapat dialami oleh generasi milenial. Kantor Equipoise didesain dengan bentuk yang melambangkan orang tua dan anaknya sebagai konsep utama yang mencerminkan paduan program di dalamnya. Penambahan second skin ditujukan sebagai elemen yang membantu mengurangi panas dan cahaya yang masuk ke dalam bangunan. Desain pembagian zona didasarkan pada analisis pengguna sesuai dengan metode yang digunakan, bertujuan untuk memberikan pengalaman ruang kepada pengguna maupun pengunjung secara efisien dengan perwujudan arsitektur berupa cahaya, bayangan, material, warna, tekstur, serta bentuk ruang.
OMAH RAJUT ASA Dessyanna Natalie; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.17243

Abstract

School of Therapy for Autistic Children is an educational institution ranging from kindergarten (TK), elementary school (SD), junior high school (SMP), and senior high school (SMA) in Jakarta which is devoted to Children with Autism. The background underlying this design is because educational facilities for children with autism  are classified as inadequate and have not been able to meet all the educational needs for sufferers so that they can develop their talents and potential, and obtain education that is equivalent to normal children their age. In fact, these children are considered to have no talent and potential that can be developed. Most of the general public has a negative perspective on children with autism. As a result, there are so many children with autism who have talents and potentials that, if developed, can far exceed what normal children have in general. In planning and designing this Special School, it will be interpreted through the concepts of architectural and behavioral psychology.  Keywords: Autism, Psychology of Architecture, Jakarta. AbstrakSekolah Terapi Anak Autis Merupakan sebuah lembaga pendidikan mulai dari taman kanak - kanak (TK), tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA) di Jakarta yang dikhususkan bagi Anak Penyandang Autisme. Latar belakang yang melandasi perancangan ini yaitu karena fasilitas pendidikan bagi anak autis tergolong belum memadai dan belum dapat memenuhi segala kebutuhan pendidikan bagi penderita agar mereka dapat mengembangkan bakat dan potensi diri, serta memperoleh pendidikan yang setara dengan anak normal seusianya. Faktanya, anak- anak ini dianggap tidak memiliki bakat dan potensi yang dapat dikembangkan. Kebanyakan masyarakat umum memiliki perspektif negatif mengenai anak penyandang autisme. Hasilnya, terdapat begitu banyak anak penyandang autisme yang memiliki bakat dan potensi diri yang apabila dikembangkan, dapat jauh melebihi apa yang dimiliki anak normal pada umumnya. Dalam perencanaan dan perancangan Sekolah Luar Biasa ini akan diinterpretasikan melalui konsep Psikologi arsitektur dan perilaku. 
HOME FOR ELDERLY PEOPLE – FASILITAS KESEHATAN DAN REKREASI LANSIA DI PULOGEBANG Charlotte Sacharissa; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10856

Abstract

We, basically, as an individual, human beings cannot live in silence, but must travel or wander to get learning about life and the essence of dwelling. However, when humans enter old age, not all things can be done as freely as when they were young, and it causes some elderly individuals to become frustrated with their physical condition which leads to frustration and results in health and psychological problems. Home for Elderly People is a healthcare and recreation facility for the elderly in Pulogebang, where Pulogebang is an area where the largest number of elderly individuals are in East Jakarta and also the existence of middle to lower economic conditions that cause the health of an elderly person to be neglected. Home for Elderly People comes with three main activities, namely, treatment areas, productive areas, and healing areas with ramps, gardens, and age-friendly methods as the main concept in this project. With this project, it is hoped that it can help the elderly to become healthier and more active individuals in the future. Keywords:  age-friendly; dwelling; elderly; healthcare; recreation Abstrak Kita pada dasarnya sebagai individu manusia tidak dapat hidup hanya dengan berdiam diri, melainkan harus berpetualang atau berkelana untuk mendapatkan pembelajaran mengenai hidup dan esensi berhuni. Namun ketika manusia memasuki usia tua, tidak semua hal dapat dilakukan dengan bebas sebagaimana ketika berusia muda dan mengakibatkan beberapa individu tua menjadi frustasi akan kondisi fisik mereka yang berujung frustasi dan mengakibatkan gangguan kesehatan dan psikologis. Home for Elderly People merupakan fasilitas kesehatan dan rekreasi bagi lansia di kelurahan Pulogebang, dimana Pulogebang merupakan kawasan yang terdapat keberadaan individu lansia dengan jumlah terbanyak di Jakarta Timur dan juga keberadaan kondisi ekonomi menengah ke bawah yang menyebabkan kesehatan seorang lansia tidak begitu diperhatikan. Home for Elderly People hadir dengan tiga aktivitas utama yaitu, treatment area, productive area, dan healing area dengan ramp, taman, dan metode ramah usia sebagai konsep utama dalam proyek ini. Dengan kehadiran proyek ini diharapkan dapat membantu lansia untuk menjadi individu yang lebih sehat dan aktif di masa depan.
PENERAPAN METODE BIOKLIMATIK DALAM DESAIN RUSUNAMI YANG INTERAKTIF, SEHAT DAN AKTIF Clairine Aloysia Benedicta; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12407

Abstract

Jakarta is one of the fastest growing areas in terms of population. The city of Jakarta as the capital city of the Republic of Indonesia has very rapid development and progress in various fields and sectors such as social, economic, cultural and political. Due to the attractiveness of Jakarta, it triggers urbanization which causes the number and density of Jakarta's population to continue to increase every year. With the increase in population, the need for housing also increases. Flats are one solution to the problem of population growth. Flats are considered to be the answer to the housing needs in urban areas, especially for the lower middle class. This study uses the “Bioclimatic Architecture” method as a design approach that refers to the design of buildings and spaces (interior - exterior - outdoor) based on the local climate, which aims to provide thermal and visual comfort, utilizing solar energy and other environmental sources. The basic element of the Bioclimatic Architectural design is Passive Solar Systems which are incorporated into the building and utilize environmental sources (eg sun, air, wind, vegetation, water, soil, sky) for heating, cooling and lighting of the building. The application of the bioclimatic method on rusunami aims to be a solution to ecological problems and the effectiveness of the use of materials with the aim of improving the quality of life of residents and making an interactive, healthy and active environment by optimizing natural elements and the application of appropriate spatial programs is expected to be useful for use. Keywords: Bioclimatic Architecture; Flats; Social; WellnessAbstrakJakarta merupakan salah satu wilayah yang pesat dalam hal kependudukan. Kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia memiliki perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat di berbagai bidang dan sektor seperti sosial, ekonomi, budaya dan politik. Karena daya tarik yang ditimbulkan oleh Jakarta, hal tersebut memicu urbanisasi yang menyebabkan jumlah dan kepadatan penduduk Jakarta terus meningkat setiap tahunnya. Dengan adanya peningkatan jumlah penduduk maka kebutuhan akan hunian juga meningkat. Rumah susun menjadi salah satu solusi untuk menjawab permasalahan pertumbuhan populasi itu. Rumah Susun dianggap menjadi jawaban bagi kebutuhan pemukiman di wilayah perkotaan, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah. Studi ini menggunakan metode “Arsitektur Bioklimatik” sebagai pendekatan desain perancangan yang mengacu pada desain bangunan dan ruang (interior - eksterior - luar ruangan) berdasarkan iklim lokal, yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan termal dan visual, memanfaatkan energi matahari dan sumber lingkungan lainnya. Elemen dasar dari desain Arsitektur Bioklimatik adalah sistem Passive Solar Systems yang dimasukkan ke dalam bangunan dan memanfaatkan sumber lingkungan (misalnya matahari, udara, angin, vegetasi, air, tanah, langit) untuk pemanas, pendingin dan penerangan bangunan. Penerapan metode bioklimatik pada rusunami bertujuan untuk menjadi solusi untuk permasalahan ekologi dan efektivitas penggunaan material dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup warga dan menjadikan lingkungan yang interaktif, sehat dan aktif dengan mengoptimalkan unsur alam dan penerapan program ruang yang tepat diharapkan dapat bermanfaat untuk digunakan.