This Author published in this journals
All Journal Jurnal Madah
Yeni Maulina
Balai Bahasa Riau

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Gaya Bahasa dalam Pepatah Adat Masyarakat Petalangan Riau Yeni Maulina; Khairul Azmi
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v10i2.18

Abstract

Petalangan is one of the original tribes in Riau Province who live in Pengkalan Kuras, Langgam, Kuala Kampar, and Bunut Subdistrict, Pelalawan Regency. Petalangan tribe has various cultures in the traditions of life. A good introduction to cultural heritage by the next generation can strengthen the nation's tradition in responding to the increasingly severe challenges of the future in this era of globalization. Cultural heritage in the form of moral-spiritual inheritance, one of which is obtained and known through the tradition of belief in the traditional proverb that exists in the community. The traditional adage in the Petalangan community, among others, explains the perspective on community life. This study aims to describe the style of language in the customary proverb that is related to the perspective of life in society. This research uses a qualitative approach with descriptive analysis method. The data source used was the book entitled Pepatah Adat, Istilah, dan Kosa kata Masyarakat Petalangan Kabupaten Pelalawan, Riau. There are 16 traditional proverbs used as data in this study, which then obtained 3 language styles based on sentence structure and 2 language styles based on meaning. By knowing and learning the style of language in this traditional proverb, the philosophy of life and aesthetic tastes of the people of Riau can be understood. Abstrak Petalangan merupakan salah satu puak asli di Provinsi Riau yang bermukim di Kecamatan Pengkalan Kuras, Langgam, Kuala Kampar, dan Bunut, Kabupaten Pelalawan. Suku Petalangan ini memiliki beraneka kebudayaan dalam kehidupan. Pengenalan yang baik terhadap warisan kebudayaan oleh generasi penerus dapat memperteguh tradisi bangsa dalam menjawab tantangan masa depan yang semakin berat dalam era globalisasi ini. Warisan kebudayaan yang berupa warisan moral-spiritual, satu di antaranya didapatkan dan diketahui keyakinan terhadap pepatah adat yang ada pada masyarakat. Pepatah adat dalam masyarakat Petalangan antara lain menjelaskan cara pandang mengenai hidup bermasyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan gaya bahasa di dalam pepatah adat yang berhubungan dengan cara pandang dalam hidup bermasyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Sumber data yang digunakan adalah buku Pepatah Adat, Istilah, dan Kosa kata Masyarakat Petalangan Kabupaten Pelalawan, Riau. Terdapat 16 pepatah adat yang dijadikan data dalam penelitian ini, yang kemudian diperoleh 3 gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat dan 2 gaya bahasa berdasarkan makna. Dengan mengetahui dan mempelajari gaya bahasa dalam pepatah adat ini dapat dipahami filsafat hidup dan cita rasa estetika masyarakat Riau.
CITRAAN DALAM KUMPULAN SAJAK ORGASMAYA KARYA HASAN ASPAHANI Yeni Maulina
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v7i2.57

Abstract

Imagery is an important element in a poem. An idea that is originally abstract can be conceived and expressed through imagery. Imagery is generated through expression of words so that readers can easily imagine it. This study aims to determine types of imagery contained in the Orgasmaya anthology of Hasan Aspahani’s work. The method used in this research is the descriptive qualitative method. The research findings reveal that of the 74 poems that were analyzed, there are 74 data fragments of the poems containing imagery. There are 11 fragments of the poems containing visual imagery, 22 fragments containingauditory imagery, 4 fragments containing olfactory imagery, 5 fragments containing feeling imagery, 7 fragments containing palpation imagery, and 25 fragments containing motion imagery. Based on the analysis of imagery on the Orgasmaya poem anthology of Hasan Aspahani’s work, the most appeared imagery in the poems is motion imagery. It is due to the fact that the poets are able to visualize motions to readers which described through the proper choices of diction to see the beauty and natural phenomena, daily life, and social conflict as the building of imagery in his poems.
Penggunaan Konjungsi dalam Wacana Pembelajaran Literasi Yeni Maulina
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v9i2.67

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan konjungsi yang sering digunakan oleh siswa kelas V SD di Kota Pekanbaru dalam menulis wacana pembelajaran literasi. Penggunaan konjungsi yang dilihat adalah frekuensi kemunculan serta ketepatan penggunaannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Data penelitian berupa 50 karangan siswa tentang penceritaan ulang dari 5 cerita rakyat yang dibacakan pada kegiatan Sastranesia. Judul cerita rakyat yang digunakan tersebut adalah “Mutiara dari Indragiri Hilir”, “Buah Ajaib”, “Kampung Tarondam”, “Si Bungsu Anak Durhaka”, dan “Kain Sindai”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 15 konjungsi yang digunakan dalam 2.140 kali penggunaan dengan 650 konjungsi koordinatif dan 1.470 subordintif. Frekuensi kemunculan konjungsi yang paling tinggi ditemukan pada jenis konjungsi yang menyatakan makna urutan, penambahan, dan waktu. Dalam karangan tersebut ditemukan 24 kesalahan pemakaian konjungsi. Kesalahan terdapat pada pemakaian konjungsi yang sebanyak 11 kesalahan; konjungsi dan sebanyak 5 kesalahan; konjungsi tapi/tetapi sebanyak 4 kesalahan; dan konjungsi kemudian sebanyak 4 kesalahan. Kesalahan pemakaian konjungsi tersebut pada umumnya tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Selain itu, ditemukan pula sebagian besar hasil karangan siswa terdiri atas klausa dan kalimat tunggal. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya kemampuan siswa dalam menulis.
CERITA RAKYAT “ASAL-USUL PULAU HALANG”: ANALISIS FUNGSI VLADIMIR PROPP Yeni Maulina
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2014): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v5i1.180

Abstract

Classical Malay literature in prose is classified in the form of folklore. The plot of folklore describes phenomena and object that exist, by explaining aspects of composition and structure, or aspects of the processes and changes. In other words, in order to determine the origin of an object or objects in folklore,  the phenomenon of the object or objects must be recognized first.  It is known as  original motifs of folklore. Folklore based on structuralism approach sought to facilitate understanding in terms of language or text used. In a fairy tale actors and its properties can be changed, but actions and their role remains the same. Vladimir Propp divided 31 functions of folklore by linking the events and actions of different that have the same meaning, or imply the same conduct. Folklore of the Asal Usul Pulau Halang has sixteen Vladimir Propp's functions. The function in this folklore  was developed starting from the first function, the function of IX, the function of X, the function of XII, the function of XIV, the function of the XV, the function of XVI, the function of the XIX, the  function of XX, the function of XXI, the function XXIII, the function of XXIV, the function of XXV, the function of the XXIX, the functions of XXX, and the functions of XXXI.   Karya sastra Melayu klasik yang berbentuk prosa tergolong  pada bentuk cerita rakyat. Alur cerita rakyat menggambarkan fenomena dan objek-objek yang ada, dengan menjelaskan aspek komposisi dan struktur, atau aspek proses dan perubahannya. Dengan kata lain, untuk mengetahui asal-usul suatu benda atau objek dalam cerita rakyat, terlebih dahulu mengenal fenomena benda atau objek tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dikenal cerita rakyat bermotif asal-usul. Cerita rakyat berdasarkan pendekatan strukturalisme diusahakan untuk mempermudah pemahaman dari segi kebahasaan atau teks yang digunakan. Dalam sebuah cerita dongeng para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah, tetapi perbuatan dan peran mereka tetap sama. Vladimir Propp membagi 31 fungsi dengan mengaitkan berbagai peristiwa dan perbuatan berbeda-beda tetapi mempunyai arti yang sama, atau mengisyaratkan perbuatan yang sama. Cerita rakyat ―Asal-usul Pulau Halang‖ memiliki enam belas fungsi Vladimir Propp. Fungsi dalam cerita rakyat ―Asal-usul Pulau Halang‖ dibangun mulai dari fungsi I, fungsi IX, fungsi X, fungsi XII, fungsi XIV, fungsi XV, fungsi XVI, fungsi XIX, fungsi XX, fungsi XXI, fungsi XXIII, fungsi XXIV, fungsi XXV, fungsi XXIX, fungsi XXX, dan fungsi XXXI.