Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KASEKTEN PEREMPUAN DI PESANTREN: PONDOK PESULUKAN THORIQOT AGUNG TULUNGAGUNG Ravika Alvin Puspitasari; Budi Harianto
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v2i2.3147

Abstract

In Javanese Islamic discourse in general, Javanese scholars look more at the broad horizon of Sufistic teachings and practices as an important variable in the Islamization of Java. The author feels that the micro area that discusses daily spirituality, especially women's spirituality, is an area of study that is worthy of research. In the practice of spirituality, of course, it cannot be separated from magical power, it is believed to have supernatural powers. The power is obtained in practice or penijazahan. Then there are various theories about mysticism, kebatinan to sects, in fact women are also actively involved in cosmology or social facts in Java. Therefore, the author poses a research question, namely, why the position of women in the narrative of daily spirituality is considered secondary and how is the practice of kasekten in Pondok Pesulukan Tharekat Agung. This paper specifically discusses the practice of spirituality or female students at the Thoriqot Agung Islamic boarding school in Tulungagung district. Practice or education is generally known as the path that can lead a person to gain enlightenment (sakti). This study uses an ethnographic-based qualitative approach. The findings of this study explain that sociological aspects and patriarchal religious interpretations condition women's spirituality to always be at a secondary level. Women who engage in spiritual practice cannot get the same degree as men, such as becoming Murshid, even though they are already spiritually established. Thus, women are only counted as students in the Tarekat and are not as charismatic as men who hold the title of Kyai Tarekat.Keyword: Kesakten; Spiritual; Women; Secondary
Walisongo: Strategi Dakwah Islam di Nusantara Nurul Syalafiyah; Budi Harianto
Bahasa Indonesia Vol 1 No 2 (2020): J-Kis: Jurnal Komunikasi Islam Desember 2020
Publisher : Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/j-kis.v1i2.184

Abstract

Islam mulai berkembang di Nusantara sekitar abad 13 M. Adapun tokoh yang sangat berjasa dalam proses Islamisasi di Nusantara terutama di tanah Jawa adalah “ Walisongo”. Sumbangsih serta peran Walisongo dalam proses Islamisasi di tanah Jawa sangat besar. Tokoh Walisongo yang begitu dekat dikalangan masyarakat muslim kultural Jawa sangat mereka hormati. Ajaran-ajaran dan dakwah yang unik serta sosoknya yang menjadi teladan serta ramah terhadap masyarakat Jawa sehingga dengan mudah Islam menyebar ke seluruh wilayah Nusantara. Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang dilakukan walisongo terbagi dari berbagai wilayah diantaranya yakni Surabaya-Gresik-Lamongan JawaTimur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Keberhasilan Islamisasi Jawa merupakan hasil perjuangan dan kerja keras Walisongo. Walisongo melakukan proses Islamisasi berjalan dengan damai, baik politik maupun kultural, meskipun terdapat konflik itupun sangat kecil sehingga tidak mengesankan sebagai perang maupun kekerasan ataupun pemaksaan budaya. Penerepan metode dakwah yang dilakukan oleh Walisongo yakni metode dakwah yang lentur atau baik sehingga dapat diterima baik oleh masyarakat jawa. Sehingga walisongo tidak dianggap sebagai ancaman di Pulau Jawa.
Analisis Nilai Karakter Peduli Sosial Melalui Metode Role Playing di Kelas V SDI Miftahul Huda Plosokandang Kabupaten Tulungagung Nik Haryanti; Nurul Syalafiyah; Budi Harianto; Sony Eko Adisaputro
JURNAL PENDIDIKAN DAN KEWIRAUSAHAAN Vol 9 No 2 (2021)
Publisher : STKIP PGRI SITUBONDO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47668/pkwu.v9i2.326

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai karakter peduli sosial siswa-siswa saat atau setelah pembelajaran dengan metode role playing dan mendeskripsikan pembelajaran dengan metode role playing yang mengembangkan karakter peduli sosial. Metode penelitian ini merupakan suatu penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah yaitu: l) reduksi data 2) penyajian data dan 3) penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa 1) Nilai karakter peduli sosial melalui metode role playing dalam proses pembelajaran di Kelas V SDI Miftahul Huda Plosokandang Kabupaten Tulungagung diketahui berdasarkan nilai karakter peduli sosial siswa saat mengikuti pembelajaran dengan metode role playing dapat dilihat nilai rata-rata dari angket tersebut sebesar 4,121 dengan persentase 82,42 atau dikategorikan baik. Sedangkan nilai-nilai karakter peduli sosial siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan metode role playing yang mana angket diisi oleh teman dari siswa dilihat rata-rata sebesar 4,125 dengan persentase 82,5 atau dalam kategori Baik. 2) Pembelajaran dengan metode role playing yang mengembangkan karakter peduli sosial siswa-siswa Kelas V SDI Miftahul Huda Plosokandang Kabupaten Tulungagung dilakukan dengan 3 pertemuan. Berdasarkan hasil observasi kegiatan pembelajaran diperoleh dari rata-rata atau prosentase yang diperoleh pada pertemuan I yaitu 70,90% dalam predikat atau kategori cukup. Sedangkan pertemuan II yaitu 80,00% dalam predikat atau kategori Baik. Selanjutnya pertemuan III yaitu yaitu 94,54% dalam predikat atau kategori Sangat Baik
PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM DARI TRADISI SENI WAYANG KULIT DI KOTA MADIUN Aditya Chandra Abdullah,; Budi Harianto
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 9 No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Da’wah is also the duty of a Muslim. In preaching, of course, a Muslim needs a medium to convey what will be conveyed. In this millennial era, preaching can be done anywhere, especially on social media, arts, traditions, even the Wayang Kulit tradition. However, in some areas, wayang kulit has begun to decline in development and its existence has dwindled, but in some areas there are still puppet shows, for example in the city of Madiun. Da’wah strategy conveyed by the Dalang figure from a conversation from a wayang play being played. In a wayang play, there are philosophies that can describe Islamic terms. This was also conveyed by the Dalang using language that the public could easily understand. Wayang kulit was chosen as the most effective medium of propaganda because wayang is also part of Javanese culture, which is still favored by various groups of Javanese society. And also the stories or plays in Wayang also contain Islamic teachings.
PEMIKIRAN POLITIK IMAM KHOEMENI Budi Harianto; Nurul Syalafiyah
Bahasa Indonesia Vol 7 No 01 (2022): Islamic Law Maret 2022
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Pangeran Diponegoro Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/law.v7i01.498

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas Pemikiran Imam Khomeini dalam konstalasi politik Islam pasca Revolusi Iran. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi Pustaka sedangkan teori yang digunakan Filsafat Sejarah. Pemikiran Khomeini yang masyhur adalah pemikiranya tentang politik Islam. Khomeini menuangkan konsep model negara dalam sistem pemerintahan Islam dan menamakannya sebagai Wilayat al-Faqih. Konsep inilah yang membedakan sistem pemerintahan Republik Islam Iran dari sistem pemerintahan negara-negara republik lainnya. Konsep inilah inti dari pemikiran Khomeini tentang negara Islam. Secara sederhana, Wilayat al-Faqih dapat diartikan sebagai pemerintahan oleh para faqih atau ulama. Konsep ini diajukan, karena pemerintahan adalah bagian dari ajaran agama yang paling utama. Menurutnya otoritas legal tertinggi dalam negara yang masyarakatnya Islam harus dipegang oleh para ulama. Dalam konsep Wilayat al-Faqih, faqih memiliki tugas sebagai pengawal, penafsir, dan pelaksana hukum-hukum Tuhan.
Islam, Agama, dan Politik dalam Lintasan Sejarah Budi Harianto; Nurul Syalafiyah; Rona Merita; Asmaul Husna
Bahasa Indonesia Vol 7 No 02 (2022): Islamic Law September 2022
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Pangeran Diponegoro Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/law.v7i02.537

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang Islam, Agama, dan Politik. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Berdirinya negara, selain untuk menegakkan perintah Allah SWT dan untuk mewujudkan kewajiban bermusyawarah, juga membutuhkan faktor keterikatan atau keinginan bersama. Dengan faktor ini, hablu min Allah (keterikatan dengan pencipta) dan hablu min al-nas (keterikatan sosial antar masyarakat) bisa tercapai. Dan melapangkan jalan menuju negara makmur yang di ridhai oleh AllahSWT, baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. Dengan mengambil makna substantif atau asas-asas bernegera dan berhukum yang biasanya disebut maqasid al-shar’iyah, maka Islam sebagai rahmatan li al-‘alamin akan lebih mudah dioperasionalkan. Dengan cara ini Islam tak perlu dipaksakan berlakunya secara formal kepada golongan lain, tetapi dirasakan rahmatnya dalam kehidupan bersama dengan memberlakukan asas-asasnya yang dapat diterima karena adanya “kalimatun sawa” .