I. B. Tjakra Wibawa Manuaba
Departemen Bedah Onkologi FK Udayana / RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

High Ki-67 and Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) Protein Expression as Negative Predictive Factor for Combined Neoadjuvant Chemotherapy in Young Age Stage III Breast Cancer Sudarsa, I. W.; Manuaba, I. B. Tjakra W.; Maliawan, Sri; Sutirtayasa, I. W. P.
BALI MEDICAL JOURNAL Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : BALI MEDICAL JOURNAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.137 KB)

Abstract

Background: Breast cancer was, in general, a heterogeneous disease with diverse biological characteristics, types, subtypes and clinical behavior. Its treatment and management need to be personalized and individualized. Breast cancer in young ages, although rare, is usually a unique and more aggressive cancer associated with poorer prognosis. The combination of young age and advanced stages of breast cancer would make this particular breast cancer harder to treat and cure. Unfortunately, majority of Breast Cancer Patients in Bali were in younger ages, and at advanced stages, that the mainstay of treatment was neo adjuvant chemotherapy followed by other treatment modalities. Improve prognosis only, those patients who had had a complete pathological response involving primary tumor and regional lymph nodes in the axilla. Several factors had been studied and contributed to breast cancer response to combined neo-adjuvant chemotherapy. Usually, younger patients, was associated with high proliferation rate represented by Ki-67 and early distant metastasis represented by VEGF, which also had role as prognostic markers. The purpose of this study was to determine whether high Ki-67 and VEGF expression correlate with response to NAC and hence, they would be important predictive factors for response to NAC. Method: This study was a cross-sectional and a nested case-control study of stage III breast cancers affecting patients 40 years of age or less, at Sanglah General Hospital and Prima Medika Hospital, conducted from September 1st, 2012 until March 31st, 2014. Clinical and pathology reports were traced and recorded from both hospitals; routine Immunohistochemistry (IHC) examinations were performed by both pathology labs. Statistical analysis was performed using Chi-Square test, Odds Ratio (OR), and logistic regression analysis with p
Association of P53 Protein Overexpression with Clinicopathological Features of Oral Squamous Cell Carcinoma Patients in Bali Winata, A.; Manuaba, I. B. Tjakra. W.; Sudarsa,, I. W.; Mahadewa, Tjok G. B.
BALI MEDICAL JOURNAL Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : BALI MEDICAL JOURNAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.724 KB)

Abstract

Background: Oral cancer was a major health problem with a high incidence rate worldwide. Oral Squamous Cell Carcinoma (OSCC) in Bali, ranked as the second most common cancer after cervix carcinoma. Our understanding of OSCC hasn’t yielded a satisfactory clinical outcome; therefore, further studies about the role of biomolecular markers in OSCC are still needed. One of the biomolecular markers for prognosis and predictor for OSCC that has been a topic of research to date is p53. Method: This is a cross-sectional analytical study of 36 samples to determine the correlation between p53 overexpression with age group, tumor location, tumor stage, and tumor grade in OSCC patients. Data was processed descriptive and analytical using Chi-Square/Fisher 's Exact Test methods with a significance value of p
VALIDITAS DIAGNOSIS FINE NEEDLE ASPIRATION BIOPSY (FNAB) PADA TUMOR KELENJAR LUDAH Anda Tusta Adiputra, Putu; Tjakra Wibawa Manuaba, I.B.; Saputra, Herman
Medicina Vol 38 No 2 (2007): Mei 2007
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemeriksaan Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) memiliki nilai akurasi diagnostik yang tinggi pada tumor kelenjar ludah jinak maupun ganas yang akan menjalani pembedahan (lebih dari 80% pada literatur barat). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi validitas dari Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) sebagai alat diagnostik pada tumor kelenjar ludah dengan pemeriksaan histopatologi sebagai baku emas (gold standard). Jenis penelitian ini merupakan suatu uji diagnostik, yang dikerjakan mulai bulan September 2002 ? Mei 2006 terhadap 40 penderita yang secara klinis didiagnosis sebagai tumor kelenjar ludah. Dua kasus dikeluarkan dari penelitian oleh karena hasil FNAB tidak representatif. Pemeriksaan FNAB dilakukan sebelum operasi, kemudian dibandingkan dengan hasil histopatologi setelah operasi. Baik hasil FNAB maupun hasil histopatologi dikelompokkan ke dalam jinak ataupun ganas. Validitas ditentukan dari sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif, nilai prediksi negatif dan akurasi. Dari 38 penderita tumor kelenjar ludah yang diteliti, setelah dianalisis didapatkan hasil sensitivitas 28,56%, spesifisitas 77,42%, nilai prediksi positif 22,22%, nilai prediksi negatif 82,76% dan akurasi 68,42%. FNAB sebagai prosedur diagnostik pada tumor kelenjar ludah di institusi kami memiliki sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang rendah. Saat ini FNAB belum dapat digunakan sebagai alat diagnostik satu-satunya pada tumor kelenjar ludah.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETERLAMBATAN PENGOBATAN PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT (RSUP) SANGLAH DENPASAR Ni Putu Prema Rossalia; Ida Bagus Tjakra Wibawa Manuaba
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5, No 12 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.924 KB)

Abstract

Keterlambatan pengobatan ke rumah sakit oleh seorang penderita kanker payudara berkontribusi terhadap rendahnya angka harapan hidup bagi penderita penyakit tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keterlambatan pengobatan pada wanita penderita kanker payudara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif longitudinal dengan melakukan wawancara berbasis kuisioner selama 6 bulan dari bulan Maret-September 2015, terhadap pasien kanker payudara stadium lanjut (IIB, IIIA, IIIB, IIIC, IV) di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar. Diantara 77 pasien yang menjadi responden 31,2% pada tingkat pendidikan SMA/sederajat. Yang berasal dari luar Bali sejumlah 26% dan 24,7% berasal dari Denpasar. Sekitar 29,9% responden menunda dalam rentang waktu >6-12 bulan. Tujuh puluh empat persen tidak mengetahui tentang SADARI, dan yang menginterpretasikan gejala sebagai sesuatu yang tidak serius sejumlah 64,9%. Yang menyatakan takut operasi dan kemoterapi sejumlah 50,6%. Jaminan kesehatan dimiliki oleh 63,6% responden. Sementara 70,1% mengaku pernah mencoba pengobatan alternatif. Dari penelitian ini dapat disimpulkan keterlambatan pengobatan pada pasien kanker payudara berhubungan dengan beberapa faktor. Diperlukan adanya penyuluhan yang efektif pada masyarakat mengenai gejala, prognosis, terapi, dan screening kanker payudara untuk meminimalisir keterlambatan pengobatan
KARAKTERISTIK PEMERIKSAAN IMUNOHISTOKIMIA PADA PASIEN KANKER PAYUDARA DI RSUP SANGLAH PERIODE 2003-2012 Nyoman Intan Permatahati Wiguna; IB Tjakra Wibawa Manuaba
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.815 KB)

Abstract

Pendahuluan: kanker payudara masih menempati insiden tertinggi dari seluruh jenis keganasan pada wanita. Berdasarkan data yang tercatat di RSUP Sanglah Denpasar, sebanyak 200 kasus baru ditemukan setiap tahunnya. Pemeriksaan profil imunohistokimia telah digunakan secara luas sebagai dasar dalam mengklasifikasikan kanker payudara secara molekuler. Ekspresi reseptor hormon (ER,PR) dan HER-2 yang ditemukan pada pemeriksaan imunohistokimia berguna untuk menentukan pilihan terapi yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Tujuan dari studi deskriptif ini adalah untuk mengetahui karakteristik profil imunohistokimia pasien kanker payudara di RSUP Sanglah Denpasar periode 2003-2012 berdasarkan ekspresi reseptor hormon, HER-2 dan subtipe kanker. Selanjutnya dijabarkan kembali mengenai karakteristik dari masing-masing subtipe berdasarkan umur, grading histopatologi dan stadium kankernya. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif retrospektif dengan megambil data sekunder pasien kanker payudara yang telah melakukan pemeriksaan imunohistokimia di RSUP Sanglah tahun 2003-2012. Hasil: Dari 1014 pasien kanker payudara yang datang ke RSUP Sanglah Denpasar, hanya 147 (14,49%) pasien bersedia melakukan pemeriksaan imunohistokimia. Reseptor hormon negatif ganda (ER-,PR-) serta ekspresi HER-2 negatif ditemukan terbanyak dengan 80 (54,4%) dan 110 (74,8%). Berdasarkan subtipenya luminal A dan basal-like/triple negatif merupakan subtipe dominan dengan masing-masing 55 kasus (37,4%) diikuti dengan HER-2 positif sebanyak 23 (15,6%), dan luminal B sebanyak 14 (9,5%). Kesimpulan: Proporsi pemeriksaan imunohistokimia pasien kanker payudara di RSUP Sanglah sangat sedikit yaitu 147 (14,49%) selama periode 2003-2012. Reseptor hormon negatif ganda dan HER-2 negatif terbanyak dengan 80 kasus (54,4%) dan 110 kasus (74,8%). Berdasarkan subtipe, luminal A dan basal-like/triple negatif merupakan kasus dominan dengan masing-masing 55 (37,4%) kasus.  
PERSEPSI NEGATIF PASIEN KANKER PAYUDARA DAN KOLOREKTAL TERHADAP KEMOTERAPI DAN RADIOTERAPI DI RUMAH SAKIT DI KOTA DENPASAR, BALI Gede Wara Samsarga Samsarga; Yudo Affandi; Ni Made Suari Utami; I Made Sindhu S Nugraha; I.B Tjakra Wibawa Manuaba
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.208 KB)

Abstract

Terapi adjuvan yang biasanya diberikan pada pasien kanker payudara dan kanker kolorektal adalah kemoterapi dan radioterapi. Terapi adjuvan biasanya diberikan setelah terapi primer untuk meningkatkan angka kesembuhan penyakit, mencegah rekurensi, dan membunuh sel-sel kanker yang tersisa ataupun yang telah bermetastasis (terutama mikrometastasis). Terapi adjuvan juga berfungsi sebagai terapi paliatif untuk meningkatkan harapan hidup pasien kanker. Dalam kenyataannya banyak pasien kanker, khususnya kanker payudara dan kolorektal yang menghindari tindakan kemoterapi dan radioterapi. Dari 38 orang pasien kanker payudara dan kolorektal, didapatkan bahwa 26,3% takut gagal, 39,5% takut efek samping, 7,9% biaya yang mahal, 10,5% karena berlangsung dalam jangka waktu yang lama, dan 15,8% tidak takut terhadap kemoterapi dan radioterapi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman pasien kanker payudara dan kanker kolorektal terhadap tindakan kemoterapi dan radioterapi masih cukup rendah dimana 68,4% sampel tidak tahu dan tidak mengerti tentang tindakan kemoterapi dan radioterapi. Pemahaman yang kurang tentang tindakan kemoterapi dan radioterapi ini nantinya dapat mengakibatkan timbulnya persepsi negatif terhadap tindakan kemoterapi dan radioterapi. Maka dari itu sangat diperlukan adanya suatu edukasi yang baik bagi setiap pasien tentang penyakit dan modalitas terapi yang akan diberikan. Dokter diharapkan mampu untuk mengubah persepsi negatif pasien terkait tindakan kemoterapi dan radioterapi.  
PENGARUH GRADING DAN LYMPHOVASCULAR INVASION TERHADAP METASTASIS KELENJAR GETAH BENING AXILLA PADA KANKER PAYUDARA Albert Simon; Tjakra Wibawa Manuaba
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5 No 6 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.828 KB)

Abstract

In Indonesia, breast cancer is the 2nd highest type of cancer. This study was conducted to know the correlation between breast cancer grading and lymphovascular invasion (LVI) with axillary lymph node metastases. This study was carried out by; 1) obtaining the sample from medical record and pathology anatomy examination report of breast cancer patient from RSUP Sanglah 2013, 2) examining the correlation between grading with axillary lymph node metastases and correlation between LVI with axillary lymph node metastases using chisquare, 3) Examining the strength of correlation between grading with axillary lymph node metastases and LVI with axillary lymph node metastases using RO. This study consists of 51 samples which diagnosed with advance breast cancer. The result of this study shows; 1) no correlation between grading with axillary lymph node metastases, 2) there is correlation between LVI with axillary lymph node metastases, 3) the strength of correlation between LVI with axillary lymph node metastases are RO=5.34 with the percentage of 84%.    In conclusion, LVI is correlated with axillary lymph node metastases. Further study about other factors which effecting the axillary lymph node metastases and the correlation of grading and LVI with axillary lymph node metastases in early breast cancer should be conducted in order to give more clear information.
STUDI DESKRIPTIF RISIKO KANKER PAYUDARA PADA KELOMPOK BERISIKO DAN TIDAK BERISIKO DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH 21 – 26 NOVEMBER 2013 I Gusti Putu Benediktus Bosman Ariesta; Ida Bagus Tjakra Wibawa Manuaba
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 12(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.988 KB)

Abstract

DESCRPTIVE STUDY: BREAST CANCER RISK AMONG RISK GROUP AND NON RISK GROUP IN SANGLAH HOSPITAL  NOVEMBER 21st – 26th 2013This study evaluates the lifetime risk and BRCA1 and BRCA2 genes mutation risk between risk group and non-risk group. This is a descriptive study. Total 100 respondents according to inclusion criteria are included in this study. The data is obtained from the interview about personal identity and research variable. The calculation of the risk is based on each validated model and analyzed by SPSS 16 for Windows. Average of lifetime risk for risk woman, based on Gail, Claus, Claus Extended, and Cuzick-Tyrer model are 7,85%, 12,82%, 13,13%, dan 14,76% respectively. Average of lifetime risk for non-risk woman based on Gail and Cuzick-Tyrer model are 4,15% and 7,92% respectively. Average mutation risk of BRCA1 and BRCA2 in risk woman are 0,43% dan 0,61% respectively, meanwhile in non-risk woman are 0,07% dan 0,13% respectively. Mutation risk of population are 0,12% and 0,2% respectively. This study suggest higher average of lifetime risk between risk woman and non-risk woman. The risk group have higher mutation risk than population risk, and the non-risk group have lower mutation risk than population risk both BRCA1 and BRCA2.
HUBUNGAN SUBTIPE IMUNOHISTOKIMIA DENGAN USIA PADA PASIEN KANKER PAYUDARA DI RSUP SANGLAH KOTA DENPASAR IGAN Ciptadi Permana Wijaya; Ida Bagus Tjakra Wibawa Manuaba
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.216 KB)

Abstract

Pemeriksaan imunohistokimia merupakan salah satu modalitas penting dalam menetukan terapi untuk pasien kanker payudara. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara subtipe imunohistokimia dengan usia pada pasien kanker payudara di RSUP Sanglah Kota Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan menggunakan data rekam medis pasien kanker payudara di RSUP Sanglah dari bulan Januari 2010 sampai dengan bulan Agustus 2014. Data yang dicatat adalah usia dan subtipe imunohistokimia (luminal A, luminal B, HER2 positive, triple-negative). Dari 553 pasien kanker payudara periode 2010 sampai 2014 di RSUP Sanglah, 116 diantaranya telah melakukan pemeriksaan imunoshitokimia, namun 2 pasien memiliki data pemeriksaan imunohistokimia yang tidak lengkap. Didapatkan subtipe kanker payudara subtipe luminal A mempunyai insiden tertinggi pada kelompok usia 40-44 tahun, subtipe luminal B pada kelompok usia 35-39 tahun, subtipe HER2 positive pada usia 40-49 tahun, dan subtipe triple-negative pada usia 40-44 tahun. Dari hasil analisis statistik tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara subtipe imunohitokimia dengan usia (p=0.742). Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara subtipe imunohistokimia dengan usia pada pasien kanker payudara di RSUP Sanglah Kota Denpasar.
KARAKTERISTIK PEMERIKSAAN IMUNOHISTOKIMIA PADA PASIEN KANKER PAYUDARA DI RSUP SANGLAH PERIODE 2003-2012 Nyoman Intan Permatahati Wiguna; IB Tjakra Wibawa Manuaba
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.107 KB)

Abstract

Kanker payudara masih menempati insiden tertinggi dari seluruh jenis keganasan pada wanita. Berdasarkan data yang tercatat di RSUP Sanglah Denpasar, sebanyak 200 kasus baru ditemukan setiap tahunnya. Pemeriksaan profil imunohistokimia telah digunakan secara luas sebagai dasar dalam mengklasifikasikan kanker payudara secara molekuler. Ekspresi reseptor hormon (ER,PR) dan HER-2 yang ditemukan pada pemeriksaan imunohistokimia berguna untuk menentukan pilihan terapi yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Tujuan dari studi deskriptif ini adalah untuk mengetahui karakteristik profil imunohistokimia pasien kanker payudara di RSUP Sanglah Denpasar periode 2003-2012 berdasarkan ekspresi reseptor hormon, HER-2 dan subtipe kanker. Selanjutnya dijabarkan kembali mengenai karakteristik dari masing-masing subtipe berdasarkan umur, grading histopatologi dan stadium kankernya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif retrospektif dengan megambil data sekunder pasien kanker payudara yang telah melakukan pemeriksaan imunohistokimia di RSUP Sanglah tahun 2003-2012. Dari 1014 pasien kanker payudara yang datang ke RSUP Sanglah Denpasar, hanya 147 (14,49%) pasien bersedia melakukan pemeriksaan imunohistokimia. Reseptor hormon negatif ganda (ER-,PR-) serta ekspresi HER-2 negatif ditemukan terbanyak dengan 80 (54,4%) dan 110 (74,8%). Berdasarkan subtipenya luminal A dan basal-like/triple negatif merupakan subtipe dominan dengan masing-masing 55 kasus (37,4%) diikuti dengan HER-2 positif sebanyak 23 (15,6%), dan luminal B sebanyak 14 (9,5%). Dapat disimpulkan bahwa proporsi pemeriksaan imunohistokimia pasien kanker payudara di RSUP Sanglah sangat sedikit yaitu 147 (14,49%) selama periode 2003-2012. Reseptor hormon negatif ganda dan HER-2 negatif terbanyak dengan 80 kasus (54,4%) dan 110 kasus (74,8%). Berdasarkan subtipe, luminal A dan basal-like/triple negatif merupakan kasus dominan dengan masing-masing 55 (37,4%) kasus.