Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

NENSEK DAN RUANG PEREMPUAN SASAK DI DUSUN KELOKE DESA BATUJAI KACAMATAN PRAYA BARAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH Liza Hani Saroya Wardi; Rini S. Saptaningtiyas; Zaedar Gazalba; Pascaghana Jayatri Putra; Muhammad Iqbal Raissilki
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 3 No. 7: Maret 2024
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to explain what and how weaving (menenun) and women's spaces exist, develop and survive, are lived, addressed in relation to the environment in Keloke Hamlet. Data was obtained through field observations and interviews. The findings obtained are that weaving is a legacy of Keloke women's ancestors which is a tradition of Keloke women which is used as their attitude to life and identity. The findings obtained are that weaving is a legacy of Keloke women's ancestors which is a tradition of Keloke women which is used as their attitude to life and identity. The practice of weaving is guided by existing cultural values and gives certain meaning to their lives. The existence of this weaving presents a women's space in which Keloke women carry out weaving activities and experience weaving attitudes that strengthen their identity as inheritors of the culture left by their ancestors.
TEKNOLOGI BAMBU PLESTER UNTUK RUMAH RAMAH LINGKUNGAN DAN HEMAT ENERGI DI DESA LINGSAR KECAMATAN LINGSAR KABUPATEN LOMBOK BARAT Teti Handayani; Rini S. Saptaningtyas; Zaedar Gazalba; liza wardi; Haryadi Haryadi; Irfan Hadiaturrahman; Muhamad Aulia Alamsyah Kamil
Jurnal Pepadu Vol 7 No 2 (2026): Jurnal Pepadu
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/pepadu.v7i2.9795

Abstract

Desa Lingsar memiliki potensi besar sebagai penghasil bambu, namun pemanfaatannya sebagai material konstruksi, khususnya dinding bangunan, masih terbatas. Masyarakat cenderung membangun rumah dengan material bata atau beton, padahal material tersebut membutuhkan energi yang tinggi dalam proses produksinya serta menghasilkan emisi karbon yang besar. Sebaliknya, bambu merupakan material alami yang cepat tumbuh, terbarukan, dan ramah lingkungan dengan jejak karbon yang rendah karena membutuhkan sedikit pengolahan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat Desa Lingsar mengenai potensi bambu serta mendorong pemanfaatannya sebagai material konstruksi rumah yang ramah lingkungan dan hemat energi. Metode pelaksanaan berupa penyuluhan yang dilengkapi contoh visual dan ilustrasi. Tim Pengabdian Program Studi Arsitektur memperkenalkan teknologi konstruksi bambu plester, yaitu penggunaan bambu sebagai rangka utama atau struktur dinding yang kemudian dilapisi plester dari kapur, tanah liat, atau semen. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan semangat dan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan bambu sebagai bahan konstruksi. Rumah dengan teknologi bambu plester juga diharapkan mampu mencapai efisiensi energi yang lebih baik dibandingkan rumah berdinding bata atau beton.