Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS IX SMP NEGERI 1 FANAYAMA TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017 SARUMAHA, ANTONIUS
JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT Vol 3 No 1 (2018): Vol.3. No. 1. Januari 2018
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1082.764 KB)

Abstract

ABSTRAK Kemampuan Pemahaman konsep merupakan suatu kemampuan untuk memperoleh makna atau arti sesuatu dari ide-ide abstrak yang dapat digunakan seseorang untuk menuliskan suatu konsep, memberikan contoh dan bukan contoh dari konsep dan dapat mengaplikasikan konsep ke pemecahan masalah. Salah satu model pembelajaran yang membantu siswa untuk lebih mengoptimalkan kemampuan pemahaman konsepnya adalah melalui model pembelajaran kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh model pembelajaran kontekstual  terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa. Penelitian ini merupakan Penelitian Populasi dimana seluruh populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Sampel penelitian sebanyak 60 orang siswa, terdiri dari kelas IX-A berjumlah 32 orang sebagai kelas eksperimen dan kelas IX-B berjumlah 28 orang sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan pemahaman konsep yang telah memenuhi unsur kevalidan dan reliabel. Desain penelitian ini menggunakan Pretest-Posttest Control Group Design dengan kondisi awal kemampuan pemahaman konsep (Pretest) siswa seimbang. Rata-rata hasil  Pretest pada kelas eksperimen 61,25 dan kelas kontrol 60,17 sedangkan Rata-rata hasil Posttest pada kelas eksperimen 74,20 dan kelas kontrol 67,25. Pada pengujian  hipotesis diperoleh thitung= 7,661 dan ttabel = 1,671 pada signifikan 0,05. Karena thitung lebih besar dari ttabel menunjukkan Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian hipotesis yang mengatakan ada pengaruh model pembelajaran kontekstual terhadap kemampuan pemahaman konsep siswa diterima. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kontekstual lebih baik dari pembelajaran konvensional. Oleh karena itu hendaknya model pembelajaran kontekstual dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam mengoptimalkan kemampuan pemahaman konsep siswa pada materi kesebangunan.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS IX SMP NEGERI 1 FANAYAMA TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017 ANTONIUS SARUMAHA
Jurnal Education and Development Vol 3 No 1 (2018): Vol.3.No.1.2018
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1082.764 KB) | DOI: 10.37081/ed.v3i1.142

Abstract

ABSTRAK Kemampuan Pemahaman konsep merupakan suatu kemampuan untuk memperoleh makna atau arti sesuatu dari ide-ide abstrak yang dapat digunakan seseorang untuk menuliskan suatu konsep, memberikan contoh dan bukan contoh dari konsep dan dapat mengaplikasikan konsep ke pemecahan masalah. Salah satu model pembelajaran yang membantu siswa untuk lebih mengoptimalkan kemampuan pemahaman konsepnya adalah melalui model pembelajaran kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh model pembelajaran kontekstual terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa. Penelitian ini merupakan Penelitian Populasi dimana seluruh populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Sampel penelitian sebanyak 60 orang siswa, terdiri dari kelas IX-A berjumlah 32 orang sebagai kelas eksperimen dan kelas IX-B berjumlah 28 orang sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan pemahaman konsep yang telah memenuhi unsur kevalidan dan reliabel. Desain penelitian ini menggunakan Pretest-Posttest Control Group Design dengan kondisi awal kemampuan pemahaman konsep (Pretest) siswa seimbang. Rata-rata hasil Pretest pada kelas eksperimen 61,25 dan kelas kontrol 60,17 sedangkan Rata-rata hasil Posttest pada kelas eksperimen 74,20 dan kelas kontrol 67,25. Pada pengujian hipotesis diperoleh thitung= 7,661 dan ttabel = 1,671 pada signifikan 0,05. Karena thitung lebih besar dari ttabel menunjukkan Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian hipotesis yang mengatakan ada pengaruh model pembelajaran kontekstual terhadap kemampuan pemahaman konsep siswa diterima. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kontekstual lebih baik dari pembelajaran konvensional. Oleh karena itu hendaknya model pembelajaran kontekstual dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam mengoptimalkan kemampuan pemahaman konsep siswa pada materi kesebangunan.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI SMP NEGERI 1 TELUKDALAM Antonius Sarumaha
Jurnal Education and Development Vol 9 No 2 (2021): Vol.9.No.2.2021
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.866 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang pembelajarannya dengan pendekatan kontekstual dengan pembelajaran biasa, (2) Melihat adakah interaksi antara pendekatan kontekstual dan pembelajaran biasa dengan kemampuan awal matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Negeri 1 Telukdalam. Teknik pengambilan sampel adalah probability sampling. Sampel penelitian diambil dari kelas IXa dan IXb sebanyak 88 orang, kelas IX-a sebanyak 44 orang (kelas eksperimen) dan kelas IX-b sebanyak 44 orang (kelas kontrol). Instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan penalaran matematis yang telah memenuhi validitas isi dan reliabel. Perangkat pembelajaran yang digunakan adalah (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), (2) Lembar Kerja Siswa (LKS). Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis inferensial uji Anava Dua Jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Rata-rata N-Gain kemampuan penalaran matematis antara siswa yang pembelajarannya pendekatan kontekstual (0,603) lebih baik dari rata-rata N-Gain pembelajaran biasa (0,55), (2) semakin tinggi level kemampuan awal matematika maka semakin baik pula kemampuan penalaran matematis siswa yaitu level tinggi (0,772), level sedang (0,597) dan level rendah (0,483), (3) Tidak terdapat interaksi antara pembelajaran (Pendekatan kontekstual dan pembelajaran biasa) dengan kemampuan awal matematika siswa (tinggi, sedang dan rendah) dalam meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa.
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA PADA MATERI ARITMETIKA SOSIAL KELAS VII SMP NEGERI 1 LUAHAGUNDRE MANIAMOLO TAHUN PEMBELAJARAN 2020/2021 Hestu Tansil La`ia; Antonius Sarumaha; Aluiwaauri Tafonao
Jurnal Education and Development Vol 10 No 1 (2022): Vol.10. No.1 2022
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.838 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada materi aritmetika sosial, 2) Mendeskripsikan kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada materi aritmetika sosial. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. Informan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII-A yang berjumlah 17 orang. Data dianalisa dengan langkah-langkah yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Teknik pengumpulan data penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan pemecahan masalah matematika dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ada siswa yang belum mempau mengidentifikasi data yang diketahui dan data yang ditanya pada soal, siswa belum mampu merumuskan permasalahan atau menyusun model matematika, siswa belum mampu menerapkan strategi dalam menyelesaikan permasalahan aritmetika sosial serta siswa belum mampu menafsirkan atau mempresentasikan hasil akhir yang diperoleh. Maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa masih rendah dan siswa masih kesulitan dalam menyelesaikan soal terkait permasalahan aritmetika sosial. Hal ini karena, siswa masih belum memahami soal dan cara merumuskan atau menyusun suatu model matematika dari permasalahan kontekstual. Selanjutnya, siswa masih belum mampu menerapkan strategi yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan. Peneliti menyarankan agar guru mata pelajaran matematika lebih memperhatikan lagi perkembangan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematika serta siswa dibiasakan dalam menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah.