Yudianti Herawati
Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

CERITA RAKYAT ”AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI” DAN ”PUTRI KARANG MELENU” DARI KUTAI KARTANEGARA (KAJIAN MOTIF INDEKS THOMPSON) Yudianti Herawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 1 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.721 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v8i1.928

Abstract

This paper aims to describe motifs of “Aji Batara Agung Dewa Sakti” and “Putri Karang Melenu” folklores from Kutai Kartanegara Kingdom with the Thompson’s motif index approach. This research uses descriptive-qualitative method,it discusses (1) the historical background, (2) the division of motifs, and (3) the similarities and differences in those two folklores. The result shows that they apply eight Thompson’s motifs index revealing similarities and differences of the folklores. Abstrak: Tujuan penelitian ini mendeskripsikan motif cerita rakyat ”Aji Batara Agung Dewa Sakti” dan “Putri Karang Melenu” yang berasal dari Kerajaan Kutai Kartanegara dengan pendekatan teori motif indeks Thompson. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, sedangkan rumusan masalahnya meliputi (1) bagaimana peristiwa sejarah yang melatar belakangi cerita rakyat; (2) bagaimanakah klasifikasi motif dalam cerita; dan (3) bagaimana pula persamaan dan perbedaan cerita rakyat “Aji Batara Agung Dewa Sakti” dan “Putri Karang Melenu”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif cerita “Aji Batara Agung Dewa Sakti” dan “Putri Karang Melenu” menerapkan motif indeks yang disusun oleh Thompson sehingga kedua cerita rakyat itu memiliki delapan motif cerita. Kedelapan motif tersebut memperlihatkan persamaan dan perbedaan. 
TEMA DAN NILAI MAKNA LIMA CERITA PENDEK DALAM TERBITAN MANUNTUNG DI KALIMANTAN TIMUR (PERIODE 1989) Yudianti Herawati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 17, No 1 (2022): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v17i1.4672

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur intrinsik pada lima cerpen terbitan Manuntung periode 1989 yang berkaitan dengan tema dan nilai makna. Masalah dalam penelitian ini diharapkan mampu menganalisis struktur cerita dalam ketujuh cerpen terbitan Manuntung periode 1989. Permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut (1) bagaimana bentuk ringkasan cerita kelima cerpen yang terbit di Manuntung, (2) bagaimanakah tema kelima cerpen yang terbit di Manuntung, dan (3) bagaimana pula nilai makna kelima cerpen yang terbit di Manuntung. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan memanfaatkan teknik deskripsi, sedangkan teori yang digunakan adalah struktur intrinsik. Teknik analitik juga digunakan untuk menentukan nilai makna dalam cerpen-cerpen itu sebagai objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tema dalam kelima cerpen terbitan Manuntung periode 1989 di Kalimantan Timur (1) memiliki keragaman tema, alur, dan karakteristik tokoh yang berbeda dan dibangun berdasarkan struktur intrinsik, (2) nilai makna yang berkembang dalam ketujuh cerpen itu adalah realitas sosial yang dialami oleh masyarakat pada umumnya dengan latar dan waktu yang terjadi di lingkungan pengarang. Kata kunci: cerpen, struktur, intrinsik, nilai, makna 
KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM NOVEL BUNGA KARYA KORRIE LAYUN RAMPAN (KAJIAN FEMINISME) Yudianti Herawati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 12, No 2 (2017): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6261.831 KB) | DOI: 10.26499/loa.v12i2.1559

Abstract

The purpose of this study was to describe the position of female characters in Bunga by Korrie Layun Rampan . It focused on the role and characteristics of female characters, both traditional and modern women in Bunga . This research used descriptive-qualitative method and feminism theory . In addition, it applied descriptive analysis techniques to describe the data . Analytical technique is used to determine the meaning of the story content of the research object . The results of this study illustrated that the position of women in Bunga was elevated: (1) Bunga was an objective and realistic figure of inland woman who behaved according to customs, (2) as the daughter of male village elder, Bunga personally did not rely on her parents’ status, and (3) Bunga represented a future-oriented person .
TEMA DAN NILAI MORAL DALAM EMPAT CERITA PENDEK TERBITAN SURAT KABAR MANUNTUNG DI KALIMANTAN TIMUR Yudianti Herawati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 16, No 1 (2021): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v16i1.3591

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan struktur cerita dalam empat cerpen  terbitan surat kabar harian Manuntung periode 1988 terkait dengan tema dan nilai moral. Masalah dalam penelitian ini meliputi (1) bagaimana bentuk indentifikasi cerita dalam keempat cerpen yang terbit di Manuntung, (2) bagaimanakah tema dalam keempat cerpen yang terbit di Manuntung, dan (3) bagaimana pula nilai-nilai moral dalam keempat cerpen yang terbit di Manuntung. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan memanfaatkan teknik deskripsi, sedangkan teori yang digunakan adalah pendekatan intrinsik. Teknik analitik juga digunakan untuk menentukan makna isi cerita dalam cerpen-cerpen tersebut sebagai objek penelitian. Hasil penelitin ini menunjukkan bahwa tema dalam keempat cerita pendek terbitan surat kabar Manuntung periode 1988 di Kalimantan Timur memiliki perwatakan dan karakteristik penceritaan yang berbeda, sedangkan nilai moral dalam cerpen-cerpen itu sebagai cerminan kehidupan yang dialami masyarakat dengan latar, waktu, dan lingkungan tertentu yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa di lingkungan sosial dan budaya di Kalimantan Timur. Kata kunci: intrinsik, nilai, moral, sosial, budaya AbstractThe purpose of this study was to describe the structure of the story in the four short stories published by the 1988 Manuntung daily newspaper related to moral themes and values. The problems in this study include (1) what are the forms of story identification in the four short stories published in Manuntung, (2) what are the themes in the four short stories published in Manuntung, and (3) what are the moral values in the four short stories published in Manuntung. This research is qualitative by utilizing descriptive techniques, while the theory used is an intrinsic approach. Analytical techniques are also used to determine the meaning of the story content in the short stories as the object of research. The results of this study indicate that the themes in the four short stories published by the Manuntung newspaper in the 1988 period in East Kalimantan have different narrative characteristics and characteristics, while the moral values in the short stories reflect the life experienced by the community with a certain background, time and environment the background for the occurrence of events in the social and cultural environment of East Kalimantan.   Key words: intrinsic, value, moral, social, culture
TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM TIGA CERITA PENDEK KALIMANTAN TIMUR: ANALISIS TEORI STRUKTURAL Yudianti Herawati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 13, No 1 (2018): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v13i1.1550

Abstract

The purpose of this study is to describe intrinsic elements of character and characterization using structural analysis in three short stories of East Kalimantan. It discusses about (1) forms of the story, (2) character and characterization distributions, and (3) characters’ personality in "Selamat Tinggal Jakarta", "Pembualan", and "Pilihan Galuh" short stories. This research uses descriptive-qualitative method. It applies the theory of intrinsic structuralism. In addition, descriptive analysis techniques are used to describe the data. Analytical technique is also used to determine the meaning of the story content. The results of this study show different idealism of the characters in those short stories. Those characteristics and attitudes reveal characters’ relationships in an integrated and mutually supportive unit.
KARAKTERISTIK TOKOH BUNGKUN DALAM CERITA RAKYAT DAYAK NGAJU, KALIMANTAN TENGAH Yudianti Herawati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 12, No 1 (2017): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.898 KB) | DOI: 10.26499/loa.v12i1.1570

Abstract

This paper aimed to reveal and describe the intrinsic and extrinsic structures depicted in Bungkun story of Dayak Ngaju people, Central Kalimantan. The problem that arose in this research was limited to the analysis of Bungkun’s character. It used structuralism and oral literature theories to analyze the cultural values, belief, ingenuity, and characters’ exemplification in the story of Bungkun. This research used qualitative method and descriptive analytical techniques. It discussed the story of Dayak Ngaju folklore that brought many values of good characters, exemplification, and advices that shaped the characters of the local community better and made their personal and social life qualified. It showed that Bungkun was an ordinary human who had a unique character in living his life and ingenuity in dealing with his poverty so that Bungkun became a role model for Ngaju people.
TEMA PERCINTAAN DALAM TIGA CERITA PENDEK TERBITAN SURAT KABAR MANUNTUNG DI KALIMANTAN TIMUR (PERIODE 1988—1989) Yudianti Herawati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 15, No 2 (2020): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v15i2.2791

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan struktur cerita dalam tiga cerpen  terbitan surat kabar harian Manuntung periode 1988—1989 yang difokuskan pada tema percintaan dan gejala sosial kultural. Masalah dalam penelitian ini meliputi (1) bagaimana bentuk struktur cerita dalam ketiga cerpen yang terbit di Manuntung, (2) bagaimanakah tema percintaan dalam ketiga cerpen yang terbit di Manuntung, dan (3) bagaimana pula gejala sosial kultural dalam ketiga cerpen yang terbit di Manuntung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, sedangkan penerapan teori menggunakan struktural intrinsik. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan data-data cerpen yang diperoleh dari surat kabar Manuntung. Selain itu, teknik analitik juga digunakan untuk menentukan makna isi cerita dalam cerpen-cerpen tersebut sebagai objek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tema percintaan yang digambarkan pengarang dalam ketiga cerpen yang terbit Manuntung peiode 1988—1989 memiliki karakteristik yang berbeda yang mengisahkan sepenggal kehidupan tokoh dengan berbagai pertikaian, peristiwa yang mengharukan dan menyenangkan, serta mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan oleh tokoh-tokoh dalam ketiga cerpen tersebut. Kata kunci: struktur, intrinsik, percintaan, sosial, kulturalAbstractThe purpose of this study is to describe the structure of the story in three short stories published by Manuntung daily newspapers in the period 1988--1989 which focuses on the theme of romance and socio-cultural phenomena. It discusses about (1) the structure of the story, (2) the theme of love, and (3) the socio-cultural symptoms in Manuntung’s three short stories. This study uses descriptive-qualitative methods and intrinsic structural theory. Descriptive analysis technique is used to describe the short story data. Analytical techniques are also used to determine the meaning of the story content in those short stories as the object of the research. The results of this study indicate that the theme of love described by the authors in Manuntung’s three short stories in the period 1988-1989 has different characteristics. They tell a moment of a character's life, like conflicts, touching moments, and happy times. They also contain impressions that are remembered by the characters in those three short stories. Keywords: structure, intrinsic, romance, social, cultural 
HUBUNGAN INTERTEKSTUAL ANTARA NOVEL DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH KARYA HAMKA, BERMANDI CAHAYA BULAN KARYA A. ASJIMY, DAN SITI NURJANAH KARYA SUNARYONO BASUKI Yudianti Herawati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 11, No 1 (2016): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.942 KB) | DOI: 10.26499/loa.v11i1.1657

Abstract

This research aims to describe intertextuality in three novels, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Bermandi Cahaya Bulan, and Siti Nurjanah, so that these novels’ transformation is more vivid especially the structure of the story, like motifs and sujet, characters and characterization, and the story background. It focuses on the division of motifs in the novels. It is a qualitative research and the data collection method is descriptive qualitative. It uses intertextuality theories. The analysis shows that intertextuality in Di Bawah Lindungan Ka’bah, Bermandi Cahaya Bulan, and Siti Nurjanah novels describes a clear meaning of the entanglement structure which is about equation, difference, and opposition. It also reveals plots in the motifs of each characterization. 
MAKNA DAN NILAI-NILAI MORAL DALAM SASTRA DAERAH TARSULAN PERKAWINAN DI KUTAI KARTANEGARA Yudianti Herawati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 18, No 1 (2023): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v18i1.5891

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna dan nilai-nilai moral yang terdapat dalam sastra daerah Tarsulan Perkawinan di Kutai Kartanegara. Masalah dalam penelitian ini (1) bagaimana bentuk syair Tarsulan Perkawinan, (2) bagaimanakah analisis makna dalam syair Tarsulan Perkawinan, dan (3) bagaimana pula nilai-nilai moral yang terkandung dalam syair Tarsul Perkawinan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskripsi, sedangkan teori yang digunakan adalah pendekatan struktural. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk memaknai keseluruhan isi syair dalam Tarsulan Perkawinan sebagai objek penelitian. Selain itu, teknik analitik juga digunakan untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat pada syair tarsul tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) sastra daerah tarsul sebagai warisan budaya mencerminkan kehalusan budi pekerti luhur yang masih terpelihara dengan baik di masyarakat Kutai Kartanegara, (2) tarsul merupakan  bahasa  simbol, berbentuk pantun dan syair tradisional yang menonjolkan irama  dengan  cengkok-cengkok  tertentu yang bersifat keagamaan dan perkawinan, dan (3) tarsul adalah tradisi lisan masyarakat Kutai Kartanegara yang masih terpelihara dengan baik, seiring dengan pelestarian berbagai upacara siklus hidup masyarakat dan upacara lainnya. Kata kunci: tarsul, perkawinan, syair, makna, nilai, moral AbstractThe study is to describe the meaning and moral values found in the Tarsulan Perkawinan literature in Kutai Kartanegara. The problem in this study (1) how the words Tarsulan Perkawinan look, (2) how do the words Tarsulan Perkawinan analyze the meaning of Tarsul Perkawinan, and (3) what are the moral values embodied in the words Tarsulan Perkawinan. The study uses descriptive-qualitative methods, while the theory used is a structural approach. A descriptive analysis technique is used to apply the entire text in Tarsulan Perkawinan as an object of study. Additionally, analytic techniques are also used to unearth the local wisdom values of tarsul poem. The study suggests that (1) tarsul literature asa cultural heritage reflects the virtues of preserved civility in Kutai Kartanegara society, (2) tarsul is a symbolic language, a tunic and a traditional verse that highlights rhythm with certain religious and mating bells, and (3) tarsul is an oral tradition of the well-preserved Kutai Kartanegara people, Along with the preservation of various life-cycle ceremonies of society and other ceremonies.Key words: tarsul, marriage, verse, meaning, value, moral I. PENDAHULUANSastra lisan merupakan bagian dari sastra rakyat. Predikat sebagai sastra rakyat adalah seni berbahasa yang pada dasarnya berlangsung secara lisan sehingga menjadi milik seluruh rakyat. Jika pengertian sastra itu diperluas seperti pengertian dalam sastra modern, beberapa produk budaya rakyat dapat digolongkan sebagai sastra rakyat.             Kalimantan Timur memiliki kekayaan budaya yang beragam. Keragaman budaya itu melebihi keragaman masyarakat etnis di wilayah ini. Bahkan, secara umum, sering kali terjadi penyebutan etnis tertentu yang khas, termasuk karakteristik bahasanya. Artinya, keragaman bahasa daerah tersebut berpengaruh terhadap keragaman sastra daerah dalam masyarakat Kalimantan Timur. Masyarakat Kalimantan Timur dikenal memiliki peradaban yang tinggi dan budi bahasa yang halus. Tingkat peradaban dan kehalusan budi bahasa itu tercermin di dalam seni sastra daerah, di antaranya cerita rakyat, puisi rakyat, syair, pantun, peribahasa, dan sebagainya. Selama ini, masyarakat di Kalimantan Timur awam menilai bahwa yang dimaksud sastra daerah adalah cerita rakyat. Sementara itu, produk budaya rakyat seperti madihin, tarsul, tingkilan, mamanda, peribahasa daerah, dan sebagainya, kurang mendapatkan ruang apresiasi yang memadai. Padahal, untaian kata peribahasa daerah, syair dalam tingkilan, dan pantun berwujud tarsul itu juga memiliki peran dalam penanaman nilai-nilai edukasi bagi pemiliknya. Seni pantun yang berupa tarsul pun memiliki fungsi pengajaran seperti peribahasa atau cerita rakyat. Akan tetapi, sebagai sastra daerah, cerita rakyat memang merupakan media pengajaran nilai-nilai budaya yang lebih mudah dipahami karena disajikan dalam bahasa paparan atau prosa. Sementara masyarakat agak berkesulitan mencerna
KEBERAGAMAN CERITA RAKYAT DI KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR Yudianti Herawati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 19, No 1 (2024): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v19i1.7242

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan keberagaman sastra daerah dalam bentuk cerita rakyat sebagai penunjang muatan lokal di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tujuan praktisnya penelitian ini dapat memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas pada anak didik agar memiliki keperdulian yang memadai dalam mendokumentasikan dan melestarikan kembali sastra daerah tersebut sehingga tidak mengalami kepunahan. Masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah mengemas keberagaman  cerita rakyat Kutai ke arah yang lebih menarik sebagai bahan bacaan penunjang muatan lokal di  Kutai Kartanegara, baik berbasis sekolah maupun komunitas tutur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sedangkan teori yang digunakan adalah folklore. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk menguraikan keragaman  bentuk cerita rakyat di Kutai Kartanegara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Ketiga belas  cerita rakyat dalam kajian ini merupakan bentuk inventarisasi dan revitalisasi sastra daerah yang ada di Kutai Kartanegara, (2) Cerita rakyat tersebut berkaitan erat dengan pengaruh sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura baik hubungan perdagangan, penyebaran agama, ekonomi, politik, sosial, adat istiadat maupun tradisi budaya dalam bentuk sastra lisan (mitos, lengenda, dan dongeng), dan (3)  Keragaman cerita rakyat tersebut dapat menjadi bahan penunjang muatan lokal agar keberadaan sastra daerah di Kutai Kartanegara dapat dipertahankan. Kata kunci: cerita, sastra, daerah, muatan, sekolah AbstractThe study aims to describe the diverse literary areas in the form of folklore as support of local payload in kutai kartanaku, east kalimantan. The practical purposes of this study can provide learners with adequate care in documenting and represerving the literature of the kutai region so as not to be wiped out. The focus of this study is to pack kutai's diverse folklore in a more interesting direction as local content reading materials in Kutai Kartanegara, both school-based and speech community. The study uses qualitative methods, while the theory used is folklore. Descriptive analysis techniques are used to describe the diversity of forms of folklore in the Kutai Kartanegara. The results of this study suggest that (1) The thirteenth of the folklore in the study was an inventory and revitalization of the regional literature of Kutai Kartanegara, (2) The folklore is closely associated with the influence of the history of the kingdom of Kutai Kartanegara Ing Martadipura, both commerce, propagation of religion, economics, politics, social, customs and cultural traditions in the form of oral literature (mythology, lengenda, and fairy tales), and (3) Kutai's folklore has a diversity and diversity of content according to the need for local stock supplies so that the presence of the kutai region's literature can be documented and reappeared before the public, mainly students and teachers. Therefore, the literature of the area is maintained. Key words: story, literature, area, charge, school