Bagus Kurniawan
Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSEP TEOLOGIS AHLUSUNAH WALJAMAAH DALAM TUHFAH AR-RAAGHIBIIN KARYA ABDUSSAMAD AL-PALIMBANI (SEBUAH KAJIAN FILOLOGIS) Ahmad Taufiq; Bagus Kurniawan; Asep Yudha Wirajaya; Istadiyantha Istadiyantha
Haluan Sastra Budaya Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v4i2.28228

Abstract

Tuhfah ar-Raaghibiin is a Classical Malay text which is still in a manuscipts. This text contains Abdussamad al-Palimbani’s intelectual thought on theology field written on 1128 H. This study aims to describe Ahlusunah Waljamaah concept and other theology concepts. After catalog study was carried out in Indonesia, it can be implied that there is one manuscript coded Ml. 719 saved in Perpustakaan Nasional Jakarta. The approach used in this research is textual-formal. The data was collected with library technique. The technique to analyse these data is content analysis dan comparative analysis. Ahlusunah Waljamaah concept on Tuhfah ar-Raaghibin compromises two extreme concepts, those are between Jabbariyah and Qadariyah, between Rafidliyah and Kharijiyah, and between Jahmiyyah and Murji’ah. Rafidliyah believes in Ali’s majesty and claims Kafir to his enemies. Jabbariyah argues that human actions are created by God. On the other hand, Qadariyah argues that human actions are held by themself. Furthermore Jahmiyyah considers on God purification and justice. Moreover Murji’ah trust on omnipotence of God.
Hegemoni Ideologi Perang Sabil sebagai Wacana Antikolonial dalam Teks Syair Raja Siak Bagus Kurniawan
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 6, No 2 (2015): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.572 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v6i2.300

Abstract

Kolonialisme di Nusantara yang berlangsung kurang lebih tiga abad telah meninggalkan jejak kolonialisme yang terlacak dalam kebudayaan Nusantara. Dalam konteks kesusastraan,  persinggungan antara penguasa kolonial dengan rakyat terjajah memunculkan adanya sejumlah karya sastra Melayu klasik yang bertema perang kolonial. Di dalam karya-karya tersebut salah satu hal yang tampak adanya sebuah ideologi perang sabil. Karya-karya seperti itu oleh penguasa kolonial dianggap sebagai karya sastra yang sangat berbahaya karena mengajarkan masyarakat terjajah untuk melakukan resistensi karena ideologi perang sabil yang ada dalam beberapa karya sastra Melayu klasik memiliki dimensi yang hegemonik dalam masyarakat terjajah. Oleh karena itu, di masa lampau ada usaha yang dilakukan oleh penguasa kolonial untuk memusnahkan sejumlah karya sastra yang mengajarkan ideologi perang sabil. Salah satu karya sastra Melayu klasik yang memiliki tema perang dengan penguasa kolonial dan memiliki ajaran ideologi perang sabil adalah Syair Raja Siak. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini diungkapkan adanya hegemoni ideologi perang sabil di dalam teks sebagai sebuah wacana antikolonial. Ideologi perang sabil yang diajarkan di dalam teks memilki sejumlah peran dalam praktik material masyarakat bumiputra. Untuk menganalisis peran ideologi perang sabil sebagai ideologi yang hegemonik di dalam teks serta perannya sebagai wacana antikolonial, maka tulisan ini menggunakan dua teori, yaitu teori hegemoni Gramsci dan teori poskolonial. Teori hegemoni Gramsci digunakan untuk melihat aspek hegemonik ideologi perang sabil, sedangkan teori pascakolonial digunakan untuk melihat dimensi antikolonial yang ada dalam ideologi tersebut.