Asep Yudha Wirajaya
Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSEP TEOLOGIS AHLUSUNAH WALJAMAAH DALAM TUHFAH AR-RAAGHIBIIN KARYA ABDUSSAMAD AL-PALIMBANI (SEBUAH KAJIAN FILOLOGIS) Ahmad Taufiq; Bagus Kurniawan; Asep Yudha Wirajaya; Istadiyantha Istadiyantha
Haluan Sastra Budaya Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v4i2.28228

Abstract

Tuhfah ar-Raaghibiin is a Classical Malay text which is still in a manuscipts. This text contains Abdussamad al-Palimbani’s intelectual thought on theology field written on 1128 H. This study aims to describe Ahlusunah Waljamaah concept and other theology concepts. After catalog study was carried out in Indonesia, it can be implied that there is one manuscript coded Ml. 719 saved in Perpustakaan Nasional Jakarta. The approach used in this research is textual-formal. The data was collected with library technique. The technique to analyse these data is content analysis dan comparative analysis. Ahlusunah Waljamaah concept on Tuhfah ar-Raaghibin compromises two extreme concepts, those are between Jabbariyah and Qadariyah, between Rafidliyah and Kharijiyah, and between Jahmiyyah and Murji’ah. Rafidliyah believes in Ali’s majesty and claims Kafir to his enemies. Jabbariyah argues that human actions are created by God. On the other hand, Qadariyah argues that human actions are held by themself. Furthermore Jahmiyyah considers on God purification and justice. Moreover Murji’ah trust on omnipotence of God.
Welfare State sebagai Pilar Pengentasan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat: Sebuah Kearifan Lokal dalam "Syair Nasihat" Asep Yudha Wirajaya
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 4, No 1 (2013): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1543.449 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v4i1.409

Abstract

Kajian tentang pembangunan (ekonomi) selama ini didominasi oleh pandangan yang sangat materialistik sehingga proses dan tujuan pembangunan menjadi amat reduksionis. Implikasinya, persoalan-persoalan ekonomi yang hendak dipecahkan lewat serangkaian program pembangunan bukannya selesai, melainkan malah menciptakan masalah baru yang tidak kalah serius, seperti kemelaratan, ketimpangan, pengangguran, kriminalitas, degradasi lingkungan, dan masih banyak lainnya. Bahkan, telah menyebabkan terjadinya pergeseran atas konsep zakat, terutama dalam implementasinya. Bahkan dalam konteks Indonesia kontemporer, zakat bagi sebagianbesar penduduk yang mayoritasnya umatmuslim hanya dimaknai sebagai zakat fitrah,sehingga berbagai keriuhan pembayaran zakatbegitu kentara hanya menjelang Idul Fitri. Pada titik inilah, zakat lebih nampaksebagai ritual budaya periodik umat Islam daripada anjuran Tuhan dalam rangkamenyeimbangkan kesejahteraan umatmanusia.Padahal potensi zakat sebenarnya dapat digunakan untuk membangun kesejahteraan umum (welfare state). Oleh karena itu, perlu ada sebuah kajian komprehensif untuk melihat kembali pola berperikehidupan para nenek moyang kita dulu yang tersimpan dalam naskah-naskah kuna sehingga dapat menjadi cermin, sekaligus alternatif solusi di masa kini dan masa yang akan datang.