Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kajian Pemanfataan Padang Lamun Sebagai Lahan Budidaya Ikan Baronang di Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai Firdaut Ismail; Nebuchadnezzar Akbar; Rustam E Paembonan; Irmalita Tahir
Jurnal Ilmu Kelautan Kepulauan Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Ilmu Kelautan Kepulauan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan. Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.65 KB) | DOI: 10.33387/jikk.v2i1.1195

Abstract

Komunitas lamun berada di antara batas terendah daerah pasang surut sampai kedalaman tertentu di mana cahaya matahari masih dapat mencapai dasar laut. Padang lamun merupakan suatu komunitas dengan produktivitas primer dan sekunder yang sangat tinggi, detritus yang dihasilkan sangat banyak, dan mampu mendukung berbagai macam komunitas hewan. Salah satu penyebabnya adalah pemanfaatan daerah pantai yang dapat memberikan pengaruh terhadap keberadaan padang lamun. Ancaman terhadap eksistensi padang lamun ini diduga menyebabkan ikan baronang menurunnya nilai produksi hal ini akan memberikan pengaruh terhadap kondisi stok ikan baronang. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasikan kondisi ekosistem lamun di perairan di Pulau Sembilan, (2) Menganalisis hubungan kondisi ekologis padang lamun terhadap pertumbuhan ikan baronang di Pulau Sembilan.Pengumpulan data dilakukan sejak bulan Agustus hingga September 2015 di padang lamun perairan Pulau Liang-liang, Kabupaten Sinjai. Pengumpulan data yang diperoleh secara langsung dilapangan dengan melakukan pengukuran kualitas air, kerapatan arus, kerapatan, penutupan lamun dan pertumbuhan ikan baronang.Pengamatan terhadap padang lamun di perairan Pulau Liang-liang merupakan vegetisi campuran (heterospesifik) yang didominasi oleh Cymodocea serrulata di stasiun I, II dan III serta didominasi oleh Syringodium isoetifolium dan Halodule Uninervis, dengan total kerapatan 214 ( teg/m2), penutupan 20.15 ( % ) pada stasiun I, Stasiun II dengan total kerapatan 129 ( teg/m2), penutupan 9.66 ( % ) sedangkan pada stasiun III dengan total kerapatan 188 ( teg/m2), penutupan 10.84 ( % ). Pengamatan terhadap pertumbuhan ikan baronang S.canaliculatus dibedakan atas stasiun I mencapai kisaran 10 g, sedangkan pengamatan pada Stasiun II dengan pertambahan bobot berat selama penelitian adalah 5 g dan pengamatan pada Stasiun III (Pasir berlempung) pertumbuhan berat 8 g.Kata kunci : kajian, padang lamun, ikan baronang, pulau sembilan
Keanekaragaman dan Struktur Komunitas Megabentos pada Ekosistem Terumbu Karang di Pulau Kano, Maluku Utara: Megabentos pada Ekosistem Terumbu Karang Firdaut Ismail; Abdul Haffi Juhidin; Irmalita Tahir; Abdurrachman Baksir; Nebuchadnezzar Akbar; Ikbal Marus; Najamuddin Najamuddin; Rustam Paembonan; Abdul Ajiz Siolimbona; Nursanti Nursanti; Eko S Wibowo
Jurnal Ilmu Kelautan Kepulauan Vol 9 No 1 (2026): Jurnal Ilmu Kelautan Kepulauan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan. Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/jikk.v9i1.12763

Abstract

Coral reef ecosystems serve as critical habitats for megabenthos; however, ecological data on benthic communities in North Maluku, particularly in the waters of Kano Island, Taliabu Island Regency, remain critically scarce. This study aimed to identify species composition, analyze distribution patterns, and assess megabenthos community structure based on density, diversity, evenness, and dominance indices across three observation stations representing distinct habitat characteristics. Field sampling was conducted in January 2026 using the Benthos Belt Transect (BBT) method along 50 m transects with a 2 m observation width for megabenthos enumeration, and Underwater Photo Transect (UPT) analyzed with CPCe software for coral cover assessment. A total of 133 individuals belonging to 13 species from three phyla — Echinodermata, Mollusca, and Cnidaria — were recorded, with Protoreaster nodosus as the most abundant species. Live coral cover ranged from 20.27% to 62.80%, classifying Stations I and II as good condition while Station III was categorized as severely degraded. The Shannon diversity index (H') ranged from 1.51 to 1.95 (moderate), dominance index (D) from 0.18 to 0.34 (low to moderate), and evenness index (E) from 0.66 to 0.97 (high), collectively demonstrating that habitat quality exerts a significant influence on megabenthos community structure. These findings confirm that substrate quality and live coral cover are primary determinants of megabenthos density and diversity, underscoring the urgent need for coral reef rehabilitation at Station III and ecosystem-based management across the Taliabu Island region. Future research encompassing broader spatial and temporal scales is strongly recommended.