Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STRUKTUR ALTERNATIF FILM BOX OFFICE INDONESIA PASCAREFORMASI Budiman Akbar
Jurnal Ilmiah Publipreneur Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ilmiah Publipreneur
Publisher : Politeknik Negeri Media Kreatif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46961/jip.v1i2.118

Abstract

This research aims at analyzing Indonesia box office film structure. In this case, the film is Jelangkung. The researcher uses a descriptive comparative method. The result shows Jelangkung film use an alternative structure within the pattern of three segments, using a logical clause on the cause-effect story relationship.
KONTRIBUSI JENIS SHOT DAN PEMBINGKAIAN PADA IKLAN TELEVISI NIVEA MEN WHITENING DALAM MEMBERIKAN DAMPAK HIPERREALITAS BAGI MAHASISWA Budiman Akbar
VOXPOP Vol. 2 No. 1 (2020): VOXPOP
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada prinsipnya iklan di televisi ada kaidah-kaidah tertentu yang digunakan dalam berkomunikasi. Melalui kaidah pendekatan film atau sinema, maka terdapat kaidah bentuk (form) dan kaidah kedua adalah gaya (style). Kedua hal tersebut harus terdapat pada iklan di televisi, mengingat televisi merupakan perkembangan dari film. Bentuk (form) pada iklan televisi adalah konsep bercerita, dimana hiperrialitas seringkali menyelimuti cerita pada iklan di televisi. Sedangkan sinematografi merupakan salah satu dari aspek gaya (style) yang cenderung dianggap lebih memiliki pengaruh yang besar dibandingkan dengan aspek style yang lain. Jenis-jenis shot dan pembingkaian merupakan salah satu elemen dasar untuk mewujudkan aspek sinematografi di iklan televisi. Disinilah dilihat bagaimana hubungan antara hiperrealitas (cerita) dengan sinematografi, khususnya shot dan pembingkaian untuk mewujudkan pesan yang diharapkan oleh sebuah iklan televisi, sehinga meningkatkan penjualan barang (jasa) sebagai produk yang diiklankan. Atau sebaliknya, hiperrealitas (cerita) menjadi pondasi untuk memunculkan shot atau pembingkaian. Setidaknya mahasiswa Polimedia Prodi Broadcast sebagai subyek memberikan jawaban kontribusi shot dan pembingaian terhadap hiperrealitas pada iklan dalam sebuah angket metode kualitatif yang dilakukan. Sehingga para pembuat iklan di televisi kiranya perlu memperhatikan hal tersebut.