Heru Sasongko
Department of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Sebelas Maret. Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57 126, Central Java, Indonesia.

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

In-vivo Antipyretic Effect of Eel (Anguilla bicolor bicolor) Oil on Yeast-induced Fever on Mice Heru Sasongko; Aulia Ayu Rahmawati; Yeni Farida; Sugiyarto Sugiyarto
ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia Vol 15, No 2 (2019): September
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.369 KB) | DOI: 10.20961/alchemy.15.2.27086.219-227

Abstract

Fish oil has been studied for medicinal purposes, including its antipyretic properties. Eel (Anguilla bicolor bicolor) oil, which contains vitamins and fatty acids, including Omega-3 (EPA and DHA), is also expected to have the antipyretic effect. This research aimed to examine the antipyretic activity of eel oil on white mice (Mus musculus L.). An in-vivo study was done on thirty Swiss-Webster strain males mice that previously got 20% yeast-induced fever. Six treatments were applied including normal group (untreated), a negative control group (yeast-treated), a positive control group treated with acetaminophen (1.764 mg/20 g body weight), and three groups treated with eel oil (0.048, 0.096 and 0.192 g/20 g body weight, respectively). The data was analyzed statistically using one way ANOVA then was continued with LSD post hoc test. The results showed that eel oil has significantly reduced yeast-induced hyperthermia on mice five hours after application at doses 0.096 and 0.192 g/20 g body weight. Our finding suggests that eel oil possess antipyretic properties when was applied in certain doses, and this effect is presumably attributed to its high content of fatty acid, including EPA and DHA.
Efektivitas Larvasida Formula Granul Mengandung Ekstrak Bunga Melati (Jasminum sambac) dan Biji Pepaya (Carica papaya L.) Terhadap Mortalitas Larva Aedes aegypti Jevi Ramadhan Berliani; Yumna Zulfa Salsabila; Rindy Fidestia Anjaini; Heru Sasongko
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v6i1.30620

Abstract

Nyamuk Aedes aegypti merupakan vector utama pada kejadian demam berdarah (DBD). Pencegahan penularan DBD menggunakan bahan kimia disinyalir menimbulkan permasalahan sendiri diataranya adalah pencemaran lingkungan, resisten dan residu bahan kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas formula granul yang mengandung ekstrak bunga melati (EBM) dan ekstrak biji papaya (EBP) terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti. Ekstrak diperoleh menggunakan metode maserasi. Formula dibuat menggunakan metode granulasi basah. Uji larvasida menggunakan 30 larva yang terbagi dalam 6 kelompok yaitu kelompok kontrol dan formula. Kelompok kontrol terdiri dari kontrol negatif yaitu formula granul tanpa zat aktif dan kelompok pemberian serbuk abate sebagai kontrol positif. Kelompok formula terdiri dari formula mengandung EBM 10%, EBP 10%, formula kombinasi mengandung EBM dan EBP (5%:5%) dan (10%:10%).  Nilai persen mortalitas larva diamati setelah 24 jam pemberian formula granul. Uji statistik one way-ANOVA dilanjutkan Post-Hoc  Test  LSD dilakukan untuk melihat perbedaan antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula mengandung ekstrak tunggal EBP memberikan nilai persen mortalitas secara signifikan (p<0.05) dengan nilai 60%. Pada formula kombinasi EBM dan EBP (5%:5% dan 10%:10%)memberikan nilai persen mortalitas sebesar13,4% dan 26,6% berbeda signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif (p<0.05).
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Karika (Vasconcellea pubescens A.DC.) Terhadap Nilai SGPT dan SGOT pada Tikus Jantan yang Diinduksi Paracetamol Heru Sasongko; Sugiyarto Sugiyarto
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.961 KB) | DOI: 10.20961/jpscr.v3i2.21796

Abstract

Parasetamol merupakan salah satu antipiretik yang sudah terbukti bisa menyebabkan kerusakan hati pada penggunaan dosis toksik. Kenaikan nilai SGPT (Serum Glutamat Piruvat Transaminase) dan SGOT (Serum Glutamat Oksaloasetat Transaminase) merupakan salah satu parameter adanya gangguan fungsi hati. Pemberian suatu antioksidan dilaporkan berpengaruh terhadap proteksi kerusakan fungsi hati.  Daun karika (Vasconcellea pubescens A.DC.) pada penelitian sebelumnya telah diketahui dapat berperan sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol daun karika terhadap nilai SGPT dan SGOT pada model tikus yang diinduksi parasetamol. Pengujian dilakukan selama 9 hari terhadap 30 ekor tikus jantan galur Sprague Dawley (150-200 g, 2-3 bulan)  yang diacak menjadi 6 kelompok. Kelompok I sebagai kontrol normal, kelompok II diberi CMC Na 0,5% (p.o) sebagai kontrol negatif, kelompok III diberi silimarin dosis 100 mg/kgBB (p.o) sebagai kontrol positif, dan kelompok IV-VI diberi ekstrak etanol daun karika dengan dosis 60, 120, dan 240 mg/kgBB (p.o). Induksi parasetamol dosis 2 g/kg BB dilakukan pada hari ke-7. Serum darah diambil pada hari ke-9 untuk diukur kadar SGPT dan SGOT. Data kemudian dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun karika mulai dosis 60 mg/kgBB dapat menurunkan kadar SGPT dengan kadar 240,846 ± 11,15 U/I (p<0,05) dan SGOT dengan kadar 742,632 ± 68,81 U/I (p<0,05). Semua dosis ekstrak mampu menurunkan kadar SGPT dan SGOT secara signifikan bila dibandingkan dengan kontrol negatif. Pemberian ekstrak etanol daun karika berpengaruh pada penurunan kadar SGPT dan SGOT pada tikus jantan galur Sprague Dawley yang diinduksi parasetamol.