Septian Utut Sugiatno
IAIN Pontianak

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Badingsanak Banjar-Dayak: Religious Identity and Ethnic Economy in South Kalimantan Septian Utut Sugiatno
Al-Albab Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Graduate Program of Pontianak Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.092 KB) | DOI: 10.24260/alalbab.v5i2.747

Abstract

Mujiburrahman, Alfisyah, Ahmad Syadzali. 2015. Badingsanak Banjar-Dayak: Identitas Agama danĀ  Ekonomi Etnisitas di Kalimantan Selatan. Yogyakarta: CRCS-UGMThe Dayak-Banjar relationship is tied up by the myth of the origins of the kinship (Badingsanak) between the Sandayuhan (origins of the Meratus Dayak people) and Bambang Basiwara (origins of the Banjar), but in its development, this issue attracted the attention of some researchers to uncover the beginning of the relationship between these two ethnic groups. This is described by Mujiburrahman, et al., in the book Badingsanak Banjar-Dayak: Religious Identity and Ethnic Economy in South Kalimantan. According to Alfani Daud (1997: 1-4) as quoted by Mujiburrahman et al., In light of the great similarities between the Banjar and Malay languages, it is possible that the Banjar ancestors were descendants of the ethnic Malay who, in the past thousands of years, immigrated from Sumatra and the surrounding areas in this region. He assumed that Meratus were descendants of earlier Malay immigrants, who were driven away by later Malay immigrants. The latter then became the core group of the Banjar.
STUDI EKSPLORATIF SIKAP BAHASA MASYARAKAT URBAN KOTA PONTIANAK DAN RELEVANSINYA TERHADAP AGENDA SDGS Septian Utut Sugiatno; Farninda Aditya
ASMARALOKA : Jurnal Bidang Pendidikan, Linguistik dan Sastra Indonesia Vol. 4 No. 1 (2026): Volume 4 Nomer 1 Februari 2026
Publisher : Universitas Islam Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/asmaraloka.v4i1.724

Abstract

Bahasa dan masyarakat merupakan dua unsur yang saling berkaitan karena bahasa berfungsi sebagai sarana komunikasi, identitas, dan interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kajian sosiolinguistik, salah satu aspek yang penting untuk diteliti adalah sikap bahasa, terutama pada masyarakat urban yang hidup dalam lingkungan multibahasa dan multikultural. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sikap bahasa masyarakat urban di Kota Pontianak serta mengkaji relevansinya terhadap agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Fokus penelitian diarahkan pada tiga komponen sikap bahasa, yaitu loyalitas bahasa, kebanggaan bahasa, dan kesadaran terhadap norma berbahasa sebagaimana dikemukakan oleh Garvin dan Mathiot. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain eksploratif. Data diperoleh melalui penyebaran angket kepada 61 responden yang dipilih secara purposif sesuai dengan karakteristik masyarakat urban, serta didukung oleh wawancara untuk memperdalam interpretasi data. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif guna mengidentifikasi kecenderungan sikap bahasa responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden pada umumnya memiliki sikap bahasa yang positif yang tercermin dalam tingkat loyalitas bahasa, kebanggaan terhadap bahasa sebagai identitas sosial dan budaya, serta kesadaran dalam menerapkan norma berbahasa dalam berbagai situasi komunikasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa sikap bahasa yang positif berpotensi mendukung upaya pelestarian identitas linguistik masyarakat urban, memperkuat kohesi sosial, serta meningkatkan kualitas komunikasi masyarakat. Dengan demikian, sikap bahasa masyarakat urban memiliki relevansi terhadap pencapaian SDGs, khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas), Tujuan 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penguatan literasi, keberagaman budaya, dan komunikasi sosial yang inklusif.