Bahasa dan masyarakat merupakan dua unsur yang saling berkaitan karena bahasa berfungsi sebagai sarana komunikasi, identitas, dan interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kajian sosiolinguistik, salah satu aspek yang penting untuk diteliti adalah sikap bahasa, terutama pada masyarakat urban yang hidup dalam lingkungan multibahasa dan multikultural. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sikap bahasa masyarakat urban di Kota Pontianak serta mengkaji relevansinya terhadap agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Fokus penelitian diarahkan pada tiga komponen sikap bahasa, yaitu loyalitas bahasa, kebanggaan bahasa, dan kesadaran terhadap norma berbahasa sebagaimana dikemukakan oleh Garvin dan Mathiot. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain eksploratif. Data diperoleh melalui penyebaran angket kepada 61 responden yang dipilih secara purposif sesuai dengan karakteristik masyarakat urban, serta didukung oleh wawancara untuk memperdalam interpretasi data. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif guna mengidentifikasi kecenderungan sikap bahasa responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden pada umumnya memiliki sikap bahasa yang positif yang tercermin dalam tingkat loyalitas bahasa, kebanggaan terhadap bahasa sebagai identitas sosial dan budaya, serta kesadaran dalam menerapkan norma berbahasa dalam berbagai situasi komunikasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa sikap bahasa yang positif berpotensi mendukung upaya pelestarian identitas linguistik masyarakat urban, memperkuat kohesi sosial, serta meningkatkan kualitas komunikasi masyarakat. Dengan demikian, sikap bahasa masyarakat urban memiliki relevansi terhadap pencapaian SDGs, khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas), Tujuan 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penguatan literasi, keberagaman budaya, dan komunikasi sosial yang inklusif.