This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ecolab
Dewi Ratnaningsih
Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kawasan Puspiptek Serpong Gd. 210, Jalan Raya Puspiptek Serpong, Muncul, Serpong, Muncul, Tangerang Selatan, Kota Tangerang Selatan, Banten 15314, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penggunaan IKA-INA dalam Penilaian Kualitas Air dengan Dua Skenario Kurva Sub-Indeks Dewi Ratnaningsih; Retno Puji Lestari; Ernawita Nazir; Ridwan Fauzi; Budi Kurniawan
Jurnal Ecolab Vol 14, No 2 (2020): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2020.14.2.125-135

Abstract

Indeks kualitas air merupakan salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk penilaian kualitas air. Berbagai indeks kualitas air telah dikembangkan sesuai dengan peruntukannya. National Sanitation Foundation – Water Quality Index (NSF-WQI) merupakan salah satu formulasi indeks kualitas air yang banyak digunakan sebagai acuan pengembangan indeks baru. Tujuan kajian ini adalah untuk membandingkan penggunaan formulasi IKA-INA dengan skenario I menggunakan kurva sub indeks IKA-INA dan skenario II menggunakan kurva sub indeks kombinasi IKA-INA dan NSF-WQI. Kurva sub-indeks skenario II disusun dengan melakukan kombinasi kurva sub indeks NSF-WQI yang mempunyai parameter sesuai dengan kurva sub indeks IKA-INA. Uji Pearson Correlation dilakukan pada hasil indeks kualitas air skenario I dan II untuk mengetahui kedekatan dengan nilai indeks kualitas air berdasarkan penilaian pakar di lapangan. Formulasi IKA-INA dengan kurva sub indeks skenario I dan II diaplikasikan di 22 titik lokasi DAS Ciliwung dari hulu wilayah Puncak Bogor sampai ke hilir wilayah DKI Jakarta. Hasil aplikasi menunjukkan bahwa indeks kualitas air di DAS Ciliwung menunjukkan tren yang semakin memburuk ke arah hilir dengan rata-rata nilai indeks di wilayah Jakarta sebesar 38 untuk skenario I dan 32 untuk skenario II. Pemanfaatan dua skenario tersebut memberikan selisih nilai IKA yang lebih rendah untuk skenario II IKA-INA kombinasi dibandingkan skenario I. Hasil analisis menunjukkan bahwa kurva sub indeks IKA-INA masih mempunyai nilai kedekatan yang lebih tinggi dibandingkan IKA-INA kombinasi terhadap hasil IKA penilaian pakar di lapangan, namun kedua skenario tersebut masih berada pada nilai kedekatan yang sangat erat atau mendekati 1, sehingga selain skenario I, formulasi IKA-INA skenario II dengan kurva sub indeks kombinasi juga dapat dijadikan alternatif formulasi penilaian kualitas air sungai.
POTENSI PENCEMARAN PERSISTENT ORGANIC POLLUTANTS DI DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG Dewi Ratnaningsih; Yunesfi Syofyan; Yuriska Andiri; Sri Endah Kartiningsih
Jurnal Ecolab Vol 14, No 1 (2020): Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.808 KB) | DOI: 10.20886/jklh.2020.14.1.21-30

Abstract

Indonesia telah meratifikasi Konvensi Stockhom dalam upaya perlindungan terhadap bahaya bahan kimia Persistent Organic Pollutants (POPs). Sebagai tindak lanjut ratifikasi, Indonesia telah menyusun National Implementation Plan (NIP) dalam implementasi pengurangan dan penghapusan POPs. Pelaksanaan NIP membutuhkan informasi keberadaan POPs. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui tingkat pencemaran POPs di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung sebagai salah satu sungai prioritas nasional. Pengambilan sampel dilakukan di enam lokasi DAS Ciliwung yang berada di kawasan Bogor dan Jakarta. Jenis sampel yang diambil meliputi air sungai, sedimen sungai, dan tanah di sekitar bantaran sungai dengan parameter uji organochlorines (OCs) yang sebagian besar masuk dalam kelompok POPs. POPs diekstraksi dengan pelarut organik dan dianalisis menggunakan instrument GCMS. Hasil analisis menunjukkan bahwa POPs di air sungai hanya terdeteksi untuk kelompok DDTs, kelompok HCHs, dan HCB dengan konsentrasi jauh lebih rendah dibandingkan di sedimen sungai dan tanah.  Pada sedimen sungai dan tanah terdeteksi POPs dengan jenis yang lebih bervariasi dan konsentrasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan di air sungai. POPs masih terdeteksi di lingkungan meskipun telah dilarang penggunaanya. Oleh karena itu perlu menjadi evaluasi lebih lanjut apakah residu POPs tersebut merupakan sisa penggunaan waktu lampau yang masih bertahan karena sifat persistensinya atau ada indikasi lepasan baru.