Atur Parhorasan Nusantara Siregar
Department Of Civil Engineering, Faculty Of Engineering, Tadulako University, Jl. Soekarno-Hatta Km 5, Tondo, Palu 94118, Indonesia

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengaruh Penggunaan Gradasi Agregat Berbasis SNI 03-2834-2000 dalam Campuran Beton terhadap Kuat Tekan dan Fracture Toughness Beton Atur Parhorasan Nusantara Siregar; Nurul Idha; I Wayan Suarnita
Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2020.27.1.8

Abstract

AbstrakStandar Nasional Indonesia (SNI) nomor 03-2834-2000 (SNI 03-2834-2000) memberikan empat jenis slope gradasi gabungan agregat kasar dan halus dalam pembuatan beton  normal. Investigasi empat jenis slope gradasi agregat gabungan ini akan dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kuat tekan dan fracture toughness dari beton. Material dasar penyusun beton yang berasal dari Sungai Palu dan memenuhi kriteria standar SNl yang dipakai dalam membuat benda uji. Uji kuat tekan beton digunakan kubus berdimensi 150x150x150 mm dalam menentukan nilai kuat tekan beton (fc'), dan empat jenis balok berdimensi tebal, tinggi dan panjang: 50 x 100 x 300 mm, 50 x 150 x 450 mm, 50 x 300 x 900 mm, dan 50 x 400 x 1200 mm untuk uji Three-Point Bend (TPB) dalam menentukan fracture toughness beton (KIC). Hasil investigasi ini menunjukan bahwa gradasi agregat gabungan yang dipakai dalam campuran beton akan berpengaruh tidak signifikan pada nilai fc', akan tetapi berpengaruh signifikan pada nilai  KIC.AbstractIndonesian National Standard 03-2834-2000 (SNI 03-2834-2000) proposed four types of combined aggregate grading of coarse and fine aggregates in designing normal concrete strength. Investigation of four combined aggregate grading types was performed to determine its effect on the compressive strength and fracture toughness of the concrete.Basic material constituents of concrete were used from Palu river and fulfilling SNI criteria in manufacturing samples. Cubes of 150x150x150 mm were used to determine concrete compressive strength value (fc'), and four types of beams with dimension of width, height, and length: 50 x 100 x 300 mm, 50 x 150 x 450 mm, 50 x 300 x 900 mm, dan 50 x 400 x 1200 mm for Three-Point Bend (TPB) test method to determine fracture toughness of the concrete (KIC). Current research results were found that combined aggregate grading types influenced insignificantly on the fc' value, but significantly on the KIC value.
Experimental Investigation on the Effect of Specimen Size in Determining Fracture Parameters of Concrete Atur P. N. Siregar; M. I. Rafiq; M. Mulheron
Civil Engineering Dimension Vol. 18 No. 2 (2016): SEPTEMBER 2016
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.161 KB) | DOI: 10.9744/ced.18.2.65-71

Abstract

This paper presents the experimental results in investigating the effect of specimen size (ratio of beam width to aggregate size) on the value of stress intensity factor (KIC) and fracture energy (GF) using three-point bend (TPB). A test method recommended by RILEM was chosen to measure the KIC and the GF as fracture parameters. Three different specimen sizes of concrete beam with water/binder ratio of 0.2 and 0.30 were engaged in the experiments. Both qualitative and quantitative analyses based on the normalized stress against deflection curve, and the KIC and the GF were employed. Statistical analysis was carried out based on coefficient of variation of the measured value of fracture parameters in order to investigate the variability of corresponding results. It was found that specimen size have a relatively insensitive influence on the value of KIC, however, have a significant effect on the value of GF.
PENGARUH APLIKASI SAMBUNGAN JARI DAN SAMBUNGAN MIRING TERHADAP KEKUATAN GESER BALOK LAMINASI BILAH BAMBU PETUNG Basry, Wahiduddin; Siregar, Atur P. N.; Oka, Gusti Made
Surya Teknika Vol. 1 No. 1 (2024): Jurnal Surya Teknika Volume 1 Edisi 1 2024
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31934/jst.v1i1.5502

Abstract

Sebagai salah satu bahan konstruksi alternatif yang banyak digunakan saat ini, pemakaian bambu semakin di optimalkan. Salah satu upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan bambu yaitu dengan teknik laminasi, sehingga dengan cara ini dapat diperoleh balok laminasi sesuai dengan dimensi yang diinginkan. Akan tetapi, pemakaian sambungan sulit dihindarkan pada struktur bentang panjang sehingga perlu untuk mencari jenis sambungan yang paling optimum untuk digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari jenis sambungan yang paling optimum antara sambungan jari (finger joint) dengan sambungan miring (scarf joint). Bambu yang digunakan adalah bambu petung yang dibentuk bilah. Benda uji terdiri dari 3 variasi dari bahan bilah. Variasi benda uji meliputi balok laminasi bambu petung tanpa sambungan dari bahan bilah (BLP-B), balok laminasi dengan sambungan jari (BLP-BJ), serta balok laminasi dengan sambungan miring (BLP-BM). Hasil penelitian memberikan hasil bahwa aplikasi sambungan pada balok laminasi bilah bambu petung memberikan pengaruh terhadap penurunan kekuatan balok itu sendiri. Penurunan kekuatan balok rata-rata sebesar 37,61% untuk balok laminasi sambungan jari (BLP-BJ), dan penurunan kekuatan balok sebesar 48,45% untuk balok laminasi sambungan miring (BLP-BM). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa balok laminasi sambungan jari (BLP-BJ) memiliki kekuatan dalam memikul beban yang lebih tinggi dibandingkan balok laminasi sambungan miring (BLP-BM). Hal ini disebabkan aplikasi sambungan jari memiliki sifat saling mengunci dibanding sambungan miring yang memiliki kekuatan pada bidang perekat dan kemiringan sambungan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa aplikasi sambungan jari lebih kuat dibanding sambungan miring untuk aplikasi sambungan pada balok laminasi. Kata kunci: Balok laminasi bambu, bilah, sambungan jari, sambungan miring
Pengaruh Jenis Sambungan Jari dan Sambungan Miring pada Balok Laminasi Galar Bambu Petung Terhadap Keruntuhan Geser Basry, Wahiduddin; Siregar, Atur P. N.; Oka, I Gusti Made
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.298

Abstract

ABSTRAKKebutuhan kayu sebagai bahan konstruksi yang semakin meningkat tidak seimbang dengan ketersediaan bahan baku kayu yang memadai, sehingga pemanfaatan bambu sebagai alternatif harus lebih dioptimalkan. Salah satu upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan bambu yaitu dengan teknik laminasi, sehingga dengan dapat diperoleh balok sesuai dengan dimensi yang diinginkan. Akan tetapi penggunaan sambungan sulit dihindarkan pada struktur bentang panjang sehingga diperlukan jenis sambungan yang paling optimum antara sambungan jari (finger joint) dengan sambungan miring (scarf joint). Bambu yang digunakan adalah bambu petung yang dibentuk galar. Benda uji terdiri 3 variasi meliputi balok tanpa sambungan dari bahan galar (BLP-G), balok dengan sambungan jari (BLP-GJ), serta balok dengan sambungan miring (BLP-GM). Aplikasi sambungan pada balok laminasi memberikan pengaruh terhadap penurunan kekuatan balok. Penurunan kekuatan balok masing-masing sebesar 17,863% untuk sambungan jari (BLP-GJ), 66,119% untuk sambungan miring (BLP-GM). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa balok BLP-GJ memiliki kekuatan dalam memikul beban yang lebih tinggi dibandingkan balok BLP-GM. Hal ini disebabkan aplikasi sambungan jari memiliki sifat saling mengunci dibanding sambungan miring yang memiliki kekuatan pada bidang perekat dan kemiringan sambungan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa aplikasi sambungan jari lebih kuat dibanding sambungan miring untuk aplikasi sambungan pada balok laminasi.Kata kunci: balok laminasi bambu, finger joint, scarf joint ABSTRACKThe utilization of wood as a building material has indicated an increasing whether of structural and nonstructural elements. The necessity of wood could not be fulfilled due to the lack of wood with a large diameter. On the other hand, the utilization of bamboo has not been optimal so far because of its short durability of bamboo and the limited dimension of bamboo. The problem can be solved by laminating and joining. The research was conducted to optimize the joint type of finger joint and scarf joint. The bamboo used in this research was bamboo Petung (Dendrocalamus asper). Specimens of laminated beams were made in 3 variations. Beams were made without joint (BLP-G), beams with finger joint (BLP-GJ), and beams with scarf joint (BLP-GM). Each variation consists of 3 samples. Application joint at laminated beam influenced degradation of the strength of the laminated beam. The strength of beam degradation is 17,863 % (BLP-GJ), and 66,119 % (BLP-GM). The result of the experiment showed that BLP-GJ beams were stronger than BLP-GM beams because the application finger joint had better interlocking than the scarf joint. Based on the experimental result, it could be concluded that the application finger joint was stronger than the scarf joint.Keywords: bamboo laminated beam, finger joint, scarf joint