Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Aplikasi Pupuk Organik Hayati Berbahan Limbah Kasmur, Kohe & Sampah Organik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kangkung Misnen Misnen
Swadaya: Indonesian Journal of Community Empowerment Vol 2 No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) - Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/swa.v2i2.1401

Abstract

Penggunaan Pupuk Organik Hayati (POH) merupakan salah satu cara aplikasi budidaya pertanian ramah lingkungan. Selain dapat mengurangi limbah pertanian dan peternakan, POH mampu meningkatkan kesuburan tanah dan produksi tanaman. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh aplikasi POH berbahan media bekas jamur/ kasmur, kotoran ternak sapi (kohe) dan sampah organik terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman kangkung. Rancangan percobaan yang diterapkan adalah Rancangan Acak Kelompok, menggunakan 6 taraf perlakuan dengan tiga ulangan, yaitu A= Kasmur + Kohe + Pupuk Organik UPS BUMDes (100 kg +100 kg + 100 kg), B = Kasmur + Kohe + Pupuk Organik UPS BUMDes (75 kg +100 kg + 75 kg), Kasmur + Kohe (150 kg +150 kg), Kohe + Pupuk Organik UPS BUMDes (150 kg +150 kg). Hasil penelitian menunjukkan Ke-empat POH yang diuji sesuai dengan baku mutu POH dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011 dan SNI 19-7030-2004. POH dengan komposisi Kasmur+Kohe (150kg+150 kg) memiliki karakteristik pupuk terbaik yang ditandai dengan C/N rasio yang tinggi, kandungan unsur P dan N yang tertinggi. Perlakuan pemupukan terbaik yang menghasilkan pertumbuhan tanaman kangkung yang bagus (ditandai dengan tinggi tanaman, pertumbuhan akar, jumlah tunas, diameter batang dan bobot segar tanaman) adalah perlakukan Kasmur + Kohe (150 kg +150 kg), atau Pupuk Organik UPS BUMDes + Kohe (150 kg +150 kg). Secara keseluruhan aplikasi POH yang diperkaya dengan Trichoderma menunjukkan pertumbuhan kangkung yang lebih baik dibandingkan perlakukan pemupukan NPK dan kontrol tanpa pemupukan. Kata kunci : POH, kasmur, kohe, trichoderma, kangkung Penggunaan Pupuk Organik Hayati (POH) merupakan salah satu cara aplikasi budidaya pertanian ramah lingkungan. Selain dapat mengurangi limbah pertanian dan peternakan, POH mampu meningkatkan kesuburan tanah dan produksi tanaman. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh aplikasi POH berbahan media bekas jamur/ kasmur, kotoran ternak sapi (kohe) dan sampah organik terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman kangkung. Rancangan percobaan yang diterapkan adalah Rancangan Acak Kelompok, menggunakan 6 taraf perlakuan dengan tiga ulangan, yaitu A= Kasmur + Kohe + Pupuk Organik UPS BUMDes (100 kg +100 kg + 100 kg), B = Kasmur + Kohe + Pupuk Organik UPS BUMDes (75 kg +100 kg + 75 kg), Kasmur + Kohe (150 kg +150 kg), Kohe + Pupuk Organik UPS BUMDes (150 kg +150 kg). Hasil penelitian menunjukkan Ke-empat POH yang diuji sesuai dengan baku mutu POH dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011 dan SNI 19-7030-2004. POH dengan komposisi Kasmur+Kohe (150kg+150 kg) memiliki karakteristik pupuk terbaik yang ditandai dengan C/N rasio yang tinggi, kandungan unsur P dan N yang tertinggi. Perlakuan pemupukan terbaik yang menghasilkan pertumbuhan tanaman kangkung yang bagus (ditandai dengan tinggi tanaman, pertumbuhan akar, jumlah tunas, diameter batang dan bobot segar tanaman) adalah perlakukan Kasmur + Kohe (150 kg +150 kg), atau Pupuk Organik UPS BUMDes + Kohe (150 kg +150 kg). Secara keseluruhan aplikasi POH yang diperkaya dengan Trichoderma menunjukkan pertumbuhan kangkung yang lebih baik dibandingkan perlakukan pemupukan NPK dan kontrol tanpa pemupukan.
Transformasi Tradisi Baritan: Antara Pelestarian Budaya dan Potensi Pemberdayaan Masyarakat Misnen Misnen; Dian Tias Aorta
YASIN Vol 6 No 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v6i2.9794

Abstract

Although the Baritan tradition remains an important part of the social life of the Wati Hamlet community, the dynamics of modernization pose challenges to its sustainability, youth participation, and the development of its social functions. This study aimed to analyze the existence and transformation of the Baritan tradition in the social life of the Wati Hamlet community and to identify empowerment potential that can be developed amid social change. This study used a qualitative approach with a case study method. Data were collected through interviews, observation, and documentation, with participants consisting of customary leaders, community members, and young people selected purposively. The results showed that the Baritan tradition continues to survive as a cultural practice with strong spiritual and social values, particularly mutual cooperation, togetherness, and gratitude. However, the sustainability of this tradition faces challenges in the form of low youth participation, the influence of globalization, and limited documentation and promotion. On the other hand, the Baritan tradition has the potential for community empowerment through simple economic activities and community-based cultural development, although its implementation has not yet been optimal. The conclusion of this study confirms that the Baritan tradition has undergone a transformation from a cultural ritual toward a broader social function, thereby offering opportunities to be developed as a basis for community empowerment and the preservation of local wisdom amid modernization.