Sisunandar Sisunandar
Biology Education Department, University of Muhammadiyah Purwokerto Jl. Raya Dukuhwaluh, Kembaran, Purwokerto, 53182, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Cryopreservation for Germplasm Conservation: Progress Report on Indonesian Elite Mutant Coconut “Kopyor” Sisunandar, Sisunandar
Proceeding International Conference on Global Resource Conservation Vol 4, No 1: Proceeding of 4th ICGRC 2013
Publisher : Proceeding International Conference on Global Resource Conservation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.209 KB)

Abstract

Among Indonesian elite materials, the Kopyor mutant is a paramount interest, as it is much sought after by customers for its soft and sweet flesh, and high prices with more than 10 times higher than the one of a normal fresh coconut. However, this mutant cannot be conserved by normal means such as field genebanks or seed genebank. An alternative conservation method would be one that involves a degree of dehydration and then ultra-cold storage (cryopreservation). However, as yet such protocols developed for Kopyor have been untested and no field-growing plants have been produced back from these techniques. The cryopreservation of zygotic embryos was achieved through the following steps viz.: a rapid tissue dehydration step prior to storage and a rapid warming step upon recovery followed by acclimatization to soil-supported growth. The best protocol was one based on an 8-hour rapid dehydration step followed by rapid cooling step, rapid warming step and an optimized in vitro culture technique. Following this protocol almost 20 % of cryopreserved embryo could be returned to normal seedlings growing in soil. Moreover, 23 % of recovered embryos were viable but unable to produce normal plantlets, mostly showed stunted shoot. These results indicate that it is possible to store coconut kopyor germplasm on a long-term basis using cryopreservation approach, even though the production of abnormal seedlings following cryopreservation as has been seen in many recalcitrant species before remains a major challenge for the cryopreservation protocol.Keywords: cryopreservation, Embryo culture, Germplasm conservation, Kopyor, Rapid dehydration
Analisis Histologi Pelepah Daun Kelapa Kopyor Hibrida (Kopyor dalam Sinumpur (KDS) × Kopyor Genjah Kuning Sinumpur (KGKS) Latifah, Nisa Khoeri; Sisunandar, Sisunandar
Proceedings Series on Physical & Formal Sciences Vol. 7 (2024): Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pspfs.v7i.1201

Abstract

Perbaikan kualitas kelapa kopyor khususnya melalui persilangan belum banyak dilakukan. Di samping memerlukan waktu yang cukup lama, metode deteksi keberhasilan persilangan juga belum banyak dikembangkan. Saat ini metode morfologi sebagai alat deteksi keberhasilan persilangan memiliki keterbatasan sedangkan metode molekuler relatif mahal dan membutuhkan teknologi tinggi. Analisis keberhasilan persilangan secara histologi perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan histologi pelepah daun kelapa kopyor hibrida (KDS × KGKS) dengan tetua jantan (KDS) dan tetua betinanya (KGKS). Pelepah daun diisolasi dari dua sampel yaitu bibit kelapa in vitro berumur 9 - 12 bulan setelah tanam dan bibit kelapa ex vitro berumur 8 – 12 bulan pasca aklimatisasi. Preparat penampang melintang pelepah daun dipotong dengan tangan kemudian diwarnai dengan 2% safranin (30 detik) dilanjutkan 1% fastgreen (50 detik). Preparat diamati menggunakan mikroskop Olympus BX51 dan gambar diambil menggunakan kamera Olympus DP74. Gambar yang diperoleh dianalisis menggunakan software ImageJ untuk menghitung jumlah, luas total, dan luas rata- rata sklerenkim, serta jumlah, luas total, dan luas rata-rata ikatan pembuluh berserat (IPB). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA pada tingkat kepercayaan 95% dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada struktur histologi antara pelepah daun dari bibit in vitro dan bibit ex vitro. Pelepah daun bibit KDS memiliki jumlah maupun luas total sklerenkim yang lebih tinggi dibandingkan dengan pelepah daun bibit KGKS. Demikian pula bibit kelapa hibrida memiliki pelepah daun dengan jumlah dan luas total sklerenkim yang sama dengan pelepah daun bibit KDS dan lebih tinggi dibandingkan dengan pelepah daun bibit KGKS. Namun demikian, pelepah daun bibit kelapa hibrida tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam hal jumlah, luas total dan luas rata-rata IPB dibandingkan dengan bibit KGKS. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa analisis histologi pelepah daun dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi salah satu kunci identifikasi awal keberhasilan persilangan pada produksi bibit kelapa kopyor hibrida.