Zuyina Luklukaningsih
Universitas Widya Dharma Klaten

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN FISIOTERAPI TERHADAP KETRAMPILAN BERFIKIR KRITIS MAHASISWA UNIVERSITAS WIDYA DHARMA KLATEN Zuyina Luklukaningsih
INVOLUSI: Jurnal Ilmu Kebidanan Vol 9 No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Stikes Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine 1) the effectiveness of the physiotherapy learning method on the critical thinking skills of Widya Dharma Klaten University students, 2) the critical thinking skills of Widya Dharma University students of Physiotherapy, Klaten. The subjects of this study were students of the Widya Dharma Klaten University Physiotherapy study program, with the criteria of students who were active in lectures and had high learning motivation. These students were either male or female who experienced several learning problems, for example lack of focus in attending lectures, difficulty memorizing Latin for certain subjects, for example anatomy. The results of the descriptive analysis of the lowest empiric data for the pre-test were 140 and the highest score was 149, with an average value of 143 and a standard deviation of 3,450. While the results of the descriptive analysis of the lowest empiric data for the posttest were 143 and the highest score was 175, with an average value of 159 and a standard deviation of 11.05. These data indicate an increase in the average value of critical thinking skills among Widya Darma Klaten University students Based on the results of the study, it can be concluded that there is a difference in statistical values ​​between the pre-test group (before the learning method is used) and the Post-test group (after being given the learning method). So it can be said that the physiotherapy learning method is effective on students' critical thinking skills
EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN FISIOTERAPI TERHADAP KETRAMPILAN BERFIKIR KRITIS MAHASISWA UNIVERSITAS WIDYA DHARMA KLATEN Zuyina Luklukaningsih
INVOLUSI: Jurnal Ilmu Kebidanan Vol 9 No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/involusi.v9i1.103

Abstract

The purpose of this study was to determine 1) the effectiveness of the physiotherapy learning method on the critical thinking skills of Widya Dharma Klaten University students, 2) the critical thinking skills of Widya Dharma University students of Physiotherapy, Klaten. The subjects of this study were students of the Widya Dharma Klaten University Physiotherapy study program, with the criteria of students who were active in lectures and had high learning motivation. These students were either male or female who experienced several learning problems, for example lack of focus in attending lectures, difficulty memorizing Latin for certain subjects, for example anatomy. The results of the descriptive analysis of the lowest empiric data for the pre-test were 140 and the highest score was 149, with an average value of 143 and a standard deviation of 3,450. While the results of the descriptive analysis of the lowest empiric data for the posttest were 143 and the highest score was 175, with an average value of 159 and a standard deviation of 11.05. These data indicate an increase in the average value of critical thinking skills among Widya Darma Klaten University students Based on the results of the study, it can be concluded that there is a difference in statistical values ​​between the pre-test group (before the learning method is used) and the Post-test group (after being given the learning method). So it can be said that the physiotherapy learning method is effective on students' critical thinking skills
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA POST IMMOBILISASI GIPS FRAKTUR SUPRACONDYLAR HUMERI SINISTRA DENGAN TENS INFRARED DAN EXERCISE Wisnu Candra; Rima Yunitasari; Zuyina Luklukaningsih
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.6205

Abstract

Latar belakang: Kasus patah tulang selangka bawah (fraktur supracondylar humeri) sering dijumpai pada pasien anak, khususnya laki-laki (60%) dibandingkan perempuan (40%). Rentang usia 4 sampai 10 tahun menjadi periode paling rentan karena tulang masih dalam fase pertumbuhan (osifikasi). Untuk memulihkan kondisi ini, pemasangan gips pasca-reduksi menjadi opsi penanganan non-bedah yang utama demi menjaga posisi tulang tetap stabil. Tujuan: bertujuan untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan fisioterapi pada post imobilisasi gips akibat fraktur supracondylar humeri sinistra. Metode: Metode dirancang dengan metode studi kasus di Klinik GFRR Karanganyar, yang berlangsung sejak Desember 2025 sampai Januari 2026. Hasil: Setelah diberikan intervensi sebanyak 6 kali, terdapat perubahan pada. Keluhan nyeri berkurang, meliputi nyeri diam T1=2 menjadi T6=1, nyeri tekan T1=4 menjadi T6=2, dan nyeri gerak T1=5 menjadi T6=2. Fleksibilitas sendi membaik dengan peningkatan lingkup gerak dari T1=S=0°-0-110° menjadi T6=S=0°-0-135°. Kekuatan otot juga meningkat, baik pada kelompok otot fleksor T1=4 menjadi T6=5 maupun ekstensor T1=4 menjadi T6=5. Kondisi ini didukung oleh peningkatan kemampuan fungsional dengan Shoulder Pain and Disability Index (SPADI) dari 37% menjadi 19%. Kesimpulan: Setelah dilakukan 6 kali intervesi fisioterapi, didapatkan hasil adanya penurun nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, adanya peningkatan kekuatan otot serta adanya peningkatan kemampuan fungsional  
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS CERVICAL ROOT SYNDROME MENGGUNAKAN MODALITAS TENS MWD DAN TERAPI LATIHAN Annisa Adi Pramesti; Zuyina Luklukaningsih; Rima Yunitasari
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.6206

Abstract

Latar belakang: Cervical Root Syndrome kondisi tubuh posisi abnormal akibat tekanan pada akar saraf serviks akibat  trauma pada diskus intervertebralis di leher. Faktornya peradangan,cedera,osteoartritis, gangguan nyeri myofascial,spasme dan proses degeneratif. Prevalensi penderita 16,6% orang berumur mengalami ketidaknyamanan di leher pertahun, dengan sebagian besar kasus terjadi pada wanita. Tujuan: untuk memberikan informasi efektif transcutaneus electrical nerve stimulation, microwave diathermy, dan terapi latihan dalam mengurangi intensitas sakit, meningkatkan lingkup gerak sendi, daya tahan otot, serta memperbaiki aktivitas fungsional. Metode: Metode yang diaplikasikan pada penelitian ini adalah studi kasus. Data pasien didapatkan melewati anamnesis,pemeriksaan fisioterapi,serta penatalaksanaan fisioterapi dipoli rehabilitasi RSUD Salatiga.Informasi didapatkan dari pasien poli fisioterapi. Hasil: Hasil evaluasi menunjukan adanya perubahan  intensitas sakit, peningkatan daya tahan otot,peningkatan lingkup gerak sendi, serta perubahan dalam aktivitas fungsional. Kesimpulan: Setelah dilakukan 6 kali terapi dengan modalitas Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation,Microwave Diathermy dan Terapi Latihan menunjukkan perubahan intensitas sakit,peningkatan daya tahan otot,peningkatan lingkup gerak sendi, serta perubahan dalam aktivitas fungsional
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PASCA REKONSTRUKSI PCL SINISTRA DENGAN TENS INFRARED DAN TERAPI LATIHAN Naufal Luthfi Kurniawan`; Zuyina Luklukaningsih; Rima Yunitasari
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.6207

Abstract

Latar belakang: Pasca rekonstruksi PCL merupakan rehabilitatif pascaoperasi pada cedera PCL yang bertujuan mengembalikan fungsi sendi lutut. Setelah operasi, pasien memerlukan penatalaksanaan fisioterapi pada fase awal rehabilitasi untuk membantu mengurangi nyeri, mengurangi keterbatasan gerak, serta meningkatkan fungsi lutut secara bertahap agar pemulihan berlangsung optimal. Tujuan: untuk mendeskripsikan penatalaksanaan fisioterapi pasca rekonstruksi pcl sinistra dengan TENS, Infrared, dan terapi latihan. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pengumpulan data melalui anamnesis, pemeriksaan, dan pelaksanaan fisioterapi. Hasil: Hasil menunjukkan setelah 6 kali terapi terjadi perbaikan. Nilai kekuatan otot fleksor meningkat T0: 2 menjadi T6: 3, sedangkan otot ekstensor T0: 3 menjadi T6: 4. Rentang luas gerak sendi meningkat dari S: 0°–0°–70° menjadi 0°–0°–100°. Nyeri juga mengalami penurunan, yaitu nyeri saat posisi diam T0: 5 menjadi T6: 2, nyeri saat ditekan 7 menjadi 4, dan nyeri saat bergerak dari 8 menjadi 5. Kemampuan fungsional meningkat dari 13,4% gangguan berat menjadi 61,5% gangguan ringan. Kesimpulan: kombinasi TENS, Infrared, dan terapi latihan pada pasien pasca rekonstruksi PCL dapat memberi manfaat untuk meningkatnya nilai kekuatan otot, meningkatkan gerak sendi, mengurangi nyeri, serta memperbaiki kemampuan aktivitas fungsional
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA BELL’S PALSY SINISTRA DENGAN INFRARED TENS DAN TERAPI LATIHAN Muhammad Fatihul Huda; Zuyina Luklukaningsih; Rima Yunitasari
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v11i1.6208

Abstract

Latar belakang: Bell’s palsy yaitu suatu kelumpuhan saraf facialis perifer yang muncul dengan tiba-tiba, biasanya bersifat unilateral yang menyerang pada Nervus fascialis (N.VII). Prevalensi bell’s palsy berkisar 22,4 hingga 22,8 kasus per 100.000 orang setiap tahunnya. Tujuan: mendeskripsikan penatalaksanaan dan hasil fisioterapi menggunakan Infrared (IR), TENS, dan terapi latihan pada pasien Bell's Palsy di Poli Instalasi Rehab Medik Rumkit Tk. II dr. Soedjono Magelang. Metode: metode studi kasus tunggal dengan pengumpulan data melalui anamnesis, asesmen, dan manajemen fisioterapi. Intervensi yang diberikan berupa Infrared (IR), TENS, dan terapi latihan mirror exercise. Hasil Setelah dilakukan 6 kali terapi didapatkan hasil adanya peningkatan emampuan fungsional pada posisi diam T0=6 menjadi T6=20,mengerutkan dahi T0=3 menjadi T6=7, menutup mataT0=21menjadi T6=30,tersenyum T0=9 menjadi T6=21,bersiul T0=3 menjadi T6=10. Adanya peningkatan nilai kekuatan otot pada M. frontalisT0=1 menjadi T6=3, M corrugator supercili T0=1 menjadi T6=3, Mprocerus T0=1 menjadi T6=3, M orbicularis oris T0=3 menjadi T6=5, M nasalis T0=3 menjadi T6=5, M.depressorangulioris T0:3 menjadiT6=5,Mzygomaticummayor T0=3 menjadi T6=5,Mplatysma T0=3 menjadi T6=5, Morbicularis oris T0=3 menjadi T6=5, Mbuccinators T0=1 menjadi T6=3, M mentalis T0=1menjadiT6=5,Mdepressorlabii inferiorT0=3 menjadi T6=5 Kesimpulan: Setelah dilakukan intervensi fisioterapi sebanyak 6 kali terapi didapatkan hasil terdapat peningkatan kemampuan fungsional, terdapat peningkatan nilai kekuatan    otot, dan terdapat penurunan spasme otot.