Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Profesionalitas Dokter di Era Jaminan Kesehatan Nasional Patrianef Darwis
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 46 No. 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v46i1.28

Abstract

Profesionalitas dokter menurut Epsten dan Hundert adalah kemampuan berkomunikasi, ketrampilan teknis, penalaran klinis, emosi dan nilai refleksi dalam praktek sehari hari yang digunakan untuk kepentingan individu dan masyarakat yang kita layani. Jika disederhanakan maka profesionalitas dokter dapat diartikan memberikan pelayanan sebaik baiknya dengan kualitas tertinggi bagi masyarakat dan anggota masyarakat yang dilayaninya. Bagi seorang dokter bedah yang sering melakukan pembedahan dan intervensi maka profesionalitas ini adalah hal yang harus diperhatikan dan dikedepankan. Profesionalitas harus ditegakkan dalam kondisi apapun. Ditegakkan bersama sama oleh seluruh anggota profesi dan dikontrol serta dikawal oleh organisasi profesi melalui badan badan yang dibentuk untuk tujuan itu. Bisa dalam bentuk penegakan etika dan penegakan disiplin serta penyusunan standar pelayanan. Perubahan pola pembiayaan kesehatan harus diakui secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kualitas pelayanan seorang dokter. Kualitas pelayanan tidak lagi hanya ditentukan oleh Rumah Sakit, Dokter dan Organisasi Profesi Dokter. Tetapi ada yang lebih punya kewenangan mengaturnya yaitu badan yang melakukan pembiayaan. Kendali mutu dan kendali biaya sesungguhnya ditujukan untuk mendapatkan pelayanan terbaik dengan harga yang wajar, tetapi pada prakteknya kualitas pelayanan akan bergeser turun seiring dengan turunnya besar pembiayaan kesehatan. Tidak dapat dibantah bahwa kualitas pelayanan akan berbanding lurus dengan pembiayaan. Tidak mungkin seorang dokter yang melayani 10 pasien akan sama kualitas pelayannya dengan yang melayani 100 pasien. Boleh saja kita berbantah bantahan bahwa kualitas pelayanan tidak akan turun dengan banyaknya pasien, tetapi faktanya dokter adalah manusia juga yang mempunyai kemampuan optimal dan kemampuan itu akan menurun jika dipaksa melebihi batas kemampuannya. Demikian juga Rumah Sakit yang mesti mempertimbangkan kelangsungan hidup karyawannya dan keuntungan untuk mempertahankan keberadaan rumah sakit serta pengembalian modal bagi pemiliknya. Bagi seorang dokter spesialis bedah pengaruh pembiayaan akan sangat terasa karena pemakaian barang dan alat akan selalu dinilai dengan uang dan disesuaikan dengan besaran uang yang disediakan oleh badan pembiayaan. Rumah Sakit tidak akan mau merugi. Kualitas pelayanan pada kondisi ini adalah hasil dari tarik ulur antara manajemen rumah sakit dan keinginan doker memberikan pelayanan terbaik berdasarkan pagu dana yang ditentukan oleh badan pembiayaan. Tugas dan tanggung jawab profesi seharusnya tidak boleh terdegradasi hanya karena pembiayaan yang sudah ditentukan pagunya. Profesionalitas harus diletakkan ditempat tertinggi karena yang kita layani adalah manusia. Profesionalitas itu hanya bisa ditentukan oleh organisasi profesi. Adalah suatu kesalahan jika kita mengorbankan profesionalitas dengan mengedepankan penghematan pembiayaan dan cakupan yang lebih luas dan besar. Harusnya organisasi profesi lebih diberdayakan dan hal ini dibicarakan bersama oleh para pihak di era sekarang ini, dibicarakan dalam posisi setara dan tidak ada yang mendominasi. Profesi sebagai penentu profesionalis harus menyatakan posisinya, rumah sakit harus menegaskan fungsinya dan pemberi pembiyaan harus realistis dan rasional. Uang tidak boleh mengatur profesionalitas dokter walaupun pengaruhnya tidak bisa kita hilangkan. Duduk bersama antara pengurus profesi, pengatur kebijakan , pengatur pembiayaan adalah suatu keharusan . Ada satu titik tujuan kita bersama yaitu peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. IKABI yang merupakan perekat dalam semua organisasi profesi di lingkungan bedah harusnya mempunyai peranan lebih besar dalam menentukan profesionalisme seorang dokter bedah dikaitkan dengan pelayanannya pada masyarakat.
Hubungan Prokalsitonin Dengan Infeksi yang Menyebabkan Amputasi Ekstremitas Bawah Pada Kaki Diabetik Terinfeksi di IGD RSCM Pada Januari 2013-Juni 2016 Sari Febriana; Patrianef Darwis
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 46 No. 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v46i1.29

Abstract

Latar Belakang: Kaki diabetik terinfeksi masih menjadi permasalahan serius bagi penderitanya dan kerapkali berujung pada amputasi ekstremitas bawah. Penentuan agresifitas tindakan diperlukan untuk mencegah perburukan kondisi pasien. Prokalsitonin sebagai salah satu penanda infeksi sensitif diharapkan dapat membantu untuk mendiagnosis lebih awal sehingga manajemen yang diterapkan lebih tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan prokalsitonin terhadap risiko terjadinya amputasi ekstremitas bawah. Metode: Dilakukan studi analitik komparatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan di Divisi Bedah Vaskular dan Endovaskular Departemen Ilmu Bedah FKUI-RSCM periode Januari 2013-Juni 2016 pada semua pasien kaki diabetik terinfeksi yang datang ke IGD RSCM yang tidak disertai infeksi pneumonia, malaria, trauma berat, luka bakar, autoimun, dan karsinoma tiroid medula. Subjek dikelompokkan menjadi amputasi dan tidak, kemudian dilakukan analisis untuk melihat hubungan nilai prokalsitonin terhadap terjadinya amputasi ekstremitas bawah. Sumber data diambil dari rekam medik (data sekunder). Dilakukan uji statistik dengan kemaknaan p <0,05. Hasil: Studi melibatkan 110 subjek. Didapatkan setiap peningkatan kadar prokalsitonin 0,86 akan mempunyai risiko 2,36 kali untuk terjadinya infeksi yang menyebabkan amputasi (95% CI 1,227-4,568). Faktor lain yang memiliki kekuatan hubungan terbesar terhadap amputasi yaitu ankle brachial index <0,9 (OR 7,21 95% CI 2,246-25,247) dan osteomielitis (OR 5,94 95% CI 1,994-17,70). Didapatkan hubungan antara amputasi ekstremitas bawah dengan adanya neuropati (p = 0,002), penyakit komorbid ginjal (p = 0,004), leukosit >15000 /µl (p = 0,004), dan LED ?100 mm/jam (p = 0,005). Simpulan: Prokalsitonin memiliki hubungan bermakna secara independen dengan terjadinya infeksi yang menyebabkan amputasi ekstremitas bawah. Faktor independen lain yang bermakna terhadap amputasi pada penelitian ini yaitu ABI (ankle brachial index) dan osteomielitis.
Keberhasilan Venoplasti untuk Mengatasi Stenosis Akibat Pemasangan CDL pada Vena Sentral di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Ika Megatia; Patrianef Darwis
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 46 No. 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v46i1.32

Abstract

Latar Belakang: Dalam lima tahun terakhir, pengunaan kateter pada pasien penyakit ginjal kronis (PGK) di RSCM kerap diikuti stenosis vena sentral (SVS, 60-70%). Sejak 2013 SVS ditangani melalui prosedur venoplasti, namun belum ada evaluasi keberhasilan. Penelitian ini ditujukan melakukan evaluasi keberhasilan venoplasti dan faktor risiko terjadinya stenosis. Metode: Dilakukan studi deskriptif analitik dengan desain potong lintang melibatkan pasien PGK stadium 4-5 yang terdiagnosis simptomatik SVS, secara klinis dan radiologis, yang memiliki risiko stenosis, memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi serta menjalankan venoplasti. Variabel independen yaitu onset gejala, jenis, lokasi, durasi dan frekuensi pemasangan kateter. Variabel dependen adalah keberhasilan venoplasti dinilai dengan residual stenosis <30%. Data dianalisis secara statistik dengan p = 0,05. Hasil: Tercatat 34 subjek, 73,5% berusia >60 tahun, 61,8% laki-laki dan 70,6% memiliki hipertensi sebagai etiologi PGK. Angka berhasilan venoplasti 85,3%, nilai rerata initial stenosis adalah 79,1±13,8% dan median residual stenosis 24,5% dengan range 10-90%. Letak stenosis terbanyak di vena subklavia (47,1%). Tidak didapatkan hubungan bermakna terhadap keberhasilan venoplasti, namun angka ketidakberhasilan venoplasti yang lebih tinggi ditemukan pada lokasi di vena subklavia (OR 2,45; p = 0,627) dan frekuensi pemasangan kateter >2 kali (OR 1,85; p = 0,648). Simpulan: Keberhasilan venoplasti pada SVS 85,3% dengan keberhasilan ditemukan dua kali lebih tinggi pada implantasi di vena subklavia dan frekuensi > 2 kali. Namun pada studi ini tidak bermakna secara statistik. Ketidakberhasilan venoplasti lebih sering ditemukan pada subjek dengan pemasangan kateter di vena subklavia, durasi pemasangan panjang, onset gejala lambat dan riwayat pemasangan berulang.
Intervensi Endovaskular Aneurisma Aorta Torako-Abdominalis Pada Pasien dengan Sindrom Marfan: Tinjauan Literatur Patrianef Darwis; Yoni Vanto
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 47 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.48

Abstract

Latar Belakang. Sindroma Marfan merupakan penyakit jaringan ikat yang diturunkan secara autosom dominan dengan penyebab utama morbiditas dan mortalitas akibat kelainan aorta. Bedah terbuka merupakan tata laksana utama untuk kelainan aorta pada pasien sindrom Marfan, namun tidak semua pasien dapat dilakukan bedah terbuka, misalkan pada kondisi hemodinamik yang tidak stabil dan usia tua. Intervensi endovaskular merupakan salah satu pendekatan tata laksana minimal invasif yang masih kontroversial karena adanya risiko kegagalan primer berupa kebocoran aneurisma. Metode. Penelusuran literatur dilakukan secara daring pada 3 database: PubMed, ClinicalKey, dan ScienceDirect. Dilakukan pemilihan studi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi literatur. Artikel terpilih ditelaah secara kritis berdasarkan alur seleksi dari PRISMA Flow Diagram. Didapatkan 6 artikel yang ditelaah secara kritis Hasil. Tiga literatur mengenai prosedur endovaskular menunjukkan angka keberhasilan prosedur berkisar 20%-38% dengan risiko kegagalan primer (primary endoleak) yang cukup tinggi. Kematian akibat aneurisma lebih tinggi pada pasien sindrom Marfan yang menjalani teknik endovaskular dibandingkan pasien yang dilakukan bedah terbuka. Kesimpulan. Prosedur endovaskular dapat dijadikan alternatif tatalaksana dengan mempertimbangkan kondisi pasien. Sedikitnya jumlah subyek pada penelitian-penelitian yang ada serta waktu follow-up yang singkat menyebabkan efektivitas teknik endovaskular masih diragukan jika dibandingkan dengan prosedur bedah terbuka. Kata kunci: sindrom marfan, endovaskular, bedah terbuka, aneurisma aorta, torako-abdominal
The Accuracy of Brachial Artery Volume Flow as a Predictor of Brachiocephalic Arteriovenous Fistula Maturation Patrianef Darwis
Journal of Global Pharma Technology Volume 12 Issue 09 (2020) Sept. 2020
Publisher : Journal of Global Pharma Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: This study aims to investigate brachial artery volume flow accuracy in predicting AVF maturity. Methods: This was a cross-sectional study involving 80 patients that underwent AVF creation in Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta, Indonesia. Parameters recorded include demographic data, ultrasound parameters in six weeks after AVF creation, and complications. Diagnosis tests were performed to determine the area under the curve (AUC), cut-off, sensitivity, specificity, positive predictive value (PPV), and negative predictive value (NPV). Results: Of 80 patients that underwent brachiocephalic AVF, we found that 64 (80%) successfully mature, and 16 (20%) failed to mature. Receiver operating characteristic (ROC) for brachial artery volume flow in predicting brachiocephalic AVF had AUC of 97,6 %. With cut-off brachial artery volume flow of 700 ml/minute, the sensitivity, specificity, PPV, NPV, and accuracy were 98.44 % (95 % CI 91.6-99.7%), 87.5 % (95 % CI 63,9 % - 96.5 %), PPV 96.9 % (95% CI 89.4-99.15%) NPV 84.6 % (95 % CI 66.5 % - 93.8 %) 93.33 % (95 % CI 70.1-98.8%), respectively. Conclusions: Brachial artery volume flow six weeks after AVF creation is an accurate parameter in predicting brachiocephalic AVF maturity. Keywords: brachial artery volume flow, maturity, arteriovenous fistula